7 | Tipu Daya Cinta

1439 Kata
Rasa kantuk Chiara seketika hilang saat membaca pesan dari Taylor. Dia sontak menganga dan membelalak tak percaya. Taylor: Lucan, masalah muncul lagi. Saya melihat ada seorang penguntit berbahaya di sekitar Anda. Apa sebaiknya langsung dilenyapkan saja? "Dia nggak pernah berubah!" decak Chiara sebal, menggeram pada ponsel Lucan. "Gimana kalau mimpi malam itu beneran terjadi? Kamu sekarat, Lucan." Entah apa yang Chiara pikirkan, dia tiba-tiba teringat Lucan menyambangi apartemennya dengan berlumuran darah. Meski benci dan ingin Lucan mati saja, rasa cemas dalam dirinya jika semua itu menjadi kenyataan sangatlah menakutkan. Chiara berusaha membuka kode sandi ponsel Lucan untuk membalas pesan Taylor. Namun, kode pertama yang dia masukkan salah. "Biasanya kode basic cowok itu pasti nol, nol, nol. Kok ini ribet?" Kode kedua adalah tanggal ulang tahun Lucan, dan berakhir salah juga. Chiara terdiam beberapa saat, memikirkannya dengan alis menaut. "Masa tanggal lahir aku?" gumamnya asal. Iseng mencoba, ternyata layar itu malah terbuka. Chiara menganga, melepaskan ponsel Lucan begitu saja saking kagetnya. Matanya mengerjap beberapa kali, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. "Apa-apan ini? Kok bisa pakai kode tanggal lahir aku?" Bibir Chiara manyun, matanya menyipit penuh curiga. "Pasti akal-akalan dia aja. Sengaja banget hp-nya ditinggal juga. Liat aja, habis ini aku buang!" Selesai membalas pesan Taylor, Chiara mengunci kembali layarnya. Dia sebenarnya penasaran dengan isi ponsel Lucan, tetapi gengsi ingin melihat-lihat isi dalamnya. Chiara: Taylor kok main bunuh-bunuhann? Kalian pikir ngambil nyawa orang kayak motongg ayam? Kalian belum tobat juga ternyata, ya?! Tidak lama, pesan berikutnya kembali masuk dari Taylor. Taylor: Loh, Nona Chiara? Chiara: Suruh Lucan tobat, Taylor, bukan malah mendukung ke hal-hal yang nggak bener. Kamu ini bukannya ngingetin, malah bikin Lucan makin sesat. Chiara: HP ini sengaja ditinggal sama orangnya, sebentar lagi mau aku buang. Setelah itu, Taylor menghilang. Chiara tunggu hingga belasan menit, tak juga dibalas, padahal pesan Chiara sudah dibaca. "Nggak ajudan, nggak Tuan-nya, semuanya pada nggak bener." Chiara beranjak dari sofa, memasuki kamarnya yang masih berantakan. Dia menatap ponsel Lucan beberapa saat, sebelum akhirnya melempar ke tempat sampahh. Dia tidak peduli, tidak juga ingin tahu apapun yang terjadi dalam hidup Lucan. "Persetann mau dia sekarat atau apapun, Chia, bukan urusan kamu. Nggak usah peduliin dia lagi. Kalian udah jalan masing-masing!" Chiara memberengut, memungut satu persatu kaleng minuman dan buah-buahan yang menggelinding hingga ke bawah sofa. Tidak lama setelah membereskan kamarnya, ponsel Lucan di tempat sampah berdering. Chiara mengumpat, lupa mematikan sebelum membuangnya. Alhasil sekarang, dia jadi tak bisa menolak panggilan itu. "Halo, Babe?" "Babii?" "Ugh. Sekarang ngomongnya makin kasar? Bibir kamu lama tidak dimanjain, ya?” Taylor bergidik ngeri mendengar omongan Lucan, dia segera menjauh dan mendumel bahwa Tuannya itu memang sedang mabuk cinta. "Jangan dibuang dong ponsel saya. Ini murni akal-akalan Tuhan, biar kita ketemu lagi." "Menggelikan. Omongan kamu kayak remaja labil yang lagi pubertas." Lucan tersenyum, bersandar lelah di sofa. Dia baru saja melewati sesuatu yang melelahkan tapi menyenangkan. "Saya capek, habis beresin kotoran bumi. Coba kamu buka pesan, saya mengirim beberapa foto keren." Chiara menaikkan sebelah alis, membuka riwayat obrolan bersama Taylor. Benar saja, ada tiga gambar yang dikirim. "Nggak lucu, Lucan! Kamu bener-bener brengsekk, ya?" Jantung Chiara sampai mau copot, sebab gambar yang Lucan kirim adalah penampakan pria itu memegangi pistol dan dipenuhi darah. Bukan tubuh Lucan yang luka, melainkan kemeja putih yang dikenakannya penuh dengan kotoran hasil kesenangan. "Saya tidak mudah kalah, malah orang lain yang berhasil saya singkirkan. Kamu masih yakin ingin saya mati, Chiara?" "Omong kosong. Kamu gilaaa. Berhenti datang dan jangan ngomong apapun lagi. Aku rasa kamu punya banyak uang buat beli ponsel baru. Selamat tinggal!" Chiara memutuskan sambungan telepon mereka, langsung menonaktifkan ponsel Lucan, dan membuangnya kembali. "Stress. Lucan sakit jiwaaa!" *** Selesai buang air dan merapikan diri, Chiara berniat kembali ke mejanya. Dia dan Abella sedang berada di sebuah restoran, makan malam bersama. Tidak hanya berdua, melainkan bersama kekasih baru Abella. Namun, belum sempat tiba di meja, Taylor menghampiri Chiara, membawanya menepi ke ruang yang lebih sepi pengunjung. "Taylor, apa-apaan ini?" Chiara melepaskan cekalan Taylor. "Kalian ngikutin aku? Hentikan kegilaan kalian, Taylor. Apa nggak cukup menguntit aku setahun belakangan? Biarin aku hidup tenang." Taylor mengangguk sopan, tersenyum singkat. "Maaf, Nona. Tapi, Lucan sedang menunggu di mobil, ada yang harus dibicarakan." "Enggak. Nggak ada yang perlu dibicarain lagi. Udah cukup." Chiara menghela jengah, tidak ingin tunduk pada pesona Lucan lagi apapun alasannya. "Apa dia nggak tahu malu? Kamu nggak lupa 'kan siapa yang pergi dari hubungan kami, Taylor? Kalau berani ninggalin, jangan pernah datang lagi." "Kalau Nona tidak ke sana, maka Lucan yang akan ke sini untuk menjemput Nona Chiara." "Bodo amat. Aku nggak peduli." Chiara meninggalkan Taylor—melangkah cepat, bahkan tidak lagi menoleh ke arahnya sama sekali. Hingga makan malam selesai, Chiara cukup puas Lucan tak datang sama sekali. Mungkin Taylor sudah berhasil bicara dengan Lucan—pikir Chiara. Hanya saja, ketika mereka pergi ke tempat bersenang-senang di salah satu club malam, di bawah lampu ruangan yang gemerlap dan suara yang memekakkan telinga, Chiara tiba-tiba diculik paksa. Karena Abella sedang menari bersama kekasihnya, alhasil tidak menyadari jika Chiara menghilang dari mejanya. "Sakit, Chiara!" Lucan melepaskan Chiara saat tiba di mobil, mengusap bahunya yang kena gigit sepanjang langkahannya. "Kamu keterlaluan." "Kamu bau mayatt!" Wajah Lucan datar, kemudian tertawa ringan untuk mencairkan suasana. "Tahu dari mana? Saya tidak bilang habis membunuh seseorang." "Keluarin aku dari sini. Kamu benar-benar keterlaluan. Kamu permainin aku dari tadi Lucan, aku muak banget.” "Kamu yang susah dibilangi. Saya ingin bertemu baik-baik, kamu tolak. Apa boleh buat, saya terpaksa pakai cara yang salah." Lucan memperbaiki jasnya, tersenyum puas karena Chiara berada dalam genggamannya. Sangat mudah berkuasa atas diri Chiara, tidak ada apa-apanya bagi Lucan. "Jalan, Taylor." "Nggak, Taylor. Aku mau turun." "Saya tidak punya banyak waktu untuk mengejar kamu, Chiara. Besok kamu saya bebaskan, jadi untuk malam ini diam dan jadi wanita penurut." Chiara menepis tangan Lucan, berusaha membuka mobil yang terkunci. Kalau saja punya kekuatan lebih banyak, Chiara pukulkan heels yang dia kenakan pada kepala Lucan agar pria itu sadar. Setibanya di hotel tempat Lucan menginap, Chiara kembali dipaksa untuk masuk, sebelumnya dia sudah mengancam Chiara akan membawanya ke tempat yang lebih tidak manusiawi jika berontak. "m***m banget. Ngapain bawa aku ke hotel? Demi Tuhan, aku nggak kepikiran buat jatuh cinta sama kamu lagi, Lucan. Berhenti aja, sia-sia apapun yang kamu lakuin." Lucan hanya mendengarkan, dengan santai melepaskan jas dan kemejanya hingga memperihatkan dadaa bidang dan punggung lebarnya yang dipenuhi beberapa tato. Chiara memalingkan wajah, tidak sanggup melihatnya. "Panggil Taylor ke sini, ada baiknya kita bertiga di dalam ruangan. Nggak baik berduaan.” "Kamu sekarang sukanya main bertiga? Wow, keren juga pergaulan kamu." "Stress!" Lucan terkekeh, mengambil minuman kaleng dan camilan, meletakkan ke meja di hadapan Chiara. "Saya besok harus kembali, banyak kerjaan yang harus saya urus, sebelum dunia putar balik." Chiara memalingkan wajah, diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak paham apa yang sebenarnya Lucan rencanakan, tapi hal ini cukup membuat kewarasannya terguncang. "Tenang saja, saya tidak mengajak kamu bercintaa, kecuali kamu menyerahkan diri." Mata Chiara melebar, tangannya terangkat untuk melempar kaleng minuman kepada Lucan. "Mari bicara, Chiara. Tanpa umpatan, tanpa sumpah serapah, dan jangan bersikap keras kepala. Saya datang ke sini benar-benar ingin menemui kamu, tidak ada alasan lain. Saya orang sibuk, tapi demi kamu, saya luangkan waktu.” "Aku nggak minta. Pulangin sekarang!” "Sekali lagi kamu keras kepala, saya cium. Mulut kamu kebiasaan, suka bikin saya naik darah." Lucan membukakan kaleng minuman untuk Chiara, duduk di samping wanita itu dengan tenang. "Saya sudah bicara baik-baik, dengan nada yang santai juga. Apa masih buat kamu ketakutan?" “Selama setahun, saya hampir tidak pernah bicara dengan nada selembut ini, Chiara. Jadi tolong, jangan hanya melihat keburukan saya.” "Nggak mau denger. Ini tipu daya kamu, aku udah hafal." Lucan tertawa, membuat Chiara makin geram. "Tidak. Oke, saya serius sekarang. Ayo bicara sebentar, nanti saya antarkan pulang." Chiara awalnya tidak ingin bertatapan, tetapi Lucan memaksa agar Chiara menghadap dirinya. "Saya sekotor itu sampai kamu tidak sudi melihat saya, Chiara?” "Ngomong aja, nggak usah muter ke sana kemari. Setelah itu biarin aku pulang dan kita nggak usah berurusan lagi. Aku mohon, jangan ganggu aku, Lucan. Aku secapek itu dibayangi kamu, sampai rasanya nggak tenang.” Lucan diam sebentar, tapi tetap berusaha membujuk agar Chiara mau menatapnya. "Ayo, berteman, Chiara.” "Nggak mau!" Chiara menjawab cepat, kali ini keduanya sudah saling menatap, meski Chiara terlihat ogah-ogahan. “Jangan bercanda. Kenapa harus berteman?” Lucan tersenyum, mengusap pipi Chiara gemas. "Kamu sudah punya pasangan, Chiara?" Chiara tidak mau menjawab, Lucan memilih diam untuk menghargai itu. "Kalau tidak mau jadi teman. Ayo, mulai semuanya dari awal lagi menjadi pasangan. Kali ini saya serius, Chiara."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN