•Indah Masa Lalu•

1131 Kata
"Kebersamaan kita itu nyata adanya di masa lalu." -Xabiru Kamajaya- --------- "Huh, god!" Xabiru menggeram secara tertahan, giginya bergemeletuk di dalam bibirnya. Tangan yang tadinya memegang pinggang sang perempuan yang baru saja memuaskannya itu kini terlepas. Ia merebahkan diri dengan pikiran yang berkelana. Tiga jam lebih Xabiru melakukannya secara brutal dan tanpa jeda. Baru detik ini permainan panas keduanya usai. Kepalanya tertoleh ke kanan karena mendapat pujian atas kehebatannya bermain kuda-kudaan. "Hebat banget lo, Bi." Xabiru tersenyum samar. Laki-laki itu memang sudah mencapai puncaknya, mengeluarkan lahar panasnya. Ia membuka alat kontrasepsi yang membungkus bukti gairahnya lalu membuangnya ke tempat sampah. Dan kembali lagi ke ranjang. Ada rasa aneh yang masih melingkupi diri seorang Xabiru Kamajaya, seperti tidak puas akan sesuatu. "Jangan pegang-pegang, Han." Seketika itu Hanny, jalang yang ia sewa itu menghentikan aksinya. Tangannya mengambang di udara, tidak lagi menyentuh Xabiru. Di detik selanjutnya, Xabiru memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya. Entah berapa botol minuman keras yang ia teguk akhir-akhir ini hingga Xabiru merasakan pusing yang luar biasa. "Uangnya besok gue transfer," kata Xabiru setelah berpakaian lengkap. "Lo kirim aja nomor rekeningnya." Meskipun masih dengan keadaan setengah mabuk, Xabiru memaksakan diri berjalan dengan sempoyongan menuju parkiran mobilnya. Sekarang pukul dua dini hari. Xabiru tidak bisa tidur, padahal ia sudah melakukan segala hal agar bisa tidur nyenyak tanpa dihantui bayang-bayang wajah Xavira. Namun, selalu saja gagal. Ketika sudah berada di dalam mobil, Xabiru tidak kunjung menjalankan kendaraan roda empatnya itu. Ia hanya diam merenung dengan kepala yang berdenyut. Semua kejadian yang pernah terjadi antara Xabiru dan Xavira kini sedang terputar jelas dalam otaknya. Membuat kepala Xabiru kian pusing memikirkannya. "Bi, aku boleh tanya sesuatu?" "Apa?" "Kalau seandainya kamu udah punya pasangan... emh, dalam artian pacar. Kamu nggak akan ngelupain aku, 'kan?" "Ya, nggak mungkinlah, Xavi Sayang." Xabiru masih ingat ia mengatakan itu lalu mengacak rambut Xavira dengan gemas. "Nanti kalau pacarmu cemburu sama aku gimana?" "Ya, nggak gimana-gimana. Aku bakal jelasin ke dia. Hubungan kita itu lebih dari sahabat, saudara, atau apa pun hubungan yang pernah tercipta di dunia ini." Hening sesaat sebelum Xavira kembali berucap sesuatu. "Bi, kalau seandainya... aku suka sama kamu gimana?" "Nggak lucu, ah, Xav." "Serius," kata Xavira dengan merapikan rambutnya guna mengurangi rasa gugupnya yang kini tengah membuncah dalam rongga d**a. "Apa tanggapan kamu? Kalau seandainya... aku suka, sayang, dan cinta sama kamu." Xabiru terlalu bodoh untuk mengartikan segala bentuk kode akan perasaan Xavira. Pantas saja Xabiru tidak pernah lulus tes masuk perguruan tinggi kala itu. Karena memang kapasitas otaknya sangatlah rendah. Puas memaki diri sendiri dan mengakui betapa bodoh dirinya, Xabiru lalu menyalakan mesin mobil. Mengendarai mobilnya itu dengan kecepatan rata-rata, bahkan terkadang sangat pelan seraya tangan satunya memegangi pelipisnya. Fokus, Bi. Fokus! Xabiru menggeleng-gelengkan kepalanya secara berulang kali. Fokusnya pecah begitu saja. Raut wajah itu kembali bergentanyangan hingga tanpa sadar mobil Xabiru berhenti di kompleks rumah tempatnya tinggal kala kecil dulu. Tempat singgah sederhananya itu pun masih berdiri di sana, meskipun keadaannya sudah tidak seperti rumah karena memang tidak ada yang tinggal di sana lagi. Di seberang itu ada rumah yang megah nan kokoh. Mesin mobilnya ia matikan lalu memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah itu. Jika Xabiru tidak melakukan hal yang membuat Rahadi kecewa, pastinya ia saat ini sudah ada di dalam kamar Xavira. Xabiru memang pandai dalam hal menyelinap masuk ke rumah itu. Bahkan, Xabiru dulu tidak jarang tiba-tiba ikut tidur bersama Xavira tanpa sepengetahuan Rahadi. Namun, itu dulu. Kini tidak lagi. Xabiru menyandarkan kepalanya pada setir mobil lalu mulai memejamkan matanya. Tidur dalam mobil tepat di depan rumah Xavira. Setidaknya, itu bisa membuat rasa kantuk Xabiru datang secara tiba-tiba. "Biru, kamu pinter gambar juga, ya?" "Ya, harus dong. Masak kamu aja yang pinter." Xavira mendekat dengan membawa peralatan menggambarnya, buku gambar ukuran A4, penghapus, pensil, dan pensil warna. Ia mencondongkan tubuhnya dan menatap Xabiru dengan saksama saat menggambar. "Bagus 'kan gambaranku, Xav?" "Bagus banget, Bi. Ajarin aku dong." "Siniin tangan kamu," Xabiru meraih tangan Xavira, menuntunnya untuk mencoretkan goresan pensil di atas kertas gambar. "Kamu mau gambar apa?" Xavira tampak berpikir sejenak lalu menjawab. "Kalau gambar wajah orang bisa?" "Bisa," jawab Xabiru. "Kamu mau gambar wajah siapa? Aku, ya?" "Ih, bukan." "Terus siapa?" "Mami," lirih Xavira. "Aku kangen Mami, Bi." Dulu saat Xavira merindukan seseorang, Xabiru yang akan meredamkan rasa rindu itu. Dan begitu pun sebaliknya. Saat Xabiru merindukan kedua orang tuanya, Xavira yang akan menghangatkan hatinya. Namun, kali ini jika yang dirindu itu orang yang biasa menjadi penawar rindu, bagaimana bisa Xabiru meredamkan rasa itu? Di saat sang penawar rindu lah yang ia rindukan. Xabiru tersenyum kecil dalam tidurnya kala mengingat bagaimana ia memeluk Xavira di masa lalu. --------- Dea (SMA 69) Xavi, lo apa kabar? Gue barusan lihat Xabiru ada di kelab. Xavira mengembuskan napas panjang saat membaca pesan itu. Baru saja ia akan memejamkan mata, tapi satu kabar lagi mengusik ketenangan hatinya. Xavira Naraya Rahadi Kabar baik, De. Dea (SMA 69) Lo sekarang udah nggak deket lagi, ya, sama si Xabi? Merasa tidak mendapatkan balasan pesan, Dea pun kembali mengetikkan apa yang ia lihat. Dea (SMA 69) Sejak kapan si Xabi jadi penikmat jalang? Seinget gue, dia yang paling ngehargain perempuan. Xavira membaca pesan itu secara berulang kali. Ia berpikir hanya salah baca. Di sana tertera kata "penikmat jalang" yang membuat hatinya teremas-remas. Dea (SMA 69) Xav, kayaknya lo harus nyadarin si Xabi. Dia udah terlalu dalam masuk ke dunia malam, bukan cuma sekadar minum-minum doang. Dea (SMA 69) Maaf. Kalau gue terkesan terlalu ikut campur. Karena gue cuma mau Xabi inget jalan pulang. Gimana pun juga, gue masih sangat berterima kasih karena dulu Xabi yang nyadarin Rio buat nggak kayak gitu lagi. Xavira masih berusaha mencerna semua kata-kata itu. Rangkaian kalimat sederhana yang seharusnya mudah ia pahami. Namun, pikiran dan hatinya menolak untuk melakukan itu. Ia lebih memilih menyangkalnya. Xabiru-nya tidak mungkin seperti itu. Xavira Naraya Rahadi Mungkin lo salah lihat kali, De. Gue tidur dulu, ya. See you. Setelah mengirimkan balasan pesan itu, Xavira meletakkan ponselnya di atas nakas dengan mengubah mode pengaturan suaranya menjadi hening. Lupain Biru. Lupain Biru. Lupain Biru. Lupain Biru. Itu yang selalu ia pikirkan agar fungsi sarafnya tidak lagi mengharapkan kehadiran sosok Xabiru Kamajaya. Seandainya bisa memilih, Xavira lebih memilih akan selalu menjadi gadis kecil yang tidak mengerti akan arti perasaan bernama cinta. Ia akan lebih memilih hal itu. Karena sebelum mengenal perasaan yang bernama cinta, Xabiru dan Xavira pernah merasakan kebahagiaan bersama. Air mata kembali terurai membasahi pipi yang perlahan Xavira usap. Ia merindukan dua orang sekaligus dalam satu waktu, yaitu mami dan Xabiru. Mencoba tertidur, tapi tidak bisa. Bola matanya terbuka lebar merasakan hatinya terasa ditusuk-tusuk. Ia merogoh laci nakas, mengambil botol obat yang ada di sana. Seperkian detik, ia merasa ragu. Namun, tanpa diduga Xavira malah mengambil dua kapsul obat dan langsung menelannya bersama air putih. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN