Anak Baru (Flashback)

1198 Kata
2001 Hari itu SMP Alvedro kedatangan murid baru pindahan dari Jakarta. Menurut desas desus, anak baru itu adalah seorang anak laki laki keturunan asing. Semua warga sekolah sudah membicarakan anak baru ini seminggu sebelum kedatangannya. Tidak terkecuali beberapa anak kelas 8a yang sedang menunggu teman baru mereka. "Menurutmu, anak baru itu seperti apa Vanya?" Seorang anak perempuan cantik yang memakai bandana pink cerah bertanya pada teman semejanya. "Kata orang orang sih dia tampan. Tapi aku tidak terlalu peduli Gwen. Anak laki laki itu menyebalkan. Mereka selalu mengusiliku. Mereka juga tidak puas kalau tidak membuatku menangis. Aku benci laki laki." Teman sebangkunya masih asik menggambar tidak terlalu ambil pusing dengan pertanyaan temannya. Rambutnya yang coklat kayu diikat satu pony tail. Poni lurusnya bergoyang goyang mengikuti kepalanya yang bergerak ke sana ke mari sambil menggambar. Suara bel terdengar keras memekakan telinga. Seluruh murid tampak mengisi setiap meja yang kosong di kelas itu. Suasana kelas kembali berisik. "Selamat pagi anak anak" "PAGII BUUUU" Seru beberapa murid sekaligus. "Vanya, udahan dulu ngegambarnya. Bu Maya udah masuk kelas" Vanya menghiraukan perkataan sahabatnya itu,"Bentar Gwen, dikit lagi" "Anak anak, hari ini kita kedatangan teman baru ya",Ibu Maya berjalan ke luar kelas dan kembali tidak lama kemudian bersama seorang anak laki laki tampan berwajah khas Eropa dengan rambut hitam pekat. Irisnya abu gelap. Kulitnya putih.Wajahnya terlihat tampan. Semua murid terdiam melihat sosok baru yang akan menjadi temannya itu. Anak baru itu tampak tidak terlalu peduli pada teman teman sekitarnya. Hingga matanya bertatapan dengan iris coklat tua Gwen. Gwen tersenyum manis, memamerkan lesung pipinya, dia lalu melambaikan lengannya. Iris abu gelap itu tampak berbinar melihat tatapan Gwen. Anak baru itu menundukkan wajahnya yang terasa memanas.  "Baik anak anak, kenalkan teman baru kalian. Devano Albertus Royale. Ayo Devano perkenalkan diri kamu" Anak baru bernama Devano itu berdeham membersihkan tenggorokannya. Dehamannya membuat Vanya mengangkat wajahnya dari keseriusan menggambarnya. Mata bulat Vanya semakin membulat melihat sosok di depannya. Tampan Kata itu memenuhi benak Vanya. Vanya menghentikan kegiatan menggambarnya. Dia menyimpan alat tulisnya dan sepenuhnya fokus pada anak laki laki di depan kelas. Dev satu satunya orang yang berhasil menghalau Vanya dari kesenangannya menggambar. Tapi sayang, perhatian Dev sudah terhisap oleh Gwen. Tidak memperhatikan anak perempuan berponi yang menatapnya tanpa berkedip. "Nama saya Devano. Kalian bisa memanggil saya Dev" "HALOO DEV" Suara anak anak menggaung menyapa anak laki laki yang tidak bisa menghindarkan tatapannya dari Gwen. Dev seolah telah menemukan oasisnya. Memang usia Dev saat itu masih terlampau muda. Tapi entah kenapa seluruh fokusnya telah tersedot habis pada sosok cantik berbando pink cerah. Begitupula dengan Vanya. Dia telah menemukan mataharinya. Devano Albertus Royale. ********************************* "Halo, saya Devano" Devano yang duduk di depan meja Gwen dan Vanya langsung menyapa Gwen. Dia bahkan tidak memperdulikan teman sebangkunya yang menatapnya. "Hai aku Gwena Aliana. Teman temanku biasa memanggilku Gwen" Gwen tersenyum dengan sangat manis. Kedua matanya melengkung membentuk bulan sabit. Dev kembali tertegun melihat perempuan manis itu. Vanya hanya menatap keduanya dengan bibir melengkung ke bawah. Dia tidak suka melihat pemandangan di depannya. Dia benci merasa diacuhkan. "Halo Dev. Aku Lorraine Kavanya Waise. Kamu boleh memanggilku Vanya" Dev bergeming. Dia masih terpesona pada rupa anak perempuan manis di depannya. Gwen menoleh ke arah Vanya. Vanya masih menatap Dev penuh harap. "Dev, ini kenalin temen aku Vanya" Dev mengerjapkan matanya lalu berpaling menatap Vanya. Perempuan ini memang cantik dan manis. Tapi entah kenapa menurutnya Gwen lebih menarik. Dia tidak tertarik pada Vanya. Dev hanya tersenyum sekilas lalu berbalik menghadap depan kelas. Vanya menghela nafas. Dia sedih tentu saja. Harapannya tidak terbalas dengan baik. Gwen menggenggam lengan Vanya dan tersenyum. Vanya ikut tersenyum. ********************************* 2002 Vanya sekarang mendiami kelas 9c. Entah keberuntungan atau kesialan. Vanya sekelas lagi dengan Dev dan Gwen. Vanya masih Vanya yang sama. Vanya yang cantik. Vanya yang gemar menggambar. Gwen masih Gwen yang sama. Gwen yang manis. Gwen yang tidak bisa lepas dari warna pink. Mereka masih diri mereka yang sama. Hanya saja, Vanya merasa kalau Gwen mulai berubah. Dia tidak mengutamakan Vanya lagi. Dia tidak berada di sisi Vanya lagi. Gwen sekarang berada di sisi anak laki laki yang Vanya suka. Gwen sekarang berada di sisi Dev. Hal ini dimulai dari awal semester kelas 9. Seperti biasa, mereka diwajibkan memilih satu ekskul. Vanya yang sudah jatuh hati pada menggambar, mengikuti ekskul gambar. Gwen yang ceria mengikuti ekskul cheerleader. Dan Dev. Laki laki itu sangat populer di SMP alvedro. Dalam waktu yang singkat dia sudah berhasil menarik hati para guru. Otaknya cemerlang. Dia juga tipe olahragawan. Karena dia pemain tim basket inti di sekolah lamanya, Dev dimasukkan ekskul basket oleh guru olahraganya. Hal sepele inilah yang membuat jarak Dev dan Vanya semakin jauh. Dan sebaliknya, Gwen semakin dekat dengan Dev. Dimulai dari jadwal ekskul Gwen dan Dev yang sama, saat Dev tanding basket, Gwenlah yang menjadi pemandu sorak untuknya. Gwen bahagia dengan kedekatannya dengan Dev. Dia merasa akhirnya ada laki laki yang memperhatikannya lebih. Kehadiran Dev membuat dia merasa disayang. Dev bahagia tentu saja. Dia bisa dekat dengan oasisnya. Semakin lama Dev semakin yakin dengan perasaannya. Dev menyukai Gwen. Bukan cinta monyet yang biasa. Karena dia merasa perasaan ini sangat kuat. Gwen cinta pertamanya. Vanya tidak bahagia. Dia sangat tau akan kedekatan Gwen dan Dev. Ditambah celotehan bahagia Gwen tentang Dev. Yang membuatnya terpaksa memberi senyum palsu. Vanya memiliki keluarga yang jauh dari kata harmonis. Ayah yang tidak peduli padanya. Ibunya pun sama. Ketika mereka bertemu di rumah, hanya ada pertengkarang hebat. Semua hal itu membuat dia kesepian. Dia hanya memiliki Gwen. Jadi dia memaksakan dirinya untuk kebahagiaan sahabatnya Gwen. Tapi Vanya semakin merasa sendiri. Dia kehilangan Gwen. Dia tidak pernah bisa menggapai Dev. Sikapnya yang tertutup dan cenderung menjaga jarak membuat teman temannya mencap dia sombong membuat mereka mengacuhkannya. Saat seluruh dunia mengacuhkannya, dia berlari ke tumpahan cat berwarna warni di atas sebuah kanvas putih. Untuk usianya yang baru menginjak kelas 9 smp, dia memiliki talenta menggambar yang sangat hebat. ******************************** Sore itu, ekskul basket dan cheers masih berlatih. Minggu depan tim basket SMP alvedro akan melawan tim basket SMP N 5 . Dev dan Gwen masih berlatih. Dev dengan tim basketnya. Dan Gwen dengan tim pemandu soraknya. Letak tempat latihan mereka pun masih sama, di sebuah lapangan basket yang cukup besar. Dan Vanya kembali sendiri. Mobil yang menjemputnya sebenarnya sudah menunggu di depan gerbang sejak bel pulang berbunyi 3 jam yang lalu. Tapi, Vanya tidak mau berada di rumah. Di sekolah meski dia kesepian, masih banyak orang orang, tapi di rumahnya, dia benar benar sendirian di rumah yang sangat besar. Vanya masih berkutat dengan buku gambar di pangkuannya. Dia sedang duduk di bangku penonton pinggir lapangan.Vanya cukup puas dengan sketsa yang dia gambar. Sebuah pemandangan desa yang cantik. Dia akan mewarnainya sewarna fajar.Vanya mengangkat kepalanya dan matanya pun tertumpuk pada pemandangan di lapangan yang tidak bisa membuat hatinya lebih baik. Vanya melihat Gwen yang berlari mendekat ke arah Dev yang sedang istirahat. Gwen memberikan sebotol minuman dan sebuah handuk kecil. Dev dengan senang hati menerimanya. Vanya tertegun. Baru kali ini dia melihat senyum Dev secerah itu. Dan Dev tersenyum untuk Gwen. Vanya menundukkan wajahnya. Dia merasakan ada yang aneh di hatinya. Rasanya begitu sesak. Dia memutuskan kembali mewarnai gambarnya. Warna fajar yang akan dilukiskannya berubah menjadi warna malam kelam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN