Pilih salah satu :
Jadi cantik tapi mis kin atau jelek tapi kaya raya?
....
Alasannya?
Tulis di kolom komentar ya!
Selamat membaca!
***
"Kenapa kamu ada di sini?"
Airish bertanya pada sosok pria di sampingnya. Siapa lagi jika bukan Romeo?
"Menarik kau bisa bertanya seperti itu. Kenapa? Kau mulai gugup dan cemas karena aku memergokimu bersama kekasihmu ini?" sindir Romeo melirik pada Ronald.
"Aku bukan-"
"Wow, jadi kau cemburu padaku, beb? Manis sekali," kata Airish sembari tersenyum. Ia merangkul lengan Romeo dan menyandarkan kepalanya di sana. "Ini baru calon suami idaman."
Romeo mendelik, lalu segera menepis tangan Airish. "Jangan sentuh aku, jala*ng!"
"Heh, mulutmu kasar sekali, Tuan!" Ronald yang sejak tadi diam kini berkata. Ia menarik tubuh Airish dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Bagaimanapun, Ronald adalah pria yang tidak bisa melihat orang-orang yang ia sayang disakiti. Dan Airish merupakan salah satunya. Bagi Ronald, Airish sudah seperti adik perempuannya sendiri.
"Bagus sekali. Jadi sekarang hubungan kalian berdua semakin jelas. Ah, seharusnya Mom dan Dad melihat ini semua sebelum mereka dengan bodohnya menjodohkanku dengan kau," sinis Romeo. Matanya menusuk tertuju pada Airish yang berdiri di belakang tubuh Ronald.
"Kau berani-"
"Ronald, sudahlah," sela Airish cepat. Dan tepat saat itu juga pintu lift terbuka.
Mereka bertiga sempat berpandangan satu sama lain dan kemudian bersama-sama keluar dari dalam lift. Ternyata lantai yang mereka tuju adalah sama.
"Kembali ke pertanyaanku, kenapa kau ada di sini? Jangan bilang kau merindukanku sehingga kau membuntutiku kemari." Airish sepertinya belum kapok, gadis itu masih saja dekat-dekat dengan Romeo dan kembali bertanya. Ia juga menepis tangan Ronald yang ingin sekali menariknya menjauh dari Romeo.
"Bukan urusanmu!"
"Oh, itu akan menjadi urusanku karena kau calon suamiku!"
Langkah Romeo berhenti. Wajahnya menyiratkan bahwa ia tidak tau lagi bagaimana cara jitu untuk menyingkirkan Airish dari kehidupannya.
"Bisakah kau enyah saja? Dan kukatakan sekali lagi jika aku bukan calon suamimu! Perjodohan itu batal karena aku sudah bukan menjadi bagian dari keluarga McKenzie sejak satu minggu yang lalu."
"Jika Tante Sivia dan Om ALex mendengar hal ini mereka pasti akan sangat sedih," kata Airish. "Kau masih saja kejam."
"Mereka yang lebih dulu jahat padaku," tukas Romeo melanjutkan langkah kakinya.
Sebenarnya Airish masih ingin mengikuti Romeo akan tetapi saat menemui sebuah lorong, Airish harus berbelok ke kanan. Sebab di sanalah ia akan bertemu dengan pihak agensinya untuk masalah kontrak.
Sepeninggal Airish, Romeo bernapas lega. Kenapa di perusahaan ini ia bertemu dengan wanita ular itu lagi? Tidak cukupkah usahanya untuk melarikan diri? Padahal Romeo hanya ingin kehidupan pribadi maupun pekerjaannya akan baik-baik saja tapi sepertinya itu salah.
Pemikiran Romeo ternyata tepat sekali. Sebab saat ia menjumpai sang pemilik perusahaan yang sudah sangat dikenalnya, pria berusia 50 tahunan itu justru berkata.
"Maafkan saya, Nak. Bukannya aku meragukan kemampuanmu tapi kau datang ke sini tanpa membawa apapun, bahkan untuk selembar ijazah. Aku hanya tidak ingin para karyawanku mempertanyakan tanggung jawabku sebagai pemimpin perusahaan. Dan kau pasti tau salah satu aturan dalam perusahaanku bukan? Tidak ada suap maupun nepotisme."
"Saya tau, Mr. Leo. Tapi bukankah anda mengenal saya dari saya masih kecil? Dan Anda juga tau bagaimana kinerja saya selama saya memimpin salah satu anak cabang McK Group."
Pria bernama Leo itu tersenyum lalu mengangguk. Jika boleh jujur ia juga mengagumi integritas dan gaya kepemimpinan seorang Romeo McKenzie. Tapi untuk masalah ini, ia harus tegas pada siapa saja.
"Itulah, minimal kau harus membawa serta ijazahmu."
Romeo menghela napas. "Bahkan jika saya tidak membawa ijazah sekalipun, semua orang juga tau jika saya lulusan salah satu universitas ternama. Mereka bisa mencarinya di internet. Jadi mereka tidak akan mempertanyakan background saya lagi."
Leo tertawa mendengar alasan Romeo. "Lalu kenapa kau melamar kerja di sini sementara kau bisa duduk manis di perusahaan miliki keluargamu sebagai salah satu CEO?"
Pertanyaan Leo membuat ROmeo terdiam. Haruskah ia mengatakan alasan yang sebenarnya atau dia harus berbohong dan mencari alasan lain yang terdengar masuk akal dan sedikit ... keren?
"Jangan bilang kau ingin mencari pengalaman baru," tukas Leo menebak.
Romeo tersenyum kaku. Mungkin ia harus berbohong.
"Benar."
"Aha! Saya tau itu! Anak muda sepertimu pasti memiliki alasan yang sangat bagus saat mencari pekerjaan di perusahaan yang lain sementara kau adalah pewaris sah McK Group!" Leo kembali tertawa, dan kali ini Romeo ikut tertawa kaku.
"Jadi, saya diterima?"
Tawa Leo mendadak berhenti. Pria berambut putih itu menatap serius pada Romeo.
"Jika kau serius ingin mencari pengalaman, bukan posisi manajer seharusnya kau bertempat. Tapi ..." Leo melirik pada seorang OB yang baru saja mengetuk pintu dan masuk sembari membawakan dua cangkir teh melati serta beberapa cemilan. Dengan hati-hati, pria itu meletakkannya di atas meja.
"Tidak mungkin," gumam Romeo saat tau ke arah mana pikiran Leo tertuju.
Leo mengangguk. Tersenyum simpul. "Kau tau sendiri harus mulai dari mana," ucapnya dengan geli.
***
Rasanya Romeo hampir gila. Ia sudah berkeliling di semua perusahaan mulai dari yang menengah hingga ke perusahaan besar tapi jawaban yang ia terima terus saja mengecewakan.
"Maaf, Mr. McKenzie. Tapi CEO bilang ia tidak ingin menerima karyawan baru."
"Maaf, Mr. McKenzie. CEO bilang dia ada urusan di luar negeri dan tidak bisa menemui Anda. Jika Anda mau, Anda bisa bicara langsung ke manajer HRD. Anda tidak lupa membawa berkas-berkas yang dibutuhkan bukan? Seperti ijazah dan lain sebagainya?"
"Seperti yang kau tau perusahaanku tidak terlalu besar. Aku sudah memiliki lebih dari cukup karyawan. Aku tidak akan sanggup menanggung gaji seorang karyawan lagi. Maaf."
Dan masih banyak jawaban-jawaban lain yang menurut Romeo terlalu mengada-ngada. Ia curiga jika sang ayah ada di balik semua ini.
"Sial!" umpat Romeo sembari berjalan menyusuri trotoar. Ia merogoh saku lalu menghela napas. Bahkan uangnya sudah habis karena digunakan untuk ongkos naik taksi.
Akhirnya, ia pun memutuskan untuk menghubungi Juliet. Mungkin wanita itu bisa menjemput dirinya mengingat jarak tempat ia berada dengan apartemen Juliet kira-kira sejauh 7 kilometer. Tidak mungkin bukan ia berjalan kaki?
Cukup lama Romeo menghubungi kekasihnya itu namun tak kunjung juga terjawab. Romeo terpaksa menghubunginya sekali lagi akan tetapi Juliet masih tetap tak mengangkat panggilan darinya.
"Mungkin dia sedang istirahat," gumam Romeo, teringat jika kondisi Juliet tadi pagi sedang tidak enak badan.
Menghela napas, akhirnya Romeo pasrah saja. Ia kembali berjalan menuju ke tempat di mana ia bisa pulang.
***
Airish pulang bersama Ronald hari ini. Pria itu yang memaksanya karena ingin membicarakan banyak hal.
"Saat kau mengatakan kau ditolak oleh anak dari Alex McKenzie, aku kira itu karena kau bermasalah. Tapi sekarang aku mengerti, dialah yang bermasalah. Pria yang tidak bisa menjaga omongannya pada seorang gadis tidak pantas untuk dicintai."
Ronald tampaknya masih menyimpan dendam pada Romeo sejak kejadian di lift pagi tadi.
"Entahlah. Dia memang selalu seperti itu padaku sejak kecil."
"Dan kau mencintainya saat itu?!" pekik Ronald yang kurang lebih tau kisah Airish. Dia sering mendengar curhatan gadis di sampingnya ini mulai dari hal yang penting sampai hal-hal yang sama sekali tidak penting. Sebenarnya Ronald tidak mau mendengarnya tapi Airish adalah tipe perempuan yang akan bercerita apa saja saat ia sedang di make-up.
Airish meringis. "Sebenarnya dia tidak seburuk itu."
"Tidak buruk apanya? Dia adalah pria paling kasar yang pernah kutemui. Dan dia mengataimu di depanku!"
"Itu karena dia sering salah paham denganku. Dan lagi pula dia sedang cemburu," canda Airish yang langsung diberikan cibiran oleh sahabatnya.
"Bahkan aku pun bisa melihat betapa ia tidak menyukaimu. Nah sekarang katakan apa maumu? Kau ingin kabur dari penjara keluarga McKenzie? Aku bisa membantumu."
"Penjara apa? Selain Romeo, seluruh penghuni mansion memperlakukanku dengan sangat baik," tukas Airish tidak terima dengan kata 'penjara' tadi.
"Oh, ayolah, Beb. Kau bagaikan burung yang tersangkar dengan emas! Jujur saja kau tidak bebas di mansion itu bukan?"
"Tidak! Justru aku merasa lebih baik sekarang. Tante Sivia dan Om Alex benar-benar sangat baik padaku."
Kalimat Airish terdengar jujur. Ronald dapat merasakannya. Ia pun tidak bisa memaksa Airish untuk meninggalkan tempat yang ia suka. Dan Ronald tidak akan memungkiri jika sahabat perempuan nya ini tampak lebih ceria dan segar dari pada sebelumnya.
"Setidaknya katakan padaku jika kau makan banyak makanan mahal di mansion itu," ucap Ronald yang menyebabkan Airish tersenyum.
"Mereka bahkan memiliki koki yang siap memasakkan untukmu 24 jam."
"Nah, kalau begitu tinggal saja di sana. Gemukkan sedikit badanmu!"
"Hei, aku ini seorang model! Pantang menjadi gemuk!"
"Bahkan kau terlalu kurus untuk ukuran seorang model," cibir Ronald yang langsung tertawa.
Mereka larut dalam pembicaraan seru sampai Ronald menawarkan makan pada Airish.
"Aku lapar. Kau mau makan di mana?"
"Starbucks sajam"
Ronald memutar bola matanya. "Tidak perlu berhemat lagi sekarang. Kau sudah tercukupi dalam hal biaya makan. Sekali-sekali kau harus mencoba makan di restoran mewah."
Airish meringis saja. "Tapi aku benar-benar suka makan di Starbucks."
"Baiklah, baiklah," ujar Ronald menghela napas. Ia tau Airish berbohong, tapi Ronald akan memilih untuk pura-pura tidak tahu.
Ketika Ronald hendak membelokkan mobilnya masuk ke parkiran sebuah restoran cepat saji, tepat saat itu keduanya menangkap siluet seorang pria yang tidak asing. Pria itu tengah berjalan lambat, dan tubuhnya terlihat lemas kurang tenaga.
"Bukankah itu Romeo?" tanya Airish.
Ronald tau itu Romeo tapi ia tetap mengindikkan bahu. "Entahlah. Mungin cuma seseorang yang mirip."
Mobil pun sudah terparkir sempurna. Ronald bahkan baru menyentuh seat belt nya tapi Airish sudah ngeloyor keluar dari mobil.
"Airish, tunggu!" seru Ronald yang berakhir diabaikan.
Airish berlari ke jalan raya yang tak jauh dari sana. Lalu ia tersenyum dan melambaikan tangan pada sosok pria yang tadi ia lihat. Airish tidak salah, pria itu benar-benar Romeo.
"Sayaaanggg!! Sini makan dulu!" teriak Airish.
Romeo yang mendengar teriakan familier di telinganya menyentakkan kepala ke depan. Matanya membulat melihat Airish berdiri tak jauh di depannya.
"Kau mengikutiku?" desis Romeo setelah sampai di tempat Airish berada.
"Tidak. Aku dalam perjalanan pulang ke rumah —mansion kamu— tapi Ronald kelaparan. Jadi kami mampir di sini untuk makan. Kau mau bergabung dengan kami?"
"Kau pikir aku mau? Sudah kencan saja yang romantis berdua!"
"Tapi—"
Romeo menghiraukan Airish. Ia melanjutkan kembali jalan kakinya yang masih kurang sekitar 5 kilometer.
"Romeo? Kenapa kau jalan kaki? Tidak punya ongkos naik taksi?"
Tanpa menjawab dan menoleh, Romeo hanya menaikkan tangan kirinya dan mengacungkan jari tengahnya. Ia harap Airish tau jika ia tidak ingin diganggu.
Akan tetapi baru sekitar dua puluh langkah, Romeo berhenti. Perutnya terasa perih karena seharian ini belum makan. Uang yang dia punya benar-benar habis untuk ongkos naik kendaraan umum saja.
Saat ia menoleh, Airish sudah tidak ada di tempat. Romeo menatap nanar sebuah restoran cepat saji dengan lampu terang menyala di dalamnya.
Haruskah ia membuang harga dirinya sekarang? Untuk sekali saja?