9. Senyum Licik

1787 Kata
Q : Pilih difitnah atau memfitnah? Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar! *** Airish baru saja keluar dari kamar mandi ketika ia dikejutkan dengan sosok wanita berambut merah yang sedang menggeledah laci maupun almari-almari kecil di dalam kamarnya -atau mungkin lebih tepatnya kamar Romeo sebab sejak pria itu keluar dari rumah Airish yang menempati kamar Romeo. Alex dan Sivia sudah mengijinkan. Mereka bahkan menertawakan Airish yang masih sama seperti dulu, yaitu tidak bisa tidur nyenyak di kamar lain kecuali kamar Romeo. "Kenapa kau ada di sini?" kata Airish tanpa basa-basi yang membuat tubuh si tersangka mematung seketika. Juliet menoleh horor pada Airish. Ia tidak menyangka jika di dalam kamar Romeo yang ia sangka kosong ternyata ada perempuan itu. Tapi bagaimana bisa? Kenapa Airish ada di kamar tunangannya?  Airish yang masih memakai handuk piyama untuk membalut tubuhnya yang basah, juga memakai gulungan handuk di bagian rambut kepala memicing curiga pada Juliet. Berbeda sekali dengan wajah Airish yang tampak sangat segar karena habis mandi dan tanpa make-up apapun, Juliet tampil sebaliknya. Dengan kemeja ketat melekat di tubuh dan rok span sepanjang setengah paha, Juliet terkesan tengah memamerkan kaki jenjangnya pada siapapun yang memandang. Akan tetapi sebagai seorang model, hal itu tentu sangat biasa bagi Airish. Dia bahkan biasa melihat model-model wanita yang berpakaian lebih minim dan seksi dari pada Juliet saat ini.  Yang jadi perhatian lebih adalah make-up yang ada di wajah Juliet. Membuat kedua alis Airish bertautan, mulutnya ingin sekali berkomentar jika perempuan itu terlalu berlebihan menggunakannya. Bedak Juliet terlihat seperti sebuah topeng alih-alih natural, lipstiknya terlalu merah dan goresan alisnya terlalu tebal hingga menampilkan kesan garang. Dan masih banyak lagi. Jika saja Airish tidak terlalu membenci wanita itu, pastilah dengan senang hati ia akan mengenalkan Juliet pada Ronald agar Juliet bisa berdandan sesuai umur. Karena dilihat dari segi manapun, make-up Juliet malah justru membuat ia tampak lebih tua beberapa tahun dari usia yang sebenarnya. Astaga, kenapa aku memikirkan tentang make-up? Dasar racun Ronald sialan! Gara-gara dia aku jadi tau banyak soal make-up, batin Airish kesal. "Kenapa kau ada di sini?" Juliet malah bertanya balik, yang membuat salah satu alis Airish terangkat. "Itu pertanyaanku, omong-omong," kata Airish mengingatkan. Ia melirik ke tempat laci yang masih terbuka karena ulah Juliet. "Mencari sesuatu?" Juliet mengerjab, sekilas wajahnya terlihat bingung akan tetapi bisa berubah dengan cepat. Harus Airish akui jika akting wanita itu cukup lumayan. "Aku hanya mencari ... kalungku yang tertinggal di sini. Romeo bilang ia menyimpannya. Dan karena sekarang dia ada di apartemenku demi menghindari wanita ular sepertimu, aku harus mencarinya sendiri." "Huh, wanita ular!" dengus Airish. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a. "Kurasa sebutan itu lebih cocok untukmu." "Tidak. Itu lebih cocok untukmu. Karena kau bermuka dua. Kau hanya berlaku baik saat ada di depan orang tua Romeo. Benar kan?" Airish tersenyum. "Kenapa? Kau iri?" Ia maju beberapa langkah agar bisa berdiri lebih dekat dengan wanita berambut merah itu. "Apa Romeo bahkan tau jika kau berselingkuh di belakangnya?" Mata Juliet terbelalak. Tangannya terkepal kuat. Karena kecerobohannya kemarin, Airish jadi tau jika dia bermain di belakang Romeo. "Aku tidak berselingkuh!" sanggah Juliet tidak mau mengaku. "Dia hanya bosku." "Dan kau pikir aku percaya? Ck, ck, ck." Airish menggelengkan kepala prihatin. "Aku tidak tau kau melakukan apa pada Romeo hingga dia bisa sebuta itu padamu." Airish berbalik lalu menuju tempat tidur dan duduk di sana sembari berkata, "Aku juga yakin kau sudah menceritakan masalah kemarin padanya tapi dengan versi kebohonganmu." "Aku tidak berbohong!" tegas Juliet. "Hahaha. Lucu. Jika dia hanya sekedar bosmu, dia tidak akan berani menciummu di depan umum. Apalagi kau terlihat menyukainya," tukas Airish dengan nada sinis. Ingat sekali dengan ekspresi senang dari Juliet saat pria yang ia sebut bos ini mencium pipinya. "Jaga ucapanmu! Dia sudah punya anak dan sitri jadi dia, kami, tidak mungkin memiliki hubungan seperti itu!" "Oh astaga. Apa kau baru saja mengaku jika kau adalah seorang pelakor? Jahat sekali kau!" ucap Airish sembari memasang mimik dramatis. "Aku bukan pelakor!" teriak Juliet membentak. "Yah, terserah kau saja. Sekarang bisa kau pergi dari kamarku? Kau tau di mana pintu keluarnya bukan?" "Ini bukan kamarmu! Ini kamar Romeo," geram Juliet marah. Dia saja yang sebagai tunangan Romeo harus mengendap-endap dan bersembunyi-sembunyi agar bisa masuk ke kamar ini, lantas kenapa dengan mudahnya Airish yang bukan siapa-saiap Romeo malah bisa menempati kamar ini? "Hahaha. Sama saja bukan? Apa kau tidak tau jika kami sudah dijodohkan? Jangan khawatir, kau akan menerima undangan dengan nama kami berdua secepatnya." "Dalam mimpimu! Romeo sudah menolak dan memilih mencampakanmu! Dia mencintaiku dulu, sekarang hingga nanti. Selamanya." Mendengar pernyataan dari Juliet. Airish hanya memutar bola matanya. Sangat tidak masuk akal jika Romeo mau tetap bersama wanita itu. Untuk sekarang Airish masih maklum karena Romeo memang belum tau warna asli seorang Juliet, tapi kelak, mungkin Airish bisa menunjukkannya secara langsung. "Sudah membanyolnya? Yah, apapun itu yang jelas karena sekarang Romeo memilih pergi dari rumah ini, akulah yang berhak menempati kamarnya." "Kenapa kau?" "Tenang saja. Om Alex dan Tante Sivia sudah mengijinkan. Jadi aku bukanlah seorang penyusup di kamar ini." Jeda sejenak, Airish mengamati Juliet dari ujung kaki hingga rambut. "Tapi kau." Saat itu Juliet merasa jika ia tetap di sana ia akan kalah. Maka meskipun ia sangat kesal dan ingin sekali menjambak gadis berambut pirang itu, Juliet memilih membalikkan badan. Lain kali ia berjanji akan membuat Airish menangis darah. "Hei, sampaikan salam pada calon suamiku, ya! Jangan lupa tempat pulangnya ada di sini!" seru Airish yang disambut dengan bantingan pintu. Perempuan yang berprofesi sebagai model itu terkikik. Rasanya puas sekali membuat Juliet marah karena dirinya. *** "Sial!" umpat Juliet setelah ia keluar dari kamar Romeo. Ia mengusap wajah gusar. Padahal ia belum menemukan di mana dompet Romeo berada. Rencananya adalah, Juliet ingin mengambil sebuah kartu kredit dari sana dan memakainya untuk membeli beberapa barang. Juliet rindu berbelanja barang mahal. "Kenapa juga dia harus kabur dari rumah tanpa membawa satupun kartu kredit? Dasar pria tidak berguna!" dumel Juliet sembari menyusuri koridor. Sekarang ia harus mulai memikirkan bagaimana ia bisa mendapatkan uang yang banyak. "Thomas! Benar. Aku rasa aku harus menemuinya. Aku harap dia bisa membelikanku barang satu atau dua barang," senyumnya dengan melangkah tegas meninggalkan mansion keluarga McKenzie. Tapi, belum juga ia sampai di pintu keluar, kakinya berhenti sebab tepat saat itu, kedua orang tua Romeo memasuki mansion. Raut muka mereka nampak senang dan penuh kebahagiaan. Alex tampak sesekali membisikkan sesuatu di telinga Sivia yang membuat wajah Sivia merona malu-malu. Sungguh pemandangan yang menyenangkan jika itu disaksikan oleh orang yang tepat. "Om Alex, Tante Sivia," sapa Juliet sembari sedikit menganggukkan kepala. "Apa kabar? Lama tidak berjumpa." Wajah yang tadi diliputi kebahagiaan kini menjadi datar dan kaku sama sekali. Bahkan Alex sudah ingin langsung melewati Juliet jika saja tangan Sivia tidak menahannya. "Iya. Sudah lama sekali. Apa kau kemari untuk menjenguk ibumu?" Juliet mengerjab, lalu segera mengangguk cepat. Ia tidak boleh ketahuan jika ia datang kemari untuk mencuri kartu kredit Romeo. "Seperti kita percaya saja. Paling juga mau mengambil- awh!" pekik Romeo karena kakinya diinjak oleh Sivia. Berbeda dengan Alex yang tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya pada Juliet, Sivia tersenyum. "Tapi bukankah kau tau jika ibumu hanya bekerja di hari sabtu dan minggu saja?" "B-benarkah?" Sivia tersenyum miring. "Dan dia juga tidak terlalu sering datang kemari karena kondisinya yang suka naik turun. Kau tenang saja, kami akan merawatnya dengan baik." Kalimat itu merupakan sindiran bagi Juliet, tapi tampaknya wanita berambut merah itu sama sekali tidak peduli. "Baiklah. Aku permisi dulu, Om, Tante," pamit Juliet yang langsung melewati dua orang paruh baya itu. "Lain kali jangan datang kemari jika tidak ada keperluan yang banr-benar penting! Kami tidak ingin seorang pencuri licik sepertimu ada di sekitar kami!" seru Alex yang membuat Juliet geram. *** Romeo baru saja masuk ke dalam apartemen saat ia mendengar suara isak tangis yang berasal dari ruang tengah. Tak ayal lagi, ia pun segera mempercepat langkah kakinya menuju ke arah suara. "Juliet. Ada apa?" tanyanya khawatir sembari mengambil tempat duduk di samping kekasihnya itu. Juliet sedang meringkuk di atas sofa, wajahnya terbenam di antara kedua lututnya, semetara tubuhnya bergetar sebab menangis. "Hei," tukas Romeo yang lalu menarik tubuh Juliet ke dalam pelukannya. Seperti yang biasa ia lakukan kala wanitanya menangis, Romeo mengelus punggung Juliet dengan tujuan menenangkan. Sesekali dia mencium puncak rambut merah gadis itu sembari membisikkan kalimat, "Tidak apa, semua akan baik-baik saja." Setelah beberapa menit lamanya dengan sabar Romeo menunggu, akhirnya tangis Juliet berhenti juga. Pria itu melepas pelukannya dari Juliet, mengusap pipi Juliet yang basah karena air mata. "Sudah merasa lebih baik?" Juliet mengangguk sebagai jawaban. "Mau minum air putih?" Lagi-lagi Juliet mengangguk. Romeo berdiri, lalu menuju dapur untuk mengambil satu gelas air putih. Hanya butuh beberapa detik, ia sudah kembali ke sofa. "Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi?" tanya Romeo setelah Juliet meneguk air mineral. Juliet tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Romeo. "Apa kau percaya padaku?" tanyanya lemah. "Tentu saja," jawab Romeo. "Apakah ada sesuatu yang serius?" Juliet menegakkan badan. Ia menatap Romeo dalam-dalam. "Jika ada seseorang mengatakan hal buruk padaku, apakah kau akan percaya?" "Tentu saja tidak. Siapa mereka bisa mengatakan hal buruk padamu sementara aku yang lebih mengenalmu, tau siapa kau luar dan dalam, sangat tau betapa baiknya dirimu?" Mendengar jawaban Romeo, Juliet langsung memeluk pria itu. "Terima kasih," gumamnya. "Tidak perlu berterima kasih. Bukankah itu yang seharusnya setiap pasangan lakukan? Saling percaya satu sama lain?" Juliet mengangguk puas. Romeo hanya tidak tau jika Juliet tengah menyunggingkan sebuah seringaian licik. "Tapi, kau belum menceritakan padaku apa yang membuatmu menangis lagi." Kembali, Romeo bertanya pada Juliet. Sebab sebagai seorang pria seharusnya ia bisa membantu Juliet jika ada masalah. Ia ingin menjadi orang yang sangat bisa diandalkan oleh wanita yang ia cintai ini. Wajah Juliet nampak ragu, tapi Romeo memberikan tatapan yakin dan penuh kepercayaan. Maka dari itu, mulut gadis itu mulai berbicara. "Airish memfitnahku." "Dia lagi?" Juliet mengangguk. "Tadi aku datang ke mansionmu untuk bertemu ibuku. Aku tidak tau tapi kata ayah dan ibumu, ibuku sekarang hanya bekerja hari sabtu dan minggu saja. Waktu itu Airish tiba-tiba turun dari tangga dan menuduhku sebagai pencuri. Kau tau bukan jika kedua orang tuamu tidak pernah menyukaiku? Karena ucapan Airish, aku diusir pergi dari sana setelah mereka mempermalukanku di depan para pelayanmu yang lain. Aku sangat malu, Romeo." Juliet menutup wajah dengan dua telapak tangannya, ia menangis lagi. Dan Romeo sekali lagi memeluk Juliet. Hatinya menggebu karena rasa marah yang amat kepada sosok wanita ular yang mulai mengusik lagi wanitanya. Padahal sudah bertahun-tahun berlalu, tapi kenapa Airish terus saja mengganggu Juliet? Sepertinya Romeo harus memberi perhitungan pada gadis itu. Dan lagi-lagi, tanpa disadari oleh Romeo, isak tangis Juliet berhenti dan berganti dengan senyum penuh kemenangan. Ia percaya jika setelah ini Romeo pasti akan mengambil tindakan tegas pada Airish. Sama seperti yang selalu ia lakukan saat mereka masih kecil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN