16 | Mendadak Menikah

1664 Kata
Chiara mondar-mandir di kamarnya, tidak tenang sebelum dirinya di panggil untuk bergabung di ruang keluarga. Tidak ada aba-aba, tidak memberi tahu terlebih dahulu, tiba-tiba saja Lucan datang bersama Thorne ke kediaman orang tua Chiara. Dia sampai hampir kena serangan jantung, karena ini sangat mendadak dan tidak direncanakan sama sekali. Lucan tidak mengatakan bahwa keseriusannya akan secepat ini. "Ish, kok lama banget ngobrolnya? Udah mau sejam." Chiara tidak berhenti menatap jarum jam, menghitung setiap menit yang terlewati. "Aku nggak yakin Papa terima kamu, Lucan. Ngeyel banget sih dibilangi!" Chiara mendumel. "Harusnya kamu bilang aku dulu, biar aku bisa ngobrol duluan sama Papa. Kamu salah bersikap dikit aja, bakalan dicecar Papa habis-habisan, Lucan. Papa terlanjur nggak suka kamu." Wajah Chiara masam, menggigit kukunya dengan dadaa yang tak berhenti berdebar kencang. Dia ingin keluar kamar, tapi Ratih sempat memperingatinya agar tidak keluar dulu sebelum dipanggil. "Nak, ayo keluar." Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, Ratih menjemputnya. Chiara langsung keringat dingin, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Keadaan ini nyaris di ambang akal sehatnya. "Ma, ini serius? Aku takut Papa marah. Lucan nggak bikin ulah, 'kan?" Chiara meringis, menggenggam Ratih erat. Dia tidak bisa berpura-pura tenang. Ratih menepuk-nepuk tangan Chiara, kemudian tersenyum hangat. "Ayo, ke bawah. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana pria itu bicara dengan Papa kamu." "Ma ... semunya baik-baik aja, 'kan? A—aku takut." "Baik, Sayang. Ayo, kamu udah ditungguin." Chiara digenggam oleh Ratih, mereka melangkah bersamaan menuruni satu persatu anak tangga. Sepanjang langkahannya, banyak sekali kalimat buruk yang bersarang di kepala Chiara. Dari kejauhan, dia bisa melihat semua orang sedang menoleh padanya. "Ma, aku takut!" bisik Chiara sedikit memelankan langkahan. "Tenang saja, ada Mama dan Papa di sini." Ketika sampai di ruang keluarga, suasananya terasa canggung. Untung saja setelahnya, Thorne mengulas senyum dan langsung menanyakan kabar Chiara untuk memecah keheningan sementara. "Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabar kamu, Nak?" Chiara yang tadinya sempat menunduk, mengangkat kepalanya. "Baik, Dad. Daddy gimana?" Bahkan untuk panggilannya pada Thorne, masih sama seperti yang terakhir kali. "Seperti yang kamu lihat, Nak, Daddy sudah rentan karena usia. Syukurlah kalau kamu baik, Daddy senang mendengarnya." Chiara hanya membalas dengan anggukan dan senyuman, kemudian menatap Damian yang langsung membuka suara tanpa basa-basi. "Nak, kedatangan Lucan dan ayahnya ke sini berniat untuk menyatukan dua keluarga melalui pernikahan antara kamu dan Lucan. Kami sudah mengobrol banyak hal, saling bertukar pikiran dan mencoba menyatukan keputusan yang terbaik agar kalian tidak salah langkah dalam memilih." "Kita semua tahu bahwa pernikahan adalah keputusan besar yang melinatkan Tuhan, dan tidak bisa main-main." Damian sangat tenang, bicaranya pun terdengar tidak mempermasalahkan apa pun. Hanya saja, Chiara tetap khawatir hal ini justru mengecewakan kedua orang tuanya. Ratih maupun Damian tidak akan lupa bagaimana cara Lucan menyakiti Chiara terakhir kali. "Semua keputusan tetap Papa serahkan kepada kamu. Papa dan Mama sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik, dan kami akan berusaha mengikuti apa pun pilihan kamu." Chiara gelagapan, dia menekan kedua tangannya untuk mengurangi gugup, tapi justru semakin sulit mengontrol perasaannya. Dia sempat menatap Lucan beberapa detik, dan pria itu membalas tatapannya. "Lucan, kamu serius dengan keputusan kamu? Ini pernikahan, bukan lagi soal ngajakin balikan saat kita berpacaran." "Saya serius, Chiara. Sedikit pun tidak pernah terlintas di benak saya untuk mempermainkan kamu. Kedatangan saya kali ini adalah bentuk keseriusan yang sudah saya pikirkan sejak lama." Lucan menegakkan tubuhnya, mengulas senyum tipis. "Saya mencintai kamu, dan rasa itu tidak pernah berubah sejak pertama kali saya mengenal kamu." "Saya harap ... kamu menerimanya, Chiara." Chiara terdiam cukup lama, tetapi pandangannya tidak terlepas dari Lucan. Perlahan, air matanya lolos membasahi pipi. Bukan perasaan sedih, tetapi justru haru yang melegakan. Inilah yang Chiara inginkan sejak dulu, bukan malah perpisahan pahit. Bibir Chiara kelu, dia hanya bisa menunduk dan mengusap air matanya dengan tangan bergemetar dingin. Ratih mendekat, berusaha menenangkan Chiara dengan pelukan. "Berikan jawaban terbaik kamu, Nak, jangan memikirkan orang lain. Ikuti kata hati kamu. Lakukan apapun yang kamu inginkan, jangan menggunakan ego. Mama nggak mau kamu menyesal." Ratih usap perlahan air mata putrinya, tersenyum penuh kasih. "Mama dan Papa enggak kenapa-kenapa, jika itu yang menjadi kekhawatiran kamu. Kami mendukung pilihan dan keputusan kamu, Nak. Menikahlah dengan Lucan, jika hati kamu menginginkan dia." Chiara menggenggam Ratih, tetapi tatapannya masih tertuju pada Lucan. "Ma, aku menyayangi Lucan. Aku masih mencintainya." Air mata Chiara semakin deras mengalir, tidak menyangka jika kejujuran ini akhirnya terungkap di hadapan orangnya langsung. Dalam keadaan yang mungkin bisa dikatakan tepat, karena Lucan juga memiliki perasaan yang sama. "Bilang hal itu pada Lucan, Nak. Ungkapkan ini di hadapan Papa juga. Enggak masalah, jangan takut. Mama dan Papa akan bahagia jika kamu bahagia." Chiara diyakinkan, diberi usapan lembut untuk rasa aman sebelum menyampaikan keputusannya. Ratih paham, Chiara bahkan sejak tadi takut menoleh pada Damian. "Katakan, Nak, enggak pa-pa." "Papa, aku menyayangi Lucan. A—aku bersedia menikah dengan dia." *** Setelah hari itu, semuanya berjalan sangat cepat. Persiapan pernikahan hanya berlangsung tiga hari, dan kini acara sakral itu sedang dilangsungkan. Pernikahan mereka dibuat sederhana, hanya dihadiri keluarga dan orang-orang terdekat—persis seperti keinginan Chiara. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, hanya dekorasi lembut, musik pelan yang menenangkan, dan suasana hangat yang membuat setiap orang ikut merasakan keteduhan hari ini. Upacara berjalan khidmat. Setiap langkah seolah sudah diatur dengan rapi, tanpa hambatan, tanpa kegaduhan. Sesekali Chiara mencuri pandang ke arah Lucan, dan pria itu, dengan ekspresinya yang biasanya dingin, tampak sedikit lebih lembut hari ini. Hingga akhirnya, setelah mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan dan para saksi, Lucan dan Chiara resmi menjadi suami istri. Di detik itu, dunia seolah berhenti sebentar untuk membiarkan keduanya menyadari bahwa perjalanan baru mereka benar-benar telah dimulai. Damian menitip pesan pada Lucan secara tegas, saat menyerahkan Chiara pada pria itu. “Saya titipkan Chiara padamu. Jangan menyakitinya, jangan melukainya, dan jangan pernah kamu kecewakan dia. Jika suatu hari kamu tidak mencintainya lagi, kembalikan dia kepada saya dalam keadaan utuh—seperti hari ini, saat saya menyerahkan Chiara padamu di kondisi terbaiknya.” Ada banyak sekali keraguan yang harus Damian kubur demi kebahagiaan Chiara. Dia bahkan hanya tidur beberapa jam selama persiapan pernikahan ini karena terlalu mengkhawatirkan nasib putrinya ke depan nanti. Damian bukan tipe yang mudah percaya, tetapi hari ini … dia dipaksa untuk percaya dan yakin. “Dia akan mati di tangan saya jika berani menyakiti Chiara, Felix. Saya sendiri yang akan membunuhnyaa. Pegang ucapan saya.” Pandangan Damian tidak lepas dari Lucan dan Chiara yang sedang tertawa riang menikmati acara pernikahan yang sungguh membahagiakan ini—katanya. “Anda masih saja meragukannya, Tuan?” “Pria itu berbahaya, Felix. Permainannya sangat kotor. Tidak ada yang tahu apa yang sedang Lucan jalankan di belahan dunia sana, tetapi pembawaan dirinya, tidak ada yang bisa dipercayai sepenuhnya. Saya sangat mengenali dunia hitam, dan Lucan sedang bermain-main di dalamnya.” Damian begitu yakin dengan hal ini, entah kenapa firasatnya sangat kuat. “Saya sudah mencari tahu semuanya kemarin, Tuan. Apa data-data tersebut masih tidak meyakinkan?” “Data itu mungkin benar adanya, Felix. Tapi saya yakin dia tidak hanya berjalan satu arah. Saya harus lebih waspada untuk melindungi Chiara.” “Akan saya bantu pantau untuk ke depannya, mungkin sampai Lucan kembali ke Italia. Apakah nanti Nona Chiara akan ikut bersamanya? Atau mereka ada obrolan untuk menetap di sini saja?” Damian tersenyum miring. “Di sini tidak ada keamanan untuk seorang penjahat, Felix. Pria itu akan membawa putri saya ke tempat yang jauh. Ini hanya karena Chiara bahagia, jadi saya mendukungnya saja—dengan sisa-sisa harapan agar dia tetap aman meski jauh dari pandangan saya.” “Nona Chiara akan terus berbahagia, Tuan. Tenanglah.” Felix menepuk bahu Damian, berusaha menenangkan. “Semoga cinta yang Lucan agungkan ini, bukan jebakan untuk memenjara.” “Bahkan jika harus menyerahkan nyawa saya sekalipun, akan saya berikan asal Chiara tetap aman Felix.” “Saya tahu Anda sangat menyayangi Nona Chiara, Tuan.” *** Selesai acara, sebelum Chiara dibawa pergi oleh Lucan ke sebuah hotel mewah yang sudah mereka pesan untuk malam pengantin, Abella menunggu kembarannya untuk bicara berdua saja. Sejak Abella tahu Chiara akan menikah dengan Lucan, dia marah besar. Abella tidak pernah ikut andil dalam persiapan acara, dia memilih menghilang ke luar kota untuk menghindari Chiara secara terang-terangan. Andai bukan Ratih dan Damian yang memaksanya, Abella tidak akan hadir dalam acara pernikahan ini. Dia sangat membenci Lucan, bahkan untuk melihat pria itu pun rasanya sudah muak. “Lo yakin bakalan ikut sama dia ke Italia sana, Chiara? Lo serius mau mengorbankan semua mimpi lo di sini? Gimana dengan Sonare, atau yayasan panti yang lo kelola, dan lainnya?” Chiara menghela berat, sebenarnya malas membicarakan hal ini. “Ada orang aku yang bantu mengelola semuanya. Papa dan Mama juga udah setuju dengan hal ini—mereka ikut membantu. Gue bakalan sering bolak-balik sini, sesekali. Gue udah nikah, Bell, nggak mungkin berjauhan sama Lucan. Dia juga perlu gue di sana.” “Gilaa lo, ya!” Abella memijat pelipis, gelisah sekali. “Dengan pilihan lo menikah semendadak ini aja udah bikin gue nggak habis pikir. Ditambah ini lagi? Sonare itu hidup lo, Chiara.” “Sekarang Lucan dunia gue.” Abella menganga dan membelalak, semakin frustasi. “Terserah lo. Sumpah, semoga lo nggak nyesal dengan pilihan ini. Firasat gue buruk mengenai pria itu, dan gue benci dia sampai kapan pun.” Seperginya Abella, Chiara terdiam beberapa saat, sampai Lucan datang dan menyadarkannya. “Kenapa melamun di sini? Ayo, pergi.” Lucan melingkarkan lengan besarnya di pinggang Chiara, memberi kelembutan dan kehangatan sekaligus yang seketika mampu menenangkan. “Nggak sabaran banget!” Chiara cemberut, mencubit Lucan. Lucan mencium bahu dan daerah leher Chiara. “Heum. Sudah tidak sabar untuk melakukan malam pertama.” “Pertama apanya? Kita udah terlalu sering melakukannya, Lucan.” “Kali ini berbeda, Chiara. Ayo. Kamu sejak persiapan pernikahan menggoda saya terus, setelah ini harus menerima hukuman.” Chiara tergelak, melangkah lebar mengikuti Lucan. Apapun yang Abella katakan barusan, Chiara berusaha mengesampingkannya. Dia yakin Lucan serius dan sudah berubah. “Lucan, mulai hari ini kamu adalah dunia aku. Tolong, jangan sakiti aku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN