3 | Berjudi Dengan Nyawa

1254 Kata
Jet pribadi berwarna hitam legam mendarat mulus di landasan basah Bandara Schiphol, Amsterdam. Langit Belanda terlihat mendung, awan kelabu menggantung rendah seolah menyimpan rahasia. Dari dalam kabin, Lucan Maelric turun perlahan, jas hitamnya rapi, sepatu kulitnya berkilat. Dua pengawal setia mengikuti di belakang, matanya liar mengawasi sekeliling. Di siang hari, Amsterdam tampak damai dengan kafe-kafe penuh turis, kanal berkilau, dan sepeda yang lalu-lalang. Namun, ketika matahari tenggelam, kota ini mulai berubah. Kanal yang indah jadi jalur peredaran narkoba, gudang-gudang tua dipenuhi transaksi gelap, dan setiap lorong bisa menjadi pasar bagi kematian. Mobil mewah hitam menjemput mereka, membawanya ke sebuah gudang industri tua di pinggiran kota. Dari luar tampak sepi, tapi di dalam penuh dengan peralatan kimia, wadah stainless, dan aroma obat-obatan yang menusuk. Di tengah ruangan, seorang wanita berdiri dengan sikap dingin. Rambut pirangnya disanggul berantakan, kacamata tipis bertengger di hidung mancungnya. Dia mengenakan jas lab putih yang lusuh, tangannya masih berlumuran bekas tinta kimia. Dia, Dr. Elara Voss. Ilmuwan farmasi jenius yang dipecat karena eksperimen ilegal. Orang buangan yang justru dicari dunia bawah. Elara sangat bisa diandalkan. "Lucan Maelric." Suara wanita itu dingin, nyaris seperti sebilah pisau. "Akhirnya kita bertemu. Senang bisa melihat kamu datang ke sini, Lucan." Lucan menatapnya lekat-lekat, lalu berjalan mendekat, sarung tangan kulitnya berderit pelan. "Ya, karena di sini punya sesuatu yang bisa mengubah permainan." Elara tersenyum tipis, lalu membuka sebuah kotak hitam di meja baja. Di dalamnya, botol kecil berisi pil berwarna biru pucat berkilau samar di bawah lampu neon, seperti janji yang berbahaya. Di sekitar mereka, beberapa pria berbadan besar menunggu instruksi, wajah mereka setengah penasaran, setengah takut. "Cerulean Bliss," katanya lirih, seakan menyebut nama sebuah rahasia suci. "Penenang bagi mereka yang tertekan, tapi jika dikonsumsi dengan dosis lebih, dia menjadi halusinogen. Membuat otak melepaskan semua batasan. Kadang menenangkan, kadang membuat mereka ingin membunuh, atau bunuh diri. Tidak ada yang bisa menebak. Apakah sudah sesuai?" Lucan mengambil satu pil dengan hati-hati, memutarnya di bawah cahaya lampu. Matanya berkilat dingin. "Cantik," gumam Lucan penuh kagum. Ada tersimpan sesuatu dari tatapannya yang sulit dijelaskan. "Kecil, tapi bisa menghancurkan dunia." Elara mendekat, suaranya hampir berbisik. "Dengan ini, Amsterdam akan menjadi titik pusat. Dari sini, kita bisa menembus Eropa. Kamu yang punya jaringan, aku yang punya senjata kimia. Jika bersama, kita tidak bisa disentuh, Lucan." Lucan tersenyum samar, senyum yang tak pernah sampai ke matanya. Dia menyelipkan pil itu ke dalam saku jas. "Kita perlu tahu efeknya dalam kondisi nyata," lanjut Lucan pelan, matanya menatap pil itu seperti menilai ancaman sekaligus peluang. "Jangan coba-coba di jalan. Saya ingin kontrol penuh. Mulai dari target, dosis, dan waktu." Elara mengangguk. "Skema dosis sudah kuatur. Dalam jumlah kecil hanya mengalami ketenangan, euforia lembut. Dosis menengah terjadi halusinasi ringan, keterputusan dari realitas. Sedangkan untuk dosis tinggi, akan ada risiko perilaku ekstrem meningkat, impuls mematikan atau kecenderungan bunuh diri. Itu yang membuatnya efektif." Lucan menyentuh tepi kotak, diam sejenak memikirkan sesuatu. "Efektif untuk siapa?" "Untuk mereka yang tidak lagi peduli dengan hidupnya," jawab Elara. "Atau mereka yang punya musuh. Satu pil ini, kita bisa membuat orang tenang. Dua pil, kita bisa membuat mereka melihat sesuatu yang bukan nyata. Kalau tiga pil, kita bisa menghancurkan semuanya." Lucan memanggil salah satu pengawalnya. "Bawa masuk si Romano," perintahnya. Seorang pria kurus, muka kasar, datang dibawa oleh dua pengawal. Romano adalah penagih hutang yang beberapa kali gagal memenuhi target, yang bangkitan namanya juga sering membuat masalah. Dia dihadapkan di meja, tangan dirantai ringan, mata menatap tajam ke Lucan seperti menantang. "Kamu tahu aturannya," ujar Lucan dingin. "Kamu tidak menagih, kamu yang rugi. Saya hanya memberi satu kesempatan terakhir." Elara menyerahkan Cerulean Bliss. Romano menatapnya, lalu tertawa—tertawa sinis yang terdengar seperti usaha menolak takut. "Apa ini, pil bayi?" candanya, lalu menelan tanpa ragu ketika diperintahkan. Awalnya, wajahnya mengendur. Napasnya melunak. Ekspresi tegang menghilang, digantikan senyum kecil yang tak tahu sebab. Romano mengoceh tentang hal-hal remeh, seperti langit, bau laut, dan kenangan masa kecil. Suara yang menurut sebagian orang terdengar damai. Namun beberapa menit berlalu, senyumnya berubah. Matanya melebar, fokusnya melesat ke sudut ruangan yang kosong. Tangan Romano mengetat pada meja seolah meraih sesuatu yang hanya dia lihat. "Tidak. Jangan. Mereka di sini!" Suara Romano tercekat, berubah menjadi jeritan yang ketakutan, memukul udara. Lucan tetap duduk, menatap. Di sekitar mereka, orang-orang mundur, tak berani menatap langsung. Romano meraba-raba, mencari sesuatu yang tak kasat mata. Lalu tanpa peringatan, dia membuat keputusan yang tak bisa ditarik kembali. Romano mengakhiri hidupnya di depan mereka secara cepat dan final. Ruang yang tadi dipenuhi suara kini berubah sunyi seperti ada yang ditutup rapat. Elara menunduk, matanya berkaca-kaca namun datar. Lucan membuang asap dari cerutunya, menahan emosi menjadi dingin yang terukur. Lucan berdiri, melangkah mendekat ke mayat Romano tanpa tergesa. Menyentuh dagunya sejenak, menilai. Lantas menatap Elara, suaranya landai namun mematikan. "Senjata untuk perang fisik," kata Lucan menunjukkan smirk. "Cerulean Bliss untuk perang psikologis." Lucan menghembuskan napas panjang, lalu menambahkan dengan nada yang tak menyisakan ruang untuk belas kasihan. "Kalau dunia ingin mati, saya hanya mempercepat prosesnya." Lampu neon berdenyut lembut di gudang itu, seperti nadi yang menunggu perintah dan perintah itu telah diberikan. "Mulai malam ini, Cerulean Bliss bukan sekadar obat. Ini akan menjadi legenda." Di luar, lonceng kota berdentang. Siang perlahan memudar, dan Amsterdam bersiap membuka wajah malamnya. Sebuah surga gelap untuk dosa dan uang. *** Lampu kristal berkilau redup di The High-Roller Room, ruang judi eksklusif milik Lucan yang hanya bisa dimasuki oleh segelintir orang dengan uang dan nyali. Meja roulette, blackjack, dan baccarat dipenuhi para pemain berpakaian glamor, rokok, dan whisky menjadi latar biasa. Musik jazz rendah mengalun, menambah suasana mewah sekaligus berbahaya. Lucan berdiri di balkon kaca berlapis emas, menatap dari atas. Dua pengawal setianya di belakang, sementara Dr. Elara Voss berada di samping, membawa sebuah kotak hitam kecil. "Ini malam perkenalan, bukan sekadar hiburan," kata Lucan, suaranya datar. "Mereka pikir ini pesta judi biasa. Padahal kita sedang menguji masa depan." Elara membuka kotak, menampakkan beberapa pil Cerulean Bliss. Dia menyerahkan segenggam kecil kepada seorang bartender yang sudah dilatih. Perintah sederhana, yaitu mencampurkan pil Cerulean Bliss ke dalam minuman para pemain yang dipilih secara acak. Beberapa menit berlalu, suasana tetap ramai. Tawa keras, dentingan gelas, dan suara chip bertumpuk mendominasi ruangan. Hingga, perlahan, tanda-tanda itu muncul. Seorang pria tua, yang tadi tertawa lebar setelah menang besar di meja baccarat, tiba-tiba berhenti. Senyumnya melebar terlalu lama, matanya kosong menatap lampu gantung. "Indah sekali cahaya itu," gumamnya. Dia lalu berdiri, meraih kursi, dan memukulkannya ke kaca tanpa alasan. Seorang wanita dengan gaun merah, yang biasanya dingin dan penuh perhitungan, tiba-tiba meraih wajah lawan mainnya. Dia menciumi tangannya dengan panik, lalu berteriak ketakutan, "Lepaskan dia! Api! Dia terbakar!" Padahal tak ada apa pun di sana. Kekacauan merebak cepat. Empat, lima, enam orang mulai tertawa histeris, sebagian menangis, sebagian berkelahi dengan bayangan. Ada yang menjambak rambutnya sendiri, ada juga yang mencoba melompat dari meja seolah lantai adalah jurang tak berujung. Lucan hanya menatap dari atas, tanpa ekspresi. Kacau-balaunya ruangan itu seperti orkestra kekerasan. Liat, tak terkendali, dan indah dalam kehancurannya. Elara menelan ludah, berbisik, "Dampaknya lebih cepat dari perkiraanku. Mereka sudah kehilangan kontrol." Lucan menghembuskan asap cerutu, terlalu santai. "Bagus. Artinya kita bisa memanfaatkan mereka. Judi akan jadi pintu masuk, obat jadi ketergantungan, dan pada akhirnya mereka sendiri yang menghancurkan hidup mereka." Di bawah, seorang pria berteriak, lalu menghantam kepala lawannya dengan botol. Darah bercipratan di meja hijau, chip-chip berserakan ke lantai, sementara dealer kabur meninggalkan posisinya. Lucan mengangkat gelas whisky, menatap cairan emas di dalamnya, lalu tersenyum tipis. "Selamat datang di era baru. Malam ini mereka berjudi dengan uang. Besok, mereka berjudi dengan nyawa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN