"Kamu dengan dia. Begitu pun aku yang tidak bisa denganmu. Kita sama-sama saling tersakiti karena ego masing-masing."
-Xavira Naraya Rahadi-
---------
Xavira hidup sebagai putri tunggal dari keluarga Rahadi. Tentu saja yang berkewajiban menjalankan perusahaan, melanjutkan bisnis, mengolah lahan investasi, dan kekayaan lainnya itu dilimpahkan padanya. Ia harus pandai-pandai membagi waktunya untuk bekerja, istirahat, dan melakukan hobinya.
Hari ini Xavira dibuat pusing karena harus turun tangan langsung menghadapi klien. Sebab, ada beberapa kendala yang terjadi di dalam perusahaannya.
Alat pengukur waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun, Xavira belum juga memejamkan matanya. Ia masih sibuk menulis dokumen. Sebenarnya, itu bukan sepenuhnya tugas Xavira. Bisa saja Xavira melimpahkannya pada karyawan di bawahnya, tapi ia tidak mau. Xavira ingin perusahaannya itu benar-benar berjalan di bawah kendalinya. Jikalau ada masalah sepele, barulah Xavira menyuruh bawahannya yang menangani.
Suara derap langkah kaki pelan yang memasuki ruang kerjanya itu membuat Xavira menurunkan sedikit kacamatanya, pandangannya menangkap sosok Rahadi di depan pintu sambil tersenyum. "Papi, kok belum tidur?" tanyanya sambil jari-jemarinya masih lihai mengetik di atas keyboard laptop.
"Seharusnya, Papi yang tanya gitu ke kamu. Ini udah jam dua belas lebih. Udah tengah malam, Xavi."
Xavira meringis pelan. "Bentar lagi selesai kok, Pi. Nanggung."
"Kamu selalu tidur lewat tengah malem, terus bangunnya pagi banget," kata Rahadi dengan nada rendahnya. Tidak tega memberikan tanggung jawab besar pada Xavira. "Kamu juga butuh istirahat."
"Lima menit lagi ini selesai," kata Xavira seraya menunjukkan ke lima jarinya. Meminta waktu pada Rahadi.
Embusan napas panjang keluar dari mulut Rahadi. Tangannya mengusap pundak Xavira dengan lembut. "Papi harap, waktu akan cepat bergulir. Papi nggak sabar lihat kamu menikah sama Gilang."
Tangan Xavira terhenti sebentar kala mendengar kata "menikah sama Gilang" itu terucap di saat seperti ini.
"Rasanya... itu adalah saat-saat yang paling Papi nantikan."
"Iya," tanggapan Xavira dengan nada pelan. "Papi tenang aja. Semua bakal berjalan lancar kok."
"Kalau kamu sudah menikah sama Gilang... Papi akan lebih tenang," Rahadi tampak bahagia, jika membahas masalah pernikahan Gilang dan Xavira. Papinya itu berharap banyak pada Gilang. "Kamu jadi punya pegangan hidup. Dan masalah perusahaan... akan lebih baik kalau disatukan dengan milik..."
"Papi!" ada nada tidak terima saat Xavira mengucapkan itu. "Perusahaan kita... perusahaan kita, Pi. Bukan punya Gilang atau siapa pun itu."
"Tapi, kamu sebentar lagi akan menikah dengan Gilang. Dan karena Papi sudah tua," dengan napas berat Rahadi melanjutkan. "Perusahaan ini sudah sepenuhnya hak milik kamu. Dan Gilang yang notabenenya sebagai suami kamu nanti... yang akan meneruskannya."
Xavira memijit pelipisnya sebentar. Pikirannya terlalu bercabang banyak sekarang ini. Ia menyimpan dokumen yang baru saja selesai dikerjakannya lalu menyalin dalam flashdisk. Setelah itu, Xavira menutup laptopnya. Pandangannya sangat ini tertuju pada satu arah, yaitu Rahadi.
"Aku pikir, nggak masalah kalau aku yang meneruskan perusahaan Papi. Dan Gilang juga meneruskan perusahaan milik orang tuanya. Itu adil, 'kan?"
Rahadi tertawa renyah. "Xavi... Xavi, kamu belum cukup dewasa rupanya."
Xavira memicingkan matanya. "Apanya yang salah?"
"Kalau kalian sudah resmi menikah... semua yang menjadi milikmu juga menjadi milik suamimu. Begitu pun sebaliknya. Jadi, kamu hanya perlu menjadi istri yang baik nantinya."
Istri yang baik?
Bagaimana definisi istri yang baik itu?
Xavira tidak paham.
Apakah istri yang baik itu adalah istri yang hanya diam di rumah sebagai pemuas nafsu sang suami? Atau apa?
Tolong jelaskan pada Xavira.
"Hmm... Papi nggak usah khawatir. Nanti aku akan bicarain lagi sama Gilang masalah ini."
Meskipun, Xavira tidak yakin apakah Gilang mempunyai pemikiran yang sama dengannya atau tidak.
Rahadi maju. Tubuhnya bertubrukan dengan putri tunggalnya itu. Memeluk Xavira erat lalu mencium puncak kepalanya secara berulang kali. Xavira merasakan kehangatan yang luar biasa. Bagi Xavira, Rahadi itu sebagai papi dan juga mami di hidupnya. Rahadi menjalakan dua peran sekaligus selama membesarkannya.
"Nggak kerasa kamu sudah dewasa dan akan meninggalkan Papi," katanya dengan nada yang membuat Xavira hampir menangis mendengarnya. "Putri kesayangan Papi satu-satunya akan menjadi milik orang lain."
"Sampai kapan pun aku tetep putri Papi. Aku akan sering main ke rumah."
Karena nantinya Xavira akan tinggal di kediaman Gilang. Itu sudah dibicarakan tempo hari yang lalu oleh kedua belah pihak.
Tangan Xavira mengusap wajah Rahadi dengan penuh sayang. Perempuan itu tidak sadar. Seiring berjalannya waktu Xavira tumbuh menjadi perempuan dewasa. Ia pun tidak menyadari, jika Rahadi juga mengalami pertumbuhan. Papinya itu sudah menjadi semakin tua. Kulit yang dulunya lembut sama sepertinya, kini terasa ada kerutannya. Sorot mata tajam yang membeliak itu, kini penuh ketenangan. Walaupun, kadang Rahadi tetap terlihat menyeramkan saat marah. Tubuh yang dulunya tegap, kini ringkih termakan usia.
Setiap kali melihat Rahadi yang seperti ini, membuat bayangan akan Xabiru muncul kembali. "Maafin Xavi, Pi."
"Kamu nggak salah apa-apa, Nak."
Selama hampir seperempat abad umurnya, baru satu kebohongan yang dilakukan Xavira terhadap Rahadi. Kebohongan tentang acara selepas reuni kala itu. Sungguh, Xavira jijik jika harus menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Rahadi. Makanya, Xavira memilih bungkam dan berbohong.
"Ceritakan pada Papi. Kamu tadi malam dari mana?"
"A-aku... aku... Papi, maafin aku," isak tangis itu merajalela memenuhi setiap kata yang keluar dari bibir Xavira. "Aku bener-bener minta maaf."
"Xavi, jelaskan semuanya. Papi tidak akan marah, jika kamu jujur dari mana kamu semalam."
"Aku..." lidah Xavira terasa kelu. Bagaimana bisa Rahadi tidak marah saat kenyataannya apa yang dilakukan Xavira adalah pemicu kemarahan papinya itu. "Aku... aku nginep di rumahnya Dea."
Dan menjadikan Dea alasan adalah pilihan terakhir yang bisa Xavira pilih untuk menutupi kebohongannya.
"Kemaren hujan deras banget."
"Kamu bisa hubungin sopir atau minta jemput Gilang."
"Iya, Xavi. Aku sudah menjemputmu ke sana. Tapi, kamu sudah pergi." Gilang ikut menyahut saat namanya disebut.
Xavira menggigit bagian bawah bibirnya. "Dea mengajakku menginap di rumahnya karena tahu aku tidak suka hujan. Aku takut petir menyambar dan kilat tadi malam."
"Oke. Lalu kenapa ponselmu mati semalaman?"
"Hmm... baterainya lowbat. Sesampainya di rumah Dea... aku langsung tidur dan baru bangun sekarang."
Holly s**t!
Benar-benar kebohongan yang menjijikkan.
"Xavi..." suara Rahadi menyentaknya dari lamunan yang ia bayangkan. "Papi nggak tahu... ini akan menyakitimu atau tidak, tapi Papi hanya ingin memberitahumu."
Alis Xavira tertaut dan bertanya bingung. "Tentang apa, Pi?"
Rahadi tersenyum masam. "Mami kamu kembali menetap di Indonesia."
Bersambung...