“Karena gue belum siap punya anak sendiri, gue mah kita tunda untuk punya anak dulu.”
Senyum di bibir Sahara seketika hilang mendengar syarat yang diajukan Fazio. Impiannya setelah menikah adalah segera memiliki malaikat kecil sendiri yang ingin dia didik dan sayangi dengan baik. Tapi ternyata suaminya belum siap untuk mewujudkan hal itu.
Fazio memiliki pikirannya sendiri, dia tahu jika Sahara ingin memiliki bayi sendiri. Dan sebenarnya dia pun tidak masalah tapi jika hal itu bisa ditunda, maka itu lebih baik. Jika istrinya benar-benar ingin mengadopsi bayi laki-laki itu dan juga ingin memiliki bayi sendiri, Fazio tidak yakin Sahara mampu. Dia cukup tahu hamil sampai melahirkan adalah hal sulit.
“Lo pikir tapi gue tunggu sampai malam nanti,” ujar Fazio yang tidak ingin terburu-buru.
“Sahara pengen tetap rawat bayi itu, Mas,” jawab Sahara menatap Fazio dengan bola mata jernihnya. Dia memang ingin memiliki anak sendiri tapi dia juga tidak sanggup berpisah dengan bayi itu. Toh, bukan berarti dia tidak memiliki anak kan, mereka hanya menunggu waktu yang pas.
“Oke, kalo itu keputusan lo. Gue nanti bakal minta bantu teman gue untuk masalah berkas.”
“Makasih, Mas Zio,” ucap Sahara lalu melihat sang suami meninggalkannya. Dia tidak tahu keputusannya benar atau tidak tapi saat ini dia hanya bisa berdoa.
Karena tidak ingin merepotkan orang tuanya untuk mengurus bayi, Sahara buru-buru mandi dan mengenakan pakaiannya. Gadis itu ternyata tidak menemukan orang tuanya di ruang tamu, melainkan hanya Fazio dan sang bayi.
“Umi sama Abi mana, Mas?” tanya Sahara duduk disamping Fazio.
Fazio menoleh dan sontak terkejut. “Kancing daster lo tuh,” ucapnya lalu membalikan badan.
Sahara menunduk dan sedikit tertawa sambil membenarkannya. “Enggak papa, Mas. Ini udah halal kok.”
Fazio hampir tersedak mendengar, dia lalu memberikan Sahara kepada sang bayi. Pria itu lalu kembali fokus untuk menonton namun tiba-tiba saja dia memikirkan sesuatu hal yang penting. “Oh, iya, nama bayi ini siapa?”
Sahara yang mendengar itu hampir menepuk jidatnya sendiri jika tidak menggendong bayinya. “Sahara juga baru ingat. Kira-kira Mas Zio ada saran gak?”
“Edward aja gimana?” tanya Fazio tiba-tiba.
Sahara mendengus, “mirip sama yang di film?” tanya gadis itu membuat Fazio cengengesan. “Cari yang lain aja, Mas. Susah namanya.”
“Hmm.. yang mudah? Berarti yang pasaran? Rafa aja gimana?”
“Rafali?” tanya Sahara.
Fazio mengangguk. “Rafali.”
———
Karena mereka sudah akan resmi mengadopsi Rafa, itu artinya mereka juga harus mempersiapkan banyak hal untuk bayi yang menggemaskan itu. Termasuk perlengkapan mainannya yang menurut Fazio sangat penting.
“Mas belum selesai?” tanya Sahara yang menunggu di ruang tamu sambil memberikan Rafa s**u. Bola mata bayi itu terlihat sudah 5 watt, mungkin dia akan segera tidur karena ini pukul siang.
“Sebentar, gue harus cocokin outfitnya untuk gendong Rafa,” jawab Fazio dari dalam kamar.
Entah ini balasan atau bukan, Sahara dulu pernah mentertawakan Abinya yang sampai ketiduran menunggu uminya untuk bersiap. Dia pikir jika dia menikah nanti, suaminya juga akan kebosanan menungguinya tapi ternyata itu malah kebalikannya.
Tidak lama kemudian Fazio muncul, seperti biasa pria itu benar-benar hebat memadukan padankan pakaian. Karena mereka akan ke mall yang mana lebih santai, pria itu mengenakan pakaian yang terlihat santai namun enak dipandang.
“Sini gue gendong Rafa.” Fazio adalah satu orang sering julid saat melihat pasangan suami istri sedang berjalan-jalan namun melihat sang istri membawa bayi. Tidak masalah jika bayinya memang ingin bersama ibunya tapi jika itu karena sang ayah malas, dia benar-benar membencinya.
Mereka memesan taksi online dan segera pergi menuju Mall. Itu tidak jauh dari apartemen milik Fazio dan disana juga terkenal lengkap.
“Kita pergi ke mana dulu?” tanya Fazio ketika mereka sudah sampai.
“Cari perlengkapan Rafa dulu, Mas.” Fazio yang melihat bola mata berbinar Sahara sudah menduga bahwa dia nanti harus merogoh kantong yang dalam.
Pasangan suami istri itu segera pergi ke toko pakaian bayi, Fazio biasanya tidak tertarik dengan anak kecil kecuali keponakannya. Dia pernah menemani kakak iparnya untuk berbelanja pakaian bayi namun karena dia menunggu diluar, dia tidak tahu bahwa itu sangat seru.
Pada akhirnya Fazio yang kalap membeli baju bayi sedangkan Sahara hanya menggelengkan kepalanya. Dia sedikit curiga jika penolakan Rafa pada awalnya hanya tipuan Fazio.
Setelah selesai berbelanja, mereka pergi ke restoran ramen. Fazio yang mengusulkan ini karena dia tiba-tiba ingin makanan yang berasal dari Jepang itu.
Di pintu masuk, mereka dikejutkan dengan seseorang yang memanggil Sahara. “Ini sahara kan?” tanya seorang wanita dengan rambut panjang bergelombang. Digendongannya ada anak laki-laki yang nampak tidak nyaman karena terganggu sebab ibunya berlari.
“Mita kan?” tebak Sahara yang dijawab anggukan wanita itu.
“Untung aja dulu kita temanan banget, jadi aku ngeh kalo itu kamu. Aku pikir tadi ada orang Arab yang kesini,” ujar wanita itu tertawa melihat penampilan Sahara.
“Ini suami kamu kan? Kok glowing banget sih? Aku aja yang cewek kalah saing,” gelak Mita lagi. “Ini suami aku, walaupun enggak glowing tapi dia pekerja keras banget.”
Fazio dan Sahara yang mendengar itu sontak saling pandang dan bersamaan mendesah. Fazio jadi menyesal pergi ke restoran ini hingga pada akhirnya melihat manusia dengan bentukan seperti Mita.
Untung saja wanita itu tidak meminta makan bersama, kalo tidak mungkin Fazio akan kenyang lebih dulu.
“Keren banget teman lo,” sindir Fazio membuat Sahara manyun dari balik cadar. Pria itu segera memasan makanan kerena sudah sangat merasa lapar, pada akhirnya dia memesan banyak menu lainnya. Fazio sengaja memasan meja yang didekat dinding dan membuat Sahara menghadapnya, jadi tidak ada yang melihatnya.
Dipertengahan makan, mereka dikejutkan dengan bayi milik Mita yang menangis keras, membuat pengunjung lain nampak tidak nyaman. Mita berusaha menenangkan bayinya dengan digendong namun itu cukup sulit.
Mungkin karena terganggu, Rafa yang sedang tidur ikut menangis. Sahara ingin menghentikan makannya dan menggendong Rafa namun Fazio lebih dulu berdiri untuk menenangkannya.
“Lo makan dulu, nanti baru gantian,” ujar Fazio membuat Sahara tertegun, dia tiba-tiba membandingkan suaminya dengan suami Mita yang asik makan sambil main ponsel. Sahara merasa sangat bersyukur.
“Tapi nanti enggak panas lagi, Mas.” Sahara ingin lebih dulu menjaga Rafa agar Fazio bisa makan selagi hangat.
“Bagus malah, lihat bibir gue jadi dower karena ramennya panas dan pedas.” Fazio meringis, mengambil ochanya untuk diminum.
“Mas Fazio jadi tambah ganteng waktu lagi gendong Rafa,” ujar Sahara jujur membuat Fazio yang mendengarnya tertawa.
Sahara awalnya sempat ragu ingin membesarkan Rafa, dia berpikir jika mungkin hanya dirinya sendiri yang akan merawat bayi itu karena diawal Fazio sangat menentangnya. Tapi, setelah melihat bagaimana perlakuan Fazio, dia mengerti jika seseorang butuh waktu untuk beradaptasi. Semuanya tidak bisa tiba-tiba, semuanya butuh proses.
Sahara yang memikirkan itu rasanya ingin bertanya apakah dia sudah diterima dikebidupan Fazio atau belum.