Part 19

1063 Kata
Untuk waktu yang lama, Sahara hanya bisa membeku saat mendengar pertanyaan yang mengejutkan dari Dirga. Rengekan kecil Rafali yang membuat gadis itu sadar namun Sahara masih tetap tidak tahu apa yang harus dia katakan. Pria itu mengatakan hal seperti itu, apa Dirga menyukainya? Jika benar Dirga menyukainya dan lebih dulu melemarnya, apakah Sahara akan menikah dengannya? Pria itu sosok yang mengerti agama dan baik, juga menyukai dengan anak kecil. Wanita yang menjadi istrinya pasti akan bahagia. Ketika gadis itu membayangkan menjadi istri Dirga, dia sontak mengucap. Gadis itu merasa dia benar-benar bodoh, bukankah dia sudah menikah? Kenapa pula dia harus memikirkan hal seperti itu? “Sahara enggak tahu jawabannya, Mas,” balas Sahara membuat Dirga menatapnya namun gadis itu sontak mengalihkan pandangannya. “Kayaknya Rafali mau tidur, Mas, Sahara balik ke apartemen dulu.” “Biar saya anterin, Sahara,” ujar Dirga cepat namun Sahara menggeleng. “Enggak usah, Mas Dirga pasti sibuk. Sahara bisa sendiri kok.” Dirga hanya bisa diam ketika Sahara mengambil alih Rafali darinya dan mengambil tas kecil miliknya. Namun baru beberap langkah, wanita itu segera berbalik ke arah Dirga. “Mas, tentang pembicaraan ini, Mas Dirga bisa rahasian dari Mas Zio?” Dia benar-benar sudah kalah telak. Dirga yang mendengar itu mengangguk. “Iya, saya bakal rahasian dari Zio. Maafin saya kalo pertanyaan saya bikin kamu enggak nyaman, Sahara.” “Enggak papa, Mas. Kita emang enggak bisa ngtur hati kita mau gimana,” balas Sahara tersenyum kecil. “Sahara sama Rafali pamit dulu, Mas. Assalamulaikum.” “Walaikumsalam,” balas Dirga memandangi wanita yang dia kagumi perlahan menghilang. Sahara mungkin sudah mencintai Zio, buktinya wanita itu tidak mau membuat suaminya terluka karena pertanyaan buruknya. Dirga menghela nafasnya pendek dan melangkah meninggalkan minimarket tapi baru saja beberapa langkah, pria itu melihat seseorang yang dia kenal. “Barga, ngapain kamu disini?” Dirga menatap tajam ke arah adiknya yang terlihat menunggu seseorang dwngan wajah cemas. “Ma—mas Dirga?” tanya remaja itu terlihat terkejut saat melihat salah satu kakaknya. Barga merasa sial, diantara kedua kakaknya—pria itu tidak mengakui Zio, kenapa dia malah bertemu Dirga yang paling kolot disini? “Kamu ngapain disini? Bukan di sekolah?” tanya Dirga lagi yang melihat adiknya masih memakai seragam sekolah. “A—aku lagi nemuin temen yang tinggal sendiri dan lagi sakit, Mas. Dia tinggal disini,” jawab Barga cepat namun membuat Dirga yang melihat itu mengerutkan dahinya tapi pria itu tidak ingin memikirkan hal buruk pada adiknya. “Kalo kamu mau jenguk teman kamu yang sakit, tunggu sepulang sekolah,” ujar Dirga membuat Barga mengangguk kecil. “Mas Dirga sendiri ngapain disini?” tanya Barga pada Dirga yang mendengar pertanyaan itu sedikit kebingungan untuk menjawabnya. Dia tidak mungkin menjawab baru saja bertemu dengan Sahara kan? “Mas habis dari rumah Mas Zio karena permintaan Mama, ini kan gedung apartemennya,” jawab Dirga yang tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang kesini atas permintaan Sarah untuk melihat keadaan Sahara dan Zio. “Ngapain sih ke rumah pria itu?” tanya Barga yang selalu kesal mendengar Zio. “Dia kan udah nikah, bisa ngurus dirinya sendiri.” “Zio itu kakak kamu juga, Barga. Walaupun udah nikah, dia tetap saudara kita,” jawab Dirga sambil berjalan menuju parkiran bersama adiknya. “Kayak dia anggep kita saudaranya aja, Mas,” balas Dirga merengut. “Tapi, apa yang dibilang dia itu benar, Mas? Kalo Mama ngerebut Papa dari ibunya dia?” tanya Barga yang masih penasaran. Dari kakek dan neneknya, mereka mengatakan sejak awal pernikahan ayahnya dan ibu Zio tidak pernah di restui. “Kamu masih kecil, enggak usah mikirin itu,” balas Dirga lalu membuka pintu mobilnya. “Kamu langsung pulang, Mas mau ke kantor.” Barga mengangguk dan tidak lama kemudian mobil milik Dirga melaju meninggalkan parkiran tamu apartemen. Remaja itu menghela nafasya lega, dia hampir saja ketahuan oleh kakaknya sedang mencari seseorang disini. Remaja itu kembali melihat ke apartemen dan perasaan menyesal itu kembali membuncah. Dimana pun dia berada, Barga berharap dia baik-baik saja. —— “Makasih, Pak. Kembaliannya ambil aja,” ucap Fazio pada sopir ojek online yang telah mengantarnya. “Benaran, Mas? Ini banyak lho?” tanya sopir ojek online yang terlihat sudah tua itu. “Iya, Pak. Ambil aja kembaliannya.” “Makasih ya, Mas. Dari pagi tadi saya hanya dapat tiga orderan, itu pun udah habis sama bensin. Saya akhirnya bisa tenang pulang ke rumah, Mas. Sekali lagi, makasih banyak, Mas.” Fazio yang mendengar itu mengangguk, sebenarnya dia juga berterima kasih pada sopir ojol itu yang mau mengantarkannya saat hari sudah menujukan pukul dua belas malam. Jika dia tidak bisa mendapatkan tumpangan pulang, pria itu mungkin akan menginap di hotel terdekat. Apa dia harus belajar mengemudi? Fazio merasa itu adalah hal yang paling wajib dia masukan dalam list tahun ini. Jika dia bisa membawa mobil sendiri, itu bisa menghemat banyak waktu dan tenaga. Apalagi sekarang dia sudah menikah dan memiliki anak, bagimana jika salah satu dari mereka sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit? Ceklek! Karena terlalu hanyak berpikir, Fazio tanpa sadar sudah sampai ke apartemennya. Pria itu melihat semua lampu sudah dimatikan kecuali lampu tengah. Dia berpikir jika Sahara sudah tidur namun dia terkejut melihat gadis itu berbaring dengan selimut sambil menonton televisi. “Mas Zio kok malam banget pulangnya?” tanya gadis itu sambil mengucek matanya. “Mas Zio mau mandi atau makan dulu?” Menikah ternyata tidak terlalu buruk, biasanya pria itu akan sangat ketakutan saat masuk ke apartemennya ketika pulang malam. Sekarang dia memiliki teman. “Enggak usah, gue bawa ayam goreng banyak. Lo udah makan belum? Kalo belum makan bareng sama gue.” Sahara yang juga kebetulan lapar sontak mengangguk dan mengatakan akan menyiapkan pakaian pria itu setelah mandi. Saat Zio masuk ke dalam kamar dan ingin mencium Rafali, dia segera ditahan oleh Sahara. “Mandi dulu, Mas.” “Iya, iya,” angguk Zio terkekeh. Setelah selesai mandi, Sahara dan Fazio sama-sama menikmati ayam goreng sambil menonton televisi yang kebanyakan hanya iklan. Tapi yang membuat itu bagus, mereka berbicara tentang seharian ini. Tentu saja dengan beberapa hal yang disembunyikan. “Beneran Mas?” tanya Sahara saat mendengar cerita dari suaminya. “Iya, ternyata calon pengatin yang gue dandanin itu istri kedua terus waktu di pelaminan, istri pertamanya datang dan marah-marah. Untung aja gue udah dibayar, jadi bisa kabur,” cerita Fazio sambil tertawa membuat Sahara ikut terkekeh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN