32. Back to Reality 3

1864 Kata

Ronald dibuat kebingungan dengan tingkah aneh sahabatnya itu. Airish. Perempuan berambut pirang itu terus menerus menghela napas, mengepalkan tangan, menghela napas lagi, mengepalkan tangan lalu melamun. Ekspresi wajahnya pun berubah-ubah. Kadang merona, kadang tiba-tiba ia tersenyum, kadang ia juga menggertakkan rahang seolah ia tengah memendam dendam kesumat dan ingin membunuh seseorang. “Oke, cukup! Mau sampai kapan kau menyiksa penata riasmu?” Ronald bertanya pada Airish, membuat Airish melirik padanya, kemudian ke penata rias berambut blonde yang sedang memegang sebuah kuas make-up. Ronald sudah selesai mendandani modelnya, jadi pria setengah Arab itu mulai mengusik pikiran Airish. Ia menyandarkan tubuh ke meja rias, kemudian mengusir penata rias Airish dengan janji bahwa ia akan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN