Untungnya Nazeef pernah hidup dan tinggal di apartemen Felix beberapa hari, jika tidak maka dapat dipastikan ia akan bingung mencari alamat. Tidak butuh waktu lama, taksi mengantar mereka ke tempat tujuan dengan selamat. Nazeef dan Mala turun dari taksi, sudah beberapa tahun lamanya Nazeef tidak ke sini. Bangunan yang terbentang luas di depan mereka tentu mengalami banyak perubahan. Mala saja sampai pangling melihatnya seperti tidak pernah melihat bangunan seperti ini sebelumnya. Tetapi berbeda dengan Nazeef, di Singapura ia sudah banyak melihat bangunan seperti di depannya ini. Di Singapura Nazeef dan keluarga tidak tinggal di apartemen, mereka tinggal disebuah rumah yang terletak di pusat kota.
"Rumah siapa Om?" tanya Mala. Ia jadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya sosok Nazeef? Kenapa ia bisa muncul di kampungnya? Padahal tidak ada tempat wisata satupun di daerahnya, lantas untuk apa?
"Rumah orang," jawab Nazeef asal. Padahal ini memang apartemen punya orang lain yang tidak lain adalah temannya sendiri. Jadi, Nazeef tidak berbohong tentunya kan? Jelas tidak dong.
"Emang boleh sama orangnya?"
Nazeef berbalik, ia menatap Mala dengan datar.
"Maaf Om," cicit Mala. Ia memukul pelan mulutnya karena sudah banyak berbicara. Mereka berdua langsung masuk ke dalam bangunan. Beberapa orang melihat ke arah mereka, seakan-akan kehadiran mereka dicurigai. Tenang saja, sebelum masuk ke dalam bangunan apartemen ia sudah memberikan ID dan meninggalkannya di sana.
"Masuk buruan," ucap Nazeef yang sudah masuk ke dalam lift, sedangkan Mala masih berdiam diri di tempat seakan-akan kebingungan dengan apa yang ia lihat sekarang. Nazeef tidak mau ada drama lagi, ia langsung menarik pergelangan tangan Mala untuk segera masuk ke dalam lift. Mala kaget, jantungnya berdetak dengan cepat. Tenang saja, detak jantungnya bukan karena sentuhan Nazeef melainkan karena pintu lift mulai tertutup.
Nazeef memilih bersandar sedangkan Mala sudah memegang pegangan besi dengan sangat erat. Satu kata yang menggambarkan Mala sekarang yaitu "takut". Apalagi lift mulai berjalan yang berefek pada perutnya. Mala langsung duduk sambil menutup mulutnya, ia benar-benar ingin muntah sekarang.
"Kamu kenapa?" tanya Nazeef syok sendiri.
"Saya mau muntah Om." Mala menjawab dengan terbata-bata. Ia tidak sanggup lagi seakan-akan perutnya berguncang dengan hebat. Nazeef mulai kehilangan akal, kalau tahu begini ia akan menyuruh Mala untuk menaiki tangga saja. Kalau nanti ia muntah di sini bagaimana? Mata Nazeef melihat angka yang terpampang di atas pintu lift. Ternyata baru lantai 3, ada 4 lantai lagi karena apartemen Felix ada di lantai tujuh.
"Nggak bisa muntahnya nanti?" Pertanyaan Nazeef memang tidak berbobot sama sekali. Bagaimana bisa muntah diajak untuk bekerja sama. Mala sudah berusaha menahannya, ia bahkan tidak mampu berkata-kata lagi. Tangannya menjadi respon pertanyaan Nazeef yang tidak bermutu itu.
Nazeef mengeluarkan pakaian dan barang-barang yang ada di dalam plastik dengan buru-buru, ia lantas memberikan plastik itu kepada Mala. Mala menatap bingung, ia tidak mengerti kenapa Nazeef memberikannya plastik.
Nazeef menghela nafas panjang, sudah 18 tahun apa saja perempuan di depannya ini tahu? Apa dia juga tidak tahu bagaimana hubungan suami istri? Akhh pikiran Nazeef sudah tidak sehat lagi. Bagaimana bisa pikiran itu singgah di dalam dirinya, ia tidak akan menyentuh Mala apapun yang terjadi.
"Muntah di dalam plastik ini," jelas singkat Nazeef. Mala mulai mengerti, ia mengambil plastik tersebut dan langsung meletakkan lubangnya di posisi mulut. Semua isi perutnya tadi pagi hilang begitu saja. Baunya tidak enak, Nazeef tentu menutup hidungnya dan menjauh beberapa langkah dari posisi Mala.
Air mata tergenang di pelupuk mata Mala, ia benar-benar merasa tidak baik-baik saja. Cukup sekali ini ia masuk ke dalam ruangan berjalan ini. Untuk selanjutnya Mala tidak akan mau lagi, perutnya seakan-akan diguncang ke sana ke sini. Nyatanya Nazeef tidak tega membiarkan Mala terduduk di lantai lift.
"Gimana?" tanya Nazeef. Ia mulai mendekat tetapi tangannya masih menjepit hidung.
Mala tidak merespon, tenaganya benar-benar tidak ada lagi. lantai enam terbuka, ada beberapa orang yang masuk dan menatap penuh kebingungan. Nazeef mengambil plastik yang berisi muntahan Mala dan mengikatnya sehingga tidak ada bau yang keluar. Ternyata Mala benar-benar kacau, lihat saja keringat sebesar biji jagung sudah keluar di keningnya. Bagaimana bisa mereka tinggal di apartemen nantinya, padahal Nazeef sudah membelinya sebelum datang ke Indonesia. Apakah mungkin Mala akan naik turun dari lantai satu ke lantai lima dengan menggunakan tangga. Nazeef tidak bisa membayangkannya, nanti dia akan mencari solusi atas masalah ini.
"Mual istrinya ya Mas?" tanya seorang Ibu-Ibu.
"Wajar si Mas, kadang kalau lagi mode morning sickness nggak tahu waktu dan tempat. Dulu saya malah lebih parah Mas," lanjut Ibu-Ibu itu lagi.
Nazeef tidak mengerti, morning sickness itu apa maksudnya? Ia hanya menyengir saja menanggapi apa yang dikatakan oleh ibu-ibu tersebut.
Akhirnya mereka sampai ke lantai tujuh, Nazeef membantu Mala untuk bangkit dan menuntunya keluar. Udara segar menanti mereka karena ada lubang berwarna petak di sepanjang lorong yang langsung memperlihatkan pemandangan luar.
"Masih mau mual?"
Mala menggeleng pelan, ia hanya butuh tempat untuk berbaring sekarang. Nazeef menekan beberapa digit angka untuk bisa mengakses apartemen sang teman. Rasanya Nazeef ingin berteriak keras, bayangkan saja bagaimana kacaunya apartemen sang teman. Pakaian dimana-mana, bahkan lebih parah lagi pakaian dalam juga tergeletak tidak kenal tempat. Botol minuman berserakan di atas meja, ada bekas-bekas makanan yang bahkan sudah berjamur. Felix memang luar biasa, bisa-bisanya meninggalkan apartemen dengan keadaan kacau begini. Apa ia tidak punya cukup uang untuk membayar tenaga pembersih? Apa perlu Nazeef memberikannya uang?
"Jangan masuk dulu," ucap Nazeef menghalangi Mala untuk masuk. Bagaimana mungkin ia membiarkan gadis polos melihat kehancuran apartemen Felix. Bisa saja minuman yang ada di meja dikira teh, tidak lucu jika Nazeef mengajarkan Mala berbuat yang tidak baik.
"Kenapa?" tanya Mala dengan sisa-sisa tenaga. Ia berusaha memegang dinding agar tidak terjatuh ke lantai.
"Tunggu di luar dulu, duduk aja di sini bersih kok." Setelah mengatakan hal tersebut, Nazeef langsung masuk dan menutup pintu dari dalam. Mala makin kebingungan, ia mengikuti apa yang dikatakan oleh Nazeef. Entah apa yang akan dikatakan jika ada orang yang melihat dirinya berada di depan pintu seperti seseorang yang telah diusir saja. Di sudut lain, Nazeef kalang kabut membersihkan segala kerusakan yang terjadi, ia memasukan semua pakaian Felix ke dalam keranjang baju kotor. Baunya hampir menyengat karena sudah terlalu lama dibiarkan begitu saja. Jujur saja ingin rasanya Nazeef membakar semua barang-barang yang tergeletak di lantai, tetapi ia tidak mungkin melakukan sekarang. Ia tidak punya waktu banyak tentunya.
Masalah pakaian sudah selesai, untung saja ia menemukan alas tangan di lemari tempat piring-piring berada. Nazeef tipe orang yang suka kebersihan, makanya ia tidak akan bisa menyentuh langsung barang-barang tersebut. Bahkan jika alas tangan tidak ditemukan, maka Nazeef akan menggunakan apapun yang bisa digunakan tanpa kulitnya langsung menyentuh barang tersebut.
Semua bekas minuman dimasukkan ke dalam tempat sampah, akhirnya selesai juga. Ternyata membersihkan tempat itu butuh waktu yang lumayan. Nazeef merebahkan tubuhnya di sofa ruang televisi. Ia ingin memejamkan mata sejenak, namun seperti ada yang kurang tetapi ia tidak tahu apa. Ia mulai berpikir apa yang tidak beres atau bahkan belum dibersihkan?
"Akhhh, mampus gue!!" ujarnya sambil berlari ke arah pintu. Bisa-bisanya ia melupakan Mala yang pasti sudah menunggu di depan pintu sana. Nazeef buru-buru membuka pintu, hal yang pertama ia lihat adalah Mala sudah tergeletak di lantai dengan mata yang terpejam. Benar-benar miris saat melihatnya. Jangan harap Nazeef akan menggendong Mala untuk masuk ke dalam, pikiran itu terlalu jauh. Nazeef membangunkan Mala dengan menggoncang tubuhnya. Hasilnya terlihat, Mala membuka mata dan melihat ke sekeliling dengan penuh kebingungan. Mungkin ia belum sadar betul sehingga otaknya tidak bisa mencerna apa yang dilihat dengan baik.
"Masuk!" ujar Nazeef. Satu kata itu membuat Mala sadar, ia buru-buru masuk ke dalam apartemen yang sudah lebih baik dari awal tadi. Mala takju melihat begitu banyak barang-barang yang tersusun rapi.
"Saya yang mandi dulu atau kamu?"
"Oke, saya dulu. Kamu bisa nunggu di sini!" Padahal Mala belum menjawab, tetapi apa boleh buat. Lebih baik Mala melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda. Tubuh Mala begitu nyaman saat berbaring di atas sofa yang sangat lembut bahkan tempat tidurnya dulu tidak selembut ini. Jelas saja Mala hanya tidur di kasur tipis yang bahkan tidak layak untuk dijadikan tempat tidur lagi.
Apartemen milik felix hanya terdapat 2 kamar, tentu saja kamar Felix terkunci rapat dan hanya bisa dimasuki dengan menggunakan sidik jarinya saja sehingga Nazeef hanya bisa menggunakan satu kamar lagi. Terpaksa mereka harus menggunakan kamar untuk berdua. Berhubung sudah hampir satu hari lebih Nazeef tidak mandi, maka ia benar-benar menghabiskan waktu yang lama untuk mandi. Nazeef asik menggosok tubuhnya.
Tit tit tit tit tit tit
Mala seperti mendengar suara, namun ia tidak terlalu mengharapkannya. Sampai gelak tawa terdengar makin lama makin dekat.
"AKHHHHHHHHHH..." teriak Mala saat melihat dua orang yang tiba-tiba saja ada di depannya. Bayangkan saja bagaimana kagetnya Mala karena ia baru bangun tidur. Kekagetan Mala tidak jauh berbeda dengan dua orang yang berada di depannya. Bahkan mereka sampai diam tidak berkutik sama sekali.
"Ma-maling Om!!!" teriak Mala lagi. Nazeef yang mendengar suara tersebut langsung mengambil handuk dengan buru-buru, bahkan busa di rambutnya belum hilang sama sekali. Teriakan Mala makin menjadi-jadi.
"Kenapa teriak ha?" ujar Nazeef. Penampilannya benar-benar kacau karena hanya memakai handuk dan rambutnya terdapat busa.
"Ma-maling Om," balas Mala terbata-bata. Nazeef langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Mala. Rasanya Nazeef ingin terjun ke rawa-rawa sekarang, kenapa bisa 2 temannya ada di sini sekarang. Bukankah Nazeef sudah mengancam mereka untuk tidak menyusul dirinya ke Bandung. Bagaimana mungkin Nazeef terjebak dalam situasi ini.
"Gila lo ya Zeef, sumpah gila banget!!!" Oceh Felix seperti tidak percaya apa yang tengah dilihatnya. Semua seperti tidak mungkin tetapi memang itulah kenyataannya.
"Syok jantung gue!" Alex memegang daerah di mana jantungnya berada.
Mala kebingungan, apa kedua orang ini mengenal laki-laki yang masih belum menyelesaikan acara mandinya? Bagaimanapun berdasarkan interaksi mereka sepertinya memang demikian.
"Gue bilang jangan ke sini!" Setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh penekanan. Jika Nazeef berbicara kepada Mala dengan nada seperti itu pasti sudah dibilang sedang marah namun berbeda jika dengan kedua temannya.
"Jadi ini alasan lo larang kita? Gila ya lo!!" Sejak tadi Felix dan Alex hanya menggambarkan tentang Nazeef dengan satu kata yaitu "gila".
"Kalau patah hati jangan jadi gila, ini anak otaknya nggak jalan atau gimana?" ujar Alex miris. Siapapun tahu jika perempuan yang tengah ada dihadapan mereka masih berusia cukup muda. Apalagi wajahnya penuh dengan kepolosan, jadi wajar kalau Alex dan Felix menganga tidak percaya.
"Akhh keluar lo berdua, gue belum selesai mandi!" Nazeef langsung mendorong kedua temannya itu, ia tidak mungkin membiarkan kedua temannya dan Mala ada di dalam ruangan yang sama tanpa dirinya.
"Ya mandi aja sono!"
"Keluar nggak?" Ancam Nazeef tidak main-main.
"Lo sewa cewek lihat-lihat dulu kenapa?" Mulut Alex seperti tidak ada filternya. Rasanya Nazeef ingin melakban mulut itu.
"Jangan asal ngomong lo ya, keluar gue bilang!"
Nazeef berusaha mendorong kedua temannya yang tidak ingin beranjak sedikitpun. Tentu saja akhirnya dirinya berhasil, tanpa pikir panjang ia mengganti password pintu agar kedua temannya tidak bisa mengakses pintu untuk masuk.
"Woi ini apar gue!!!!" Felix memukul-mukul pintu. Bisa-bisanya yang punya apartemen malah diusir begini. Teriakan Felix sama sekali tidak berguna karena di dalam apartemen tidak mendengar suara apapun.
"Kamu tenang aja di sini, mereka tidak bisa masuk lagi."
Mala hanya bengong, ia masih syok dan butuh udara segar untuk menjernihkan otaknya sekarang. Sedangkan Nazeef bergegas untuk menyelesaikan acara mandinya yang sempat tertunda.
Berbeda dengan Alex dan Felix, mereka sama sekali tidak meninggalkan apartemen itu sama sekali. Mereka menunggu di luar seperti orang yang baru saja diusir.
"Ini apartemen saya," ujar Felix ketika ada orang yang melihat ke arah mereka dengan tatapan aneh.
"Iya Mbak ini apartemen teman saya," celetuk Alex membantu sang teman. Padahal beberapa orang yang lewat bersikap bodo amat tetapi tatapan mata mereka tidak bisa bohong.
"Gila tu anak ya, kenapa bisa segila itu?" Tanya Alex masih tidak bisa percaya.
"Gue juga nggak tahu, katanya cuma liburan doang tapi kok malah bawa cewek. Mana ceweknya masih bau kencur lagi," jawab Felix.
"Muka ganteng gini malah dibilang maling lagi." Kenarsisan Alex masih berada di atas rata-rata jadi harap maklum. Felix malah tertawa, ia bahkan tidak fokus pada kata maling yang diucapkan oleh perempuan tersebut.