Selama acara pernikahan, Fazio sering kali kedapatan melamun dan tatapannya tidak berhenti tertuju pada pintu masuk pesta pernikahan Jena dan Robi. Pria itu seolah sedang menunggu seseorang yang mungkin akan datang.
Tapi tiga puluh menit dia berdiri, Fazio tidak menemukan seseorang yang dia cari. Tampaknya orang itu bahkan tidak akan hadir di acara sahabat terdekatnya.
Fazio kembali mengingat dengan perkataan Jena, persahabatan mereka bisa hancur karena perasaannya yang melewati batas. Tapi ada satu hal yang Jena tidak tahu, bahwa itu bukan satu-satunya alasan persahabatan mereka yang sekuat permen karet sekarang seperti tidak mengenal.
Jika mengingat hal itu, Fazio tidak akan lepas dari masa SMA yang menurutnya sangat menyenangkan. Itu dimana saat keluarga dari ayahnya belum ikut campu terhadap hidupnya, hanya Fazio seorang diri.
Fazio, Jena dan wanita itu adalah sahabat yang terkenal sebagai sebagai trio pembuat onar. Mereka sering kali membolos jam mata pelajaran, kabur keluar sekolah saat ada razia bahkan ketika saat ada jam kosong Fazio sering merias Jena yang kadang membuatnya tampak menjadi badut.
Ketika mengingat itu Fazio tidak bisa menahan senyum di bibirnya, itu adalah kenangan masa indah miliknya selain bersama sang Ibu. Tapi kenangan itu tampaknya hanya bisa dia kenang, tidak dia ulang kembali.
Merasa serat, Fazio ingin mengambil minum. Tapi dia tiba-tiba membeku, dia baru sadar jika telah memikirkan wanita lain di saat dia telah menikah dan memilioi seorang istri. Namun dia segera menggeleng, itu tidak bisa dinamakan selingkuh kan?
Lagi pula Fazio dan wanita itu berakhir atau lebih tepatnya tidak pernah memulai apapun.
Karena pria itu memiliki klien lain, Fazio segera meninggalkan pesta pernikahan Jena dan suaminya. Hari ini jadwal meriasnya sangat padat, dia mungkin tidak akan bisa mencicipi makan malam yang dibuat oleh Sahara. Ah, Fazio tiba-tiba teringat dengan Rafali, bocah itu kira-kira sedang apa?
——
Ting Tong!
Ting Tong!
"Iya, tunggu sebentar,” balas Sahara buru-buru mencari dimana jilbab dan cadar yang dia letakan, setelah menemukannya dia memasang dengan secepat kilat. Barulah setelah itu menggendong Rafali menuju pintu apartemen.
"Assalamualaikum,” salam Dirga saat Sahara membuka pintu apartemen.
“Wa'alaikumussalam, Mas Dirga,” balas Sahara saat melihat saudara dari suaminya yang datang.
"I—ini anak siapa, Sahara?" tanya Dirga yang terkejut saat melihat Sahara menggedong seorang anak laki-laki yang nampak sudah berusia beberapa bulan. Pria itu berusaha untuk berpikiran baik namun saat mengingat Fazio telah tingga bertahun-tahun diluar rumah, Dirga takut tebakannya benar.
Melihat ekspresi terkejut milik Dirga yang cukup lucu, Sahara terkekeh di dalam hatinya. “Ini Rafali, Mas. Sahara sama Mas Zio adopsi Rafa sebagai anak kami. Ceritanya panjang, sih,” jawab Sahara. Dia benar-benar lupa memberi tahu keluarga suaminya jika mereka sudah mengadopsi seorang anak.
Dirga yang mendengar itu sedikit lega, tebakannya ternyata salah. “Mas kesini sebenarnya cuman mau mastiin kalo kalian baik-baik aja, soalnya Mama khawatir kerena minggu kemarin kalian enggak jadi datang ke ke rumah,” jelas Dirga yang membuat Sahara kembali meringis, dia juga lupa tentang ajakan menginap oleh mertuanya. Wanita itu jadi takut jika Sarah akan memarah padanya.
“Tapi karena kalian baik-baik aja, Mama enggak akan marah kok,” balas Dirga seolah bisa menebak ekspresi di wajah Sahara. “Jadi gimana kalian bisa ngadopsi anak? Kebetulan Mas enggak sibuk, gimana kalo kita sekalian cari cemilan dibawah?”
Sahara yang mendengar tawaran itu sedikit terkejut, karena biasanya sosok Dirga adalah orang yang sangat irit bicara dan mereka jarang mengobrol. Tapi karena Dirga adalah saudara suaminya dan dia juga yakin jika Dirga akan menjelaskan Rafali pada keluarga Zio, maka tidak ada alasan untuk menolak. Lagi pula mereka akan pergi ke mini market, jadi tidak akan ada masalah.
"Biar Mas aja yang gendong,” ujar Dirga membuat Sahara terkejut.
“Mas Dirga bisa gendong bayi?” tanya Sahara.
“Bisa, emangnya mukanya Mas meragukan ya?” tanya balik Dirga sambil mengambil alih Rafali dari gendongan sang ibu dengan mudahnya. Tentu saja pria itu lebih jago daripada Zio yang hampir saja memelintir tangan Rafali saat kemarin menggendong.
Rafali awalnya takut karena ada orang baru yang sedang menggendongnya namun bayi itu tidak jadi menangis saat Dirga menghiburnya dengan pemandangan apartemen.
“Tuh, lihat ada pesawat terbang… waw besar ya!” tunjuk Dirga pada sebuah pesawat yang terbang tinggi.
“Sahara ambil tas kecil dulu ya, Mas.” Dirga mengangguk dan Sahara kembali masuk ke dalam apartemen. Tas kecil yang dia maksud adalah tas kecil yang berisi perlengkapan Rafali seperti popok, botol berisi s**u dan termos kecil. Semenjak memiliki anak, barang itu tidak bisa tinggal.
Setelah mengambil tas, Sahara dan Dirga segera turun ke lantai bawah dimana ada minimarket yang memiliki kursi dan meja yang lengkap.
Ketika keduanya memasuki minimarket, beberapa wanita yang sedang berbelanja sontak saja tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Dirga yang sedang menggendong Rafali. Pria yang mengenakan kemeja dan celana hitam itu terlihat seperti hot daddy di film!
Apalagi gen dari keluarga itu tidak bisa diragukan lagi, wajah yang rupawan!
Dirga yang sudah biasa tentu tidak memerdulikannya. Dia mengajak Sahara untuk memilih beberapa cemilan dan minuman, Sahara memilih es krim sedangkan Dirga memilih es kopi. Rafali tentu saja tidak dibelikan apa-apa, bocah itu sudah disiapkan botol s**u.
Saat para wanita melihat sosok Sahara, mereka tentu langsung patah hati. Tapi tidak ada yang bisa berbohong jika keduanya tampak cocok.
“Rafali sebenarnya anak yang kami temuin secara enggak sengaja, Mas.” Sahara lalu menceritakan bagaimana mereka bertemu dengan Rafali yang tampak nyaman di d**a kekar Dirga.
Zio sempat nolak?” tanya Dirga yang diangguki Sahara. “Tapi sekarang udah enggak kok. Mas Zio cuman terlalu khawatiran aja.”
“Kalo saya jadi ayahnya, saya enggak akan nolak,” celetuk Dirga sambil melihat ke arah Rafali.
“Kenapa Mas?” tanya Sahara mengerutkan dahinya.
“Kita enggak tahu bagaimana Rafali hadir, entah itu dalam pernikahan yang sah atau bukan. Tapi anak ini suci, dia enggak salah sama sekali. Jadi kalo dia ditinggalkan, saya enggak sanggup bayanginnya.”
Sahara yang mendengar itu tersenyum, dia tidak tahu Dirga memiliki hati selembut ini. “Cari dulu ibunya, Mas. Baru cari anaknya hehe,” canda Sahara membuat Dirga menoleh ke arahnya.
“Saya mau ibunya kamu, Sahara,” ucap Dirga membuat Sahara tersedak es krim. “Uhuk!”
“Mas—“
“Kalo saya yang lebih dulu lamar kamu, apakah kamu akan menerimanya?” tanya Dirga sambil memandang ke arah Sahara. Tidak tahu kenapa, dia tidak bisa menahan perasaannya.