42. Surat Cerai

2039 Kata

“Terima kasih.” Airish berkata tulus pada Max ketika mobil mereka sampai di tempat Airish tinggal. Pria itu memaksa untuk mengantar Airish pulang karena khawatir akan kondisinya. Dan benar saja dugaan Max, sebab di pesawat tadi Airish sempat pingsan. Mereka baru sampai ke rumah setelah Max memaksa gadis itu masuk ke rumah sakit dan menghabiskan satu set infus. Sekarang wajah Airish sudah tidak sepucat siang tadi. Semburat kemerahan sudah memenuhi wajah ayu-nya. “Kau tidak perlu berterima kasih. Aku temanku. Seorang teman harus saling membantu” jawab Max sambil mengindikkan bahu. “Perlu aku antar sampai depan pintu?” Airish terkekeh kecil. “Tidak perlu. Ini sudah malam, dan kau butuh istirahat. Besok kau harus kembali ke Meksiko lagi, bukan?” Max menghela napas. Proyeknya yang berada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN