•Berbagi Keluh (C)•

1095 Kata
"Janji untuk nggak nyakitin aku lagi." "Please believe me, every word I say is true." "Kamu tahu? Seberengsek apa pun kamu... kamu tetep jadi laki-laki paling baik di mata aku, Bi." "I know that," perlukah diperjelas lagi? "I promise to loving you now, tomorrow, the day after tomorrow, and everyday. Kalau perlu, disetiap embusan napasku ini... aku akan mencintaimu." Ucapan sungguh-sungguh Xabiru saat ini mampu menggetarkan hatinya. "Rasanya sakit pas aku dikhianati, Bi." Di saat ini lah Xabiru menjadi pendengar yang baik. Laki-laki itu paham betul tentang keadaan Xavira. Perempuan yang ia kenal dengan baik dari luar maupun dalamnya. Separuh sisa hidupnya dihabiskan secara bersama. Jadi, wajar Xabiru sangat memahami Xavira. Sebentar lagi, Xavira pasti akan membeberkan keluh kesahnya. "Niatnya tadi itu aku mau ngasih kejutan ke Gilang," Xavira menunjuk kotak makan yang ada di depan dengan dagunya. "Mau minta maaf sama dia. Karena udah salah paham masalah cincin pertunangan yang nggak aku pakai." Senyum kecil malah terbit di sudut bibir Xabiru, ia bisa melihat cincin yang dipakaikannya secara paksa itu masih melingkar di jari manis Xavira dengan sempurna. Xavira masih mempertahankan adanya saat ini. "Tapi, aku malah ngelihat dia..." dari kedua bola mata Xavira, Xabiru bisa melihat ada luka yang terpancar di sana. "Nggak usah diperjelas lagi dia lagi ngapain. Dia udah jadi yang paling berengsek." "Gilang ngelakuinnya di kantor?" Xavira mendengus sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Kenapa fokus ceritamu ke tempat ngelakuinnya, sih, Bi?!" Xabiru terkekeh. Sebenarnya, ia hanya sedang ingin mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. "Abisnya kamu kalau cerita mellow banget." "Wajar lah. Di sini aku yang disakitin." Mendengar kata disakitin itu terlontar dari mulut Xavira, membuat hati Xabiru tercubit kecil. Laki-laki itu pun merasa tertohok dengan ucapan sederhana itu. Ia juga pernah menyakiti Xavira, tidak terkira berapa kali banyaknya rasa sakit yang Xabiru berikan. Apa masih pantas untuk Xabiru bersanding dengan Xavira? "Ya, maaf, Xav." "Aku bingung harus apa... di saat aku pengin batalin pernikahanku yang kayaknya mustahil banget buat gagal kali ini." "Nggak usah bingung," kata Xabiru tidak tinggal diam. Laki-laki itu mulai merasakan udara dingin di malam hari yang tidak baik bagi kesehatan tubuh karena bisa menyebabkan masuk angin. Ia pun melepaskan jaket denim yang dipakainya. Membalutkan jaket denim itu ke tubuh ramping milik Xavira. "Nggak usah pikirin apa pun tentang tunanganmu itu. Karena aku... aku yang akan cari solusi dari masalah kamu." "Sebenernya, aku nggak nyangka kalau Gilang bakal ngelakuin ini ke aku. Dia baik. Bahkan, baik banget. Hampir sempurna dari segi apa pun itu, Bi." "Itu cuma sebagian kecil yang kamu lihat, Xavi." Xabiru mengusap pelan puncak kepala Xavira sambil tersenyum. "Di dunia ini... kejelekan selalu berusaha ditutupi dengan kebenaran." Itu benar sekali! Tidak ada seorang pun yang mau mengumbar kejelekan atau aibnya sendiri. "Tapi, tunangan kamu nggak pernah nyentuh kamu, 'kan?" tanya Xabiru dengan meraih dagu Xavira agar sedikit mendongak menatap manik matanya. "Dia nggak ngapa-ngapain kamu 'kan, Xav?" Xavira mengerjapkan matanya beberapa kali baru menjawab dengan ulasan senyum di bibirnya. "Dia pernah nyentuh aku." "s**t!" "Di sini," Xavira menunjuk pipinya yang pernah dikecup secara sekilas oleh Gilang waktu itu. "Dia pernah nyium aku. Aku udah nolak, tapi dia nekat nyuri-nyuri cium." Cup... Xabiru sesegera mungkin mengecup pipi Xavira yang perempuan itu tunjuk pernah dijamah oleh Gilang. Hanya sebuah kecupan tiba-tiba yang Xabiru berikan. Namun, mampu membuatnya hampir hilang kendali. Pipi serta wajahnya pasti saat ini sudah memerah sepenuhnya. "Nggak ada yang boleh nyentuh kamu, selain aku." Xavira pun maunya begitu. Menyerahkan diri sepenuhnya hanya pada Xabiru Kamajaya. "Apa lagi yang pernah dia lakuin ke kamu?" "Nggak ada." Xabiru tidak percaya. "Jawab jujur, Xavi." "Nggak ada lagi, Biru!" Xavira berdecak. "Aku bilang nggak ada, ya, berarti nggak ada." Tentu saja Xabiru masih tidak percaya. Pacaran selama tiga tahun, tapi cuma pernah ngelakuin cium pipi? Eh, ralat. Tunangan selama tiga tahun cuma pernah cium pipi? Lantas apa saja yang mereka lakukan selama ini? "Kalau kamu mau tahu... aku selalu punya alasan buat nolak semua rayuan Gilang," entah Xavira perlu mengatakannya atau tidak. Yang jelas, Xavira saat ini sedang ingin berbicara banyak hal pada Xabiru secara terbuka. Setelah sekian lama, tidak berkomunikasi satu sama lain. Rasa rindu akan dulu itu past ada. "Aku selalu nolak dia karena kamu pasti tahu alasannya apa, Bi." Karena aku terlalu cinta sama kamu, Bi. "Terus selama tiga tahun kalian ngapain aja?" awalnya, Xabiru tidak pernah terpikir untuk menginterogasi Xavira seperti ini. Namun, mengetahui sisi lain dari Gilang membuatnya kepo atas apa saja yang terlah terjadi pada Xavira-nya. Embusan napas panjang Xavira keluarkan. Ia berjalan lalu duduk di atas ayunan yang sudah tersedia di sana. "Ya, biasa aja. Cuma paling sering bahas masalah bisnis perusahaan." Xavira berkata jujur. Di setiap pertemuannya dengan Gilang, tunangannya itu tidak pernah lupa membahas tentang urusan pekerjaan. Sama halnya seperti kedua orang tua Gilang. Mereka berdua seperti dijodohkan hanya untuk keuntungan perusahaan, tidak ada yang lain lagi. Xabiru berdiri di belakang Xavira, tangannya mengayun ayunan itu dengan pelan. "Syukur lah." Yang terjadi kemudian hanya lah sebuah perbincangan sederhana disertai nostalgia akan masa kecilnya. Pandangan mata Xabiru terusik melihat kotak bekal yang Xavira bawa. Tadinya itu kejutan untuk Gilang. Namun, gagal. "Ini kamu sendiri yang masak atau Mbak Siti?" "Aku," jawab Xavira. "Eh, jangan dibuka. Udah basi kali makanannya, Bi." Tetap saja Xabiru membuka kotak bekal itu dan melihat ada beberapa potong martabak buatan Xavira. Xavira itu bukan tipe perempuan  yang suka memasak. Hobinya bukan itu. Namun, jika disuruh memasak pasti masakannya enak. Mampu mengalahkan koki-koki ternama di restoran bintang lima. Jadi, Xabiru ingin merasakan hasil karya tangan Xavira yang berupa makanan itu. Tanpa pikir panjang, Xabiru memasukkan satu potong martabak ke dalam mulutnya. Rasanya lezat. Lebih lezat lagi, jika dimakan saat masih panas atau hangat. Karena sekarang martabak itu sudah dingin dan sedikit mengeras. "Bi..." "Enak kok." Habis satu potong, Xabiru pun memakan lagi sepotong demi sepotong martabak buatan Xavira. Martabak itu terbuat dari adonan tepung terigu gurih yang membalut isi daging cincang di dalamnya. Gorengannya sangat pas. Tidak terlalu matang atau pun tidak terlalu mentah. "Kamu suka?" Xavira senang. Xabiru memakan masakannya. Entah itu karena terpaksa melihat Xavira yang kasihan atau memang Xabiru ingin memakannya lantaran lapar. "Besok aku buatin lagi." Xabiru mengangguk. "Udah lama nggak pernah makan masakan kamu." Dan pipi Xavira dibuat memerah semerah tomat segar karena ucapan Xabiru selanjutnya dengan nada bicaranya yang lembut, seperti dulu. "Calon istri idaman." Bolehkah harapan itu tumbuh lagi dalam hati Xavira? Harapan untuk bisa menikah bersama Xabiru dan menjadi istrinya kelak di kemudian hari hingga mampu melahirkan buah hati mereka, membesarkan anak bersama, hidup menua bersama hingga ajal yang akan menjemput di akhir nanti. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN