Dev terbangun saat jam menunjukkan jam 9 pagi. Bukan kebiasaannya terbangun lebih dari jam 7. Kecuali mungkin saat hari hari dia mengalami hangover. Dia bergerak merenggangkan tubuhnya, saat dirasakannya sebuah lengan di pinggangnya. Dia mengernyit dan menoleh sebelahnya.
Deg
Itu Vanya. Sedang tertidur dalam damai. Dia tidak memakai sehelai benangpun kecuali selimut yang menutupi pinggang ke bawahnya. Dev menelan salivanya gugup melihat buah d**a Vanya yang ranum tanpa penutup apapun. Dev menaikkan selimut yang mereka pakai hingga leher Vanya. Dia mencoba mencerna dan mengingat apa yang terjadi dengannya kemaren. Dan pemahaman baru menerjangnya.
Malam kemarin, dia menyentuh Vanya. Malam itu dia telah melaksanakan malam pertamanya bersama Vanya. Sebuah perasaan bersalah menerpanya.
Perempuan itu Vanya. Bukan Gwen.
Dia telah mengkhianati Gwen.
Hatinya dipenuhi perasaan bersalah yang tidak terbendung. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri. Hanya karena gairah t***l, dia telah mengingkari janjinya sendiri. Tapi, tidak bisa dipungkiri secercah perasaan bahagia menerpa hatinya saat mengetahui dia adalah pria pertama Vanya. Dev kembali menatap wajah Vanya yang terlelap. Gadis ini, em bukan. Wanita ini terlihat sangat damai.
Entah kenapa baru disadari Dev hari ini, kalau Vanya cantik dengan caranya sendiri. Mungkin Vanya tidak secantik Gwen. Tapi ada sesuatu dalam diri Vanya yang membuatnya lebih menarik dari Gwen.
Jari jari panjang Dev mengikuti setiap alur dalam wajah lelap Vanya. Saat kening Vanya berkerut, Dev mengelusnya lembut menghilangan kerutannya.
Stupid!
Dev mengenyahkan tangannya dari wajah Vanya. Dia juga membuang semua pemikiran bodohnya mengenai Vanya.
Demi Tuhan Dev! Dia bukan Gwen!
Dev mengacak rambutnya frustasi. Dia lalu melangkah meninggalkan kenyamanan selimutnya dan berjalan ke arah kamar mandi.
*********************************
Vanya terbangun saat cahaya terik mengganggu tidurnya. Dia mengerjapkan matanya dan melihat sekelilingnya. Tiba tiba semua kenangan tentang semalam hadir mengisi seluruh otaknya. Wajahnya bersemu merah. Dia tidak menyangka bermodal nekat dan pikiran sinting bisa membuatnya mendapatkan malam pertamanya bersama pria yang dia cintai. Vanya bergerak dan melihat samping tempat tidurnya.
Kosong
Tidak ada Dev di sana.
Tiba tiba sebuah perasaan kosong dan hampa mengisi relung hatinya. Harusnya dia tidak meminta muluk muluk. Harusnya dia sadar bahwa setelah kejadian kemarin sekalipun Dev tetaplah Dev. Pria tampan yang tidak akan pernah dia miliki hatinya. Buktinya, Dev telah pergi dari sisinya. Perasaan kosong itu kembali menyelimuti hati.
Vanya hendak turun untuk menuju kamar mandi. Tapi, saat dia bergerak, dia merasakan nyeri di pangkal pahanya. Tapi sebuah senyum terlukis di bibirnya. Rasa sakit ini, bukti cintaku padanya.
Vanya mencoba menguatkan diri dan berjalan ke kamar mandi.
*********************************
Setelah mandi dan berganti pakaian, Vanya turun ke lantai bawah. Dilihatnya cuaca cukup bersahabat untuknya menikmati hari di pantai. Dia sudah memikirkan akan berjalan di pantai dan bermain bersama ombak. Bisa membuatnya melupakan sejenak mengenai masalahnya. Di meja makan, tidak seperti biasanya. Dia mendapatkan Dev sedang duduk sambil memainkan smartphonenya.
Vanya mendekat dan duduk di depan Dev. Dia melihat makanan telah disiapkan di meja. Tidak mungkin Dev yang menyiapkan. Kalau itu sampai terjadi, mungkin hujan uang akan turun. Vanya terdiam. Dev terdiam masih asik dengan smartphonenya. Perut Vanya sudah meronta minta diisi. Ia mulai memakan makanan khas italia di depannya.
Nyuum.
Vanya berdecak kagum. Rasanya benar benar nikmat.
"Kita pulang dua jam lagi"
Vanya menghentikan suapannya tepat di depan mulutnya. Dia menatap Dev yang sama sekali tidak menatapnya tetap berkutat pada smartphonenya. Tiba tiba semua rasa lapar Vanya hilang. Semua kegiatan hari ini yang terlukiskan di otaknya hilang. Dia tidak akan bisa melukis pemandangan sunset dan sunrise. Dia tidak akan bisa merasakan belaian pasir lembut di bawah kaki telanjangnya.
Vanya menghela nafas lelah. Sebenarnya dia tidak kamu pulang ke Jakarta. Dia takut. Dia takut bertemu Gwen. Dia takut masa lalunya kembali. Dia takut... Dev kembali pada Gwen.
"Kenapa?" Suaranya tercekat.
"Aku memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditunda"
Memiliki pekerjaan? Atau bertemu Gwen?
"Pekerjaan apa?"
Dev menghentikan kegiatannya. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Vanya menusuk,"Tidak bisakah kamu tutup mulutmu dan bersiap untuk pulang saja? Kamu sangat merepotkan"
Setelah mengatakan deret kalimat menyakitkan itu, Dev melangkah meninggalkan ruang makan. Bahkan makanannya tidak disentuh sedikit pun. Vanya tersenyum sendu. Seharusnya dia bisa memprediksi hal seperti ini akan terjadi.
*********************************
Dev hanya ingin pulang.
Rasa hangat dalam hatinya saat mengetahui dia adalah pria pertamanya Vanya sangat mengganggu akal sehatnya. Dia tidak mau terus berkubang dalam rasa aneh itu. Dia tidak mau mengkhianati Gwen. Dia kembali meyakinkan hatinya sendiri kalau dia cinta Gwen. Gwen cinta pertamanya. Gwen yang cantik, manis, baik, menggemaskan dan sempurna. Dia hanya cinta Gwen.
Dev ingin segera melesat ke Jakarta dan kembali ke kantornya secepatnya. Dia ingin bertemu dengan Gwen sang sekretaris pribadinya.
Tuk tuk
Dev mengerjap dari semua lamunannya. Dia berpaling menatap pintu. Dia sekarang berada di beranda rumah pantainya. Mengagumi laut. Dan, menghindar dari Vanya.
"Masuk"
Vanya masuk dengan wajah menunduk. Terusan warna hijau daunnya berkibar karena tertiup angin. Rambut panjang coklat kayunya bermain di sekitar wajahnya.
Deg
Dev kembali terpesona melihat kepolosan gadis di depannya. Oh, dia bukan lagi gadis. Karena Devlah pria pertamanya. Perasaan hangat itu kembali melingkupi Dev
Sialan!
Hentikan semua perasaan konyol itu!
"Apa maumu?" Suara Dev bahkan lebih dingin dari yang dia harapkan.
"Aku sudah selesai packing.."
Suara Vanya terdengar bergetar.
Dia takut.
Dev tersenyum sinis. Bagus. Sekarang dia takut padaku. Tapi, kurasa itu lebih baik daripada rasa cintanya semakin besar. Menjijikan.
Tapi, hati Dev merasa tidak nyaman dengan getar ketakutan dalam suara Vanya. Perasaan memalukan!
"Aku kira kamu mau pulang secepatnya. Mendengar em, maksudku. Yang pasti, semua sudah selesai. Itu saja"
Dev mengernyit dengan kata kata rancu Vanya.
Dia gugup.
Dev kembali menghadap pantai.
"Sejam lagi kita pulang. Nikmati sejam terakhirmu di sini"
********************************
Vanya tersenyum pahit. Dia sebenarnya tidak mau meninggalkan pantai dengan banyak kenangan ini. Tapi, apa boleh buat? Devlah pemimpinnya.
"Sejam lagi kita pulang. Nikmati sejam terakhirmu di sini"
Sejam terakhir ya? Vanya kembali menghela nafas berat. Jadi, kami tidak akan kembali ke pantai ini? Mungkin tidak buatku. Tapi, mungkin iya untuk Dev dan Gwen?
Rasa sakit itu kembali mengisi relung hati Vanya.
********************************
Vanya menyusuri pantai putih ini untuk terakhir kalinya. Dia pasti akan merindukan lembutnya pasir putih dan bersihnya pantai, angin yang bertiup bersahabat, dan yang pasti malam pertamanya.
Malam itu, dia benar benar harus membuang harga dirinya. Menjadi seorang p*****r hanya untuk mendapat sentuhan suaminya. Tapi, dia tidak menyesal. Jika dia harus menjadi p*****r setiap saat untuk mendapat sentuhan suaminya, dia ikhlas. Vanya kembali mengingat percakapan mereka di atap rumah pantai Dev. Dia mengingat getir dalam suaranya. Vanya menggelengkan kepalanya dan mengepalkan lengannya erat. Dia sungguh memalukan. Kenapa dia tidak bisa menjadi wanita tegas dan percaya diri seperti Gwen?
Vanya terduduk di pantai dan memanjangkan kakinya yang telanjang. Membiarkan air beryodium tinggi itu menjilat jilat kakinya. Dia harus menjadi kuat untuk bisa meluluhkan Dev. Bukankah itu sudah menjadi keputusannya? Dan detik itu juga sebuah tekad dan topeng telah terbentuk.