Sekitar jam dua belas malam, Chiara berada di luar. Dia duduk di salah satu halte tengah kota yang tidak jauh dari gedung apartemennya.
Cuaca sedang hujan dan dingin, udara terasa menusuk hingga ke tulang. Namun, Chiara tetap enggan beranjak dari tempatnya. Dia sengaja membiarkan kedua kakinya tersiram air hujan sampai basah dan sedikit mengeriput.
Malam-malam, Chiara tidak bisa tidur. Niatnya ingin cari angin segar, jadi dia memutuskan jalan kaki dan berhenti di salah satu minimarket yang buka 24 jam. Chiara membeli kopi dan roti, lalu menghabiskan lebih banyak waktu melamun di halte.
Saat menyadari tetesan hujan tak lagi membasahi kakinya, Chiara menengadah dan mendapati sebuah payung terbuka di atasnya. Di depannya, Lucan berdiri menatapnya.
“Sudah puas melamunnya?” Suara Lucan membelah berisiknya hujan. Dia memasangkan mantel pada Chiara. “Ngapain malam-malam keluyuran?”
“Aku pikir, kamu malaikat maut, pakai setelan serba hitam gini.”
Chiara tersenyum, memilih tak menanggapi ucapan Lucan. Dia menarik kakinya, duduk tengak dan mempersilakan Lucan duduk di sampingnya.
“Ayo, saya antarkan pulang. Ini sudah malam sekali, Chiara. Tidak baik sendirian di luar, apalagi tempatnya lagi sepi. Kalau terjadi sesuatu, kamu teriak pun, tidak ada yang dengar.”
“Aku nggak bisa pulang, lupa bawa payung.”
Bohong, Chiara memang belum berniat pulang. Dia selalu kepikiran berbagai hal jika sendirian di unit, isi kepalanya penuh.
Lucan tak berhenti menatap Chiara, tidak mengalihkan pandangan sedetik pun. Dia mencoba membaca mimik wajah itu. “Ada yang mau kamu ceritakan pada saya?”
“Enggak ada.” Chiara menggeleng pelan, menunduk dan kembali memainkan kakinya di bawah tetesan hujan.
“Apa seru main airnya?” Lucan tidak memaksa, sebab tahu saat ini Chiara sedang tidak baik-baik saja. Lucan tidak ingin membuat wanita itu tambah sedih hati. “Saya juga mau mencobanya.”
“Nggak usah. Kamu kayak anak kecil aja.”
Lucan tetap melepaskan sepatu dan kaos kakinya, kemudian ikut menjulurkan kaki ke tetesan hujan. Mereka menikmati dinginnya air dan angin, saling diam beberapa saat.
“Kapan kamu pergi lagi, Lucan?”
“Secepatnya. Kenapa, kamu sangat ingin saya pergi, ya?”
“Aku cuma tanya.”
“Mau ikut bersama saya?” Chiara mengangkat wajah, balas menatap Lucan. “Kita akan tinggal di Italia, setelah menikah nanti.”
Chiara bungkam, tidak menyangka jika Lucan akan membahas pernikahan lagi. Chiara tadinya ingin tidak percaya dan menganggap itu hanya bualan, tapi sepertinya Lucan serius.
Tatapan Lucan berbeda dari biasanya, Chiara tahu ini bukan Lucan yang dia kenal waktu itu.
“Kenapa harus ke sana?”
“Pekerjaan saya di sana.”
Chiara menatap jalanan yang basah, lampu-lampu jalan memantul di aspal seperti serpihan cahaya yang muram. Suasana malam itu terlalu tenang, sangat mendukung sebuah percakapan yang berat.
“Coba kamu pikirin lagi, Lucan,” ucap Chiara pelan tapi tegas. “Jangan jadikan aku bagian dari lelucon kamu lagi. Aku capek kalau harus mengulang pesakitan yang sama. Kita sudah bukan lagi remaja labil yang bisa seenaknya pergi setelah berjanji buat hidup bareng. Nikah bukan cuma tentang kamu dan aku, tapi dua keluarga besar, Lucan.”
“Saya tahu dan saya yakin dengan semua keputusan saya. Tidak ada lelucon di sini, saya lagi tidak mempermainkan kamu.”
Helaan napas Chiara memberat. Dia menatap Lucan sekali lagi, kali ini ada harapan yang terselip di sana tanpa dia sadari.
“Aku udah ngomong sama Papa. Tapi, apa boleh kasih aku waktu sedikit lagi? Aku bakal mikirin semuanya sebaik yang aku bisa. Aku janji kasih jawabannya ketika kamu datang ketiga kalinya.”
“Berapa lama kamu perlu waktu, Chiara? Kelipatan satu bulan dari sekarang. Apa cukup?”
“Apa yang bikin kamu akhirnya yakin untuk menikah, Lucan?”
Lucan melipat kedua tangannya di dadaa, kepikiran beberapa musuhnya yang mulai bergerak licik dan bisa melakukan apapun tanda terduga. Lucan tidak bisa membiarkan salah seorang dari mereka membahayakan nyawa Chiara.
“Karena wanita itu kamu. Jika orang lain, saya tidak perlu menikah seumur hidup juga tidak masalah.”
Entah bagaimana, perasaan Chiara tiba-tiba menghangat dan jauh lebih tenang. Dia senang mendengarnya.
“Saya akan kasih kamu waktu, tapi tolong jangan terlalu lama.” Karena keduanya sontak saling menatap, Lucan buru-buru melanjutkan ucapannya, “Jangan kamu pikir, karena saya tidak sabar untuk bercintaa.”
“Padahal aku nggak kepikiran sampai sejauh itu.”
Wajah Lucan datar setengah kesal. “Jangan terlalu banyak mikir, Chiara. Kamu tidak akan hidup miskin jika sama saya. Apa sih yang kamu takutkan?”
“Takut kamu tinggalin lagi.” Chiara jujur, bahkan sedang melempar senyum tulus. Dia benar-benar mengungkapkan isi hatinya.
Lucan mengusap puncak kepala Chiara. “Saya akan menjadi tempat paling aman buat kamu.”
“Kamu seyakin itu? Gimana kalau ternyata, kamu adalah bahaya yang sebenarnya?”
“Bukannya kamu sudah pintar menggunakan senjata dan bela diri? Lawan saya jika memang kamu merasa dalam bahaya selama bersama saya.”
Chiara tertawa kecil. “Ah, obrolannya berat. Udah teduh nih. Aku pulang dulu, kamu juga pulang.”
“Saya antarkan.”
“Di depan sana gedung apartemen aku, Lucan. Jalan kaki aja deket.”
“Ayo, jalan kaki bersama kalau gitu.”
Chiara menatap Lucan yang mengulurkan tangan, lalu menerimanya saja tanpa banyak bunyi. “Papa tau kamu ada di unit aku. Setelah ini, jangan masuk sembarangan lagi, Lucan.”
“Saya sudah mengira ini akan ketahuan. Lain kali, saya lebih berhati-hati.”
“Huh, kamu mau menyelinap masuk lagi dengan cara yang lain?”
Lucan menaikkan bahu, melangkah riang dengan genggaman semakin erat.
Chiara tak berhenti menatap tautan tangan mereka—hangat, tapi juga mengundang cemas. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Benar kata Damian, perasaan Chiara pada Lucan belum pernah benar-benar padam.
“Udah sampai. Kamu pulang naik apa?”
“Gampang, tidak usah kamu pikirkan. Sana, masuk. Dingin, nanti kamu masuk angin.”
“Kamu aja yang pakai mantelnya, nanti kamu sakit. Aku aman kok, habis ini selimutan.” Chiara mengembalikan mantel Lucan, menyuruh pria itu mengenakannya langsung.
Lucan tetap berada di depan gedung hingga Chiara masuk dan menghilang dari pandangannya.
Sebelum beranjak pergi, tidak lama, sebuah pesan masuk.
Chiara: Kamu yang taruh teh insomnia depan unit aku?
Lucan: Minumlah. Semoga bisa tidur nyenyak malam ini.
Lucan: Jangan terlalu memikirkan hal tidak penting. Semua yang menjadi takdir kita, akan tetap terjadi meski kita menolaknya.
Di seberang sana, Chiara sampai mengerutkan kening membaca pesan terakhir Lucan, berusaha mengartikan kalimatnya.
Lucan: Masuk, Chiara. Mau sampai subuh berdiri depan pintu saja?
Chiara membelalak, buru-buru masuk ke unitnya. “Kok Lucan bisa tau sih gerakan aku?”