1 | Darah di Pelabuhan Naples

1145 Kata
Hujan menetes deras, memantul di atas permukaan aspal yang licin. Lampu-lampu jalan berwarna kuning pucat berkelip samar, menyoroti barisan peti kontainer yang menjulang bagai dinding baja. Bau asin laut bercampur dengan karat dan solar memenuhi udara. Dari kegelapan, langkah teratur terdengar. Seorang pria bertubuh jangkung muncul dengan jas hitam berpotongan rapi, sarung tangan kulit senada yang membungkus tangannya seolah menyembunyikan noda darah masa lalu. Di belakangnya, tiga pengawal setia berjalan sigap. Mereka berwajah dingin, tatapan waspada, senjata tersembunyi di balik mantel panjang. Cerutu menyala di ujung bibir sang Tuan, asapnya menari liar, bercampur dengan kabut tipis malam itu. Lucan Maelric. Dia berhenti di ujung dermaga. Dari kejauhan, suara mesin kapal kargo terdengar bergemuruh berat, mengiris sunyi. "Dari Albania," gumam Lucan lirih, nyaris seperti bisikan pada dirinya sendiri. Kapal itu mendekat, menabrak gelombang. Bendera lusuh berkibar samar di tiang, sementara lampu kapal hanya menyala seadanya. Begitu jangkar dijatuhkan, ramp besi turun, menimbulkan bunyi berderit yang menusuk telinga. Tiga pria berwajah asing turun, jaket tebal mereka basah kuyup. Salah satunya membawa clipboard lusuh, yang lain menggiring troli baja dengan peti kayu besar bertanda simbol samar. "Pistol otomatis, senapan sniper, bahan peledak ringan," ucap pria Albania itu dalam aksen berat, menyodorkan dokumen. Lucan tak langsung menyentuhnya. Dia hanya menoleh pada salah satu pengawalnya. Sang pengawal mengangguk, lalu membuka salah satu peti dengan linggis. Ketika penutup peti terbuka, menampilkan senjata yang tersusun rapi. Kilau baja dingin senapan sniper memantulkan cahaya lampu dermaga. Salah satu pengawal mengangkat pistol otomatis, memeriksanya cepat, lalu mengokang peluru. Suara mekanis logam membuat bulu kuduk berdiri. Lucan menyeringai tipis, menaruh cerutunya di genangan air hingga padam. "Sempurna," kata Lucan singkat. Terdengar dingin dan terasa mematikan. Sebelum transaksi selesai, dari kejauhan terdengar suara rantai besi bergemerincing. Bayangan bergerak di balik tumpukan kontainer. Lucan mengangkat tangan, memberi kode. Para pengawal langsung sigap, menarik pistol dari balik jas. "Sepertinya," ucap Lucan dengan nada menusuk tulang. "Naples malam ini kedatangan tamu tak diundang." Namun, belum sempat Lucan memberi perintah, suara langkah tergesa dari sisi lain dermaga terdengar. Seseorang berlari, lalu bersamaan dengan setiap langkahan yang diambil, satu peluru dari pengawalnya melayang tepat sasaran menembus kepala pria yang memegang koper. Tubuhnya ambruk ke genangan air, darah mengalir bercampur hujan. Lucan tak bergeming. Dia hanya menghela napas, seakan kejadian itu tak lebih dari gangguan kecil. Dengan tenang, Lucan mengeluarkan salah satu pistol berlapis hitam dari balik jas, lalu menembak ke arah kegelapan. Dua peluru, dua kepala musuh tumbang, jatuh membentur kontainer dengan suara berdebam. Lucan bersama pengawalnya segera bergerak, menyebar perlahan di antara kontainer, pistol di tangan, langkah senyap. Hujan semakin deras, memukul baja kontainer hingga suara langkah nyaris tertelan. Ketegangan seketika menggantung di udara. Lucan berjalan maju dua langkah, suaranya berat menusuk malam. "Kalau Anda ingin berbisnis dengan saya, keluarlah. Kalau ingin mati, teruskan bersembunyi." Hening. Detik berikutnya, suara klik terdengar jelas, tanda pelatuk ditarik dari arah bayangan. Dalam sepersekian detik, cahaya merah laser menyorot d**a salah satu pengawal Lucan. Lucan menghela napas singkat. "Bodoh!" Sebelum pengawal pribadinya tumbang, Lucan lebih dulu mendaratkan peluru. Satu tembakan untuk kesekian kalinya berhasil menghantam seorang pengkhianat dari Albania di troli. Lucan memberi kode dari gerakan mata agar sang pengawal lebih berhati-hati. Lucan paling tidak senang jika orangnya ceroboh, apalagi sampai musuh menjadikan hal itu sebagai celah untuk mengalahkan mereka. Seruan panik pecah. Dari balik kontainer, belasan orang bersenjata keluar, menodongkan senapan mesin. Lampu sorot pecah ditembak, dermaga segera tenggelam dalam gelap. "Ambush!" teriak salah satu pengawal Lucan. Lucan berjongkok, meraih pistol hitam lain dari balik jas, lalu menembak tiga kali dengan gerakan sangat cepat. Selalu tepat sasaran, tiga musuh berikutnya jatuh seketika. Peluru terus berdesingan, berkali-kali menghantam baja kontainer, dan memercikkan bunga api. Jeritan bercampur dengan suara deras hujan. Suasana dermaga berubah jadi neraka basah. Lucan tetap tenang, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Satu pengawalnya terkena peluru di bahu, jatuh berlutut. Dua lainnya masih menembak balik, tapi jumlah musuh jauh lebih banyak. Seorang pria Albania berteriak, "Lucan, kita dikhianati!" Lucan tidak menoleh. Dia tetap melangkah maju dengan pistol hitam yang terangkat. Dua musuh tumbang berturut-turut, peluru menembus kepala mereka tanpa ampun. Darah muncrat, terbawa hujan ke celah-celah aspal. Tiba-tiba, seorang pria bertopeng yang sempat tak terbaca gerakannya, muncul dari samping. Dia menodongkan senapan AK-47 ke arah Lucan. Pengawal pun tak sempat bereaksi. Meski sempat terdiam beberapa saat, Lucan tak tinggal diam. Dia bergerak cepat, hingga dalam satu tarikan langkah, Lucan menepis laras senjata, lalu menancapkan pisau lipat dari sarung tangannya ke leher pria itu. Darah memancar deras, menghangat pada dinginnya hujan. Lucan menarik pisau keluar dengan gerakan kejam, membiarkan tubuh itu roboh ke genangan air. "Anjiing!" desis Lucan, menunjukkan seringai bengis. Seorang musuh lain nekat menyerang dari belakang dengan besi panjang. Lucan berputar, menahan serangan dengan lengan berlapis sarung tangan kulit. Besi menghantam keras, tetapi Lucan tak gentar. Dengan brutal, dia mematahkan lengan pria itu, lalu menghantamkan kepalanya ke pintu kontainer. Darah mengalir, sebelum akhirnya tubuh itu jatuh tak bergerak. Di tengah kobaran tembakan, Lucan berdiri tegak, tatapannya liar, pakaian basah kuyup, sarung tangan penuh darah. "Ini wilayahku!" Suara Lucan menggelegar, menembus derasnya hujan. "Tidak ada yang bisa mengambil satu senjata pun tanpa izin saya!" Para musuh terhenti sejenak, ngeri melihat bagaimana Lucan membantai tanpa ragu. Lucan menoleh ke pengawalnya. "Habisi semua. Sisakan satu hidup." Pengawalnya menuruti. Hanya beberapa menit, suara tembakan mulai mereda. Tubuh-tubuh bergelimpangan di dermaga, bercampur dengan genangan hujan. Lucan meraih kerah salah satu yang masih hidup, menyeretnya ke genangan air. Dia menekan kepala pria itu ke dalam genangan kotor, membiarkannya megap-megap, hampir tenggelam. "Katakan siapa yang mengirimmu." Pria itu terbatuk, tercekik, tubuhnya menggeliat putus asa. "M—Milan ... mereka mengirim kami dari Milan." Lucan tersenyum tipis. Senyum yang lebih menyeramkan daripada ancaman. "Baik. Sampaikan pada mereka ...." Lucan menekan kepala pria itu lebih dalam, menahan sampai tubuhnya berhenti bergerak. "Bahwa Lucan Maelric akan membalas." Lucan berdiri, menyalakan cerutu baru di tengah bau mesiu dan darah. Api kecil dari korek memantulkan wajah dinginnya. "Bersihkan semua mayat. Jangan sampai bau busuk ini menarik perhatian polisi," perintah Lucan datar, sebelum berjalan lagi, membiarkan sepatu kulitnya basah kuyup oleh hujan dan darah. *** Baru saja Lucan masuk ke SUV hitamnya, ponsel di saku bergetar. Nama Vander terpampang jelas di layar, partner lamanya di Belanda. Lucan menekan tombol hijau, menyenderkan ponsel ke telinganya. Suara berat dengan aksen asing terdengar di seberang. "Barang baru sudah siap, Lucan." Lucan diam, menarik napas panjang dari cerutunya. Hanya desis api tembakau yang terdengar. "Obat ini," lanjut suara di seberang dengan penuh semangat, "Akan mengubah permainan kita selamanya." Tatapan Lucan mengeras, pupilnya berkilat dingin. Dia menghembuskan asap perlahan, mulutnya melengkung tipis membentuk senyum penuh ancaman. "Bagus," kata Lucan puas. "Kirim semua ke Rotterdam. Mulai malam ini, dunia akan mengenal nama kita dengan cara yang berbeda." Panggilan berakhir. Suara klik diikuti hening. SUV hitam Lucan melaju keluar dari pelabuhan, meninggalkan jejak ban di genangan merah. Di belakang, hanya tersisa hujan, bau kematian, dan bisikan laut gelap yang menyimpan rahasia baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN