Samar-samar Xabiru bisa mendengar apa yang Xavira katakan dengan nada lembutnya, suaranya sangat pelan dan lemah. "Makasih untuk selalu ada buat aku."
Gilang tidak menjawab ucapan terima kasih dari Xavira itu, ia hanya mengulas senyum. Senyum yang lagi-lagi membuat Xavira merasa bersalah karena sudah menyia-nyiakan laki-laki seperti Gilang tiga tahun belakangan ini. Mengapa ia tidak mencoba mengenyahkan cinta pertamanya lalu beralih membuka pintu hatinya untuk seseorang yang jelas-jelas mencintainya? Seharusnya, seperti itu agar Xavira tidak merasakan sesak di dadanya.
Perempuan itu menggenggam tangan Gilang yang tengah mengusap jari manisnya. Seperkian detik, tidak ada yang Gilang maupun Xavira ucapkan. Namun, sesuatu yang melingkar di jari manis Xavira mampu membuat Gilang mengernyit penuh tanda tanya dalam.
"Kenapa, Lang?"
"Ini," Gilang menyetuh benda berbentuk lingkaran yang ia yakini bukanlah apa yang disematkan dulu. "Cincin siapa ini? Ini bukan cincin pertunangan kita, Xavi."
Deg.
Xavira tersentak. Ia segera mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk dengan bersandar pada kepala ranjang. Perempuan itu menggigit bagian bawah bibirnya dengan degupan jantung yang berdebar tidak keruan.
Tatapan Gilang begitu tajam, tanpa sepatah kata pun. Menanti Xavira untuk menjelaskan sebelum Gilang meminta penjelasan lebih lagi.
"Lang, maaf..." hanya kata itu yang mampu Xavira lontarkan.
Seharusnya, jika ia berniat menerima Gilang di hatinya... Xavira harus benar-benar menyingkirkan laki-laki lain, yaitu Xabiru dalam benaknya.
"Aku nggak pernah bermaksud... mengkhianati kamu."
Gilang tampak menahan letupan emosinya. Banyak tanya negatif tentang Xavira bermunculan dalam otaknya saat ini. Ia pikir, Xavira tidak akan melakukan hal keji seperti ini padanya. Mengkhianatinya? Salah. Mereka berdua memang sama-sama saling mengkhianati satu sama lain.
"A-aku... aku..."
Jelasin yang sebenarnya, Xavi.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Xavi. Kamu anggap pernikahan kita yang akan berlangsung sebentar lagi itu lelucon? Hah?!"
"Lang..." Xavira meraih tangan Gilang lalu memohon padanya. "Dengerin aku dulu."
"Apa yang mau aku dengerin dari kamu? Hah?!"
Xavira memejamkan matanya sebentar karena mendapatkan bentakan dari Gilang. Baru kali ini Gilang begitu naik pitam. Ia sadar, Xavira-lah yang salah di sini. Sudah sewajarnya Gilang marah semarah-marahnya pada dirinya.
Xabiru yang melihat semua kejadian itu dari balkon kamar Xavira tengah mengepalkan tangan erat-erat.
Xabiru tidak suka Xavira-nya dibentak.
"A-aku... aku... minta maaf. Tolong maafin aku."
Gilang mendesah. "Cuma maaf? Itu nggak akan pernah cukup, Xav."
"Aku tahu, aku salah. Tapi, aku mohon kamu bisa ngertiin aku..."
"Iya! Aku harus ngertiin kamu sama kayak tiga tahun yang lalu? Selalu gitu. Aku muak."
Xabiru tidak habis pikir, atas dasar alasan apa Rahadi memilihkan calon suami untuk Xavira itu. Temperamennya sungguh buruk. Ucapannya apalagi. Dan tatapannya pun seakan menyorot tajam, tanpa ada kehangatan.
Apa ini saatnya Xabiru menampakkan diri lalu menjelaskan hubungannya dengan Xavira yang tidak akan pernah berakhir?
"Lang, sekali ini aja."
Gilang menarik napas panjangnya. Aktingnya kali ini sudah cukup bagus, 'kan? Dan saat ini Xavira benar-benar ada di bawah kendalinya. Ia yakin, Xavira sebentar lagi akan lumpuh dan tidak bisa untuk berkutik lagi di hadapannya. Laki-laki itu mempunyai kartus AS yang bisa ia gunakan kapan saja Gilang mau.
Senyum tipis itu membingkai wajahnya, membuat Xavira berharap Gilang bisa mengerti akan posisinya. Dan saat Gilang mengucapkan kalimat selanjutnya, Xavira yakin ia akan dikendalikan mulai dari sekarang. "Apa kamu bilang?"
"Apa itu kurang jelas, Xavi?"
Xavira menundukkan pandangannya, matanya menatap cincin yang tersemat di jarinya itu.
"Apa aja yang udah kamu lakuin sama kekasih selingkuhan itu? Hmm?"
Kekasih selingkuhan?
Sungguh, status yang sangat rendah.
"Jadi, ini alasan kamu selalu nolak saat aku sentuh. Iya, 'kan?!"
"Enggak, gitu."
"Terserah lo mau ngomong apa gue udah capek."
Baru kali ini Gilang merubah pola kalimat dalam berbicaranya.
"Lang..." Xavira menahan tangan Gilang, tapi segera ditepisnya secara kasar. Dan laki-laki itu membuka pintu kamar dengan cepat, membuat Xavira sedikit memekik kaget. Kemudian berlalu pergi begitu saja.
Langkah kaki Xavira terhenti karena pusing yang merambat di kepalanya itu kian menjadi. Ia lebih memilih duduk di tepi ranjang, daripada berlari keluar mengejar Gilang yang tengah dilingkupi rasa amarah.
Mungkin, Gilang butuh waktu untuk bisa menerimanya lagi.
Xavira merabahkan diri di atas tempat tidur dan memejamkan mata. Entah mengapa pusing itu seakan bertambah parah. Masalah demi masalah silih berganti mengusik hatinya yang tidak pernah merasakan ketenangan.
Dengan mata terpejam, Xavira terlelap diikuti beberapa tetes air mata yang menguar membasahi pipinya. Di saat ia benar-benar telah pergi ke alam mimpinya, ada sosok yang diam-diam memberanikan diri membuka kaca jendela kamarnya dari balkon. Kakinya melangkah secara perlahan memasuki ruangan itu.
Bola matanya mengedar ke segala penjuru, kamar perempuan itu tidah jauh berbeda dari tiga tahun yang lalu.
"Selalu mengagumkan," ucapnya.
Selanjutnya, ia mengambil duduk di tepi ranjang. Matanya tidak ada hentinya mengamati Xavira yang tengah tertidur pulas saat ini. Tangannya tergerak untuk menyapu bekas air mata yang ada di pipinya itu. Lalu ia mengecup pipinya sekilas.
"I love you, Xav."
Ia yakin, Xavira masih mencintainya terbukti dari gelang dan cincin pemberiannya yang masih tersemat di tangannya itu.
Xabiru kembali memajukan bibirnya di depan kening Xavira dan menciumnya untuk waktu yang sedikit lebih lama dari sebelumnya.
"Bi..." meskipun, dalam keadaan yang setengah sadar antara alam mimpi dan nyata Xavira bisa merasakan sentuhan hangat itu. Sangat hangat hingga membuat suasana hatinya yang tadi kacau kini tenang seketika. Entah siapa yang melakukan itu, bisa saja Rahadi atau Gilang. Namun, Xavira malah menggumamkan nama Xabiru.
------
Dua hari sejak Gilang mengetahui Xavira tidak lagi memakai cincin pertunangan mereka, laki-laki itu tidak pernah berkunjung ke rumahnya. Membuat Rahadi menanyakan tentang Gilang terus-menerus pada Xavira. Dan Xavira hanya bilang, jika Gilang sedang sibuk.
Xavira mengusap cincin pemberian Xabiru. Ia enggan melepaskan cincin itu dan mengganti dengan cincin pertunangannya. Namun, Xavira rasa semua cukup sampai di sini. Ia harus memilih.
Semoga pilihannya kali ini sudah tepat.
Xavira menarik ikatan rambutnya setelah selesai memasak hari ini. Keadaannya sudah membaik seiring berjalannya waktu. Ia memutuskan membuatkan makanan kesukaan Gilang untuk merayu laki-laki itu. Sebenarnya, ia tidak tahu dengan cara apa merayu laki-laki agar mau memaafkan kesalahan perempuan.
Xavira tidak berpengalaman akan hal itu.
"Pi, aku pamit dulu."
"Mau ke mana?" tanya Rahadi melihat Xavira akan bersiap-siap pergi, padahal pekerjaan kantornya sudah tidak dibebankan padanya lagi. Karena sejak Xavira jatuh sakit dua hari yang lalu, Rahadi jadi tidak tega membiarkan Xavira meneruskan perusahaan seorang diri.
"Ke kantornya Gilang. Mau kasih kejutan, sedikit."
Rahadi tersenyum semringah. Semakin bahagia melihat Xavira mulai benar-benar melupakan laki-laki sialan itu dan berpaling pada Gilang, pilihannya.
Setelah itu, Xavira keluar dari rumah lalu memasuki mobilnya. Mulai menghidupkan mesin dan menjalankan kendaraan roda empatnya itu. Xavira biasa membawa mobil pribadinya sendiri, sudah tidak di antar-jemput oleh Firman. Ia hanya akan meminta Firman menjadi sopir pribadinya, jika Xavira merasa sedang sangat lelah dan tidak kuat untuk menyetir. Barulah Firman dibutuhkan saat itu.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan dari rumah ke kantor Gilang, Xavira pun memikirkan banyak hal yang akan diucapkan nanti pada tunangannya itu. Rangkaian kata mulai ia susun menjadi sebuah kalimat sederhana sebagai penjelas.
Xavira memarkirkan mobilnya, melepaskan sabuk pengaman, dan membuka pintu mobilnya. Berjalan memasuki kantor Gilang dengan perasaan berdesir.
"Tuan Gilang, sedang tidak ingin diganggu."
Xavira mengibaskan tangannya, tetap keukeuh untuk menemui Gilang di saat sekretarisnya itu malah melarangnya masuk ke dalam ruangan pribadinya. "Saya ini tunangannya."
Sekretaris itu pasrah dan membiarkan Xavira masuk ke dalam ruangan atasannya itu.
Bibir yang tadinya mengembangkan senyum dengan perasaan berdesir, kini lenyap dalam hitungan detik setelah pintu ruangan pribadi Gilang terbuka.
Saya ini tunangannya.
Benarkah Xavira itu tunangannya saat ia melihat apa yang tidak pernah dibayangkan di depannya saat ini terjadi?
Gilang sedang... melakukan hal tidak senonoh. Laki-laki itu ada di hadapannya, tanpa menyadari kehadiran Xavira yang melihat semua itu dengan jelas.
Penglihatan Xavira mulai memburam karena berkaca-kaca. Laki-laki yang ia pikir bisa dicintainya itu kini mengkhianatinya.
Xavira dikhianati.
"Slow, Baby. I will give you more and more."
Suara Gilang sungguh berat dengan tatapan penuh gairahnya ia membuka ikat pinggangnya lalu merubah posisi agar si perempuan yang Xavira lihat hanya punggungnya itu semakin intim dengannya.
Xavira ingin berteriak. Namun, bibirnya terkatup rapat. Layaknya orang bisu yang ingin berbicara, tapi tidak bisa. Adegan selanjutnya, Xavira langsung menutup pintu ruangan itu dan membekap mulutnya dengan telapak tangannya.
Mengapa semua laki-laki di dunia ini berengsek?
Bersambung..