•Berbagi Keluh (A)•

1099 Kata
"Katakan padaku apa yang kamu rasa. Bagi rasa duka maupun senangmu padaku. Aku siap meringankan bebanmu dan memberatkan bahagiamu kelak." -Xabiru Kamajaya- ---------- "Bi, bukannya lo udah beli apartemen sendiri?" Xabiru tidak menjawab, ia memilih meringis menunjukkan giginya berjejer rapi dan putih itu. Saat ini, ia tengah bermain bersama Fani. Putri pertama dari Mas Ferdi dan Mbak Naya. Kakak kandung dan kakak iparnya itu harus rela rumahnya bertambah satu penghuni lagi karena kehadirannya. "Udahlah, Mas. Nggak papa kok Xabi nginep di sini," kata Naya dengan mengulum senyumnya. "Biar tambah rame juga." "Tuh, Mbak Naya aja nggak keberatan." Ferdi mendengus. "Ya, udah terserah. Asal jangan bikin masalah di sini." Xabiru mengangguk paham. Ia memutuskan untuk tidak tinggal di apartemennya dan lebih memilih menumpang di rumah Ferdi karena beberapa sebab. Pertama, Xabiru malas berhadapan dengan Angela yang tiada henti menempelinya. Semakin Xabiru dekat dengan Angelina, yang ia lihat hanyalah Xavira versi muda dulu. Xabiru tidak mau terjebak fatamorgana semu akan perasaannya. Lebih baik Xabiru mundur. Tidak bisa memiliki Xavira itu sudah merupakan fakta paling menyakitkan. Kedua, Xabiru rindu kehangatan keluarga. Yang ia punya di dunia ini hanya Ferdi. Tidak ada salahnya 'kan, jika ia kembali menjadi adik kecil kakak laki-lakinya itu lagi? Xabiru rindu masa-masa di mana ia kecil. Di mana ia masih polos, pikirannya masih belum terkontaminasi akan hal-hal lain. Xabiru merebahkan Fina dengan pelan di atas tempat tidurnya. Lalu ia menutup pintu kamar kemenakannya itu, membiarkan Fina tidur terlelap dengan damai. Rumah Ferdi bisa dibilang sudah layak, daripada tiga tahun yang lalu. Rumah itu tidak mewah. Cukup sederhana dan nyaman dengan dilengkapi oleh empat kamar, satu ruang tamu, dan satu ruang dapur di bagian paling belakang rumahnya. Xabiru tersenyum kecil melihat Ferdi tengah mengusap perut Naya di depan ruang tamu seraya sesekali tertawa bersama karena tayangan televisi yang berhasil menghibur mereka berdua. Sangat sederhana. Namun, membahagiakan. "Udah berapa bulan, Mbak?" tanya Xabiru ikut bergabung dengan Ferdi dan Naya. "Udah lima bulan ini," jawab Naya tampak senang dengan kehamilannya yang kedua. Semoga Xavi hamil anak gue. "Lo kapan nikah? Katanya, balik Indonesia mau langsung nikah. Emang udah ada calonnya?" Ferdi mengucapkan rentetan kalimatnya itu dengan lancar, frontal sekali. "Nanti..." "Nanti kapan?" "Nanti kalau udah ada calonnya." Balas Xabiru seadanya. "Loh, bukannya kamu sama Xavi..." "Nggak ada perubahan, Mbak." Naya mengulas senyum, tangannya mengusap bahu Xabiru. Membuat empunya melirik ke arah kakak iparnya itu dan mengabaikan tayangan televisi. "Kalau jodoh... apa pun yang terjadi pasti bakal dipersatuin lagi kok. Percaya aja sama Tuhan. Semua udah ada yang ngatur." Ya, itu memang benar. Xabiru percaya akan adanya Sang Maha Pencipta. Jodoh, takdir, dan mati itu ada di tanganNya. Xabiru memilih ikut menikmati acara televisi saat ini, meskipun pikirannya sedang tidak terarah ke sana. Jujur. Ia iri melihat kehidupan Ferdi yang bahagia bersama keluarga kecilnya, apalagi istrinya sedang hamil anak kedua. Pasti kebahagiaan Ferdi berlipat ganda kala nanti Naya melahirkan anak kedua mereka. Pikirannya berkelana terlalu jauh, membuatnya jenuh. Ia pun beranjak dari tempat duduknya. Masuk ke dalam kamar lalu mengambil jaket denim dan mulai memakainya. Sebelum Ferdi dan Naya bertanya Xabiru akan kemana, ia lebih memilih mengatakannya lebih dulu. "Awas aja pulang sampai mabuk! Mas suruh tidur di luar." Xabiru terkekeh pelan. Memang ada kemungkinan, malam ini ia akan mabuk-mabukan seperti malam-malam sebelumnya. Namun, tanpa diduga mobil yang Xabiru kendarai tidak sedang menuju ke kelab malam langganannya. Tangan Xabiru yang ia gunakan untuk menyetir itu mengikuti insting kata hati. Hatinya mengatakan bahwa, Xabiru membutuhkan tempat pelepas penat. Dan pilihannya jatuh pada tempat ini. Setelah memarkirkan mobilnya, Xabiru duduk di bangku panjang yang tersedia di sana. Udara malam yang berembus dingin itu menjadi teman paling akrab Xabiru. Dulu, semasa kecilnya Xabiru sering ke sini bersama Xavira di saat orang dewasa tengah terlelap karena lelahnya rutinitas harian. Xabiru dan Xavira akan meluapkan semua rasa marah, kesal, senang, tangis, dan rasa-rasa lainnya di sini sambil berteriak lepas tanpa takut ada orang yang terganggu. Layaknya sebuah film yang terputar di hadapannya, Xabiru menyadari ada kilasan masa lalunya di setiap sudut netranya saat ini. Tempat itu sekarang lebih bagus dari yang dulu. Ada beberapa bagian yang direnovasi. Xabiru tersenyum kecil kala teringat adu mulutnya dengan Xavira tentang permain jungkat-jungkit yang ada di sana. Karena Xavira ingin bermain jungkat-jungkit bersama Xabiru. Namun, berat badan Xabiru yang lebih besar dari Xavira membuat jungkat-jungkitnya menjadi tidak seimbang. Senyum kecil yang menghias di bibirnya pudar tatkala mendengar suara isak tangis pelan yang memenuhi indra pendengarannya. Xabiru menolehkan kepalanya, mencari asal suara isak tangis itu. Ia pikir, itu bukan apa yang Xabiru pikirkan. Namun, penglihatannya menjelaskan apa yang ada di pikirannya itu. Tadinya Xabiru duga itu adalah suara makhluk gaib yang mungkin mengganggunya, tapi ternyata tidak karena wujud nyatanya terlihat saat ini tengah meringkuk. "Xavi?" tanyanya memastikan. Merasa namanya dipanggil, Xavira pun mendongakkan kepalanya dan mendapati Xabiru ada di depannya saat ini. Xabiru berjalan mendekat lalu berjongkok di hadapan Xavira. "Jangan menjauh, Xavi." Seketika Xavira diam, tidak beringsut mundur lagi. Menatap dua bola mata hangat milik Xabiru. Sebenarnya, Xavira ingin pura-pura cuek, marah, tidak peduli dengan kehadiran Xabiru atau apa pun itu. Namun, Xavira tidak kuasa. Xavira Naraya Rahadi tetaplah perempuan yang dari kecil hingga dewasa ini hatinya terpatri untuk seorang Xabiru Kamajaya. Xabiru, seseorang yang selalu menjadi andalannya meskipun kadang menorehkan luka. Entah di detik keberapa Xavira sudah memeluk Xabiru erat. Tangisnya semakin pecah begitu saja. Keadaan hatinya sungguh kacau balau saat ini. Xabiru tahu itu. Laki-laki itu hanya diam seraya tangannya mengusap-usap punggung Xavira dengan lembut. Ini sikap yang paling Xavira suka dari Xabiru. Xabiru tidak akan bertanya apa yang terjadi. Ia hanya akan menenangkannya di saat perasaannya sedih seperti ini. Dan Xavira mendapatkan ketenangan itu. Tanpa disuruh untuk buka suara atau pun menceritakan penyebab kesedihannya, Xavira akan dengan sendirinya bergumam akan hal itu. "Semua orang jahat sama aku." "Aku di sini." "Kamu juga!" Xabiru merentangkan kedua tangannya, ingin memeluk Xavira lagi. Namun, perempuan itu menggeleng dengan tegas. Xavira baru ingat tentang semua sikap berengsek Xabiru. "Gilang sama kamu itu sama aja. Semua nggak ada yang mau..." ucapan Xavira terhenti karena Xabiru merengkuh tubuh mungilnya tanpa aba-aba, kedua tangan laki-laki itu melingkar di pinggangnya dengan erat. Xabiru pun mencium puncak kepala Xavira seraya tangannya mengusap punggung perempuan itu secara lembut dan perlahan. "Kamu jahat sama aku, Bi." "Forgive me, please. Sorry for everything... emh... semuanya karena aku. Sorry." Bagai magnet yang mempunyai dua sisi. Dua sisi itu saling tarik-menarik satu sama lain, jika berjauhan. Begitulah penggambaran dari bentuk pendekatan Xabiru dan Xavira. Xabiru menguraikan pelukannya. Kedua tangan kokohnya menangkup sisi wajah Xavira, memberinya tatapan intens lalu mengucapkan hal yang ia tunggu selama beberapa tahun belakangan ini. "I love you." Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN