"Baru saja aku menaruh rasa percaya padamu. Lalu aku kembali dikhianati. Aku kembali tidak percaya akan rasa cinta. Aku kembali merasakan sakit untuk yang sekian kalinya. Kamu satu di antara banyaknya derita yang kurasa."
-Xavira Naraya Rahadi-
----------
"Pi, aku mohon... jangan marahin Xavi karena masalah ini."
"Apa maksud kamu, Lang?!" hardik Rahadi dengan tangan yang mengepal kuat. Buku-buku tangannya pun sampai memutih karena menanti di depan pintu kamar putri tunggalnya itu. "Jelas-jelas Xavi sudah melakukan kesalahan..."
"Pi.." Gilang menyela, sebelum Rahadi kembali bersuara lagi. "Xavi mungkin butuh pelampiasan. Makanya, dia minum obat tidur itu."
"Pelampiasan kamu bilang?" Rahadi geleng-geleng kepala. "Xavi bener-bener keterlaluan. Dia nggak pernah mikirin perasaan Papi gimana."
Xavira Naraya Rahadi.
Satu-satunya harta paling berharga yang ia punya. Rahadi sukses juga demi membahagiakan Xavira. Rahadi mempertaruhkan semuanya, bahkan nyawanya hanya agar bisa melihat senyum manis melengkung di bibir putrinya itu. Rahadi rela menukar semua harta benda yang ia punya untuk kebahagiaan Xavira, jika itu perlu.
Rahadi tahu, terlalu banyak beban yang Xavira tanggung seorang diri. Namun, over dosis obat tidur itu juga bukan pelampiasan yang baik. Bagaimana jika Xavira menutup matanya untuk selama-lamanya?
Rahadi pasti akan jadi gila karena hal itu.
Tidak!
Itu tidak boleh terjadi.
"Papi, tenang dulu." Gilang mengusap pundak Rahadi dengan lembut, membuat calon papi mertuanya itu berhenti mondar-mandir di depan kamar Xavira. "Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter aja, Pi."
Berbagai perasaan berkecambuk dalam hati Rahadi.
"Aku tahu, Xavi memikirkan banyak hal. Mungkin itu juga yang ngebuat dia keblablasan minum obat tidur," kata Gilang. "Papi jangan langsung menjudge dia nantinya. Dengerin dulu penjelasannya."
Tarikan napas panjang Rahadi lakulan. Ia sedang menetralkan perasaannya yang kalut. Jangan sampai Rahadi gegabah dan malah kian memperburuk keadaan nantinya.
Rahadi menatap Gilang dengan lembut setelah perasaannya mulai sedikit lebih tenang. "Kamu memang pilihan terbaik Papi buat Xavi."
Rahadi semakin yakin bahwa keputusannya untuk menikahkan Gilang dan Xavira itu sudah tepat. Dilihat dari segi apa pun itu, Gilang tidak ada bagian cacatnya. Padahal, manusia di bumi ini diciptakan dengan serba kekurangan. Namun, sampai detik ini Rahadi belum mengetahui sisi cacat secacatnya dari Gilang itu.
Tangannya ganti mengusap pundak Gilang lalu mengucapkan terima kasih.
Menunggu.
Itulah satu hal yang bisa dilakukan oleh Rahadi dan Gilang di depan kamar Xavira. Dokter kini sedang memeriksa keadaan Xavira lebih lanjut lagi.
Lima belas menit pun terlewati begitu saja. Terdengar suara pintu kamar yang terbuka, dokter yang memeriksa Xavira itu keluar lalu menurunkan kacamata hitamnya dan mulai menjelaskan tentang kondisi perempuan yang baru saja ia periksa itu.
"Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Semua baik-baik saja."
"Aku masuk dulu, ya, Pi."
Gilang pamit lebih dulu untuk melihat kondisi Xavira dari jarak yang lebih dekat. Laki-laki itu melangkah pelan lalu menuju ranjang tempat tidur Xavira. Langsung saja ia meraih tangan Xavira dan meremasnya kuat seraya senyum smirk tercetak di wajah tampannya itu.
Dasar, Cewek Bodoh!
Gilang tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam otak seorang Xavira Naraya Rahadi hingga melakukan hal yang amat bodoh seperti itu.
Lo boleh menutup waktu untuk selamanya, kalau semua rencana gue udah terwujud satu per satu.
Gilang yang tadinya meremas tangan Xavira dengan kuat, kini ia mengusapnya secara perlahan dan penuh kelembutan. Laki-laki itu melakukannya karena mendengar langkah kaki Rahadi yang masuk ke dalam. Tentu saja Gilang kembali memasang raut wajah khawatir, padahal tadi tidak seperti itu.
Tanpa ditanya, Rahadi sudah menjelaskan lebih lanjut pada Gilang tentang Xavira. Kata dokter yang baru saja memeriksa Xavira, perempuan itu akan segera sadar kembali setelah pengaruh obat tidur yan ia minum hilang. Dan dokter menyarankan agar Xavira selalu diawasi, jika tidak ingin terjadi hal-hal yang di luar dugaan.
---------
Hidupnya lebih kacau dari apa yang ia bayangkan.
Xabiru pikir, saat ia kembali ke Indonesia setelah membawa banyak uang hidupnya akan bahagia. Namun, tidak semudah itu. Uang tetaplah hanya menjadi uang, bukan sumber kebahagiaan.
Sumber kebahagiaannya itu Xavira Naraya Rahadi. Semua hal kecil yang terjadi dan terlewati itu merupakan sumber kebahagiaan Xabiru. Sumber kebahagiaan yang tidak ada tandingannya.
Xabiru mematikan ponselnya saat nama Angelina tertera berulang kali di layar ponselnya. Ia pun yakin, jika perempuan yang lebih muda darinya itu pasti sedang menunggunya di apartemen. Makanya, Xabiru memilih tidak singgah ke apartemennya lagi karena suasana hatinya yang sedang buruk.
Sekarang, Xabiru seperti seorang penyusup atau mata-mata. Ia diam-diam selalu berkutat di kompleks rumah Xavira.
Sejak kejadian Xabiru melakukan one night stand bersama Hanny, ia sangat menyesal dan entah mengapa selalu berpikiran ingin bertemu Xavira. Seakan Xavira itu tahu kelakuan bejatnya. Dan Xabiru merasa sudah melukai Xavira berkali-kali, jika ia mengingat kembali kelakuan berengseknya.
Xabiru tahu, Xavira mencintainya.
Bukannya memilih belajar untuk mencintai Xavira, ia malah melangkah menjauh. Dan saat perasaannya kini mulai tersadar akan sesuatu hal, Xabiru ingin dicintai lagi oleh Xavira. Itu sangat egois, 'kan?
"Ini Mas Biru Adiknya Mas Ferdi? Temennya Non Xavi dulu, 'kan?" suara itu tiba-tiba membuyarkan segala lamunan penyesalannya.
"Mbak Siti?" Xabiru masih ingat betul siapa perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Ia adalah asisten rumah tangga di keluarga Rahadi.
Sedikit berbasa-basi, Xabiru akhirnya menanyakan perihal Xavira pada Siti. Dan jawaban Siti adalah hal yang paling ia khawatirkan di dunia ini.
"Saya denger, Non Xavi over dosis obat tidur."
Double s**t! g****k!
Xabiru meremas rambutnya dengan frustasi, tapi untungnya kalimat penjelas yang Siti lontarkan bisa membuatnya sedikit tenang.
"Kata dokter, Non Xavi baik-baik aja kok, Mas. Jangan khawatir. Tinggal nunggu Non Xavi sadar dari pengaruh obat tidurnya."
Meskipun begitu, masih terselip ribuan rasa khawatir yang berlapis-lapis akan Xavira.
Seperginya Siti dari hadapannya, Xabiru berjalan mondar-mandir di depan mobilnya yang terparkir tidak jauh dari rumah Xavira. Ia sedang memutar otaknya, berpikir dengan sangat keras bagaimana caranya agar bisa menemui Xavira-nya.
Xabiru harus menemui Xavira sebelum rasa khawatirnya kian memuncak hingga ke titik di mana ia akan meledak.
Satu-satunya cara adalah menyelinap secara diam-diam. Untung saja, satpam yang menjaga rumah Rahadi itu orang yang sama seperti dulu. Tidak ada yang diganti. Pegawainya masih tetap sama. Jadi, Xabiru hanya perlu berkompromi sebentar lalu menjalankan aksinya.
Xabiru memberi uang sebagai tanda tutup mulut. Namun, ditolak secara mentah-mentah. "Mas-nya ini kayak lupa aja sama Pak Asep. Kan, udah kayak biasanya."
Xabiru tersenyum lalu berterima kasih. Dan mulai masuk ke dalam rumah Xavira. Lebih tepatnya ia merangkak lewat jendela kamar Xavira yang ada di samping. Itu lebih aman, daripada masuk lewat pintu karena mungkin akan terpergok oleh Rahadi.
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Xabiru untuk menjalankan rencana dan aksinya itu. Di saat Xabiru sudah menginjakkan kaki di atas kamar Xavira, ia merasa amat menyesal. Melihat adegan yang seharusnya tidak ia lihat. Seharusnya, ia yang ada di sana. Di samping Xavira. Mencium kening perempuan itu seraya mengusap kepalanya penuh sayang. Namun, itu hanya khayalan. Karena yang ia lihat di hadapannya lah yang nyata.
Xabiru memegangi dadanya sambil berjalan mundur. Ia saat ini berjongkok di depan kaca jendela kamar Xavira yang ada di dekat balkon.
Samar-samar Xabiru bisa mendengar apa yang Xavira katakan dengan nada lembutnya, suaranya sangat pelan dan lemah. "Makasih untuk selalu ada buat aku."
Bersambung...