8 | Pelukan Sebelum Berpisah

1227 Kata
Setelah mengungkapkan keinginannya untuk menjalin hubungan kembali bersama Chiara, situasi di antara mereka hening dan canggung. Lucan terdiam cukup lama, begitu pun dengan Chiara yang membisu. Keduanya sama-sama dihinggapi perasaan campur aduk, sampai tidak tahu harus melakukan apa untuk mencairkan suasana. “Jika kamu pikir saya benar-benar meninggalkan kamu, saya tidak akan segitunya ingin tahu kehidupan yang kamu jalani setiap hari, Chiara. Saya tidak bermaksud meninggalkan kamu, saya hanya berusaha membuat kamu bahagia.” “Aku nggak bahagia!” sela Chiara dengan bibir bergetar. Dia kelihatan sangat kecewa, tidak bisa menahan buncahan emosi yang sudah terpendam begitu lama. “Kamu yang berkali-kali ingin kita berpisah. Kamu lupa?” Saat air matanya lolos, Chiara memalingkan pandangan. Tidak lama, dia terisak pilu sambil menutup wajahnya. Sekarang Chiara malu, dia bahkan tidak mengerti apa yang dirinya inginkan saat itu. Tapi saat Lucan memutuskan pergi, dia merasa orang paling tersakiti. Lucan menghela panjang, mengikis jarak di antara mereka untuk memeluk Chiara. Dia ragu, tetapi hatinya bilang wanitanya butuh ditenangkan dengan sentuhan. Ketika dipeluk oleh Lucan, tubuh Chiara melemah. Dia menangis sejadi-jadinya. Aromanya, kehangatan tubuhnya, bahkan cara Lucan memperlakukan Chiara masih sama. Pria yang sedang bersama Chiara ini adalah sosok yang pernah sangat dia cintai. “Saya hanya tidak ingin kamu terluka lebih banyak. Saat itu saya pikir, kamu sepertinya tidak bahagia kalau tetap bersama saya.” Tidak ada sahutan, Chiara hanya bisa menangis, dadanya sesak sekali. “Syukurlah kamu menjalani hari dengan baik. Saya senang melihat kegiatan kamu, daripada hanya mengurung diri di kamar.” “Kamu jahat!” “Sejak awal pun saya tidak pernah bilang jika diri saya baik seperti malaikat, Chiara. Saya memang jahat, semua orang tahu kalau saya kejam.” Chiara melepaskan pelukan Lucan, menatapnya sebentar sebelum memalingkan wajah kembali. “Aku udah nggak mau ngomongin ini. Aku mau pulang.” Dia mengusap air mata, tidak ingin menangis terlalu banyak. Chiara malu kelihatan bodohh dan lemah. “Saya tidak paksa kamu harus menjawabnya sekarang. Pikirkan saja dulu. Nanti kalau jatuh cinta lagi sama saya, bilang saja.” Lucan menunjukkan senyum tipis, mengusap rambut Chiara perlahan. “Asal jangan mencintai pria lain, itu curang namanya.” Chiara menggerutu, tetapi tidak terdengar di telinga Lucan. Permintaan yang konyol. Lucan tetap saja posesif dan mau menang sendiri. “Minum dan makan dulu camilannya, nanti saya suruh Taylor mengantarkan kamu.” “Aku maunya sekarang.” “Buru-buru sekali. Kamu takut hilaf ya kalau dekat-dekat saya begini?” Lucan menaikkan alis, berusaha menatap Chiara yang berkali-kali menghindarinya. “Saya ambil baju dulu kalau begitu, kamu jangan ke mana-mana.” Lucan meremas kaleng birnya, melempar ke tempat sampah di sela-sela langkahan. Tidak lama, dia kembali membawa kaos hitam polos. “Mau melihat tato di punggung saya?” Lucan menyuruh Chiara mengamatinya. “Kamu kenal siapa dia?” Chiara terdiam sejenak, kemudian melebarkan matanya. “Kamu bercanda?” “Tidak. Saya sengaja membuatnya. Apa indah?” “Jelek.” Lucan terkekeh, memasang kaosnya. “Mata kamu terlalu indah untuk dibiarkan begitu saja, Chiara. Saya bikin karya seni, abadi di tubuh saya.” Dan yap, di punggung Lucan ada tato yang cukup besar berupa sepasang mata indah milik Chiara. Dibuatnya setahun yang lalu, tidak lama setelah mereka memutuskan berpisah. Di bawah tato mata itu, tertulis C.C.F yang berupa singkatan dari Chiara Chesna Faresta. “Kamu jangan gilaa, Lucan. Apa kamu nggak berniat melanjutkan hidup kamu dengan wanita lain? Kenapa semuanya harus tentang aku?” “Kamu serius mempertanyakannya lagi?” Chiara gelagapan, apalagi ditatap sebegitu dalamnya oleh Lucan. “E—enggak. Maksud aku, kenapa harus aku?” “Karena saya ingin. Kamu dulu katanya tidak rela jika saya dicicipi wanita lain. Kok sekarang berubah?” “Ish! Kamu ngeselin. Cepat, pulangin aku sekarang aja.” Chiara meletakkan kaleng s**u strawberry-nya ke meja, sudah habis dia minum. “Mau mie kuah, Chiara? Saya masakkan.” “Lucan!” “Yes, Babe?” Chiara bergidik ngeri, mengusap lehernya dan seketika merinding. “Mau pedas atau bagaimana?” “Kamu yang bertele-tele, Lucan. Aku tahu kamu lagi mengulur waktu.” “Benar, karena saya merindukan kamu. Saya senang bisa bicara dengan kamu, bisa menatap kamu. Apa kamu tidak merasakan sebaliknya?” Lucan menatap Chiara dari balik kitchen set, menunjukkan dua mie di tangan kanan dan kirinya. “Pedas atau tidak?” Chiara menghela jengah, bersandar di kepala sofa sambil memijat pelipis. Dia pusing. “Oke. Kamu yang pedas.” *** Selesai makan mie, nonton film, dan sekarang waktunya Chiara benar-benar kembali ke hotelnya. Sungguh, dia lelah dan mengantuk. “Panggil Taylor. Aku mau pulang.” “Besok pagi saja. Kamu merengek seperti anak kecil. Thales aja kalah.” “Lucan, jangan konyol. Aku udah menuruti permintaan kamu, jangan ngelunjak. Ini sebentar lagi subuh, aku ngantuk.” “Siapa yang suruh kamu tidak tidur?” Chiara menggeram, ingin mengumpat. “Panggilkan saja Taylor.” “Ayo, tidur bersama Chia—” “Enggak!” “Hanya tidur.” “Pokoknya enggak.” “Saya paksa tidak, ya?” Chiara langsung beranjak dari sofa, menghindari Lucan yang sedang menatap tajam ke arahnya. Lucan tertawa, kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi Taylor. “Kalau tidak diangkat, kamu menginap di sini.” Namun, tidak sampai hitungan sepuluh detik, sambungan telepon itu terhubung. “Ada apa, Lucan? Ada yang bisa saya bantu?” Mendengar dari suara Taylor yang masih normal, bisa dipastikan jika pria itu juga belum tidur. “Sial!” Lucan mencebikkan bibir. “Kenapa kamu angkat telepon saya, Taylor?” “Maksudnya?” “Tidak. Segeralah ke sini, antarkan Chiara ke hotelnya.” Lucan memutuskan teleponnya, menyimpan ponsel itu ke saku. “Puas kamu sekarang?” Chiara menaikkan bahu, memperbaiki penampilannya sebelum Taylor datang. “Aku harap ini yang terakhir. Aku nggak mau ketemu kamu lagi dalam keadaan apa pun.” Tidak ada sahutan, tetapi Lucan melangkah ke arah Chiara yang sedang sibuk mengenakan long coat miliknya. Lucan menarik lengan Chiara, kemudian menangkup wajahnya untuk mengambil ciuman. Chiara membelalak kaget, berusaha melepaskan diri tetapi tidak bisa. Semakin dia berontak, semakin kuat lehernya di tahan. Ciuman itu cukup lama, hingga air mata mengalir tanpa sadar di ujung mata Chiara. Andai Taylor tidak datang, mungkin Lucan enggan menyudahi ciuman mereka. Dia sangat merindukan Chiara. Meski respon wanita itu sangat menguji kesabarannya, tetapi ini cukup menjadi obat selama setahun puasa. “Setelah malam ini, saya tidak tahu kapan bisa menemui kamu lagi, Chiara. Pikirkan sekali lagi ucapan saya tadi. Ketika kita bertemu lagi, berikan jawaban itu.” Lucan menatap Chiara tanpa henti, mengusap rambutnya penuh kasih. “Saya akan berusaha baik-baik saja sampai jawaban itu kamu berikan. Sekali-sekali, minta ke Tuhan, biar saya tidak cepat mati, Chiara.” Sebelum Chiara benar-benar pergi, Lucan kembali membuka suara, “Setiap kali saya merasa kesakitan, saya selalu ingat jika kamu ada di hidup saya.” Genggaman Lucan sangat erat—seolah takut kehilangan, Chiara sampai memandangi genggaman itu seksama. “Saya akan mengabari kamu sesekali, buat memastikan jika saya masih hidup di belahan dunia sana. Kalau saya tidak ada kabar sama sekali, segeralah cari mayatt saya.” Chiara merasa kosong ketika genggaman mereka terlepas, apalagi melihat binar mata Lucan menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan. Setiap langkahannya terasa berat, entah apa yang sedang Chiara pikirkan. Belum benar-benar keluar, Chiara kembali berlari ke arah Lucan. Pria itu sengaja tidak mengantarkannya hingga depan pintu. Chiara memeluk Lucan begitu erat. “Jangan mati, Lucan, apa pun yang terjadi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN