2 | Terpenjara Cinta Masa Lalu

1249 Kata
Hujan turun pelan di luar jendela, menetes di kaca apartemen lantai dua puluh yang sepi. Jam di dinding menunjuk pukul dua dini hari. Chiara terbangun karena suara bel. Alisnya berkerut. Siapa yang datang selarut ini? Chiara ragu untuk bangun, tapi suara bel terdengar lagi, kali ini lebih tidak sabaran. Dengan napas tertahan, Chiara melangkah ke arah pintu. Jantungnya berdegup aneh, entah karena rasa takut atau firasat lain. Begitu gagang pintu dia putar, hawa dingin malam menyelinap ke dalam. Dan di balik pintu, Lucan berdiri di sana. Basah kuyup. Rambutnya meneteskan air hujan, dan matanya masih sama seperti dulu—dalam, tajam, tapi kali ini diselimuti sesuatu yang tidak Chiara kenal. Apa Lucan sedang memberi tahu bahwa dirinya telah menyesal sudah meninggalkan Chiara? Suara Chiara tercekat di tenggorokan. "Lucan?" Lucan hanya diam beberapa detik, menatap Chiara seolah mencoba memastikan bahwa yang di depannya nyata. "Kamu masih bangun," ucapnya pelan. Suara Lucan serak, seperti habis menempuh jarak panjang untuk tiba di sini. Chiara mundur selangkah. Dia bahkan tak tahu harus bersikap seperti apa. Satu tahun. Satu tahun penuh usaha untuk melupakan wajah itu, menutup luka yang Lucan tinggalkan. Dan sekarang Lucan datang, seolah waktu tidak pernah berjalan. "Pergi—" Tubuh Lucan tiba-tiba ambruk, membuat Chiara memekik kaget saat menyadari di balik jaket tebal pria itu, perutnya dilumuri darah. "Lucan? Apa-apaan ini? Kenapa sampai berdarah sebanyak ini?" Chiara bersimpuh, menahan kepala Lucan dan berusaha menutup darahnya agar tidak keluar lebih banyak. "Seharusnya saya tidak datang ke sini," kata Lucan pelan sambil tersenyum miring, menunduk sebentar sebelum menatap lagi. "Tapi sebelum saya mati, saya harus memastikan jika kamu baik-baik saja." Kalimat itu menusuk pelan, seperti pisau yang pernah mengiris hatinya dulu. Chiara berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang. "Enggak. Jangan mati, jangan mati di sini. Ayo bangun, aku bantu biar kamu tetap hidup, Lucan. Jangan kayak gini!" Dengan susah payah, Chiara membopong tubuh lemah Lucan ke dalam apartemennya. Piyama biru muda Chiara dipenuhi darah, begitu pun dengan kedua tangannya. Lucan dibaringkan di sofa. Dengan napas terburu-buru, Chiara mencuci tangannya lalu meraih kotak P3K. Dia menyiapkan perban, kasa steril, cairan antiseptik, dan alat-alat sederhana lainnya untuk membersihkan luka Lucan secepat mungkin. Lucan hanya diam, mengabaikan semua rasa sakit yang tak seberapa itu. Dia menatap Chiara sangat lama, bibirnya bergerak, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya tatapan yang penuh hal-hal yang tak diucapkan. Sampai akhirnya, Lucan berkata lirih, "Saya sangat merindukan kamu. Saya menunggu sangat lama untuk momen pertemuan ini, sampai rasanya sesak napas." Chiara tak menghiraukan, tetap fokus pada luka-luka yang harus segera dia tutup. Selain belajar bela diri dan menggunakan senjata, Chiara juga diajarkan oleh Damian maupun Felix caranya mengemas luka saat keadaan sedang genting. Penyembuhan sakit hatinya selama setahun ini sangat menguras tenaga dan pikiran, tetapi Chiara baik-baik saja pada akhirnya dengan segala rutinitas barunya. Selesai menutup luka Lucan, Chiara membuang sisa kotoran dan membantu Lucan ganti pakaian. "Kamu masih menyimpan semuanya?" Lucan tersenyum saat bajunya masih disimpan rapi oleh Chiara. Dadaa Chiara sesak. Dia memalingkan wajah, menahan air mata yang tiba-tiba mendesak keluar. "Lucan, tolong jangan kayak gini lagi. Aku udah cukup menderita buat lupain kamu. Setelah hari ini, jangan pernah datang lagi sekalipun kamu lagi sekarat." Lucan mengambil satu tangan Chiara, menggenggamnya erat sebelum memberikan kecupan singkat. Cuaca sedang dingin, tetapi perlakuan Lucan ini berhasil membakar seluruh tubuh Chiara. "Saya tidak bilang benar-benar melepaskan kamu." Chiara buru-buru melepaskan genggaman Lucan, memberi jarak dan langsung naik ke lantai dua tanpa memberikan kesempatan untuk obrolan lebih panjang. Suara bantingan pintu memecah keheningan, menggema di ruang kecil kamarnya. Chiara bersandar pada pintu yang kini tertutup, menutup matanya rapat-rapat. Tangannya bergetar dengan perasaan campur aduk. Apa maksudnya tidak benar-benar melepaskan? Detik berikutnya, terdengar suara ketukan. Chiara membuka mata dan mendapati dirinya terbaring di ranjang, keringat dingin membasahi pelipis. Matanya beralih ke jam di nakas, menunjukkan pukul dua dini hari. Sunyi. Tak ada siapa pun di sekitarnya. Tak ada Lucan. Tak ada hujan. Hanya detak jantung Chiara sendiri yang berdebar tak karuan, dan sisa air mata yang entah sejak kapan mengalir di pipinya. Chiara menatap langit-langit, berusaha menenangkan napas. "Cuma mimpi," bisiknya, tapi suara Chiara bergetar pelan. Cuma mimpi, bunga tidur. Tetapi rasanya terlalu nyata, terlalu sakit, seolah hatinya baru saja dibuka lagi oleh bayangan seseorang yang seharusnya sudah hilang sejak lama. *** Cahaya matahari pagi menyentuh wajah Chiara yang masih terpejam. Dia membuka mata perlahan, tapi tubuhnya terasa berat seolah semalam dia berlari maraton. Kepala Chiara berdenyut, matanya terasa panas, dan dadaa masih sesak oleh sesuatu yang tak kasatmata. Tangan Chiara terulur ke sisi tempat tidur yang kosong. Hanya seprai dingin yang terasa di ujung jari, tapi entah kenapa, hatinya masih seolah mendengar suara itu. "Saya tidak bilang benar-benar melepaskan kamu." Chiara mengembuskan napas panjang, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. "Itu cuma mimpi ...!" katanya pelan, seperti mencoba menegaskan pada dirinya sendiri. Tapi semakin dia mengulang kata-kata itu, semakin berat rasanya di dadaa. Mimpi itu terlalu nyata. Terlalu hidup. Dari tatapan Lucan, raut wajahnya yang basah kuyup, hingga suara hujan di luar jendela, semuanya terasa seperti benar-benar terjadi. Chiara bahkan masih bisa merasakan aroma khas yang dulu selalu menempel pada pria itu. Chiara duduk di tepi ranjang, memegangi kepala yang pusing. Matanya menatap kosong ke arah jendela, di mana cahaya pagi tampak lembut tapi tak membawa ketenangan. Sudah setahun Chiara berusaha mati-matian menutup lembaran itu. Tidak lagi mencari tahu, tidak lagi menoleh ke masa lalu. Tetapi hanya dengan satu mimpi saja, semuanya runtuh. Luka lama yang sudah dia kubur, kembali terbuka. Chiara berjalan ke dapur kecil, menyalakan teko air panas, tapi pikirannya tak benar-benar di sana. Setiap suara, setiap bayangan di pikirannya masih terikat pada sosok yang bahkan tak seharusnya dia rindukan lagi. Cangkir kopinya hampir penuh, tapi Chiara malah menatap cairan hitam itu lama-lama, seperti mencari jawaban. "Kenapa masih terasa nyata banget?" gumamnya lirih, suara Chiara terdengar serak. Tetes air jatuh dari ujung rambutnya ke meja, entah itu sisa cucian muka atau air mata yang tak sadar menetes. Chiara menatap bayangan dirinya di permukaan kopi—mata sayu, wajah lelah, seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu lagi padahal sudah kehabisan air mata untuk menangisinya. Dalam diam, Chiara memeluk dirinya sendiri. Dia tahu itu cuma mimpi. Tetapi, hatinya tak bisa membohongi diri, ada bagian terdalam dalam dirinya masih belum benar-benar melepaskan Lucan. Dan yang paling menakutkan dari semua itu bukanlah mimpinya, melainkan kenyataan bahwa bahkan tanpa kehadiran Lucan, pikiran Chiara masih terus mencarinya. *** Setibanya di Sonare by Chiara, buket bunga lily selalu ada di meja ruang pribadinya. Jumlah tangkai hari ini lima belas, sesuai tanggal. Setiap hari selalu berselang-seling warna yang dikirimkan. Kadang di hari tertentu, satu buket berisikan semua warna bunga lily. Tidak tahu siapa yang mengirimkannya selama satu tahun ini, Chiara tidak ingin mencari tahu, apalagi menduga-duga. Alhasil, setiap sudut ruang studio ada bunga lily yang terpajang indah. Sebelum anak muridnya datang, Chiara mengganti beberapa lily lama dengan yang baru. Sesaat, pandangannya mengedar ke beberapa penjuru, menatap satu persatu vas dengan perasaan senang. Bunga lily ini adalah salah satu alasan Chiara kembali ke studio. Buket sebelumnya dibiarkan layu begitu saja karena tidak terurus, sampai Chiara sendirilah yang datang dan merawat mereka semua. "Kamu dikirim buat apa sih? Kenapa nggak bosan-bosan datang ke sini?" Chiara bermonolog sendiri, menatap setiap bunga lily dengan mata berbinar. "Suatu saat, bawa aku ketemu sama pengirim kalian, ya?" Fokus Chiara pecah ketika pengurus studio menghampirinya. "Permisi, Bu, di ruang tunggu ada seseorang menunggu. Apakah Ibu sedang sibuk?" Chiara menaikkan sebelah alis, menatap bunga lilynya dengan mata menyipit. Apa permintaannya barusan langsung dikabulkan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN