Yang Pertama

2550 Kata
Vanya mengerjapkan matanya yang terasa berat. Karena menangis terus, dia tertidur di lantai dengan badan bersandar pada kasur. Vanya berdiri dan menatap kasur itu miris. Dia prihatin pada orang yang telah bersusah payah menyiapkan kasur bertabur kelopak mawar itu, setelah bersusah payah menyiapkan tapi disentuh pun tidak. Semua bayangannya akan pernikahan yang harmonis hilang tidak bersisa. Sebenarnya dia tau kalau pernikahannya tidak akan semulus cerita romantis picisan yang selalu dia baca, tapi hati kecilnya terus mengingkari. Hatinya terus berharap sebuah keajaiban. Keajaiban di mana Dev akan menatapnya sebagaimana dia menatap Dev. Walau dia tidak memiliki jaminan suaminya akan berubah. Tapi, dia terus berpegangan pada harapan. Sekecil apapun itu. Vanya bangkit dari duduknya, dia berjalan dengan gontai menuju kamar mandi. Dia beralih ke arah wastafel dan matanya menangkap rupa dirinya di dalam cermin. What a mess. Dia terlihat kacau. Rambut kusut, mata yang bengkak dan memerah. Dia tersenyum miris. Baru hari pertama rupanya sudah sekacau ini. Bagaimana dia bisa menarik perhatian suami tampannya itu? Dia tidak secantik Gwen. Dia tidak selucu Gwen. Dia tidak semenarik Gwen. Tapi, dia juga tidak mau terlihat jelek di depan suaminya. Vanya menghembuskan nafas berat dia beralih ke bilik shower dan membiarkan air dingin menyentuh kulitnya membawanya ke dalam dingin beku yang menusuk tulang. Dia menutup matanya dan membiarkan rasa dingin di kulitnya menggantikan rasa sakit di hatinya. ********************************* Dev terbangun dengan kepala yang serasa dipukul godam. Rasa mual dari perutnya naik ke tenggorokannya membuat dia muntah kosong berkali kali. Dia menatap ruangan di sekitarnya. Ini bukan kamarnya di rumah pantai. Tentu saja. Mana sudi dia menghabiskan malam pertama dengan perempuan jalang itu? Di malam saat dia meninggalkan kamarnya, dia langsung pergi ke pantai utama menggunakan kapal pesiarnya bersama beberapa pengawal. Meninggalkan Vanya di rumah pantainya sendirian. Di dalam kapal pesiarnya, dia mengganti bajunya dengan sebuah kemeja dan celana jeans hitam. Saat sampai di pantai utama, dia langsung menaiki mobil menuju sebuah club malam yang cukup terkenal di pantai itu. Entah sudah berapa botol bir yang melewati bibirnya. Kesadarannya semakin tipis. Bahkan dia sudah tidak mengingat apa lagi yang terjadi malam itu. Dev menggerakkan badannya ingin ke kamar mandi. Tapi sebuah lengan melingkari pinggangnya. Dia melirikkan mata ke sebelahnya dan menemukan sesosok perempuan cantik sedang tertidur memeluk Dev. Badan perempuan itu tertutupi selimut dari pinggang ke bawah. Dan atasnya dia tidak mengenakan sehelai kain pun. Good Dev good. Kamu tidur dengan orang yang tidak dikenal saat malam pertamamu. Who cares? Dev mempersetankan semuanya. Dia beranjak dan memakai bajunya yang berserakan di lantai kamar hotel. Dia lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah mandi, Dev keluar dan menemukan perempuan yang tidur dengannya masih bergelung di dalam selimut. Dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan banyak uang seratus ribuan. Dia menaruh uang itu di atas nakas kasur. Setelah Dev rasa itu cukup, dia keluar dari kamar hotel dan menghubungi orang kepercayaannya. ********************************* Sudah tengah hari dan Dev belum pulang. Vanya benar benar resah. Dia telah berkeliling rumah pantainya dan bahkan menyusuri pantai pribadi suaminya itu. Tapi tidak ada seorang pun yang dia temui. Dia merasa takut. Tapi, dia percaya Dev akan kembali. Karena itu dia kembali berdiam di rumah pantainya. Dia memasak untuk sarapan. Karena dia kira Dev akan datang. Tapi, terpaksa dibuangnya karena sampai jam 10 siang Dev tidak juga muncul. Entah kenapa nafsu makannya hilang karena Dev belum juga datang. Sekarang jam menunjukkan pukul 1 siang. Dia kembali berkutat di dapur membuat makan siang untuknya dan suaminya. Sambil berharap Dev akan datang. ******************************** Dev sampai di rumah pantainya saat jam menunjukkan pukul 3 sore. Awalnya dia akan segera pulang saat sudah terbangun tadi, tapi mengingat dia hanya akan bertemu dengan Vanya, dia mengurungkan niatnya. Dev berjalan memasuki rumah. Aroma masakan langsung memenuhi hidungnya. Siapa yang masak? Setahunya dia tidak mempekerjakan seorang koki di sini. Hanya ada beberapa pembantu yang datang di pagi dan sore hari saja. Dan jam segini pembantunya itu tidak akan datang. "Dev? Kamu sudah pulang?" Dari arah dapur muncul sosok perempuan yang cantik. Rambut panjang coklat kayunya digelung asal menyisakan anak rambutnya. Terusan berwarna salemnya membuatnya terlihat lebih manis. Dia bukan Gwen. Dev kembali menampakkan sosok dinginnya. "Kita makan dulu ya? Aku sedang memanaskan sayur. Kuharap kamu lapar" Melihat mata istrinya yang berbinar binar sementara hatinya menjerit sakit membuatnya muak. Dev berjalan melewati istrinya. "Dev!" Dev terus berjalan menuju kamarnya. Grap Vanya menahan langkah Dev. Dia memegang pergelangan tangan kiri suaminy,"Kamu tidak bisa terus kabur dariku Dev" ******************************** Dev menghentikan langkahnya. Vanya mengumpulkan semua keberaniannya. Aku harus menjadi wanita kuat untuk bisa memenangkan pernikahan ini. Dev milikku. Dia suamiku. Aku akan mempertahankan apa yang kumiliki. Dev menghempaskan lengan Vanya kasar. Dia berjalan hingga jarak di antara mereka sangat tipis. "Aku tidak kabur darimu." "Lalu, apa yang kamu lakukan malam kemarin? Kamu bahkan menghilang." "Bukan urusanmu" Dev membalikkan badannya kembali berjalan. Sakit itu kembali terasa di jantungnya. Air mata mulai memburamkan pandangannya. Vanya menyekanya kasar. Dia harus menjadi wanita kuat. Dia harus meluluhkan suaminya,"Demi Tuhan Dev! Aku istrimu!" Dev menghentikan langkahnya. Suasana hening. Hanya tarikan nafas tidak beratur milik Vanya yang terdengar. Dev memejamkan matanya. Dia mengepalkan tangannya erat. Mencoba meredam emosinya. Karena dia yakin, jika saja dia tidak meredam emosinya, dia pasti akan melempar Vanya ke tengah laut. Dev membalikkan badannya. Matanya tajam menatap sosok Vanya,"Masih berani kamu memanggil dirimu seorang istri? Aku saja jijik mendengarnya keluar dari mulutmu" Deg Sakit itu kembali terasa. Badannya seolah luruh. Air mata mendesak ingin keluar. Kamu harus kuat Vanya. Vanya menatapnya intens,"Aku memang istrimu. Kalau kau jijik padaku seharusnya kamu tidak datang malam itu untuk melamarku sialan!" Dev mengambil langkah besar besar. Hingga dia berhadapan dengan Vanya. "Aku juga tidak sudi melakukannya kalau saja kamu tidak melakukan hal menjijikan itu!" Tubuh Vanya menegang. Dia menatap Dev takut. Tidak mungkin. Tidak mungkin Dev tahu. Tidak mungkin Gwen memberitahunya. Sebuah senyum iblis terpampang di wajah malaikat Dev,"Iya. Aku tahu semua perbuatanmu. Aku ada di sana. Aku duduk tidak jauh dari tempat kalian duduk. Bahkan kau maupun Gwen tidak menyadarinya." Vanya menelan salivanya yang serasa membakar tenggorokannya,"Ti..tidak mungkin" Vanya mengatakannya dengan suara tercekat. Dia tidak menyangka Dev ada di sana. "Aku tidak menyangka kalau kau seegois itu Nona Lorraine Kavanya Waise." Dev mengatakannya dengan dalam dan menusuk. Menatap Vanya dengan kebencian yang nyata. Vanya sudah tidak bisa menahan air matanya. Dia menangis dalam hati. Tidak ada isakan sedikitpun yang lolos dari mulutnya. Dev mendekatkan wajahnya ke sisi tubuh Vanya. Bibirnya tepat di pinggir telinganya,"Hentikan tangisan buayamu itu. Seharusnya kamu sudah tahu kalau hidupmu tidak akan bahagia jika kamu sudah menjadi istriku. Sayang" Dev mengangkat wajahnya kembali. Dia bahkan tidak sudi melihat wajah pucat tanpa semangat kehidupan di wajah istrinya. Saat itu juga Vanya hancur. ********************************* Vanya berjalan menyusuri pantai dengan kaki telanjangnya. Lembut pasir putih serasa membelai telapak kakinya. Dia berhenti berjalan saat dia rasa sudah cukup jauh dari rumah pantai Dev. Dia bahkan merasa tidak sanggup memangil Dev sebagai suaminya, walaupun dia adalah istri sahnya. Menyedihkan. Vanya menghadapkan pandangannya ke arah matahari yang akan kembali ke peraduan. Semburat jingga memenuhi penglihatannya. Cantik. Pantai kosong yang hanya ada dia seorang membuat suasana saat itu menjadi lebih dalam maknanya. Tiba tiba semua ingatan akan Dev memenuhi pikirannya. Bagaimana wajahnya yang bagaikan pahatan dewa yunani mempesona semua orang yang melihatnya. Bagaimana sikap dinginnya kepada banyak orang kecuali pada Gwen. Bagaimana keahliannya saat berolahraga. Bagaimana ekspresinya saat memenangkan lomba mafiki saat SMA. Dan yang terakhir, yang sangat diingatnya bagaimana Dev memeluknya. Menguatkannya saat dia menangis karena ayahnya. Setetes air kembali menghampiri pipinya. Sebenarnya dia sangat lelah menangis. Dia bahkan tidak mengerti bagaimana matanya itu masih bisa memeras air mata setelah banyak yang dikeluarkannya. Dia dulu terkenal sebagai perempuan yang egois dan sombong. Tidak banyak murid lain yang mau berteman dengannya. Hanya karena sikapnya yang tertutup. Hanya Gwen dan Gatson yang mau berteman dengannya. Ditambah lagi masa SMA adalah masa tersulitnya. Hal itu yang membuatnya menjadi pribadi yang kuat. Tapi melihat bagaimana dia sekarang, ingin rasanya dia menertawakan dan memaki dirinya sendiri. Menyedihkan.  Vanya mendudukan dirinya di pasir. Semburat jingga telah berganti dengan biru gelap yang lembut. Angin lembut mengusap wajahnya dan mempermainkan rambutnya. Vanya merapatkan blazer yang dipakainya. Aku harus bisa meluluhkan hati esnya. Aku tidak mau terus menderita seumur hidupku. Demi Tuhan, aku hanya ingin meraih kebahagiaan, sekali saja dalam hidupku. Aku tidak boleh terus terusan menjadi pihak wanita yang lemah dan hanya bisa menangis. Aku akan terus berdiri untuk Dev. Aku akan memperjuangkannya. Aku tidak akan melepaskannya. Aku akan kuat. Tidak peduli jika aku harus menjadi egois dan menggunakan cara sepicik apapun. Dev milikku. ******************************** Dev masih terduduk di meja kerja di pojok kamar tidurnya. Dia berkutat dengan laptopnya. Dia masih memeriksa beberapa e-mail yang masuk dari sekretaris dan orang kepercayaannya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi Vanya masih belum pulang. Dan Dev sama sekali tidak peduli. Ceklek Pintu kamar dibuka, menampilkan sosok Vanya yang terlihat lelah. Dev sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari laptop di hadapannya. Vanya mendengus melihatnya dan berjalan memasuki kamar mandi. ********************************* Dev merebahkan badannya di kasur kingsizenya. Walaupun dia benci dengan istrinya, tapi tetap saja dia tidak mau menyakiti badannya sendiri dengan tidur di sofa atau kasur lain yang tidak senyaman kasur yang sedang ditidurinya sekarang. Dev menekuk kedua lengannya ke belakang kepala dan membuatnya menjadi sandaran kepalanya. Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka membuat Dev mengalihkan matanya ke arah kamar mandi. Dev hampir saja menjatuhkan bola matanya melihat pemandangan di depannya. Bahkan dia yakin mulutnya sudah menganga lebar. Ya Tuhan, apa ini cobaan indah? Atau Kau memang sedang ingin mempermainkanku? Vanya berdiri di muka pintu. Dia mengenakan sebuah lingerie yang sangat membakar birahi. Lingerie hitam bertali spagethi itu mungkin hanya sepanjang 5 cm dari pinggul. Transparan. Membuat bra dan celana dalam satin model bikininya menerawang. Bahkan puncaknya yang berwarna merah muda menggoda itu masih bisa menerawang dari balik branya. Celana dalam atau mungkin yang lebih dikenal dengan G-String itu hanya dikaitkan membentuk pita di kedua pinggirnya. Dia memakai stocking hitam transparan sebatas lututnya. Vanya terlihat sangat cantik dan sexy. Dia bagaikan sosok succubus dalam dunia nyata. Rambutnya digerai panjang dan basah membuatnya terlihat siap membakar birahi siapapun. Siapapun termasuk Dev. Dev bahkan belum bisa mengontrol emosinya. Dia masih terpaku pada sosok succubus di depannya. Tidak terasa adik kecilnya mulai terbangun. Vanya mendekat dengan gerakan sensual. Dan Dev tidak bisa mengalihkan pandangannya. Vanya menaiki kasur kingsize itu. Vanya merangkak hingga wajahnya berhadapan dengan Dev. "Hai De.." Dev tidak membiarkan Vanya melanjutkan ucapannya. Dia sudah membungkam bibir menggoda itu dengan bibirnya. Lumatan penuh birahi itu membangkitkan sosok liar dalam diri keduanya. Lumatan Dev menuntut. Dan Vanya membalasnya dengan bersemangat. Dev memperdalam lumatannya. Dia mendorong badan Vanya hingga Vanya sekarang berada di bawahnya tanpa melepaskan pagutan mereka. Vanya memiringkan wajahnya membuat Dev memperdalam ciumannya. Dev meloloskan lidahnya ke dalam mulut Vanya. Mengecap semua rasa di dalam mulut istrinya itu. Saat lidahnya bertemu dengan lidah istrinya, mereka membuat tarian yang indah dan semakin membakar birahi Dev. Dev melepaskan pagutannya saat merasakan Vanya kehabisan nafas. Bibirnya yang sensual mulai mengecap leher jenjang Vanya. Menjilatnya, mengecupnya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Sebuah tanda di mana orang yang berada di bawahnya ini adalah miliknya. Dev merasa dirinya mungkin sudah gila dengan mematenkan bahwa perempuan ini miliknya, tapi apa daya akal sehatnya sudah hilang entah kemana. Dia tidak pernah merasa sebergairah ini dengan perempuan lainnya. Dev merobek lingerie Vanya dengan kasar. Melemparnya entah ke mana. Sekarang tubuh Vanya hanya tertutup oleh dua bahan tipis yang sebenarnya tidak bisa benar benar menutupi apa di balik d**a dan di tengah selangkangannya. Melihat pemandangan itu, Dev menggeram menahan birahi. Dia mengecup p******a Vanya yang masih terbungkus bra tipis itu. Dev mengecupnya lalu menjilatnya dan mengigitnya kecil. Ibu jarinya menggesek bagian yang berdiri tegak di tengah p******a Vanya. Membuat lenguhan terlepas dari bibir Vanya. Dev beralih dari satu p******a ke p******a yang lainnya. Dia meninggalkan jejaknya di sana. Dia lalu menghisap puncak p******a Vanya membuat Vanya menahan nafas. "Deev" Lengan Dev turun hingga sampai di kewanitaan Vanya. Vanya menahan nafas menunggu perbuatan Dev selanjutnya. Dev menggerakan jari tengahnya naik turun membuat Vanya menggelinjang. "Dev" "Yes Vanya" "Dev", Vanya menjerit. Kecupan Dev turun ke perut Vanya. Dia memainkan lidahnya di pusar Vanya. "Dev" Kecupan Dev terus turun hingga menyentuh inti Vanya. Di kecupnya sekali. Dev lalu mengangkat wajahnya dan menatap rupa Vanya. Wajahnya tertutupi dengan semburat merah yang membuatnya manjadi berkali lipat lebih cantik dan menggoda. Wajah wanita menahan birahi. Lengan kedua wanita itu mencengkram bantal. Kakinya mengangkang dengan Dev terduduk di tengah kakinya. Vanya terlihat sangat menggoda. Dan Dev menyukainya. Dev mendekat ke bibir Vanya dan kembali memagutnya bernafsu. Lengannya membuka kedua ikatan di g-string Vanya. Dan melemparkannya entah ke mana. Dev langsung turun dan mengecupnya Vanya. Membuat Vanya mencengkram bantal semakin erat. Dev lalu menyusupkan lidahnya dan menjilatnya rakus. Jari tengahnya masuk dan mengoreknya dengan lembut. Vanya menggelinjang dan menggerakan pinggulnya. Nafasnya sudah tidak beratur. "Dev.. Deeev.. Dev" Saat Vanya mau mencapai puncaknya, Dev menghentikan perbuatannya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat wajah menderita Vanya. "Dev, please" Dev menyeringai melihat Vanya yang menatapnya memohon dengan wajah yang sepenuhnya menahan birahi. "Apa yang kau mau Vanya?" "Aku.." "Kau apa?" "Aku.." Vanya merasa malu mengatakannya. Demi Tuhan, padahal dia yang telah berpakaian bagai p*****r dan menggoda suaminya. Dan terbukti berhasil. Dev mau menyentuhnya. Tapi hanya untuk meminta Dev memasuki dirinya membuat Vanya sangat malu dan tidak berani mengatakannya. "Kau mau apa sayang?" Dev mengecup leher Vanya dan lengan kanannya kembali membelai inti Vanya. "Aku.. Mau kau.. Puaskan Dev" Dev mengangkat badannya dia membuka kaosnya dan disusul celana pendek kainnya yang sudah terbang entah ke mana. Vanya terpana melihat kesempurnaan badan Dev. Ototnya indah terbentuk ditambah tato di badannya membuat sosok Dev menjadi sangat menggoda. Keperkasaan Dev terpampang dengan jelas di mata Vanya. Sangat mengangumkan. Vanya bahkan harus menelan salivanya berkali kali. Rasa protektifnya kembali membakar. Dia akan mempertahankan Dev. Dev mendekatkanya ke inti Vanya. Dia menggeseknya pelan pelan pelan. Mengenai setiap anggota intim istrinya. Membuat Vanya menggelinjang dengan badan melengkung. Sangat menggairahkan bagi Dev. Demi apapun, Vanya adalah wanita tersexy yang pernah dikenalnya. Vanya bahkan bisa membakarnya dengan sangat panas. "Deev" Dia lalu menekan miliknya hingga masuk ke inti Vanya. Vanya menjerit kesakitan. Dev melembutkan gerakannya. Mengetahui bahwa dia adalah pria pertama untuk Vanya membuat hatinya berdesir halus. Tidak bisa dipungkiri, sudut hatinya bahagia mengetahui ini. Dev menundukkan wajahnya dan mengecup kening, turun ke kedua mata, ke pipi dan ke bibir Vanya. Dia kembali memagut bibir Vanya dengan lebih lembut sambil menusuk semakin dalam. Lumatan Dev meredam teriakan Vanya. Mereka akhirnya bersatu. Dev menghentikan gerakannya. Dia membenamkan kepalanya ke leher Vanya. Dev mempersetankan semuanya malam ini. Dia membutakan matanya atas rasa benci di hatinya. Dia menulikan telinganya atas semua pembicaraan Vanya dan Gwen. Dia tidak mempedulikan apapun malam ini. Baginya, malam ini hanya ada dia dan Vanya. Hanya itu. Setelah merasa Vanya mulai menerima dirinya di dalam sana, Dev mengangkat wajahnya dan kembali bergerak. Dev menggeram dalam merasakan intinya seolah dicengkram dengan sangat erat oleh milik Vanya. Vanya memang yang terbaik yang pernah melayaninya. Dan dia menyukainya. Gerakan Dev semakin cepat. Dan sangat cepat. Vanya mengalungkan kakinya ke pinggang Dev. Vanya tidak bisa berhenti mendesah, melenguh dan terkadang menjerit. Lengan Vanya yang bertengger di punggung Dev semakin erat. Tidak terasa dia menekankan kukunya ke punggung suaminya. Dan detik berikutnya mereka telah melebur bersama dalam kenikmatan yang pertama kali dirasakan Vanya dan yang terhebat yang pernah dirasakan Dev.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN