•Solusi•

1120 Kata
"Menikah denganmu? Suatu impian terbesarku yang inginku capai." -Xavira Naraya Rahadi- ---------- "Xavi!" Tentu saja bentakan itu membuat hati Xavi menggigil kedinginan. Ia baru tiba di rumah kala jarum jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Terlalu asyik menghabiskan waktu berdua dengan Xabiru hingga tidak sadar bahwa waktu terus bergulir. Niat hati, ketika sampai di rumah ia akan menceritakan perihal Gilang pada Rahadi. Namun, Xavira tidak pernah menduga bahwa tunangannya itu lebih licik darinya. Terbukti dari tersulutnya api marah di hati Rahadi saat ini. "Papi nggak pernah ngajarin kamu jadi perempuan murahan." Xavira menggeleng lemah. "Pi, Xavi nggak gitu." "Apa ini?!" Rahadi melemparkan beberapa lembar foto yang telah dicetak dengan ukuran sedang. Foto itu pun berhamburan. "Coba jelaskan pada Papi apa yang kamu lakukan dengan Xabiru? Hah!" Dengan tangan gemetar Xavira memungut beberapa lembar foto itu. Menangis dengan d**a yang kembang kempis. Ia memang bersalah. Perempuan itu akan mengakui kesalahannya pada sang papi, tapi Rahadi lebih dulu membuka aibnya. Mencecarnya dengan segala pertanyaan. "Sejak kapan kamu berhubungan dengan si Xabi? Jawab Papi, Xavi!" Hati Rahadi terluka sedalam-dalamnya. Dua kali ia gagal menjaga putri tunggalnya. Yang pertama, tiga tahun yang lalu. Dan yang kedua, sekarang ini. Sungguh, ia tidak menyangka Xavira tega melakukan ini padanya. Rahadi menyentuh kedua pundak Xavira, mencengkeramnya. "Yang ada dalam foto itu bukan kamu 'kan, Xavi? Bukan kamu putri Papi, 'kan? Bukan, 'kan?" Nyatanya, iya. Itu adalah Xavira Naraya Rahadi. Tatapan tajam Rahadi kian menajam hingga Xavira pun tidak mampu untuk hanya sekadar menatapnya, ia menunduk demi menghindari tatapan tajam itu. Tangisannya masih belum reda diiringi deru napas Rahadi yang memburu. Laki-laki paruh baya itu menahan emosinya. Bagaimanapun juga, Xavira perlu pelurusan akan langkah yang telah ia ambil dengan Xabiru. Xavira perlu dibukakan matanya agar melihat hal yang tidak seharusnya ia lakukan itu terjadi lagi. "Apa yang kamu lakukan di apartemen itu bersama Xabiru, Xavi?" nada suaranya terdengar lelah. Lelah menghadapi Xavira, mungkin. Hanya kata maaf yang mampu Xavira ucapkan saat ini. "Maafin Xavi, Pi." "Seandainya Gilang tidak memberitahu Papi..." Gilang? Jadi, Gilang tahu tentang Biru. "...pasti Papi tidak akan pernah tahu kelakuan busuk Xabiru." Yang lebih busuk dari yang terbusuk itu adalah Gilang. "Kenapa dia pulang ke Indonesia? Apa dia sudah diusir dari negeri orang asing itu? Apa tidak cukup dia merusak kamu di masa lalu? Lalu kenapa dia muncul di saat kamu akan hidup bahagia." Bahagia apanya? Hari ini Xavira tahu sisi dari Gilang yang sebenarnya. Mata hatinya sudah terbuka. "Gilang itu nggak seperti yang Papi lihat... dia lebih..." "Xavi! Papi nggak pernah meminta penilaian kamu tentang Gilang." Mulut Xavira langsung terkatup rapat. Faktanya, Gilang sudah memengaruhi Rahadi. Bagaimana mungkin Rahadi bisa semarah ini pada Xavira, jika tidak ada yang memanas-manasi? Apa yang Gilang ucapkan sehingga Rahadi begitu mendidih terhadapnya. "Sekali lagi, Papi tahu kamu berhubungan dengan Xabi..." ucap Rahadi dengan nada tinggi, menakutkan. "Papi akan melenyapkannya." Rahadi salah orang jika sampai hati melenyapkan Xabiru. Lalu Rahadi menyuruh Xavira masuk ke dalam kamarnya, mengunci kamar itu dari luar. Tidak memperbolehkan Xavira keluar kamar untuk hari-hari ke depannya. Di luar ruangan, Rahadi menarik napas panjang dalam-dalam. Dadanya terasa sesak menghadapi Xavira. Jujur saja, Rahadi sebenarnya tidak tega membentak Xavira. Namun, mau bagaimana lagi. Itu semua karena emosinya telah memuncak dan berada di titik teratas. Rahadi bersyukur hanya mempunyai satu putri. Satu putri saja bisa membuatnya pusing tiada tara, apalagi jika sampai punya anak dua hingga lebih dari itu. Laki-laki paruh baya itu tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya ia mengurus anak. Dan lagi, kata seandainya mampu membuatnya kian bersedih. Seandainya, kamu nggak ninggalin Xavi sama aku, Ana. Rahadi sadar, Xavira butuh kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang dari kedua orang tuanya yang lengkap, utuh. Di usianya yang masih amat dini waktu itu, ia sudah dihadapkan pada kenyataan bahwa kedua orang tuanya bercerai. Mungkin, ini efek broken home yang dialami Xavira. Di sisi lain, Gilang mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja sembari bertopang dagu. Rencanya berhasil. Tadi, Gilang sudah amat panik saat sekretarisnya mengatakan bahwa Xavira datang ke kantornya. Belum sempat bertatap muka dengannya, perempuan itu sudah pergi dengan air mata yang berlinangan. Itu laporan dari sekretarisnya. Dan Gilang yakin, hal yang membuat Xavira berlinangan air mata adalah kelakuan gilanya. Akal pikiran Gilang tidak berhenti sampai di situ. Ia tidak mungkin kalah dari Xavira dengan mudah. Camkan itu! Mungkin, Xavira memang sudah mengetahui kelakuan aslinya. Namun, Gilang akan membuat Xavira bungkam atau membungkamnya secara paksa. Secuil saja Xavira membuka mulut, mengungkap kelakuan aslinya pada Rahadi, maka hidupnya akan menderita. ---------- Xavira tidak tahu apa yang Gilang perbuat hingga Rahadi menguncinya di kamar, menyita ponselnya, tidak memperbolehkannya pergi ke kantor hingga saat pernikahannya tiba. Itu sungguh aneh, 'kan? Perempuan itu hanya dibukakan pintu kamar saat Siti memberinya sarapan, makan siang, dan makan malam secara rutin. "Maaf, ya, Non. Bukannya Mbak Siti nggak mau bantu," ucap Siti dengan ragu-ragu. "Mbak takut sama Bapak." "Takut dipecat, Mbak?" Siti menjawab dengan menganggukkan kepalanya, membuat Xavira paham. "Iya, sih. Nanti Mbak Siti jadi kena dampaknya." "Gimana kalau Non Xavi telepon..." Siti tampak berpikir sejenak. "Telepon itu, lho, Non... adiknya Mas Ferdi. Mbak lupa namanya." "Biru?" "Iya!" serunya antusias. Siti menyerahkan ponselnya pada Xavira. Sesuai apa yang Siti sarankan, Xavira menelepon Xabiru. Awalnya, sedikit canggung. Namun, Xabiru mendesak Xabiru untuk memberitahu apa yang terjadi sampai-sampai ponselnya tidak aktif selama beberapa hari ini. Dan Xavira pun menceritakan semuanya pada Xabiru. Di seberang sana, Xabiru mengumpat tidak ada hentinya. Itu malah membuat Xavira terkekeh, bahkan perempuan itu lupa untuk menghabiskan makanannya karena suara Xabiru. Siti yang melihat tingkah majikannya itu pun hanya bisa tersenyum kecil, ikut bahagia. "Emangnya apa yang bisa kamu lakuin, Bi?" "Udah. Tenang aja," nada suaranya sangat meyakinkan Xavira. "Kamu diam di sana dan aku yang akan bebasin kamu." "Hah?" "Tunggu, sebentar lagi." Setelahnya, Xavira menutup sambungan teleponnya. Mengembalikan ponselnya pada Siti. Tidak lupa ia juga mengucapkan terima kasih. Waktu pun berlalu. Sekitar pukul tujuh malam, Siti membukakan pintu kamar Xavira lagi. Asisten rumah tangganya itu tersenyum pada Xavira, membuat kernyitan di keningnya bertambah. Ada apa? Itu yang terlintas di benaknya. "Di ruang tamu ada Mas Ferdi." "Mas Ferdi?" ulang Xavira lagi. "Kenapa ke sini?" "Mas Ferdi sama Mas Biru bawa solusi buat Non Xavi biar nggak dikunci di kamar lagi." Tanpa sadar, senyum manis mulai mengembang di bibir mungil Xavira. Ia melangkahkan kaki menuju ruang tamu, mengikuti Siti. Mengintip di balik sekat tembok yang menghubungkannya dengan ruang tamu. Di sana terlihat ada tiga laki-laki dengan usia yang berbeda-beda, yaitu Rahadi, Ferdi, dan Xabiru. Xavira penasaran apa yang dikatakan Xabiru karena raut wajah Rahadi tampak tegang, berbeda dengan Ferdi yang tetap tenang. Ia menajamkan pendengerannya, berniat menguping. Memperpendek jarak yang ada. Dan apa yang Xabiru katakan mampu membuat matanya melebar, berpikir apakah itu benar? "Karena Xavira hamil anak saya. Jadi, saya akan menikahinya." Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN