Jika biasanya orang akan beristirahat di akhir pekan, Fazio cukup berbeda. Pekerjaan yang dimilikinya malah akan semakin sibuk ketika hari libur. Itu semua karena kebanyakan orang-orang akan mengadakan pesta di hari libur, sebingga mau tak mau, Fazio harus lembur di seharusnya dia berbaring di kasur seharian.
"Mas Zio bangun dulu," panggil Sahara pada Fazio yang masih asik terlelap dalam mimpinya.
Biasanya Sahara akan kesal jika harus membangunkan Fazio, namun sekarang dia memiliki cara yang ampuh tanpa perlu menghabiskan suaranya. Wanita itu cukup meletakan Rafali di atas kasur dan membiarkan bayi berusia beberapa bulan itu merangkak hingga duduk di d**a Fazio. Untungnya bocah itu bisa menyeimbangkan tubuhnya, tanpa perlu Sahara bantu.
"Kkkkk... heheheh..."
Plak!
Sahara tidak bisa menahan tawanya ketika telapak tangan mungil Rafali menampar pipi mulus Fazio sampai itu berubah menjadi memerah. “Kkhkhhhh…” gelak bayi itu tanpa rasa bersalah.
Fazio membuka kelopak matanya dan menatap ke arah Rafali yang kini penuh air liur.
“Sabar, Mas.. enggak boleh marah,” kekeh Sahara membuat Fazio memutar bola matanya malas. Fazio kembali melihat ke arah wajah gemuk Rafali dan hanya bisa menghela nafasnya panjang.
"Ayo bangun, Mas. Katanya ada acara jam 7 ini." Mengingat hari yang padat, Fazio akhirnya bangun dari tempat tidur dengan malas dan segera pergi ke kamar mandi. Sahara lalu membawa Rafali ke menujur dapur, dia tidak perlu mencarikan baju milik Zio karena lelaki itu pasti sudah memikirkannya sejak semalam.
Pernah sekali Sahara berinisiatif untuk memilih pakaian Zio namun pada akhirnya dia malah diceramahi bahwa pakaian yang dipilihnya tidaklah cocok. Alhasil gadis itu mendapat ilmu yang hampir sama dengan 2 sks mata kuliah.
Tapi hal itu tidak membuat Sahara berhenti menjadi istri yang baik, dia yang awalnya tidak bisa memasak kini perlahan mulai mencari resep-resep sederhana. Awalanga memang terasa sangat sulit, apalagi ketika menakar berapa banyak jumlah garam yang harus dia masukan.
"Gimana, Mas?" tanya Sahara melihat ke arah Fazio dengan wajah penuh harap, sedangkan Rafali hanya duduk di kursi makannya dengan wajah polos.
“Hemmm, enak! Gue kasih nilai 8 dari 10!” ucap Fazio membuat Sahara yang mendengar itu tersenyum sangat lebar.
“Yeay, kita berhasil Rafa!” seru Sahara sambil mengajak bayi itu untuk tos.
——
Jadwal pertama Fazio pada hari libur ini adalah merias pengantin wanita yang akan menikah. Tanpa menunggu lama, pria itu segera memesan taksi online menuju hotel bintang lima yang sering menjadi tempat pernikahan crazy rich.
Impian pria itu dulu sebenarnya juga ingin menikah disini namun ternyata biayanya cukup mahal, membuat Fazio memilih pernikahan yang lebih sederhana dari disini.
“Mas Fazio kan? Ayo mas saya antar ke kamar pengantinnya.” Setibanya di lobi hotel, Fazio langsung ditemui oleh tim WO. Dia mengangguk dan mengikutinya menuju kamar si mempelai, saat melewati ballroom yang menjadi tempat pernikahan, dia tidak sengaja melihat sebuah nama yang tertulis di papan pengantin.
Robo & Jena
Fazio tidak tahu banyak tentang siapa yang akan dia rias, karena itu sudah menjadi tugas Acha untuk mengatur jadwal. Fazio hanya perlu pergi ke tempat lokasi dan merias. Tapi karena kali ini Acha sedang berhalangan, dia tidak tahu siapa yang akan dia rias namun nama itu mengingatkan dengan teman masa smanya.
Hanya saja dia yakin bukan hanya temannya yang memiliki nama itu, jadi Fazio dengan cepat melupakannya.
“Ini kamarnya, Mas. Masuk aja, saya mau ke lobi lagi.”
“Makasih ya,” ujar Fazio membuka pintu kamar hotel.
Saat hendak menggeret kopernya masuk, Fazio tiba-tiba mendongak saat mendengar seseorang memanggil namanya. “Zio?”
“Jena?” sapa balik Fazio melihat sahabat lamanya.
“Lo beneran jadi MUA, terkenal pula,” lirih Jena yang tidak tahu harus tersenyum lebar atau meringgis saat melihat Fazio.
Fazio menghela nafasnya, berusaha melupakan kenangan mereka. “Gue enggak punya banyak waktu, jadi kita langsung mulai aja.”
Jena yang mendengar itu mengangguk, dia tidak bisa memerahi Fazio yang bersikap dingin padanya. Dia sendiri yang membuat Fazio menjadi seperti bukan sahabat yang dia kenal.
Walaupun pria itu merasa hatinya bergejolak, jangan tanya bagaimana keprofesionalan Fazio. Dia sama seperti biasanya, bertanya bagaimana riasan yang diinginkan pengantin serta memberi saran apa saja yang cocok. Jika dia membawa masalah pribadinya ke dalam pekerjaan, dia takut akan membuat hari dimana pengantin itu menjadi raja dan ratu sehari gagal hanya karenanya.
“Gila riasan lo emang enggak kaleng-kaleng, untung aja gue masih dapat kesempatan.” Sama seperti Fazio, Jena juga berpikir jika Fazio yang akan meriasnya adalah orang lain tapi ternyata itu adalah sahabatnya sendiri.
“Makasih,” balas Fazio pendek.
Jena yang melihat itu menggigit bibir bawahnya, sungguh dia tidak tahan lagi. “Zio, lo masih marah sama gue?”
“Lo tahu jawabannya,” jawab Fazio.
“Itu bukan mau gue, Zio. Dia yang enggak mau lo tahu dimana kebeadaannya,” balas Jena yang sedikit marah. Persahatan mereka bertiga yang sudan dia anggap sebagai saudara, hancur karena percintaan.
“Lo pikir cuman lo yang marah disini?” tanya Jena. “Gue juga marah, karena perasaan lo itu yang bikin persahabatan kita hancur.”
Fazio yang sedang memasukan peralatan riasnya ke koper sontak berhenti. Dia tiba-tiba mengingat masa dulu, ketika dia benar-benar bahagia bersama Jena dan wanita itu.
“Lo mau pergi langsung, Zio? Di hari pernikahan sahabat lo?” tanya Jena yang tidak bisa menahan air matanya. Dia merindukan Zio dan wanita itu tapi sekarang dia bahkan tidak tahu dimana wanita itu.
“Jangan nangis, gue enggak mau rias lo lagi,” celetuk Fazio sambil mendengus. “Gue cuman bisa hadir beberapa jam, masih ada kerjaan lain.”
“Makasih, Zio,” rengek Jena tidak bisa menahan haru. “Itu udah cukup kok, kalo bisa lo nyanyi dikit hehe.”
“Jangan ngelunjak,” dengus Fazio membuat Jena tertawa.
Fazio sudah hendak keluar dari kamar pengantin namun Jena tiba-tiba memanggilnya lagi. “Zio, kemarin malam nomor dia yang udah enggak aktif beberapa tahun tiba-tiba kirim pesan sama gue.”
Fazio yang mendengar itu sontak menatap Jena dengan berharap, membuat Jena yang melihat itu sedikit merasa bersalah. Sejujurnya dia ingin Fazio melupakan wanita itu namun mereka awalnya adalah sahabat, jadi menurutnya Fazio juga harus tahu.
“Dia bilang akan balik ke Jakarta dalam beberapa hari lagi.”
Jiwa Fazio seperti tidak ada lagi disana ketika mendengar itu, pikirannya melayang kembali di masa-masa sma-nya bersama wanita yang berhasil mencuri hatinya.
“Zio, lo enggak boleh berahap sama dia lagi. Bisa saja dia udah enggak sendiri lagi sekarang.”