33. Undangan

1848 Kata

Airish baru pulang setelah makan bersama dengan Max. Airish pikir Max sudah jauh berubah sebab selain ia terlihat lebih dewasa dan tampan, pria itu juga nampak berwibawa. Tapi ia salah. Max masih sama seperti yang Airish kenal. Ia humoris, pandai mencairkan suasana dan cerewet. “Aku tidak menyangka kau bekerja di perusahaan Ibuku,” kata Max kala itu. “Jika aku tau lebih cepat mungkin kau tidak hanya akan sekedar menjadi seorang model,” tambahnya. “Lalu, harus jadi apa?” “Hmmm, sekretaris pribadiku mungkin.” “Berapa gaji per bulannya?” “Hahaha, jadi sekarang kau sudah berubah menjadi wanita materialistis?” tanya Max tanpa maksud menyinggung. “Bukan materialistis, tapi realistis. Di dunia ini, siapa yang tidak butuh uang?” Max mengangguk saja. Kehidupan sebagai salah satu putra Salvat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN