Romeo bangun dengan perasaan yang luar biasa. Saking luar biasanya, sebelum ia bahkan membuka mata dengan sempurna, sebuah senyum simpul terukir di bibir tipisnya. Tangan Romeo bergerak, mencari-cari bentuk seorang gadis yang tidur di sampingnya. Lama ia meraba, dahinya mengernyit sebab ia tidak menemukan apapun. “Airish?” suaranya dengan suara serak khas bangun tidur. Iris mata birunya menyapu ke segala arah tapi nihil. Airish tidak ada di sana. Pria itu pun beringsut duduk. Meraih jam kecil di nakas, Romeo melihat ini sudah pukul 10 pagi. Terlalu siang untuk bangun memang. Tapi kegiatan panas yang ia lakukan lagi dengan Airish tadi malam membuat ia jatuh terlelap. Romeo tertidur pulas sekali. Mengambil kaus dari dalam almari, Romeo memakainya dengan cepat. Ia lantas berjalan keluar d

