Q : Cinderella atau Putri Tidur?
Selamat Membaca!
***
"Oke. Kau bisa mulai bekerja sekarang juga."
Romeo mendesah lega. Akhirnya ia diterima bekerja juga meskipun itu hanya sebagai seorang tukang bersih-bersih.
Yap. Kemarin malam saat ia pulang ke apartemen Juliet, ia mendapati kekasihnya tidur lelap. Wajahnya nampak letih tapi Romeo bersyukur ia tidak demam tinggi. Dan pagi tadi Juliet sudah bekerja seperti biasa.
Sejak itu, Romeo bertekad untuk mencari pekerjaan apa saja. Yang penting bisa menghasilkan uang dan bukan tindakan kriminal. Ia tidak ingin saat ia menikahi Juliet nanti, ia malah tersandung kasus-kasus yang akan menjadi bumerangnya di masa depan.
"Terima kasih," kata Romeo tulus. Ia menyalami pria berperut buncit di depannya yang sekarang sudah resmi menjadi bosnya.
Romeo bekerja di sebuah motel pinggiran kota. Dan ini merupakan hari pertama.
Si bos memanggil salah satu karyawannya dan menyuruh agar menunjukkan pada Romeo di mana letak alat-alat kebersihan. Tak lupa ia juga menunjukkan tempat-tempat mana saja yang paling harus dibersihkan dan tempat yang tidak boleh ia masuki sebagai tukang bersih-bersih.
Romeo mengangguk mengerti.
"Baiklah. Kau bisa mulai," kata karyawan lain yang ternyata adalah putra dari bosnya sendiri. Hanya saja statusnya sebagai karyawan sebab ia membantu sang ayah mengelola motel berlantai dua ini, sekaligus sebagai penerima tamu.
Sepeninggal pria itu, Romeo mulai mengambil peralatan. Ia sedikit bingung membedakan mana dulu yang harus ia pakai. Apakah ia harus menggunakan sapu? Lap pel? Atau vacuum cleaner dulu? Atau ia harus memakai serbet dulu untuk mengelap kaca? Tunggu dulu, kan ada kemoceng.
Romeo menggaruk rambut, ia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tidak ia jumpai seorangpun untuk ditanyai. Akhirnya Romeo mengambil sapu dulu.
Romeo mulai menyapu koridor motel tersebut, sesekali terbatuk akibat debu yang dihasilkan. Seumur-umur ini adalah pertama kalinya Romeo menyapu lantai dan rasanya sangat tidak menyenangkan. Baru 5 menit menyapu bahkan Romeo sudah bolak-balik ke wastafel untuk mencuci tangan dan muka. Siapa tau ada kuman-kuman pembawa virus penyakit di tubuhnya.
"Mungkin seharusnya aku memakai penyedot debu," pikir Romeo yang kemudian mengembalikan sapu dan mengambil vacuum cleaner.
Masalah kembali muncul kala ia melihat beberapa tombol. Dahi Romeo mengernyit dalam. Karena tidak pernah memakai alat tersebut, ia pun menekannya secara acak.
Nahas, bukannya menyedot debu, vacuum cleaner tersebut malah mengeluarkan banyak debu. Romeo semakin terbatuk hebat sembari mengibaskan tangan di udara, berharap bisa mengusir udara yang sudah tercemar itu.
"Oke, oke. Mungkin akan lebih baik langsung dipel," katanya kemudian sembari membekap hidung sambil mengembalikan mesin penyedot debu ke tempat asal.
Romeo mengambil alat pel beserta embernya. Tak lupa ia juga mengambil cairan pembersih lantai dan menuangkannya di dalam ember yang belum terisi air.
Awalnya Romeo ragu, harus sebarapa banyak ia menuangkannya di ember sebelum diberikan air. Karena berpikir lebih banyak cairan maka akan lebih harum, Romeo menuangkan semua cairan tersebut ke dalam ember. Lalu dengan tampang lempeng, ia membawanya ke keran dan mengisinya dengan air.
Harum, batin Romeo tersenyum saat mencium aroma apel dari air yang sudah tercampur dengan cairan lantai tersebut.
Optimis dengan apa yang akan dia lakukan, Romeo mulai mencelupkan alat pelnya ke dalam ember. Dan karena ini adalah pertama kalinya dia mengepel lantai, Romeo tidak tau jika ia harus memerasnya terlebih dahulu alih-alih langsung mengaplikasikannya ke lantai.
"Kenapa basah sekali?" pikir Romeo tapi tetap menarik dan mendorong lap pel tersebut. Mungkin setelah beberapa menit lantainya akan kering sendiri. Atau nanti saja ia akan mencari kain kering untuk membuat lantai ini kering. Yang jelas Romeo ingin membasahi semua lantai sehingga tidak ada debu yang tertinggal.
Romeo terus mengepel lantai tidak peduli dengan akibatnya. Saat ada beberapa tamu naik ke lantai dua, mereka semua langsung terpeleset karena menginjak lantai yang basah tersebut.
"Pinggangku ...,"
"Kepalaku ...,"
"Istriku ...,"
"Kecantikanku ...,"
Erangan itu terdengar bersahutan hampir bersamaan. Romeo yang mendengar suara gedebuk keras tadi langsung menyusul untuk melihat. Tapi nahas. APa yang dialami oleh para tamu, ia alami juga. Romeo terpeleset jatuh hingga punggungnya terasa sakit sekali. Dan juga basah karena air pel.
"Awh," ringis Romeo. Ia berusaha berdiri meski sangat licin dan sedikit susah. Romeo perlu berpegangan ke tembok dan berjalan pelan sekali agar dia tidak terpeleset kembali.
Sial, bagaimana para maids di rumahnya bisa bekerja selama ini? Seharusnya Romeo dulu bertanya pada mereka bagaimana cara mengepel lantai yang benar.
Ah, sudahlah.
"Kalian semua baik-baik saja?" tanya Romeo melihat beberapa orang yang masih mengelus bagian-bagian sakit dan basah tubuh mereka. Semuanya menoleh serempak pada Romeo lantas si pemilik motel berteriak kencang.
"APA YANG KAU PIKIR SEDANG KAU LAKUKAN, DASAR PRIA BODOH!!"
Yang Romeo artikan bahwa ia sedang ada dalam masalah besar.
***
"Kau harus membayar uang ganti rugi sebesar 5000 dollar. Kau hampir membunuh kami semua dan masih untung aku tidak melaporkanmu ke polisi!" ultimatum sang bos pada Romeo.
Sesekali pria bertubuh gempal itu mengelus punggung karena masih merasa nyeri di sana. Akibat kejadian tadi, ia harus rela memberikan kompensasi pada para calon pemesan kamar untuk memberikan mereka fasilitas menginap gratis selama dua hari satu malam gratis. Dan itu membuat pendapatannya mengalami rugi.
"5000 dollar?" Romeo menghembuskan napas. Jika dulu ia masih menjabat sebagai CEO dan tinggal bersama keluarganya, uang sebesar itu tidaklah menjadi masalah. Tapi sekarang, Romeo adalah seorang pria yang barangkali termiskin di dunia. Jangankan baju-baju yang dibelikan oleh Juliet, makan untuk hidup pun ia numpang pada sang tunangan.
"Tidak bisakah anda memberi saya diskon? Saya bahkan tidak punya uang sepeserpun."
Sang pemilik motel menyipit tidak percaya. Ia menunjuk Romeo lantas bekata.
"Berdiri."
Meski bingung, Romeo mengikuti. Yang kemudian si boss mulai meraba tubuhnya hingga menemukan beberapa lembar dollar di saku celananya.
"Hanya 200 dollar?"
"Itu untuk ongkos naik taksi dan makan siang nanti."
Si boss mendengus. "Ck, dasar tidak berguna!" lalu melirik pada sepatu kulit yang Romeo kenakan. "Lepas itu!"
"Apa?"
"Sepatumu! Setidaknya aku bisa menjualnya dengan harga 200 dollar."
"Tidak!" tolak Romeo cepat. Sepatu ini dibelikan oleh Juliet dengan tabungannya, begitupun dengan semua yang melekat di tubuhnya. Lalu bagaimana mungkin ia bisa menyerahkannya begitu saja pada orang lain?
"Kau-"
Si boss maju, siap mencengkeram Romoe, tapi Romeo lebih gesit. Ia menunduk dan menghindar. Kareana merasa situasi berbahaya, akhirnya ia menuju pintu keluar dan berlari. Terdengar teriakan penuh amarah dari dalam ruangan bossnya tersebut, memaki dan menyumpahi Romeo dengan keras.
Romeo memilih abai. Saat ini nyawanya lebih penting dari pada makian-makian tersebut.
***
Romeo berjalan di bawah terik sinar matahari. Ia baru saja menyelamati diri sendiri karena mengacaukan pekerjaan pertamanya sekaligus kehilangan uang 300 dollar, yang Juliet berikan secara cuma-cuma.
Pulang nanti, ia harus bercerita apa pada sang kekasih? Romeo mengerang dalam hati.
Lama ia berjalan, hingga ia menemukan sebuah kafe pinggir jalan raya. Perut Romeo bergejolak karena rasa lapar. Ia bahkan merasa air liarnya mulai berproduksi lebih banyak ketika melihat dari balik kaca jendela, ada seorang yang gemuk dan sedang melahap besar-besar hamburger di depannya. Lalu kentang, es teh dan nugget.
Romeo meneguk salivanya.
Ia pun melangkah lebih dekat. Tanpa sadar hingga sampai di depan jendela tersebut. Sang pria gemuk hanya menoleh acuh, lalu masih dengan menatap Romeo, ia memakan kembali makanan yang ternyata masih banyak di depannya.
Si gemuk tersenyum miring, seolah sedang menertawakan Romeo yang hanya mampu melihat tanpa mampu membeli.
Berdecak, Romeo menggelengkan kepala. Saat itulah kepalanya menoleh dan mendapati sebuah kertas tertempel di sana.
LOWONGAN KERJA
DIBUTUHKAN PEKERJA PART TIME DENGAN SYARAT :
bla ... bla .. bla ...
Merasa ia cukup memenuhi beberapa syarat yang tertera, Romeo bergegas masuk demi menjumpai sang pemilik kafe.
"Hai, aku lihat di depan ada lowongan pekerjaan sebagai part time. Bisakah aku mengambilnya?" tanya Romeo pada sang penjaga kasir.
Wanita kasir itu sempat terpesona sejenak melihat Romeo lalu buru-buru mengendalikan diri. Ia tersenyum lalu menunjuk area pintu samping.
"Kau bisa langsung menemui bos. Lewat sana."
"Terima kasih."
"Semoga beruntung!" do'a si wanita. dan Romeo hanya tersenyum kecil.
Setelah menemukan sebuah ruangan dengan pintu bercat cokelat, Romeo mulai mngetuk. Ada teriakan mempersilakan masuk sebelum Romeo membuka pintu.
Di sana, ada seorang pria gemuk. Bedanya dengan si bos pertama tadi, pria ini memiliki kumis dan botak di bagian atas depan kepalanya.
"Siapa kau?" tanya si bos saat Romeo duduk di depannya.
"Aku datang ke sini karena melihat ada lowongan. Bisakah aku mengambilnya?"
Pria itu mengamati penampilan Romeo sejenak dengan tidak yakin. "tapi kami hanya mempekerjakan karyawan paruh waktu. Dan gajinya juga tidak seberapa."
"Tidak masalah! Aku sangat butuh pekerjaan ini. Atau jika kau butuh koki, aku bisa-"
"Dua koki yang aku miliki di sini sudah lebih dari cukup. Aku membutuhkan karyawan untuk bagian lain," sela si boss.
Romeo tersenyum dan menanti. Mungkin bagian kasir? Kalau itu sih, Romeo mungkin bisa menangani dengan baik dari pada menyapu atau mengepel lantai.
***
Senyuman Romeo tidak bertahan lama karena sudah tau ke mana tempat yang harus ia tuju.
Wastafel.
Atau ... tempat pencucian piring.
Romeo menatap horor pada tumpukan piring dan peralatan masak yang sudah menggunung di hadapannya. Bau sisa makanan yang sudah cukup lama tertumpuk menyeruak di hidung Romeo, membuat pria itu ingin muntah di sana.
"Bagaimana? Kau masih ingin tetap bekerja?" tanya sang pemilik kafe.
Ingin sekali Romeo berkata tidak tapi apa daya? Jika ia menolak maka sepulang nanti ia harus menanggung rasa malu pada Juliet karena belum juga mendapat pekerjaan.
"Baiklah," kata Romeo akhirnya terpaksa.
Si pemilik kafe mengangguk lalu segera meninggalkan Romeo setelah mengatakan 'Kau bisa mulai sekarang.'
Menarik napas panjang, Romeo menyingsing lengan kemejanya sampai siku. Ia pun mulai meraih sabun cuci piring untuk melakukan pekerjaannya.
Romeo memang pernah beberapa kali mencuci piring, terutama saat ia tinggal di apartemen Juliet. Tapi itu sangat jarang. Dan sekarang, ia harus mencuci piring sebanyak gunung. Itu membuat Romeo kuwalahan dan sedikit tertekan. Ditambah lagi bau yang semakin menyengat, Romeo harus menahan napas agar rasa mualnya tidak semakin menjadi.
Akan tetapi, terlalu memaksakan diri tentu tidak akan baik hasilnya. Romeo yang berusaha keras pun kalah dengan tangannya yang licin, menyebabkan piring yang ia pegang tergelincir jatuh menimpa piring-piring yang lain. Alhasil, barang pecah belah yang tak berdosa itu pun pecah.
PYAR...
Lalu disusul dengan suara-suara pecahan yang lain. Ternyata karena piring dan gelas yang bertumpuk tidak teratur, bisa menyebabkan pecahan yang susul menyusul.
"APa yang terjadi?" suara seorang koki mengingat wastafel paling dekat dengan dapur.
Romeo menoleh, menatap dengan wajah menyesal dan bersalah.
"Astaga kau ... kau memecahkan piring-piring ini?!" seru koki tersebut sembari mengusap wajah frustasi. "Apa kau tahu berapa harga per piringnya?"
Romeo tidak terlalu mengerti tentang hal ini. Ia terbiasa memegang perusahaan besar. Jadi jika masalah tentang real estate, pengembangan proyek, pembangunan gedung dan lain sebagainya Romeo sangat pintar dan paham hingga ke detai-detail paling kecil, masalah-masalah seperti berapa harga piring, gelas atau mangkuk, Romeo tidak tau sama sekali.
"Maaf, aku-"
"Maaf katamu?! Siapa yang mempekerjakanmu di sini?!" serunya tidak sabar.
"Ada apa ini ribut-ribut? Suaramu sampai terdengar sampai ruanganku!" tegur si pemilik kafe yang tiba-tiba muncul.
Si koki menghela napas lalu mengindikkan dagu pada Romeo. "Tanya saja pada pegawai barumu. Lain kali, pekerjakan yang bisa bekerja." Setelah berkata demikian si koki sudah menghilang di balik tembok, menyisakan Romeo dan sang pemilik kafe.
"Seharusnya aku sudah menduga kalau kau tidak sanggup dengan pekerjaan ini," tukas boss kafe. "Sudahlah. Kau bisa pergi dari sini. Tidak usah mengganti rugi."
Diiringi rasa bersalah, Romeo akhirnya mengangguk. Dan sekarang, baru saja ia menghancurkan pekerjaan keduanya.
Ya Tuhan, harus ke mana lagi aku mencari pekerjaan? batinnya sedikit nelangsa.