Pria yang mengenali masa lalu Lucan dengan mengucapkan nama Alaric hanya duduk santai, menyulut rokok seolah sedang berbincang dengan kawan lama. Namun Lucan tahu, itu bukan kebetulan.
Beberapa jam setelah pria itu pergi, Lucan memerintahkan Taylor, tangan kanannya, untuk menyelidiki. "Temukan siapa dia. Cari semua yang bisa kamu gali. Saya ingin namanya, keluarganya, catatan kriminalnya, bahkan kebiasaan tidurnya."
Tiga hari berlalu dan hasilnya membuat Lucan semakin geram.
"Dia hantu," kata Taylor dengan wajah kaku, menyerahkan berkas tipis yang hampir kosong. "Orang itu datang dengan identitas palsu. Dokumen, kartu, bahkan sidik jarinya ternyata milik seseorang yang sudah mati lima tahun lalu di Kiev."
Lucan meraih berkas itu, menatap foto yang terlampir. Wajahnya memang sama dengan pria misterius itu. Tapi ketika dibandingkan, ada hal-hal yang tidak sinkron seperti garis rahang, sorot mata, bahkan cara duduk yang sempat terekam CCTV.
"Orang bayaran," desis Lucan. "Bodoh. Dia menyuruh orang lain berpura-pura jadi dirinya."
Taylor mengangguk. "Dan orang itu benar-benar sudah mati sekarang. Mayatnya ditemukan di sebuah apartemen murah, overdosis. Polisi mencatatnya sebagai kasus bunuh diri. Bersih, tanpa jejak. Semuanya seperti diatur sedemikian rupa untuk mengacaukan Anda."
Lucan menutup berkas dengan keras. Kepalanya berdenyut. Seseorang cukup berani untuk menyebut nama lamanya di wilayah Lucan sendiri, lalu menghilang tanpa jejak. Lebih buruk lagi, dia melakukannya dengan cara yang terlalu rapi.
Lucan berjalan ke jendela suite pribadinya di hotel, menatap lampu-lampu Macau yang berkelip di kejauhan. Tangannya terkepal, menahan sebongkah emosi.
"Kalau dia tahu saya Alaric," bisik Lucan pelan, "Itu berarti dia tahu siapa Daddy dan dosa masa lalu Maelric."
Suara Taylor terdengar hati-hati. "Mungkin orang itu bagian dari Dominus Consortium, Lucan?"
Dominus Consortium adalah organisasi kriminal dan perkumpulan kejahatan bertipe Mafia di Palermo. Salah satu organisasi kriminal tertua dan terbesar di Italia yang pernah berseteru habis-habisan dengan Thorne Maelric di era '90-an.
Lucan tersenyum tipis, tetapi senyum itu dingin. "Mungkin. Atau bisa saja dia sesuatu yang lebih buruk, seseorang yang ingin saya percaya bahwa dia bagian dari mereka."
Di ruangan itu, keheningan menebal. Hanya terdengar bunyi korek api saat Lucan menyalakan cerutu. Asapnya membubung, mengaburkan wajahnya yang penuh amarah.
"Cari terus dan saya akan memikirkan cara lain untuk memancingnya keluar," ucap Lucan akhirnya. "Kalau dia hantu, saya akan menyeretnya kembali ke neraka."
***
Taylor berdiri di samping meja kaca penuh chip taruhan, laporan transaksi masih terbuka di tangannya.
Suara denting gelas sampanye dan sorakan para penjudi di The High-Roller Room jadi latar bising, tapi dia tahu kata-kata berikutnya akan memotong perhatian Lucan.
"Lucan," ucap Taylor hati-hati. "Ada sesuatu yang mungkin sangat Anda sukai."
Lucan yang tadi sedang menandatangani laporan, mengangkat alisnya tanpa menoleh. "Cepat saja, Taylor. Saya tidak punya waktu untuk basa-basi."
Taylor menarik napas tipis. "Nona Chiara ada di Beijing, sedang liburan bersama kembarannya."
Suasana seketika berhenti. Pena mahal di tangan Lucan terhenti di udara.
Chiara Chesna Faresta.
Sekian lama Lucan berusaha mengubur kenangan mereka dan membungkusnya dalam dinding baja yang tidak boleh disentuh siapa pun. Tetapi sekarang, hanya dengan satu kalimat, dinding itu retak.
Lucan menutup map perlahan. Sorot matanya tajam, tapi bukan sekadar dingin. Ada sesuatu yang lain, bayangan luka lama bercampur obsesi yang tak pernah benar-benar padam.
"Chiara di Beijing?" gumam Lucan pelan, seakan mencicipi rasa asing di nama itu. "Belakangan ini dia terlihat sangat sibuk dengan kesenangannya setelah sekian lama menutup diri. Menurutmu, apa dia sudah sembuh dan punya kekasih baru?"
Taylor menimbang, lalu menambahkan, "Terakhir kali sebelum saya menyusul Anda ke sini, Nona Chiara masih sibuk di studio seperti biasanya. Tidak ada berita mengenai hubungan asmara dengan pria mana pun. Selama hampir setahun ini, saya selalu mengawasinya sesuai perintah Anda."
Lucan terdiam, masih menatap Chiara yang sedang tersenyum lebar sambil memegangi es krimnya. Dia terlihat jauh lebih baik.
Senyum Lucan terlihat tipis, matanya bergerak menyipit ikut senang melihat keadaan Chiara sekarang. "Dia satu-satunya hal yang tidak pernah bisa hilang dari kepala saya."
"Saya bisa atur perjalanan kamu ke sana, Lucan. Bukankah ini waktu yang tepat untuk kalian memulai lembaran baru?"
"Kamu serius kali ini akan berhasil, Taylor?"
"Ya. Sudah waktunya menjemput sesuatu yang menjadi takdir Anda. Kalian saling terikat, meski telah lama berpisah. Di antara kalian, tidak ada yang benar-benar melepaskan."
"Menurutmu, dia akan membenci dan menolak kedatangan saya kembali?"
"Mungkin perasaan kecewa pasti ada. Hanya saja, cinta kalian lebih besar daripada rasa benci itu sendiri."
Lucan melangkah menuju balkon kaca kasino bawah tanah itu. Dari sana, dia menatap kerumunan para penjudi kaya yang tertawa tanpa tahu bahaya. Namun pikirannya jauh melayang—ke Beijing, ke sosok wanita yang pernah dia genggam, lalu terpaksa dia lepaskan dengan cara paling menyakitkan.
Senyum tipis muncul lagi di sudut bibir Lucan, bukan senyum dingin mafia, melainkan senyum berbahaya seorang pria yang baru saja menemukan alasan pribadi untuk melangkah ke medan yang lebih liar.
"Siapkan jet malam ini," kata Lucan yakin, suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi penuh tekad. "Saya akan menemui Chiara. Kali ini, tidak akan ada lagi jalan keluar untuknya atau untuk saya. Saya terlalu gila saat memikirkan dia bahagia karena sudah menemukan pria lain."
***
Tidak ada yang mustahil bagi Lucan, apalagi hanya menyambangi Beijing. Sekalipun ke ujung dunia yang paling berbahaya, akan Lucan datangi jika itu tentang Chiara.
"Anda sangat gilaa!" Taylor geleng-geleng, mengusap rahang murka. Tidak menyangka jika Lucan akan bertindak sekonyol ini.
"Apa kamu pernah melihat saya waras, Taylor?"
"Tapi tidak seperti ini juga, Anda penguntitt paling kotor di dunia ini."
Lucan tertawa puas, duduk santai sambil menyesap cerutu. Kakinya naik ke meja, menunjukkan kekuasaan yang tidak terbantahkan oleh siapa pun.
Mereka sedang menyusup, memasuki kamar hotel Chiara dan Abella tanpa sepengetahuan siapa pun. Taylor telah menyarankan cara yang benar saja, tetapi Lucan menyukai tantangan.
"Kamu pergilah ke kamar kita. Saya akan menunggu Chiara datang."
"Kamu akan diteriaki maling atau dilaporkan atas tindak kejahatan. Jangan membuat keributan di wilayah orang lain. Tapi jika Anda menyukai kegaduhan, tetaplah menggilaa."
"Mau tertaruh untuk hal ini?" Lucan menatap Taylor yang sedang berdiri di ambang jendela. Mimik wajahnya sangat mengesalkan untuk ukuran seorang Tuan yang harus dihormati. "Chiara yang akan bertekuk lutut di hadapan saya. Kamu pikir, pesona saya bisa ditolak?"
"Ini terlalu cepat dan tidak masuk akal. Apakah Anda tidak kepikiran untuk menciptakan pertemuan manis seperti film romansa?"
"Sayangnya ini bukan kisah romansa itu. Saya akan buat momen sendiri."
Taylor berdecih, kemudian bersiap pergi. Dia benar-benar muak dengan kelakuan Lucan. Ada baiknya dia tetap bertugas di Indonesia bersama Thorne yang waras saja.
"Saya tahu pikiranmu, Taylor. Kurang ajarmu tidak pernah berubah sejak dulu. Sayangnya, saya tidak bisa membencimu meski setiap hari kamu membuat saya ingin menghancurkan sesuatu. Kamu terlalu penting untuk disingkirkan, dan itu fakta yang paling menyebalkan."
"Terima kasih pujiannya, Lord. Saya pergi dulu, semoga Anda selalu ketempelan manusia jenius seperti saya."
Lucan melempar tatapan membunuh sepanjang langkah Taylor meninggalkannya. Mulut Taylor sangat beracun, untung saja nyawa Lucan banyak untuk menghadapinya.
Tidak lama setelah Taylor pergi, Lucan mendapatkan informasi susulan, "Nona Chiara menuju hotel, sendirian. Dia berpisah dengan Nona Abella yang terlihat sedang jalan-jalan bersama seorang pria."
Di kamar Chiara, Lucan sedang duduk santai di sofa dengan sebotol alkohol. Dia tidak sabar melihat reaksi Chiara dan tampak merayakan pertemuan ini.
Ketika pintu dibuka, seluruh belanjaan yang Chiara tenteng berjatuhan ke lantai. Beberapa buah menggelinding di lantai.
"Are you okay, Babe?"