8. Adu Domba

1627 Kata
Pengumuman Penting: Di dunia literasi lagi dihebohkan dengan sebuah kasus di mana banyak penulis famous (terkenal) yang meminjam uang maupun barang ke para fans mereka dengan alasan yang menurutku itu nggak pantes. Karena mereka mengatas namakan keluarga, misal suami lagi sekarat, anak lagi sakit nggak punya biaya, baru saja ketiban batok kelapa dan butuh uang banyak buat operasi ... Intinya, mereka itu memohon dengan sangat dengan alasan-alasan seperti di atas untuk menarik simpati dari para pembaca setianya! Aduh ini please deh, ya! Aku sebenarnya shock banget pas tau hal ini. Mereka itu memanfaatkan para pembaca yang suka banget sama cerita mereka buat minta yang aneh-aneh. Jadi aku harap, jika suatu saat nanti kalian nge-fans sama salah seorang author dan dia minta kayak sumbangan, pinjam uang dan lain sebagainya, JANGAN PERNAH PERCAYA! Aku ulangi lagi : JANGAN PERCAYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! Paham? Wkwkwkwk jadi ngegas  .v. / Apalagi dalam kasus ini, di mana dia udah terkenal. Ceritanya dibaca ribuan orang di platform ini jadi mustahil jika mereka nggak dapet gaji bulanan. Untuk kalian, para pembaca yang bijak. Simpati boleh, tapi harap dipilah-pilah mana yang bisa dipercaya dan mana yang cuma membual. Akan lebih baik jika kalian membantu tetangga paling dekat, kawan atau bahkan keluarga duluan dari pada orang dari dunia maya yang sama sekali nggak kalian kenal. (Kecuali kayak sumbangan amal di SCTV, RCTI dsb. Itu sih bisa dipercaya hehe) Aku berkata kayak gini bukannya gimana-gimana ya, tapi itu merupakan salah satu kedok penipuan. Kalau kalian nggak percaya coba aja pinjemin uang ke mereka, nanti kalau udah kasih tau aku ya apakah uang kalian dibalikin atau dia tiba-tiba ilang karena nomor kalian diblokir? huft. Selanjutnya, Kalian pilih bisa menghilang atau bisa terbang?  Alasannya? Selamat membaca! *** Romeo melepas kancing kemeja bagian atas karena merasa gerah. Keringat akibat musim panas sekaligus rasa lelah karena seharian bekerja menjadi satu. Membasahi area kening, dahi, leher dan kebanyakan di area tubuh yang masih tertutup pakaian. "Huft ...," desah Romeo lega pada akhirnya.  Udara dari AC apartemen yang baru ia nyalakan sudah mulai terasa mendinginkan tubuh. Hari masih sore, ini sekitar pukul 5, dan di jam ini tentu saja Juliet belum pulang. Masalah pekerjaan, akhirnya Romeo mejadi seorang sales. Pekerjaan ini lumayan bisa ia jalani karena dia tinggal menghapal nama produk beserta khasiatnya, lalu menyampaikannya pada para pelanggan dengan sedikit dilebih-lebihkan. Minimal Romeo tau lebih banyak bagaimana menjadi sales dari pada menjadi tukang sapu atau tukang cuci piring. Romeo menyandarkan tubuh di sofa empuk ruang tengah. Ia siap terlelap jika saja tidak terdengar suara pintu apartemen yang terbuka lalu isak tangis dari seorang gadis. "Romeo!" "Jeliet!" kata Romeo yang langsung berdiri untuk menyambut kedatangan sang kekasih. "Hei, ada apa? Kau menangis? Apa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi?" Juliet mengusap air mata yang jatuh di pipi lalu memeluk tubuh Romeo erat. "Romeooo," tangisnya yang teredam kemeja milik Romeo. Romeo mengelus punggung Juliet, berusaha menenangkan gadisnya. Dan itu berhasil karena beberapa menit setelahnya akhirnya tangis Juliet berhenti. Romeo pun mendongakkan dagu Juliet untuk menatapnya. "Katakan padaku apa yang terjadi?" Cukup lama Juliet terdiam hingga akhirnya ia berkata, "Tidak ada apa-apa," suaranya dengan nada lemah. Ia ingin melangkah melewati Romeo tapi pria itu menahan lengannya. Hal itu pun membuat Juliet mengerang kesakitan. "Apa, apa? Apa aku menyakitimu?" tanya Romeo terkejut. Buru-buru mengecek pergelangan tangan Juliet dan terbelalak dengan apa yang ia lihat. Di sana ada luka memar merah. "Apa ini? Siapa yang melakukan ini padamu? Apa yang terjadi?" tanya Romeo bertubi-tubi. Juliet menarik tangannya. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu tapi urung. Wanita itu hanya menggeleng sebagai jawaban. "Katakan padaku, Juliet. Apa kau baik-baik saja?" "Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil -awh!" ringis Juliet karena luka bakar itu masih terasa perih menusuk kulit. "Jujur saja, kenapa dengan tanganmu?" desak Romeo. Juliet pun menghela napas lalu menunduk. "Tersiram air panas," cicitnya lirih. "Bagaimana bisa?" "Airish." "Apa?" "Airish yang melakukannya," ucap Juliet dengan mata berkaca-kaca. "Apa?!" seru Romeo terkejut. "Airish yang melakukan ini padamu?" "Jangan marah. Mungkin ini karena kesalahanku," tenang Juliet pada Romeo yang sudah terlihat murka. Auranya dingin terasa sedikit menakutkan bagi Juliet. "Bagaimana aku bisa tidak marah? Dia membuat tangamu seperti ini!" geram Romeo. "Aku tau, tapi-" kalimat Juliet terpotong karena tangannya kembali berdenyut nyeri. Ia meringis lalu meniup-niup kecil punggung tangannya yang kemerahan. "Ayo, aku obati dulu lukamu. Aku juga ingin mendengar cerita lengkapnya," kata Romeo, membimbing Juliet menuju kamar tidur. "Jadi, katakan. Apa yang terjadi?" kata Romeo sembari membuka kotak P3K. Ia mengambil sebuah salep dari dalam sana. "Aku tidak tau persisnya tapi Airish tiba-tiba menghampiriku dan mulai menjambak rambutku," kata Juliet. "Dia melakukan itu?!" Amarah Romeo kembali memuncak mendengar cerita Juliet. Juliet mengangguk. "Iya. Padahal aku tidak melakukan apapun. Dia terlihat ..." Juliet nampak sedikit menggelengkan kepala. "Aku pikir dia salah paham padaku." "Salah paham bagaimana?" "Itu ... sebenarnya tadi aku bersama dengan seorang pria." Romeo mengerjab tidak mengerti, akan tetapi penjelasan Juliet berikutnya bisa membuat pria bermata biru itu mengerti situasinya. "Aku sedang makan siang bersama bosku. Pekerjaan hari ini sangat banyak hingga kami tidak punya waktu makan siang yang tepat. Jadi setelah dua jam lewat jam istirahat, barulah aku dan bosku bisa beristirahat. Karena merasa bersalah, bosku mengajakku untuk makan siang bersama. Mungkin Airish pikir aku ..." "Sudahlah," kata Romeo menghela napas. Ia memeluk Juliet dan mengelus punggung wanita itu. Hati Romeo tidak rela karena sikap Airish pada kekasihnya dan ia berjanji akan membuat perhitungan dengan wanita sinting itu. "Sekarang kau istirahat saja. Aku akan menyiapkan makan malam." Jeda sejenak, Romeo tampak berpikir keras. "Itu pun jika kau tidak keberatan dengan sandwich. Kau tau bukan jika aku tidak begitu pandai memasak?" ringis Romeo. Juliet tersenyum. "Kita pesan saja. Kau juga butuh istirahat, bukan?" Romeo mengangguk, mencium tangan Juliet dengan sayang. Kemudian memasukkan gadis itu dalam pelukannya lagi. "Tunggu aku. Mungkin sekarang aku masih seorang sales dan penghasilanku jauh di bawahmu. Tapi aku janji, keadaan akan segera membaik. Kita akan menikah dan punya banyak anak. Kau mau kan?" Mendongak, Juliet mengelus rahang Romeo yang bersih karena pagi tadi pria itu bercukur. "Dan beresiko kau akan kehilangan keluargamu? Kau tau ayah dan ibumu membenciku." "Bahkan aku tidak peduli lagi dengan mereka. Aku rela meninggalkan semua harta dan berdiri di atas kakiku sendiri asalkan kau tetap di sisiku. Kau tidak keberatan bukan jika kita hidup sederhana saja?" Wajah Juliet tampak kaku sejenak tapi segera menghilang dan tertutupi dengan senyum manis. "Tentu saja." "Aku mencintaimu," peluk Romeo makin erat. "Aku juga." *** "Kenapa kau melakukannya?" Ronald bertanya pada Airish perihal yang terjadi beberapa menit yang lalu. Gadis cantik di depannya ini telah menjambak lalu menumpahkan kopi panasnya hingga mengenai tangan seorang wanita asing berambut merah yang sedang makan dalam damai. Alih-alih menjawab, Airish malah sibuk melahap spagetti yang ada di piringnya. Perutnya terasa sangat lapar karena pekerjaan hari ini menguras emosi. Sang fotografer yang mengambil gambar selalu menyuruh Airish melakukan adegan dan foto shoot yang sama berulang-ulang. Sebenarnya hasilnya sudah sangat bagus, tapi si fotografer tampaknya punya dendam kesumat pada Airish. Maklum, mereka pernah pacaran saat SMA lalu ketika pria itu selingkuh, Airish mempermalukannya di depan sekolah. Membuat pria itu menanggung rasa malu yang luar biasa dan tidak terlupakan sampai saat ini. "Airish, apa kau calon psikopat? Bagaimana kau bisa makan dengan sangat lahap setelah melukai seseorang. Kau tidak tau jika mungkin dia akan mengalami trauma lalu hidupnya hancur dan-" "Tidak usah mendramatisir, Ron," jawab Airish di sela makanannya.  Pandangan Ronald yang terus tertuju padanya lama-lama membuat Airish agak risih juga. Pria itu ternyata masih menunggu penjelasan dari Airish. "Namanya Juliet.  Anak dari pembantu Romeo." Mata Ronald terbelalak. "Jangan katakan padaku kau melakukan ini karena dia anak pembantu? Astaga Airish, kau bahkan mungkin lebih miskin darinya jika keluarfga McKenzie tidak mengangkutmu di mansion mereka." Airish tergelak karena ucapan Ronald adalah sebuah fakta. "Yah, dia anak pembantu. Dan dia adalah pacar Romeo." "What? Oh my God! " pekik Ronald sembari menutup mulut. "Jadi kau melakukannya karena cemburu pada gadis bernama Juliet itu?" "Cemburu apanya?" sanggah Airish cepat. "Heh, memang kau tadi tidak melihat jika Juliet datang bersama dengan seorang pria?" Pikiran Ronald berputar pada waktu kejadian. Memang benar tadi dia melihat Juliet datang bersama dengan pria lain. Dan itu tidak mungkin teman, sahabat apalagi saudara laki-lakinya. Pasalnya Ronald melihat ketika mereka masuk ke dalam restoran, si pria memeluk pinggang Juliet dan mereka saling mengobrol dengan seru. Tak lama kemudian mata Ronald membulat. Ada satu hal lagi yang ia ingat sekarang. Bahwa pria itu sempat mencium pipi Juliet dan mengelus tangan Juliet berkali-kali. "Mereka selingkuh?" Airish mengindikkan bahu. "Aku tidak tau. Tapi kelihatannya begitu. Dan kau tau betapa aku sangat membenci orang-orang yang suka berselingkuh." "Aku mengerti," angguk Ronald. "Lalu, apakah kau akan memberi tahu Romeo?" "Untuk apa?" "Untuk membuka matanya agar dia tau kelakuan kekasihnya itu. Dan siapa tau dia akan melirikmu setelahnya." Airish terkekeh. "Idemu bagus juga." "Tapi Airish, aku tidak setuju jika kau menikah dengan Romeo," kata Ronald kemudian berpendapat. "Halooo?? Apa kau benar-benar Ronald? Dulu saja kau girang sekali waktu tau Om Alex dan Tante Sivia menjodohkanku dengan Romeo. Kenapa sekarang berubah?" "Karena aku sudah melihat dan mendengar sendiri perbuatan dan perkataan kejamnya padamu. Astaga Airish, dia pasti akan melakukan kekerasan dalam rumah tangga nanti." "Tenang saja. Aku juga bisa melakukan kekerasan dalam rumah tangga," tanggap Airish santai. Ia meringis saat Ronald melotot. "Yah, pokoknya jangan jatuh cinta pada Romeo. Jika kau bisa segera keluar dari mansion keluarga McKenzie," ucap Ronald. Ia menyuapkan satu sendok spagetti ke mulutnya. Juliet hanya diam. Dia tidak akan menceritakan pada Ronald jika ia mungkin tidak bisa melakukan hal itu. Uang tabungannya baru saja habis karena ia mengirimkan semuanya pada dua orang tuanya. Mereka lebih butuh dari pada Airish. Jika Airish bercerita, pasti Ronald akan bersikeras membantu. Ia memang sebaik itu. Dan andaikan dia tidak mempunyai penyimpangan seksual, mungkin Airish sudah mengajak pria berwajah setengah Arab itu untuk berkencan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN