Suasana hati Chiara belum membaik, tapi karena harus ikut dengan Lucan terbang ke Belanda, akhirnya dia berusaha menyesuaikan diri—apalagi di hadapan orang tuanya saat akan berpamitan.
Setelah hari ini, mungkin agak lama lagi Chiara baru pulang ke Indonesia, karena dia harus menetap di tempat suaminya berada. Chiara juga mengalah untuk meninggalkan segala kesibukannya di Indonesia agar bisa hidup bersama Lucan.
"Jadilah istri yang baik." Ratih mengusap pipi Chiara, tidak bisa menutupi kesedihannya harus berpisah. "Nanti kalau ada waktu senggang yang memungkinkan, pulanglah ke sini. Kalau ada apa-apa sama kalian, langsung hubungi Papa atau Mama."
Chiara mengangguk, memeluk Ratih sekali lagi. "Iya, Ma. Aku titip Sonare, yayasan, dan semuanya yang ada di sini ya, aku akan memantau mereka dari kejauhan."
"Kamu tenang aja, Nak. Apa yang sudah kamu bangun, akan kami jaga sebaik mungkin. Kamu enggak usah mengkhawatirkan hal itu, semuanya akan baik-baik aja."
"Papa lama banget ngobrol sama Lucan. Papa enggak marahin suami aku 'kan, Ma?" Chiara tidak bisa tenang, karena Lucan belum keluar dari ruang kerja Damian. Mereka mengobrol cukup lama, sampai Chiara penasaran apa saja yang dibicarakan.
"Biasa, obrolan para lelaki. Hanya mereka yang paham, Nak. Enggak masalah, udah Mama ingetin Papa biar enggak berlebihan kalau menasehati Lucan. Mereka hanya perlu waktu untuk menjadi lebih dekat."
Chiara cemberut. "Abella beneran enggak mau pamitan sama aku? Dia sekesal itu aku nikah sama Lucan, Ma."
"Udah, biarin aja dulu, jangan kamu paksa. Nanti Mama yang ngomong sama Abella, biar segera hubungin kamu kalau hatinya udah membaik. Enggak ada yang namanya musuhan sama saudara, Abella cuma kecewa sedikit aja. Jangan kamu masukin hati."
"Iya, Ma."
"Mama doain segera ada kabar baik dari kalian, ya. Enggak usah menunda jika bisa, karena usia kalian sudah cukup matang."
Chiara tersenyum, hanya mengangguk singkat.
“Kenapa melamun? Kamu tidak senang ikut bersama saya?” Lucan duduk di sisi Chiara, setelah cukup lama sibuk di mejanya mengurus beberapa pekerjaan.
Seorang pramugari menyapa ramah dan meletakkan beberapa dessert untuk dicicipi.
Mereka menumpangi jet pribadi menuju Belanda, semua yang ada di dalamnya adalah orang-orang kepercayaan Lucan.
Chiara menghela berat, memijat pelipisnya pelan. “Kita kayak orang asing yang kebetulan ada di satu ruangan gini. Kamu tahu aku paling nggak suka didiemin, Lucan.”
“Siapa bilang saya mendiamkan kamu? Sejak tadi sambil bekerja, saya tidak berhenti memerhatikan setiap gerakan kamu.”
“Nggak lucu!” Chiara memicing ketika melihat Lucan berusaha membuat lelucon agar suasana mereka mencair. “Apa yang lagi kamu rencanakan, Lucan?”
Lucan tersenyum singkat, mengusap puncak kepala Chiara. “Bercintaa dengan kamu,” jawabnya tanpa beban dan memang itu yang saat ini benar-benar Lucan pikirkan saat bersama Chiara. “Di sini ada kamar pribadi. Saya rasa cukup kedap suara.”
Chiara memutar bola matanya malas, menjauhkan tangan Lucan dari pahanya yang tiba-tiba memberi sentuhan kecil.
“Enggak.”
“Saya sakit hati, sejak kemarin selalu ditolak.”
“Jangan membuat drama, Lucan. Aku lagi nggak pengin bercanda.” Chiara memakan brownies, mengabaikan Lucan. “Kerjaan apa yang lagi kamu urus di Belanda?”
“Hanya bisnis kecil-kecilan.”
“Bohong!” Chiara memicing, berhenti mengunyah makannnya. “Taylor di sana dan kalian sedang ada masalah yang harus segera diselesaikan. Aku dengar kamu teleponan di belakang tadi, nggak usah bohong. Bisnis kamu nggak melanggar hukum, ‘kan, Lucan?”
Lucan terdiam cukup lama, sibuk merapikan rambut ikal Chiara dan mengamati ekskpresi sebal wanita itu. “Tidak, Chiara. Kamu cukup percaya sama saya, semuanya akan baik-baik saja. Jangan cemberut terus bibir kamu, nanti saya cium kamu nolak.” Mengambil sisa brownies di ujung bibir Chiara, kemudian mencicipinya.
“Suapi saya brownies itu juga, Chiara. Ternyata enak, tidak terlalu manis.”
Chiara menyuapi pria itu, tapi masih tidak seratus persen percaya pada ucapannya. Chiara merasa Lucan menutupi banyak hal darinya.
“Jangan memikirkan semuanya secara berlebihan, Chiara. Kamu akan capek sendiri jika terus menduga-duga sesuatu yang belum tentu benar.”
“Entah kenapa, hati aku bilang kamu lagi bohong, Lucan.”
Lucan hanya terkekeh. “Saya memang selalu salah di mata kamu, sudah tidak heran lagi.”
“Bukan gitu, tapi aku merasa kamu lagi sembunyiin sesuatu dari aku.”
“Berarti kamu tidak mempercayai saya.” Lucan menghadap Chiara, menatapnya cukup lama sampai Chiara salah tingkah. “Ayo, istirahat ke kamar, Sayang.”
Ketika dipanggil ‘sayang’, Chiara langsung begidik ngeri. Bulu kuduknya meremang seketika.
“Ayo, sebelum saya gendong paksa!” Lucan mengulurkan tangan, kali ini tidak memberi Chiara ruang untuk melepaskan diri. Mulai dari tatapan sampai gerakan lembut Lucan, semuanya membuat Chiara merinding.
“Nggak lucu kalau kedengaran orang lain, Lucan.”
“Tidak ada yang dengar, kalau pun dengar, saya tidak peduli. Mereka tahu kalau kita pengantin baru.”
Chiara hanya menghela pasrah ketika dirangkul posesif masuk ke kamar pribadi dan Lucan langsung mengunci pintunya. Jendela terbuka, menampilkan pemandangan langit yang sangat indah dipenuhi awan.
“Punya suami gini banget, nggak ingat tempat,” cibir Chiara mengamati Lucan yang lebih dulu melepaskan kemejanya.
“Siapa yang tahan kalau istrinya secantik kamu?”
“Gombal banget!” decak Chiara geli, menutup telinganya sambil menahan senyum malu. Semburat merah jambu pada pipinya perlahan terlihat dan semakin memperindah wajah Chiata.
Dan ya, jet yang terbang di ketinggian puluhan ribu kaki ini menjadi saksi bisu percintaan pertama Chiara dan Lucan setelah resmi menjadi suami dan istri.
***
Setibanya mereka di hotel, Lucan tidak langsung berniat istirahat. Hal ini membuat Chiara lagi-lagi keheranan.
“Mau ke mana, Lucan?”
“Menyusul Taylor. Kamu tidurlah, besok pagi kita jalan-jalan sebentar di sini biar tidak terlalu berasa lelahnya.”
“Kamu bercanda? Ini jam 1 dini hari, Lucan. Ngapain kamu ngurusin kerjaan semalam ini?”
“Sebentar saja.” Lucan akan mencium kening Chiara, tetapi ditolak. “Jangan berulah, kita baru saja berbaikan tadi, Chiara.”
“Enggak, aku maunya kamu juga tidur. Jangan ke mana-mana, aku nggak izinin kamu pergi.” Chiara menahan lengan Lucan. “Aku nggak bakal biarin suami aku pergi malam-malam gini. Bahaya.”
“Chiara, saya mohon. Terlalu lelah kalau kita harus berdebat lagi.”
“Kalau gitu, aku ikut sama kamu. Aku mau tau, kerjaan apa yang katanya sangat penting itu.” Chiara mengambil mantel dan menggulung rambutnya asal. “Ayo, pergi sama-sama.”
Lucan mengusap wajah, menatap Chiara jengah. “Sudah malam, Chiara, jangan menguji kesabaran saya.”
“Kenapa aku nggak boleh ikut? Apa yang kalian sembunyikan dari aku? Jangan bilang kamu punya wanita lain di sini?”
“Tidak ada wanita lain, Chiara. Kamu yang benar saja.” Di saat Lucan kecintaan pada Chiara secara terang-terangan, perasaannya pun masih diragukan oleh wanita itu.
“Kalau gitu kenapa aku nggak boleh ikut?” cecar Chiara tak mau kalah, dia menatap Lucan berani. “Ayo, pergi sekarang sebelum terlambat. Kasihan Taylor nunggu kamu kelamaan.”
Lucan mendesah murka, kemudian memilih mengalah. “Tidak perlu. Kita tidur sekarang.” Lucan melewati Chiara dan berbaring ke ranjang.
“Kenapa tiba-tiba nggak jadi?”
“Besok saja. Ayo, sini, waktunya tidur. Kamu kelelahan Chiara, jangan memaksa nanti sakit.”
Chiara menatap Lucan beberapa saat, sebelum akhirnya berbaring di sampingnya. “Aku juga khawatir kamu kelelahan dan jatuh sakit, Lucan. Kamu dari semalam belum ada tidur sama sekali.” Mengusap pipi Lucan, saling bertatapan lama.
“Iya. Kamu tidurlah. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya.”
“Janji dulu sama aku, Lucan, kamu nggak bakalan pergi diam-diam setelah aku tidur nanti.”
“Kamu tidak pernah percaya sama saya, Chiara.”
“Janji dulu, soalnya kamu selalu nggak ketebak. Bisa habis ini aja kamu berubah pikiran.”
Lucan mengangguk, mengecup bibir Chiara singkat. “Saya tidak akan pergi. Kamu bisa tidur dengan tenang.”
Chiara balas memeluk Lucan. “Aku menyayangi kamu, Lucan. Jangan bikin aku kesal terus, nanti hilang cinta aku.”
“Tinggal bercintaa, nanti juga tumbuh lagi cintanya.”
“Mesumm!”
Chiara memukul punggung Lucan, membuat pria itu tersenyum tipis dan perlahan mulai memejamkan mata dalam pelukan Chiara.