4 | Ruang Penyerahan Diri

1321 Kata
Selesai urusan di Amsterdam, Lucan langsung beranjak dari sana untuk melanjutkan perjalanan melintasi negara lain. Ini adalah permainan yang sangat menyenangkan. Lucan sangat suka berkunjung ke tempat di mana dia bisa menunjukkan kuasa dan tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Malam di Macau seperti pertunjukan lampu yang tak pernah padam. Gedung-gedung kasino menjulang, papan LED menyala berputar, dan hujan cahaya memantul di permukaan Sungai Pearl. Dari jauh, gemerlap itu tampak seperti janji bahwa semua bisa didapatkan di sini, selama kamu punya uang untuk membayar harganya. Di sebuah hotel mewah yang tampak anggun di luar, ada sebuah pintu yang tak pernah terbuka untuk publik umum. Hanya yang berada dalam daftar orang dengan nama, kata sandi, atau cukup berpengaruh yang boleh lewat. Di ruang VIP, sebuah lift tertutup emas menunggu. Ketika pintu lift terkunci, lantai turun bukan ke kasino utama, melainkan ke bawah tanah, ke jantung kerajaan Lucan. Selain di Amsterdam, pusat The High-Roller Room sebenarnya berada di sini. Dia bukan seperti ruang judi biasa, melainkan ruang dingin yang dirancang untuk sebuah permainan berbahaya. Langit-langitnya rendah, lampu kristal diganti panel-panel hitam bertekstur. Karpetnya tebal, meja-meja hijau mengkilap dikelilingi kursi kulit. Suasana lebih intim, lebih mencekam. Di sini berkumpul para elite underworld—bankir bayangan, politisi yang korup, bandar internasional, dan pengusaha yang mendapatkan kontrak dari kegelapan. Lucan berdiri di sudut ruangan, setelan hitamnya rapi, tangan satu meraih gelas, yang lain menyentuh salah satu chip favoritnya sebelum dilemparkan ke meja permainan. Lucan mengamati setiap gerak taruhannya, ekspresi wajah, semakin kaya mereka bertaruh, semakin mudah aliran uang menjadi bersih. Di meja utama, dealer memutar roda roulette yang bersinar, sementara di meja lain, tumpukan chip disusun setinggi dadaa. Tetapi ini bukan semata-mata soal kemenangan, melainkan soal narasi. Ketika seorang klien menang, uang itu diklaim sebagai hasil judi, lalu dicatat dalam laporan kemenangan palsu. Chip-chip itu ditukarkan ke rekening perusahaan cangkang, dibawa ke rekening luar negeri, dan tiba di akun Lucan sebagai pendapatan investasi. Pernis legal untuk uang yang lahir dari senapan, pil, dan kontrak gelap. Ada ritual tak tertulis yang lebih menegangkan daripada pertaruhan, yaitu aturan tentang utang. Barang siapa berhutang dan tak mampu membayar, entah karena jumlahnya terlalu besar atau karena berusaha mengkhianati, dia akan dihilangkan. Bukan dengan parade darah, tapi dalam cara yang rapi dan terencana sehingga polisi tak bisa menautkan jejak. "Tidak ada tagihan terlewat di sini," kata Lucan rendah pada salah satu tamu yang mencoba negosiasi. "Di The High-Roller Room, kita punya solusi yang elegan." Seorang tamu muda yang terlilit hutang menelan ludah. Dia sudah tahu konsekuensinya, tapi tetap berharap lenyapnya hutang bisa diselesaikan dengan cara lain. Malam ini, sialnya dia kalah lagi. Seorang pria berpakaian rapi mendekat, menepuk pundaknya sambil menawarkan satu kontrak kerjasama yang tak dapat ditolak. Bunga yang lebih tinggi, janji perlindungan, atau sebuah tiket tanpa kembali. Beberapa blok di bawah lantai kasino, ada ruangan kecil yang dikelola tim Lucan, tetapi bukan untuk tontonan umum. Mereka yang dihilangkan dibawa ke sana, dipaksa menandatangani sejumlah dokumen, lalu diatur hilang lewat jalur laut, kecelakaan yang tampak alami, atau keberangkatan mendadak ke luar negeri yang tak pernah tercatat oleh pihak yang bertanya. Metode-metode itu dirancang rapi supaya hidup tak lagi menjadi beban yang memalukan bagi jaringan. Lucan meneguk whisky, matanya menyapu ruangan. Di sini dia tidak sekadar memutar roda, dia memutar nasib. Satu tangan mengangkat piala kehidupan, tangan lain menekan sakelar yang bisa menamatkan nasib seseorang tanpa suara sirene polisi sekalipun. Di The High-Roller Room, taruhan bukan hanya soal uang. Taruhan adalah komitmen dan aturan Lucan jelas tanpa bisa dibantah. Bayar atau lenyap dengan cara yang tak akan pernah terlihat di halaman berita. *** Malam semakin larut, tapi The High-Roller Room justru makin hidup. Tawa berat para bandar bercampur dengan suara dentingan chip, sementara asap rokok menari di bawah cahaya lampu temaram. Lucan berjalan perlahan menyusuri meja utama, langkah sepatunya mantap di atas karpet merah marun. Para pemain menoleh sejenak, sebagian memberi anggukan hormat. Tidah ada yang berani menatap Lucan terlalu lama, sebab semua orang tahu siapa dia, dan semua tahu di ruangan ini bahwa Lucan adalah hukum itu sendiri. Di meja blackjack, seorang pria Asia dengan jas abu-abu tampak gemetar. Chipnya habis, kartu terakhir membuatnya kalah telak. Keringat bercucuran meski ruangan sejuk. Dia menoleh, mencari belas kasihan. "Lucan ... beri saya waktu. Hanya dua minggu, saya bisa—" Lucan mengangkat tangannya, menghentikan kalimat itu. Suaranya tenang, hampir seperti bisikan. "Waktu adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli di sini." Dua pengawal mendekat, berdiri di belakang pria itu. Semua mata di meja pura-pura tak melihat. Dealer melanjutkan permainan dengan lancar, seolah-olah kehilangan seorang pemain hanyalah bagian dari rutinitas. Lucan mendekat, menaruh sebuah chip hitam di meja, lalu menepuk bahu pria itu. "Kamu sudah menikmati permainan. Kamu tahu taruhannya. Di High-Roller Room, utang bukan angka, tapi hidupmu sendiri." Pria itu memohon, suara parau, hampir menangis. Namun dalam hitungan detik, dia dibawa keluar melalui pintu samping, hilang ditelan lorong yang dijaga ketat. Lucan meneguk whisky, lalu menoleh pada Elara yang ikut hadir malam ini. Senyum miring Lucan adalah kesenangan atas kematian. "Uang yang kotor harus dicuci sampai berkilau. Sama seperti dosa, bukan? Orang-orang di sini percaya mereka sedang berjudi, padahal sebenarnya mereka sedang menyerahkan diri." Elara tersenyum tipis, menatap meja roulette yang kembali diputar. "Kamu tidak sekadar mencuci uang, Lucan. Kamu mencuci jiwa mereka." Menaikkan bahu, bersikap tak acuh. Lucan menyeringai, menyalakan cerutu. "Dan jiwa yang sudah kotor, biasanya lebih mudah untuk dijual kembali." Dari tempatnya berada, Lucan menatap ruangan penuh pejudi yang bersorak. Semua permainan yang Lucan kendalikan adalah jantung kekuasaan, tempat uang, dan nyawa. Dia kejam, tetapi Lucan sangat menikmati kekusaannya. Dia senang menindas dan melihat orang lain mati secara cuma-cuma, seperti ada kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. *** Menjelang subuh, di meja baccarat baru saja membuat seorang pria kehilangan hampir setengah hidupnya. Dia bukan pria sembarangan, melainkan pejabat tinggi di pemerintahan negara tetangga, salah satu pelanggan setia Lucan. Jasnya kusut, keringat membasahi kerahnya, dan wajah itu memucat seiring chip terakhir berpindah tangan. "Saya tidak bisa bayar jumlah itu malam ini." Suaranya serak, penuh panik. "Berikan saya sedikit waktu, Lucan. Kamu tahu saya bisa melunasinya. Saya punya kekuasaan dan akses pada jaringan yang luas. Saya berjanji—" Lucan duduk dengan tenang, menyilangkan kaki. Senyum tipis muncul, bukan karena ramah, tapi karena dia terlalu sering mendengar kalimat itu. "Dua kata paling berbahaya dalam bisnis ini adalah 'berikan waktu'. Dan Anda cukup berani mengucapkannya di hadapan saya." Pejabat itu terisak kecil, matanya berkeliling mencari bantuan. Tak ada yang peduli. Para pemain lain pura-pura sibuk dengan kartunya, dealer memutar roda roulette tanpa henti, dan suara tawa berat dari sudut ruangan menenggelamkan rasa panik yang semakin menular. Lucan berdiri, menepuk bahu pria itu. "Saya dermawan malam ini. Empat puluh delapan jam. Bayar penuh, atau Anda tahu akibatnya." Pejabat itu mengangguk cepat, nyaris roboh karena lega. Dia tak tahu bahwa di saat yang sama, salah satu pembunuh bayaran Lucan sudah menerima perintah lewat pesan singkat, urus keluarganya dulu. Bukan untuk membunuh, melainkan untuk mengirim pesan. Kehidupan orang-orang yang dia sayangi akan menjadi pengingat nyata bahwa Lucan tidak pernah memberi janji kosong. Lucan kembali ke kursinya, menyeruput whisky. Senyumnya tipis, matanya dingin. "Kadang, satu keluarga yang menderita lebih efektif daripada sepuluh mayat." Musik jazz pelan kembali mengisi udara, seolah kekacauan barusan hanyalah intermezzo. Namun, malam itu belum selesai. Dari meja paling belakang, seorang pria misterius duduk sendirian. Topinya rendah, wajahnya tertutup bayangan. Saat pelayan menawarkan minuman, dia menggeleng, lalu mengangkat tangannya memanggil Lucan. Lucan menoleh. Hampir tak ada yang berani mengganggunya secara langsung, apalagi di ruangannya sendiri. Lucan berjalan perlahan ke meja itu, langkahnya penuh perhitungan. Pria itu mengangkat kepalanya sedikit, memperlihatkan sepasang mata yang dingin dan penuh rahasia. Bibirnya menyunggingkan senyum samar, lalu dia berucap pelan, tetapi cukup keras untuk Lucan dengar. "Sudah lama sekali, Alaric." Lucan membeku. Nama itu ... nama yang berusaha dia kubur dalam-dalam bersama masa lalu yang seharusnya tidak diketahui siapa pun. Di tengah gemerlap kasino bawah tanah, waktu seakan berhenti. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Lucan menghilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN