•Berbagi Keluh (B)•

991 Kata
Xabiru menguraikan pelukannya. Kedua tangan kokohnya menangkup sisi wajah Xavira, memberinya tatapan intens lalu mengucapkan hal yang ia tunggu selama beberapa tahun belakangan ini. "I love you." Termangu. Itu lah yang dilakukan oleh Xavira sambil tergugu. Lelehan air matanya masih setia membasahi kedua pipi mulusnya. Xabiru pun menyekanya lagi dan lagi dengan ibu jarinya yang menari-nari di pipi Xavira itu. "I love you... I say I love you. So, stop crying." "Hiks... hiks... hiks..." "Xavi, berhenti nangisnya." Bagaimana Xavira bisa berhenti menangis di saat air mata kesedihannya kini telah berganti dengan derai air mata bahagia? Xavira bahagia kala mendengar apa yang Xabiru ucapkan. Entah itu berasal dari lubuk hati terdalamnya Xabiru atau hanya bualan saja. Yang terpenting, Xavira tahu Xabiru menganggapnya ada dan berharga. Ada kemungkinan rasa itu tumbuh. Sedikit kesal karena suara tangis Xavira yang tidak bisa berhenti, itu sangat mengganggu karena Xabiru seakan tersayat hatinya mendengar isak pilunya. Secara tidak langsung, Xabiru merasakan apa yang Xavira rasakan. Keluh kesah yang tidak tersampaikan melalui kata mampu dihantarkan hanya lewat tangis serupa hingga denting waktu berlalu keduanya pun seakan tidak tahu atau memang sengaja tidak peduli. Sekitar satu jam setengah, Xavira baru bisa menghentikan tangisnya. Ya, seperti itu lah Xavira. Sangat keras kepala. Xabiru tahu itu. "Udah? Tetep nggak mau cerita sama aku apa yang terjadi?" Xavira menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak. Ia memilin ujung bajunya, bingung harus bersikap seperti apa sekarang ini. "Masalah Papi atau masalah Gilang?" "Kamu tahu Gilang?" tanya Xavira sembari alisnya saling tertaut satu sama lain. Seingatnya, Xavira belum pernah menceritakan perihal Gilang. Xavira hanya pernah menyebut tentang tunangannya. "Gilang... tunangan kamu." Bagai manusia kurang kerjaan. Xabiru sudah menelusuri identitas lebih lanjut tentang tunangannya Xavira itu yang bernamakan Gilang. Sungguh, ia penasaran kelebihan apa yang dimiliki Gilang hingga mampu memiliki Xavira-nya. Jujur. Hatinya tidak rela dan retak berangsur-angsur. "Sebegitu nggak pantasnya kah aku untuk dicintai?" Sontak saja Xabiru mendelik. Matanya bersitatap dengan Xavira dengan tajam. "Kenapa kamu ngomong gitu, Xavi?" "Karena nggak ada yang bener-bener cinta sama aku." Xabiru mendesah lesu. "Aku tadi baru bilang cinta sama kamu. Kamu lupa atau emang nggak denger?" "Bullshit," ucap Xabiru dengan tertawa renyah. "Palingan kamu cinta sama aku itu ada batasnya. Sebatas temen, sebatas sahabat, atau bahkan nganggep aku ini adek kamu. Sama kayak biasanya." Xavira hafal betul dengan ucapan Xabiru yang tidak pernah menganggapnya perempuan dewasa. "Oke..." "Hah?" Xavira menaikkan satu alisnya. "Cuma oke balasan kamu?" Xabiru mengedikkan bahu dengan embusan napas pasrahnya. "Aku kayak orang gila. Nggak tahu harus gimana lagi, Xavi." "Kamu punya otak buat mikir. Pakai otak kamu, Bi!" "Gimana aku mau pakai otakku di saat pikiranku ini penuh ke isi sama kamu? Hah?!" sungut Xabiru dengan nada yang lebih tinggi. Mulut Xavira terbuka. Ia baru akan menyela, tapi bingung mau mengatakan apa. Ucapan yang akan dilontarkannya untuk Xabiru seakan menguap begitu saja lalu berbaur dengan udara malam ini yang bisa dibilang cukup dingin. Bola mata keduanya masih sama-sama saling menatap tanpa henti. Xavira melakukan itu karena untuk menebus saat-saat di mana ia tidak bisa menatap dua bola mata milik Xabiru. Jadi, saat ini ia mempunyai cukup banyak waktu untuk menatap dua bola mata Xabiru hingga tanpa jeda. "Jujur," Xabiru berkata pelan sembari tangannya menyugar helai rambur hitamnya. "Aku bingung sama perasaan aku. Di satu sisi aku sangat menekankan bahwa aku nggak pernah ada rasa kamu, tapi hati kecil aku bilang kamu berharga. Makanya, aku bilang I love you... untuk memastikan semuanya." "Maksudnya?" Xavira tidak yakin apa yang akan diucapkan Xabiru selanjutnya tidak menyakiti hatinya. "Memastikan apa, Bi?!" "Sini," tanpa aba-aba Xabiru menarik tangan Xavira, meletakkannya di depan d**a bidang milik laki-laki itu. "Ini salah satu ciri seseorang lagi jatuh cinta, 'kan?" Untuk sekadar menelan salivanya sendiri saja susah. Xavira seketika membeku di tempat. Degupan yang meronta melebihi normal itu terasa nyata. Sama seperti apa yang ia rasa selama ini, jika bersama Xabiru. Benarkah Xabiru jatuh cinta padanya? "Bi..." "Aku udah bilang, perasaanku ke kamu itu lebih dari sekadar cinta." Apakah ada rasa yang tingkat kedudukannya lebih tinggi dari cinta? Rasa cinta yang selalu diagung-agung oleh kebanyakan orang di luar sana. "Aku harap, semuanya belum benar-benar terlambat." Xavira pun mengharapkan hal yang sama. Setelah melihat Gilang, laki-laki yang baru saja ia yakini tidak akan menyakitinya pun melakukan hal gila di belakangnya. Tadi siang apa yang dilihat di kantor Gilang itu hanya secuil kejadian akan rutinitas hariannya. Lantas seperti apa kegiatan Gilang yang lainnya? Sungguh, Xavira tidak menyangka Gilang tega berbuat seperti itu. Di kala hatinya terluka akibat rasa yang mencoba untuk dilupakannya, pelipur lara itu hadir. Cinta pertama yang bisa menyembuhkan sedikit demi sedikit luka hatinya. "Ayo, kita mulai semuanya dari awal, Xav." Hah?! "Aku emang nggak seganteng, sekeren, atau pun sekaya si Gilang tunangan kamu itu... tapi, kamu harus tahu..." ada jeda sebentar untuk Xabiru mengambil napas panjang dan menguatkan keputusannya yang sudah ia rasa benar dalam arti menyakini sosok Xavira Naraya Rahadi dalam hidupnya. "I do... I love you." Sebenarnya, tidak perlu ucapan panjang nan lebar dari Xabiru itu. Xavira sudah luluh lantak jauh sebelum Xabiru mengutarakan perasaannya. Dan saat Xabiru pun membalasnya, lutut serta organ dalam tubuhnya serasa berhenti berfungsi untuk sesaat. Waktu rasa-rasanya ingin ia hentikan di detik ini juga karena enggan untuk mengakhiri semuanya. Xavira mendekap erat Xabiru. Xabiru Kamajaya-nya telah kembali. Kembali ia genggam bersama dengan hatinya. "Bi... aku nggak tahu kamu beneran cinta atau enggak sama aku," ucap Xavira dengan menggesekkan kepalanya pada d**a Xabiru. Tangannya melingkar dengan sempurna di pinggang laki-laki itu. "Aku harap, kamu jujur dan nggak bohong tentang ini semua. Akan terasa menyakitkan... kalau ini cuma bohongan, Bi." "Aku jujur, Xavi." Syukur lah jika begitu adanya. Lagian, ini bukan mimpi di malam musim panas, kan? "Kamu harus janji satu hal sama aku." "Apa? Seribu janji pun akan aku tepatin buat kamu." "Mulai gombal!" Xavira mencubit kecil pinggang Xabiru hingga laki-laki itu mendesah kesakitan. "Ini aku lagi serius." "Iya, Sayang. Aku janji." Xabiru mengulurkan jari kelingkingnya. "Tapi, janji apa dulu?" "Janji untuk nggak nyakitin aku lagi." Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN