19 | Posisi Yang Diinginkan Semua Wanita

1371 Kata
Melihat Lucan tersenyum, Chiara menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kayak gitu ekspresi kamu?" tanyanya mulai heran. "Tidak. Saya sedikit senang karena ada yang mengurusi semua keperluan saya." "Sedikit senang?" Lucan mengangguk jujur, membuat Chiara berdecih. "Kamu harus belajar ngomong lagi, setidaknya biar aku ikut senang dengarnya." Chiara memencet kedua pipi Lucan, gemas. "Ada yang salah dari omongan saya?" "Enggak ada, cuma kedengarannya ngeselin aja." Chiara masih mengenakan jubah mandi dan handuk yang melilit di kepala, tetapi Lucan sudah rapi dengan pakaian formalnya. Mereka agak terlambat bangun, karena masih sama-sama kelelahan dan mengantuk. Lucan tidur sangat tenang, bahkan beberapa kali Chiara bangunkan barulah dia mau bangun. "Kamu tidak perlu ikut, 'kan? Saya buru-buru." "Aku ikut!" Chiara memicing, menatap Lucan tajam. "Kamu kok kepikiran mau ninggalin aku terus? Di mana-mana pengantin baru itu nempel kayak perangko." "Saya sebentar saja, nanti setelahnya baru saya jemput untuk jalan-jalan." "Enggak, aku tetap ikut. Aku mau tahu siapa yang ingin kamu temui dan ada urusan apa kalian di sana. Jangan main rahasiaan sama aku, kita udah bukan lagi sepasang kekasih. Aku istri kamu, Lucan." Sengaja Chiara tekankan kata 'istri' pada kalimat akhirnya, agar Lucan paham. "Kamu selalu ingin tahu, saya heran. Padahal cukup percaya sama saya, semuanya beres." "Masalahnya aku susah percaya sama kamu." Lucan tersedak, hampir saja menyemburkan air minumnya mendengar itu. "Chiara?" tegur Lucan blak-blakan. "Saya suami kamu, kenapa malah tidak percaya? Apa pernikahan kemarin juga bikin kamu tidak percaya perasaan saya?" Chiara terkekeh, menaikkan bahu sambil terus mengeringkan rambutnya. "Sarapan aja duluan, nanti kamu kelaperan." "Saya tunggu kamu, biar disuapi." "Badan segedhe kingkong gitu, masih minta disuapi?" "Makanannya jauh lebih enak kalau dari tangan kamu." Lucan tidak menanggapi serius, sibuk pada layar tabletnya sambil sesekali menyeruput teh hangat. Namun, hal ini justru menciptakan semburat merah pada pipi Chiara. Dia sedikit salah tingkah karena senang dengan pujian itu. Pagi ini mereka tidak sarapan di restoran hotel, karena sudah terlambat dan tidak punya banyak waktu. "Halo, Taylor, ada apa?" "Syukurlah Anda sudah bangun. Sejam yang lalu saya telepon, Nona Chiara yang angkat. Cepatlah ke sini, Lucan, dokter Elara juga menunggu Anda untuk membicarakan sesuatu." "Heum. Chiara ikut bersama saya, pastikan jika situasi di sana aman untuk dia. Sebentar lagi kami berangkat." "Baik, Lucan. Akan saya atur kembali orang-orang di sini agar tidak mengatakan hal-hal di luar kendali. Saya pastikan juga agar Nona Chiara nyaman dan tidak menaruh curiga." Lucan mengiyakannya, segera memutuskan sambungan telepon mereka. "Tuh 'kan, giliran aku dateng, langsung berenti ngomong. Kamu sama Taylor nih mencurigakan." "Kamu yang terlalu curigaan." Lucan menarik Chiara agar duduk disisinya. "Saya lapar, tidak usah mengomel terus." Chiara menghela panjang, menjewer telinga Lucan sebal. "Jangan menyembunyikan apapun dari aku. Semua yang terjadi di hidup kamu, libatkan aku. Kita suami dan istri, sudah seharusnya saling melindungi." "Iya, saya paham." *** Saat turun dari mobil dan merangkul pinggang Chiara, Lucan menghentikan gerakannya. "Sayang, ngapain bawa pistol? Kamu bercanda?" Lucan tidak bisa menutupi keterkejutannya. Chiara terkikik geli. "Firasat aku lagi nggak enak. Kamu juga, ngapain nyimpen pistol tiga biji di koper? Kamu jangan main-main sama aku." "Sini, biar saya yang simpan." "Enggak. Aku jago kok gunainnya." Chiara menghindari dari jangkauan Lucan, melangkah lebih dulu memasuki pekarangan sebuah rumah di tengah-tengah hutan. Bukan hutan belantara, lebih tepatnya memang sepanjang perjalanan menuju rumah itu, tidak ada permukiman warga. Hanya ada pepohonan besar yang menjulang dan bisa dikatakan seperti hutan. Lucan memejam, memijat pangkal hidung. Harusnya dia sadar jika istrinya adalah keturunan Faresta. Pistol bukan hal besar di kalangan mereka. "Taylor, amankan keadaan. Istri saya membawa pistol. Jangan sampai dia melihat sesuatu yang membuatnya harus meledakkan kepala seseorang." Dari kejauhan, Lucan sudah memperingati Taylor. Penguntit waktu itu sudah ditemukan, sedang diamankan di kamar paling belakang yang ada di rumah itu. Harusnya hari ini, Lucan bermain-main dengan orang itu. Namun, tampaknya tak jadi karena ada Chiara. "Halo. Selamat datang, Nona Chiara." Taylor menyambut keduanya dengan ramah. "Rumah siapa ini, Taylor? Mewah tapi kok jauh banget dari pusat kota?" "Milik suami Anda, Nona. Biasanya di sini kami hanya mencari ketenangan dari kebisingan kota. Liburan dan bicara bisnis dengan tenang." Chiara menatap Taylor dan Lucan bergantian. "Oh, gitu. Kali ini, ada bisnis apa?" "Hanya mengenai obat-obatan yang akan diedarkan di sini, Nona. Kemudian beberapa bisnis Lucan di bidang properti." “Masalah apa yang sedang kalian hadapi. Suami aku dari beberapa hari lalu nggak tenang. Sekacau apa, Taylor?” Taylor menatap Lucan sebentar. “Ada keterlambatan pembangunan gedung akibat kelalaian beberapa orang pengawas, Nona. Tapi semuanya sudah beres, tim kami hanya perlu waktu sedikit lagi untuk menyelesaikannya.” “Boleh aku ikut ke lapangan untuk melihat pembangunan gedung itu?” “Tentu saja, Nona Chiara, Lucan akan membawa Anda ke sana siang ini.” Lucan merangkul Chiara, mengajaknya masuk lebih dalam pada bagian rumah itu agar tidak mencecar Taylor terus-menerus. "Dia dokter Elara Voss, rekan bisnis yang bantu saya meracik obat-obatan untuk diedarkan di sini. Dia seorang penemu dan dokter hebat." "Chiara L'Maelric." Chiara memperkenalkan dirinya dengan menyebut nama Lucan di belakangnya. Entah kenapa, perkenalan itu kedengarannya seperti ada kesengajaan untuk menegaskan bahwa dirinya milik Lucan. "Elara Voss. Senang bisa berkenalan dan bertemu langsung dengan Anda, Ms. L'Maelric." Chiara tersenyum, mengangguk singkat. Penampilan Elara Voss hari ini sangat menggoda. Dia mengenakan dress hitam ketat yang menunjukkan lekuk badan dan belahan dadaa yang memesona. Rambut pirangnya, gerakan bibirnya saat bicara, semuanya membuat Chiara tidak nyaman. Taylor dan Lucan pergi sebentar ke sisi lain untuk berbincang, tertinggallah Elara Voss dan Chiara di ruangan tengah itu. "Senang mendengar Lucan akhirnya menikah. Saya dengar, kalian sudah menjalin hubungan sejak lama. Tidak saya sangka, Lucan ternyata menjalin kasih dengan seorang wanita." "Maksudmu? Apa selama ini kamu pikir Lucan tidak menyukai wanita?" Elara Voss menggeleng cepat. "Tidak, maksud saya ... Lucan sangat sibuk dan seperti tidak tertarik dengan wanita mana pun, tetapi kemarin pernikahannya diumumkan. Saya cukup terkejut dengan hal itu." "Syukurlah jika dia tidak melirik wanita lain, dokter Elara." "Anda sangat beruntung untuk hal itu, Ms. L'Maelric. Saya rasa, semua orang mendambakan posisi itu." Senyum Chiara perlahan surut, digantikan keadaan tak nyaman kalau obrolan ini terus berlanjut. "Apakah Anda salah satu wanita yang ingin berada di sisi suami saya, dokter Elara?" Kedatangan Lucan mengalihkan obrolan mereka, membuat Elara Voss merasa terselamatkan. "Ayo, Sayang. Saya ingin mengajak kamu berkeliling dan melihat danau di sebelah sana." Chiara menatap Elara Voss tajam—seolah sedang memperingati wanita itu agar tahu diri, sebelum akhirnya melangkah bersama Lucan. *** Sebelum meninggalkan pekarangan rumah mewah ini, Lucan mengamati Chiara sekali lagi. "Saya ada salah bicara? Kamu sejak tadi diam saja.” “Tidak ada yang saya tutupi, Chiara. Saya membawa kamu berkeliling rumah ini, kita membicarakan rencana pembangunan dan racikan obat bersama. Apa yang membuat wajah kamu tetap masam begini?” "Enggak kok. Ayo, pergi. Aku pengen jalan-jalan ke tempat lain, di sini enggak seru. Nggak ada pemandangan yang asik buat diliat." "Kalau ngomong menghadap ke saya, Chiara." Dengan malas, Chiara menatap Lucan. "Udah. Nih!" Mengulas senyum, tetapi kelihatan sangat dipaksakan. "Ngomong jujur sama saya." Chiara diam beberapa saat, sampai akhirnya memilih jujur. "Aku nggak terlalu nyaman ngobrol sama dokter Elara itu." "Dia bicara sesuatu yang membuat kamu tersinggung?" Chiara tak menanggapinya. "Lucan, cium aku sekarang." Tiba-tiba meminta hal tersebut, sebagai pengalihan rasa khawatirnya yang cukup berlebihan. Lucan meraih tengkuk Chiara, menciumnya lembut dan mesra sesuai permintaan. Cukup lama mereka bercumbuu, hingga akhirnya saling meraup udara segar dengan napas terengah. "Sudah merasa lebih baik?" Chiara mengangguk. "Aku senang, kamu cuma milik aku. Jangan melirik wanita lain, selain aku. Jangan mencintai yang lain, cukup aku aja. Kalau aku kurang baik dalam melayani kamu, bilang aja. Aku bakal berusaha bikin kamu selalu nyaman dan merasa cukup dengan adanya aku, Lucan." Lucan paham ke mana arah bicara Chiara, tetapi tidak ingin memperpanjang agar Chiara berhenti mencemaskan hal-hal seperti ini secara berlebihan. "Kamu tidak ada kurangnya." Senyum Chiara membuat Lucan merasa lega juga. "Sepanjang hidup saya, kamu adalah satu-satunya wanita yang paling ingin saya miliki untuk diajak hidup bersama, Chiara." "Aku percaya." Chiara mengusap rahang Lucan, mengangguk berkali-kali. "Ayo, kita jalan-jalan. Aku pengen nikmatin suasana di sini, sebelum nanti ke Italia. Aku anggap ini bulan madu kilat kita." Mobil melaju perlahan, sementara dari kejauhan lain, Elara Voss mengamati mereka diam-diam dari kejauhan hingga mobil Lucan menghilang dari pandangannya. “Apa istimewanya wanita itu, Lucan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN