15 | Gagal Bermesraan

1517 Kata
"Aaaaa!" Chiara terlonjak saat membuka pintu unit, Lucan berdiri tepat di depan matanya. "Lucan, jantung aku hampir copot. Ngapain kamu di sini pagi-pagi?" Dia menghela kasar, memutar bola matanya malas. "Ingin mengabseni kamu." "Buat apa? Kamu pikir aku bocah yang perlu pengawasan setiap saat?" Chiara melihat kedua tangan di dadaa, mendelik tajam. "Jangan kamu pikir, aku nggak tahu sama tingkah kamu semalam ya, Lucan. Buat apa kamu suruh orang mengawasi unit aku? Kamu kira aku buronan sampai segitunya?" Bukannya merasa bersalah dimarahi Chiara, Lucan malah menikmati ekspresi cemberut sebal wanita itu. Di mata Lucan, lucu dan sangat menggemaskan. "Hanya memastikan kamu aman." "Berlebihan banget!" "Soalnya nyawa kamu satu." "Emang ada di dunia ini manusia yang punya nyawa sepuluh?" Lucan mengangguk. "Ada. Saya." Chiara mendengkus, langsung malas bicara lebih banyak dengan Lucan. Pria itu memang sedikit gangguan jiwa, makanya sering berhalusinasi. "Saya temani kamu olahraga." "Nggak usah. Kamu kayak orang nggak ada kerjaan aja." Chiara meninggalkan unit, berniat pergi pilates pagi ini sebelum berangkat ke studio. Lucan ikut masuk lift, tidak mendengarkan ucapan Chiara untuk kesekian kalinya. Emang, Lucan pernah menurut pada Chiara? "Pulang, Lucan!" Lucan tersenyum singkat, menunjuk pintu mobil sebelah kiri agar dibukakan oleh Chiara. "Saya ikut, biar sekalian cuci mata liat para wanita pilates." "Menggelikan!" Chiara menggerutu jengkel, menutup pintu mobilnya kasar. Chiara tidak berniat memberi Lucan tumpangan, dia langsung melajukan mobilnya dari area parkir. Bukannya menyerah, Lucan malah membuntuti Chiara. Mobilnya berada tepat di belakang mobil Chiara, tidak mau kalah. "Ngeselin banget, orang tua satu ini." Chiara menatap mobil Lucan dari spion kanan, sesekali berusaha melaju cepat untuk menghindar. Tetapi perlu diingat, cara Lucan mengemudi sangat cerdik. Bahkan saat berkejaran dengan musuh pun, dia tidak pernah hilang jalur. Setibanya di parkiran tempat pilates, Lucan menghampiri Chiara. "Lucan, jujur kamu ... ada sesuatu yang kamu rahasiain dari aku? Selain buket lily." Lucan terdiam beberapa saat. "Tidak ada. Kenapa?" "Kamu tahu semua kegiatan dan apapun yang aku lakuin, Lucan. Aku curiga, kamu taruh cctv tersembunyi di unit aku, ya?" "Memangnya kapan saya punya kesempatan masuk unit kamu selain malam kemarin? Saya baru menginjakkan kaki lagi di Jakarta, Chiara, setelah pergi waktu itu." Chiara memicing, tidak mudah percaya. "Jangan berani-beraninya kamu ngelakuin sesuatu yang nggak aku sukai. Aku bakalan marah!" "Kamu selalu marah dengan apapun yang saya lakukan, Chiara. Tidak pernah sehari kamu tidak marah." Chiara berdecih terang-terangan di hadapan Lucan, membuat pria itu gemas ingin menyentil bibirnya. Berani sekali. "Pulang aja." "Tidak. Saya ikut kamu." Lucan melangkah lebih dulu, memasuki tempat pilates. Mau tidak mau, Chiara mengikutinya. Takut Lucan berbuat yang tidak-tidak di tempat orang. "Duduk anteng di sini aja, kalau maksa mau tungguin aku. Jangan membuat ulah." "Saya tahu. Kamu kira saya bayi?" Chiara terkekeh, mencubit lengan Lucan yang keras, hingga membuatnya meringis. "Badan kamu kayak batu!" Lucan duduk di tempatnya, memerhatikan setiap gerakan Chiara. Sesekali Lucan menegakkan tubuh, tidak senang dengan arahan instruktur pilatesnya. Tatapannya menajam ketika instruktur itu memberi arahan dan sesekali ingin menyentuh Chiara untuk membantunya bergerak. Suasana di sana jadi panas, Lucan beberapa kali mengusap tengkuk dan pelipisnya gelisah. Kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Chiara menyelesaikan sesi pilatesnya. Lucan langsung menghampiri, mendumel memberitahu kekesalannya. "Selanjutnya, kamu pindah tempat pilates saja. Sudah saya daftarkan di tempat paling bagus. Biayanya sudah saya lunasi selama setahun." Chiara tersedak, hampir menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya. "Kamu bercanda?! Ngapain?" "Di sini instrukturnya curi-curi kesempatan untuk menyentuh kamu. Bahaya, Chiara. Pencabulann ada di mana-mana sekarang." Lucan duduk santai, menatap Chiara yang sedang menyeka keringat. "Aku mau di sini aja, udah nyaman." "Nyaman?" ulang Lucan syok. "Kamu ada hubungan khusus sama instruktur itu? Selera kamu turun sekali, dia kalah jauh dari saya." "Si paling oke kamu, ya?" "Iya. Saya seganteng ini, tidak level bersaing sama instruktur pilates." Chiara tidak menanggapi, muak sekali mendengar kalimat Lucan yang entah sejak kapan, terdengar dramatis sekali. "Ini hari terakhir kamu di sini, ya?" "Enggak mau." "Harus mau." Setelah mengenakan kaosnya, Chiara pergi meninggalkan tempat itu menuju studio. Nanti sekalian bersih-bersih di sana. Hanya saja, di tengah perjalanan, Lucan membujuk agar Chiara ikut dengannya. Karena malas bertengkar di tempat umum, akhirnya Chiara turuti. Dia malas mendengar rengekan Lucan. Dasar pria tidak tahu malu—batin Chiara dongkol. "Ngapain ke sini?" "Bisa jangan marah-marah terus?" Lucan meraih tangan Chiara, menariknya agar ikut masuk. Mereka singgah di sebuah tokok bunga. Kedatangan Lucan sangat disambut, bahkan seorang wanita tua sampai memeluk Lucan penuh kerinduan. "Lama sekali kamu tidak ke sini, Lucan?" Wanita itu mengusap lengan Lucan dengan mata berbinar, mempersilakan mereka untuk duduk dan menikmati teh serta kue olahannya. "Siapa dia?" Lucan menatap Chiara, lalu tersenyum ramah pada wanita itu. "Perkenalkan, Eyang, dia Chiara. Chiara, ini Eyang Rose—nenek Taylor." "Salam kenal, Eyang. Aku Chiara." Chiara menyapa hangat, menerima pelukan dan usapan penuh kasih. Wanita renta itu sangat lemah-lembut, gerakannya sangat hati-hati karena faktor usia juga. "Inikah yang katanya seindah bunga lily, Lucan?" "Ralat, Eyang, dia lebih indah dari lily." Pandangan Chiara langsung berpusat pada Lucan, menatap pria itu seolah meminta penjelasan karena ucapannya barusan. Chiara sampai kehabisan kata-kata, tidak menyangka Lucan akan menggombal dalam keadaan seperti ini. Dan ya, pada akhirnya seorang Lucan pun bisa bersikap romantis pada wanita yang diinginkannya. "Lucan memesan semua lily di sini selama seumur hidup, Nak, katanya untuk seseorang yang begitu dia kasihi." Chiara tersenyum malu dan sedikit salah tingkah sambil terus digenggam oleh eyang Rose. "Eyang, tidak perlu diteruskan. Ini rahasia kita saja." "Chiara harus tahu, Lucan, jika kamu sangat mencintainya." Lucan menatap Chiara, beberapa kali mereka bersitatap canggung. "Dia sedang merajuk, Eyang. Di depan tadi, dia mengomel tidak mau di ajak ke sini. Aw ... sakit, Chiara." Dia langsng mendapat cubitan karena sengaja mempermalukan Chiara. "Makasih, Eyang, bunga lilynya cantik-cantik banget setiap hari." "Loh, terima kasihnya ke Lucan dong, Sayang. Atas permintaan dia bunga lily itu sampai ke tangan kamu. Setiap hari, Lucanlah yang memikirkan ide kirimannya. Mulai dari sesuai tanggal hari, kemudian buket di hari-hari spesial, maupun buket cuma-cuma yang dikirim ketika kamu lagi sedih." "Eyang, sudahlah. Tidak usah dibahas di sini. Ini rahasia dapur kita." Eyang Rose tertawa. Chiara memalingkan wajah, berusaha tersenyum dan mengerjap beberapa kali agar matanya tidak berair. Perasaannya langsung tersentuh penuh haru. "Kita tidak bisa berlama-lama, Eyang. Mungkin mau langsung pergi setelah ini." "Sebentar, Lucan. Buketnya hampir selesai." Tidak lama, salah seorang perangkai bunga yang bekerja di florist Eyang datang, memberikan buket lily pesanan Lucan untuk Chiara. "Kali ini buketnya tidak dikirim ke studio, karena Lucan sudah membawa orangnya ke sini." Eyang menyerahkan pada Chiara. "Semoga kalian selalu dalam kebahagiaan, Nak." Chiara tersenyum, lalu cepat-cepat memalingkah wajah ketika air matanya jatuh membasahi pipi. "Terima kasih, Eyang." Eyang Rose mengangguk saja, mengusap bahu Chiara menenangkan. Entah sesulit apa hubungan Chiara dan Lucan saat ini, eyang hanya berharap keduanya selalu dalam berkat Tuhan. *** Chiara diam saja sepanjang perjalanan menuju studio, sesekali menatap buket lily yang ada di jok sampingnya. Lucan masih membuntuti, tetapi bukan itu masalahnya. "Apa harus kayak gini, Lucan? Kamu nggak capek?" Chiara menatap Lucan setelah menutup pintu ruangan pribadinya di studio. "Bukankah kamu ingin diperjuangkan seperti ini, Chiara?" "Bilang yang bener, mau kamu apa? Jangan bikin aku bingung dan menerka-nerka sikap kamu, Lucan. Biar aku juga nggak berharap buat ke depannya." "Ayo, menikah, Chiara." Chiara terdiam beberapa saat, sementara Lucan tidak berhenti menatapnya. "Tidak perlu kamu suruh saya datang kepada orang tua kamu, saya yang akan datang sendiri bersama Daddy. Secepatnya ... agar kamu tidak kebingungan lagi dengan sikap saya." Air mata Chiara runtuh. Dia menutup wajahnya, menangis sesegukan tanpa malu. Dadanya berdebar dua kali lebih cepat, sampai tidak tahu harus menjawab apa. Lucan menarik tubuh Chiara, memeluknya sambil menenangkan. "Tidak apa, kamu aman bersama saya." "Aku minta ke Tuhan untuk menghadirkan seseorang yang lebih baik. Kenapa harus kamu lagi?" Awalnya tida ingin menjawab, tetapi Lucan tiba-tiba kepikiran satu hal, "Mungkin ini sudah menjadi garis takdir kita, Chiara. Siapa yang bisa menolaknya?" "Saya berkali-kali berusaha melupakan kamu, tapi tidak pernah bisa. Semakin saya coba, semakin menggebu-gebu juga rasa saya ingin memiliki kamu." "Kenapa sekarang kamu percaya takdir, Lucan?" "Saya hanya berusaha mengikuti kata hati. Jika itu takdir, artinya Tuhan memang sudah menyiapkan semuanya jauh sebelum kita memutuskan, Chiara. Tuhan tahu apa yang terbaik, sementara kita tidak." Tangis Chiara semakin pecah, dia tidak menyangka Lucan memiliki pemikiran selurus ini. Ke mana Lucan egois yang waktu itu sempat Chiara benci? Pelukan terurai, Lucan merapikan rambut ikal Chiara ke belakang telinga, mengusap air mata dan menatapnya begitu dalam. "Jangan selalu tanya kenapa, Chiara, karena saya tidak tahu jawaban pastinya." Lucan mengucap puncak kepala Chiara lembut. "Saya salah bicara, kamu marah. Saya irit bicara pun, ternyata tetap salah. Apa wanita memang terlahir untuk selalu memikirkan segala hal secara berlebihan?" "Enggak gitu juga." Lucan terkekeh, kemudian mengusap bibir merah jambu milik Chiara. Cukup lama Lucan perhatikan, sampai akhirnya perlahan dia memajukan wajah. Lucan pikir akan ditolak seperti biasanya, ternyata Chiara menerimanya. Lucan menahan kepala Chiara untuk memperdalam ciuman mereka, berusaha saling menyembuhkan dalam bibir yang bertaut mesra. Ketika ciuman itu semakin menuntut dan intim, pintu ruangan tiba-tiba terbuka tanpa aba-aba. "Chia... gue cari lo—aaaaaaa!" Dia menjerit kaget, refleks menutup telinga dan matanya. "Cabull. Kalian ngapain berbuat mesumm di sini?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN