"Aku marah sama kamu ya, Lucan!" Chiara menarik selimut, menutupi tubuh polosnya. Wajah dia memberengut sebal, apalagi melihat Lucan tampak buru-buru mengenakan pakaian.
"Ada urusan mendadak yang harus segera saya urus, Chiara."
"Sepenting apa sampai kamu tega ninggalin aku dalam keadaan kayak gini?" Nada bicara Chiara meninggi sekaligus frustasi, dia menggeram sangat jengkel. "Kita belum selesai, Lucan!"
"Masih ada hari esok, Chiara. Saya pergi dulu, kamu tidurlah." Mengecup kening Chiara singkat, kemudian berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.
Chiara mengumpat, mengacungkan jari tengahnya pada Lucan—meski pria itu tak melihat kepadanya.
"Suami gilaa!" Chiara memukul permukaan kasur, masih tidak terima dirinya ditinggalkan dalam keadaan sedang diambang gairah yang membumbung tinggi.
Mereka sedang merajut cinta di malam pertama layaknya pengantin baru pada umumnya, tapi tiba-tiba Taylor menelepon dan membuat Lucan beranjak dari atas tubuhnya tanpa aba-aba. Entah sepenting apa urusan itu, Chiara berhasil dibuat murka.
"Pengantin baru apa kayak gini? Kurang ajar. Kamu bener-bener keterlaluan, Lucan!"
***
Sekitar jam sepuluh pagi, Chiara baru bangun dan beranjak dari kasur. Ponsel sengaja dia matikan dan untuk segala akses menuju kamar pun Chiara tutup agar Lucan tak bisa masuk.
Persetann pria itu akan tidur di mana, Chiara tidak peduli. Dia berhasil jadi istri yang memprihatinkan setelah ditinggalkan suami saat malam pertama—terlebih saat mereka sedang asik bercintaa.
Chiara membersihkan diri, kemudian berniat mengisi perut. Saat pintu terbuka, Lucan sudah menunggu di depan kamar.
"Kenapa bertindak berlebihan sekali, Chiara? Saya hanya pergi sebentar, tidak seharusnya kamu menghindari saya segitunya."
Chiara tidak mendengarkan, memilih berlalu menuju restoran VVIP yang sudah dipesan atas namanya kemarin.
Lucan berusaha mengejar, mencekal pergelangan Chiara untuk bicara sebentar.
"Apa sih?" Chiara menatap sinis, berusaha menjaga jarak. "Jangan sok jadi korban, Lucan, kamu yang bikin ulah duluan. Jangan harap aku maafin kamu setelah apa yang kamu lakuin semalam. Menjauh dari hadapanku, aku bener-bener muak sama kamu."
"Jangan berlebihan!" Lucan menghalangi gerakan Chiara. "Hanya masalah sepele—"
"SEPELE?" Chiara nyaris berteriak, andai tidak sadar jika saat ini mereka sedang di lorong hotel. Jika masih dalam kamar, dia tidak ragu akan memakii Lucan habis-habisan. "Sintingg kamu, ya!" Napas Chiara memberat, kemudian memaksa pergi dari hadapan Lucan.
"Ayo, kita lakukan sekarang. Saya sangat menyesal untuk kejadian semalam." Akhirnya Lucan mengalah, karena tahu Chiara benar-benar semarah itu.
"Tidak akan! Jangan menyentuhku lagi. Jangan mimpi untuk bercintaa denganku lagi, Lucan. Kamu udah milih buat ninggalin aku, saat kita bercintaa. Kamu pilih urusan lain, dibandingkan aku. Menyedihkan!"
Mata Chiara berkaca-kaca, teringat semalam dia hampir tak bisa tidur hingga dini hari karena mengasihani dirinya yang naas. Dia memandangi dirinya di depan cermin, menangis karena Lucan tidak meliriknya. Bahkan tak merasa bersalah atau mengiriminya pesan untuk menenangkan.
"Jangan mulai membuat drama. Saya bilang urusan semalam sangat penting, tidak bisa saya tunda—"
"Bahkan saat kita sedang bercintaa?" Chiara mengusap air matanya kasar, berusaha mengontrol emosinya yang menggebu-gebu. "Jangan gilaa kamu. Semalam, enggak ada yang lebih penting selain diri kita, Lucan. Kamu sadar kita baru menikah kemarin? Mana tanggung jawab kamu sebagai suami? Kamu malah ninggalin aku, istri kamu. Aku jadi ragu, kamu nggak bener-bener menyayangi aku!"
"Chiara, sudahlah. Kenapa bahasannya merembet ke mana-mana?"
"Cih. Terserah kamu, Lucan. Terserah!" Chiara melangkah cepat meninggalkan Lucan.
Lucan tidak mengejarnya, karena dia cukup lelah dan merasa tidak akan bisa meluluhkan hati Chiara kalau wanita itu masih marah. Jadi percuma saja jika memaksanya sekarang.
***
Semalam, Elara Voss menghubungi Taylor dan mengatakan jika tempat yang biasa dia gunakan untuk meracik obat-obatan, terasa kurang aman. Sejak siang, Elara Voss merasa ada yang mengawasi dan memata-matainya di sekitar sana.
Dan saat Lucan kerahkan orang untuk mencari tahu keadaan di sekitar markas Elara Voss, tidak ada siapa pun di sana. Jejaknya minim ditemukan, hanya tertinggal sebilah rokok sebagai barang bukti jika seseorang memang sedang mengintai Elara Voss. Lucan sedikit kecolongan, karena membiarkan Elara Voss masih berada di tempat lama itu.
Jika Dominus Consortium turun tangan, tempat aman sekalipun, akan terasa terancam. Makanya Lucan memiliki wilayah sendiri untuk menjalankan bisnis hitamnya. Ada jalur-jalur khusus yang tidak tercium oleh siapa pun, termasuk orang dari Dominus Consortium.
Taylor diterbangkan ke Belanda lebih dulu, untuk membantu Elara Voss mengamankan keadaan bersama pasukan Lucan yang lain. Dia berharap, pagi ini sudah menemukan tanda-tanda si penguntit tersebut. Namun hingga kini, Taylor belum mengabari apa pun.
Lucan tidak bisa tidur, ditambah tidak bisa masuk kamar dan barusan bertengkar dengan Chiara. Dia tahu dirinya salah, tapi Lucan tak senang dia disalahkan. Lucan juga tak berniat minta maaf, gengsinya sangat tinggi.
Dia merasa sudah cukup pusing, jadi masalahnya dengan Chiara hanya persoalan kecil yang tidak ada apa-apanya ketimbang masalah bisnis Cerulean Bliss.
Beberapa jam waktu berlalu, hingga makan siang tiba, Chiara tak juga kembali ke kamar hotel mereka. Lucan ketiduran sebentar, akibat kelelahan. Energinya sangat terkuras saat mempersiapkan pernikahan kemarin, jarang tidur, dan emosinya tampak kurang stabil.
Lucan berusaha menghubungi Chiara, tetapi nomor wanita itu masih tidak aktif. Lucan yakin, dirinya diblokir oleh wanita itu.
"Mengurusi wanita sungguh memusingkan. Ribet sekali," komentar Lucan tak habis pikir, kemudian mengecek dari benda canggihnya di mana keberadaan Chiara.
Saat tahu Chiara sedang di studio, Lucan langsung ke sana tanpa pikir panjang. Sepanjang perjalanan, dia beberapa kali memikirkan hal-hal yang merepotkan.
"Kenapa harus ke studio? Kamu mau semua orang mengetahui keadaan kita yang sedang tidak berbaikan ini?"
"Kenapa tidak sekalian pulang saja ke kediaman Faresta, biar Damian langsung menghajar saya?"
Lucan memijat pelipis, menyayangkan sekali tindakan Chiara ini.
"Kenapa setiap kali sedang marah, wanita selalu menciptakan masalah baru?" batin Lucan tak habis pikir.
"Woi, Uncle Lucan!" Thales menyapa Lucan dengan riang, melambaikan tangannya. "Kok di sini? Katanya kemarin mau pergi ke pantai sama Miss Chia?"
"Onty kamu di sini, Uncle mau jemput."
"Oh ya? Aku belum ada ketemu Miss Chia. Kalian berantem, ya?" Thales mengulum senyum, membercandai Lucan dengan polos. "Jangan nakal, Uncle, nanti aku aduin Opa!"
“Anak kecil tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa. Sana masuk, masih ada kelas latihan, ‘kan?”
Thales mengangguk saja. “Huh, Uncle jahat.” Lantas membuang muka, lalu pergi meminggalkan Lucan menuju ruangan Biola.
Lucan hanya geleng-geleng kecil menatap Thales hingga anak itu menghilang dari pandangan, kemudian segera menuju ruangan pribadi Chiara. Saat pintu dibuka, Chiara sedang meringkuk di sofa—ketiduran dengan sangat tenang.
Melihat hal itu, Lucan tiba-tiba merasa bersalah.
Dia mendekati Chiara, duduk di pinggiran sofa. “Kenapa tidur di sini sih? Kasur hotel lebih empuk dan nyaman.” Mengusap rambut Chiara, merapikannya juga agar tidak menutupi wajah.
Merasa ada sentuhan, Chiara terkesiap. Dia cukup kaget melihat Lucan ada di sisinya. Tetapi karena malas buka suara, Chiara hanya mengubah posisi membelakangi Lucan.
“Tidak sopan, kamu membelakangi saya, Chiara.” Lucan protes, memukul bokongg wanita itu gemas. “Ayo, pulang. Jika tidak ingin ke hotel, sementara ke penthouse saya dulu. Kemungkinan besok saya pergi ke Belanda, setelahnya baru ke Italia.”
Kening Chiara mengerut, kantuknya tiba-tiba hilang. “Kenapa buru-buru banget? Kata kamu masih ada waktu buat aku ngurus semua berkas, sebelum ikut kamu ke Italia.”
“Ada urusan mendadak.”
“Kamu kenapa sih, Lucan? Sepenting apa kerjaan kamu sampai semuanya tertuju ke sana? Kita pengantin baru, harusnya masih menikmati waktu berdua.”
“Nanti kita berbulan madu di Italia saja.”
“Omong kosong!” Chiara menepis tangan Lucan dari kepalanya. “Pergi aja, nggak usah ketemu aku lagi.”
“Kamu marah-marah begini seperti remaja labil, Chiara, sangat kekanak-kanakan. Belajarlah lebih tenang menghadapi masalah, jangan sedikit-dikit kabur dan merajuk. Saya cukup terganggu dengan sikap kamu begini.”
Chiara menganga, beberapa saat kemudian terdengar isak tangisnya. “Serius kamu bicara gitu di depan aku, Lucan?”
Lucan memijat pelipis, menghela berat dan merasa sangat jengah.
“Biar orang saya yang bantu mengurus berkas kamu. Kamu ikut saya saja pergi ke Belanda besok,” putus Lucan final. “Jangan suka menangis. Kalau marah bicara yang benar, kamu bukan lagi bocah sekolah. Hanya persoalan sepele, kamu besar-besarkan sampai segitunya. Bagaimana jika orang tua kamu tahu, huh? Saya yang akan disalahkan.”
“Jadi, kamu nggak ngerasa salah, Lucan? Bahkan kamu nggak ada minta maaf.”
“Saya sudah bilang saya menyesal.”
Tatapan Chiara penuh kekecewaan, apalagi melihat Lucan tampak malas menghadapi sikapnya. “Kamu egois banget.”
“Oke. Saya minta maaf. Udah. Puas, ‘kan?” Nada Lucan tidak santai, dan hal ini cukup menyinggung perasaa Chiara lagi.
Bukannya mereda, amarah Chiara semakin menjadi-jadi.
“Brengsekk!”