Rahadi tersenyum masam. "Mami kamu kembali menetap di Indonesia."
Deg.
Mami kamu kembali menetap di Indonesia.
Mami?
Seseorang yang telah melahirkannya ke dunia ini. Seseorang yang telah mempertaruhkan nyawanya demi agar ia bisa melihat dunia. Seseorang yang kasih sayangnya tanpa batas dan tiada akhir. Namun, seseorang itu juga yang membuat Xavira tidak lagi mengharapkan dekap hangat seorang ibu. Xavira bahkan enggan untuk mengingat wajahnya. Terlalu sulit mengakui bahwa ia dan Rahadi telah dibuang.
Kenangan pahit kala ia ditinggalkan kini terputar kembali mengisi ingatan kepalanya. Ia sempat menahan kepergian sang mami, tapi sia-sia. Bahkan, Rahadi waktu itu mengizinkan Xavira untuk memilih akan ikut siapa.
"Mami, jangan pergi."
"Kamu seharusnya bisa berpikir dua kali, An." Rahadi mendekap Xavira yang tengah menahan kedua kaki Ana, maminya. "Pikirkan tentang Xavi."
"Aku janji nggak akan nakal lagi..." isak tangis Xavira begitu memilukan bagi Rahadi. Namun, tidak bagi Ana. Entah mengapa seorang ibu bisa berhati sekeras itu pada anaknya. "Aku nggak bakal minta mainan baru. Aku akan jadi anak yang baik, Mi."
Ana tidak menggubris sedikit pun apa yang diucapkan oleh Xavira, gadis kecil yang kala itu belum genap berusia lima tahun.
"Aku mohon, Mi. Xavi nggak akan----"
"Diem, Xavi!" bentak Ana keras seakan Xavira memang sudah tidak berharga dalam hidupnya.
"Papi..." Xavira berbalik, memeluk Rahadi karena takut melihat raut wajah Ana setelah membentaknya. "Papi, Xavi mau Mami..."
"Ana! Sudah cukup keterlaluan kamu!"
Tangan Rahadi mengusap pelan punggung Xavira yang naik-turun. Raungan tangis itu kian menjadi.
"Xavi mau ikut Mami."
Rahadi memejamkan matanya sebentar. Memang Xavira sangat-sangat menyayangi Ana. Begitu pun sebaliknya. Dulu, keluarga kecilnya itu sangat harmonis. Namun, tidak saat ada orang asing yang perlahan menelusup masuk dan memporak porandakan keluarga kecil itu. Dan kini rumah tangganya berada di ambang kehancuran.
"Papi... jangan biarin Mami pergi."
Seharusnya, Rahadi mempertahankan Ana. Namun sayangnya, Ana-lah yang tidak mau dipertahakan. Ia lebih memilih pergi membuka lembaran baru, daripada menetap dan memperbaiki semuanya.
"An, tolong pikirkan lagi tentang ini. Xavi masih kecil. Dan dia butuh kamu."
"Karena Xavi masih kecil, Mas. Aku nggak mau hidup sengsara ngurus kamu sama Xavi yang serba kekurangan."
Rahadi menutup telinga Xavira dengan tangannya, tidak membiarkan putri tunggalnya itu mendengarkan apa yang seharusnya tidak ia dengarkan.
"Masalah uang itu bisa dicari, tapi kasih sayang kamu----"
"Stop! Aku masih muda. Kamu juga masih muda. Seharusnya, dari awal kita emang nggak menikah secepat ini. Masih banyak yang perlu aku kejar di dunia----"
"Kita bisa melakukannya bersama-sama," kata Rahadi balas memotong ucapan Ana.
"Omong kosong, Mas!"
Keputusan Ana kala itu untuk pergi tidak bisa untuk diubah. Ana meninggalkan Xavira dan Rahadi dengan penuh luka yang bersarang di hati.
"Pi, Mami... Mami... Mami pergi..." Xavira masih tergugu dalam pelukan Rahadi.
Itulah kenangan terakhir yang Xavira punya tentang seseorang bernama Ana. Seseorang yang ia panggi mami. Bentakan keras dari Ana seakan masih bisa Xavira dengar saat ini. Bayang-bayang semua akan kejadian masa silam jelas tercetak dalam hati Xavira Naraya Rahadi.
"Papi... nggak masalah kalau kamu mau ngundang Mami ke acara pernikahan kamu..."
Sontak bola mata Xavira melebar, tidak percaya akan apa yang Rahadi ucapkan. "Papi, ngomong apa, sih? Nggak jelas."
"Xavi," kata Rahadi setelah mengambil napas sejenak. "Ini pernikahan kamu yang Papi harapkan akan menjadi yang pertama dan terakhir."
Dada Xavira terasa sesak. Kemarin tentang Xabiru, sekarang berbeda lagi masalahnya.
"Ingat... kamu nggak boleh benci sama orang tua kamu. Apalagi, Mami kamu yang melahirkan kamu. Papi nggak pernah ngajarin kamu buat benci seseorang, Nak."
Jujur.
Xavira tidak benci pada Ana. Namun, rasanya sangat sakit untuk bisa bersikap seoalah yang lalu itu tidak pernah terjadi.
"A-aku..." Xavira menatap Rahadi dengan intens. "Aku nggak bisa, Pi."
Tidak perlu penjelasan panjang lebar lagi. Rahadi tahu, Xavira pasti sangat sakit hati. "Papi tahu. Papi nggak akan maksa kamu lagi."
----------
"Yo, itu Xabi bukan, sih?"
"Mana?" matanya menyipit, memastikan siapa orang yang tengah b******u di antara banyak orang itu. "Njir. Itu Xabi."
"Tuh, kan. Aku nggak salah orang. Tapi, kenapa Xabiru jadi kayak gitu?"
"Wegalaseh. Itu di samping dia ada lebih dari dua cewek," dengusan kasar keluar dari bibir Rio. "Aku samperin dia dulu, De. Takutnya dia lagi mabuk berat."
Rio dan Dea adalah teman sewaktu SMA-nya Xabiru. Banyak tanya yang ingin dilontarkan pada Xabiru atas kelakuannya saat ini. Berdansa dengan sangat intim dengan jalang lalu menciumnya seakan itu hal biasa. Itu bukanlah Xabiru yang Rio maupun Dea kenal.
Dea pernah berterima kasih pada Xabiru karena sudah membuka pikiran Rio yang dulunya sering one night stand dengan salah satu jalang itu. Namun, sekarang Dea melihat Xabiru sendiri sedang membawa perempuan dengan rambut warna merah yang kecokelatan itu masuk ke dalam salah satu bilik kamar di kelab malam itu.
Rio dan Dea memang sering clubbing. Hanya sekadar minum-minum sebagai perayaan. Tidak lebih dari itu.
Dea melihat Rio sedang menahan Xabiru, menyadarkan laki-laki itu agar tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi. Dari kejauhan, Xabiru terlihat marah karena Rio ikut campur akan urusannya.
"Lo nggak perlu ikut campur. Malam ini gue mau seneng-seneng." Xabiru menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Rio. "Iya, nggak, Honey?" ganti Xabiru tersenyum pada jalangnya.
"Gila! Lo udah mabuk berat," Rio berdecak. "Mending lo sekarang cabut aja, Bi."
"Rio, lo nggak tahu apa yang gue rasain! Cuma Honey ini yang tahu," Xabiru mencuri-curi cium pada perempuan berambut merah itu. "Malam ini bakal jadi malam terpanas 'kan, Sayang? Hmm..."
"s**t! Lo bener-bener!" Rio membawa Xabiru menjauh dari kamar kelab itu. Namun, Xabiru meronta dan malah akan menghajar Rio. Padahal, niat Rio baik. Tidak ingin Xabiru menyesal saat kesadarannya kembali sepenuhnya.
"Lo. Nggak. Usah. Ikut. Campur!" tekan Xabiru. Dan selanjutnya, ia dan jalangnya masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Rio yang masih bengong, ia tidak percaya Xabiru seperti sekarang ini.
Xabiru yang dulu bukanlah yang sekarang.
Apa mungkin ini karena Xabiru terlalu lama tinggal di Amerika? Atau karena apa? Rio pun tidak tahu.
Rio mengembuskan napas panjang. Kembali menghampiri Dea yang duduk di sofa. "Xabi sekarang udah berubah, De."
"Hmm... iya. Kelakuannya jadi kayak ada b*****t-bangsatnya, gitu."
Rio terkekeh pelan. "Mungkin dia lagi butuh pelampiasan."
"Aku kasihan aja sama Xavi," kata Dea dengan nada rendah. "Xavi kayaknya cinta banget sama Xabi."
Kening Rio mengkerut. "Bukannya si Xavi mau menikah, ya? Sama anaknya pengusaha juga. Temen dari Bokapnya... gue denger-denger, gitu."
"Iya," Dea membenarkan. "Tapi, si Xavi itu cintanya sama Xabi. Dan... Xabi-nya malah jadi b*****t kayak sekarang."
"Dari SMA mereka juga kayak, gitu. Gengsi buat nyatain perasaan masing-masing. Di antara si Xabi sama Xavi nggak ada yang mau mulai duluan."
Dea menatap tajam Rio. "Jadi cewek itu susah. Mau nyatain perasaan duluan, ntar dikira murahan."
Rio menahan tawa di kedua pipinya mendengar Dea sedang membela kaum perempuan. "Iya-iya, aku tahu."
"Aku jadi ngerasa bersalah sama Xavi."
"Kenapa?"
"Karena barusan aku WA dia tentang si Xabi."
Xabiru dan Xavira itu sama-sama tersakiti perasaannya di tempat yang berbeda.
Bersambung...