Part 15

1196 Kata
“Oeekk… oeekk…” “Oekkk… oekkkk…” Fazio mendengus kecil, dia tidak ingat mengganti nada alarmnya dengan suara tangis bayi. Lelaki itu berusaha untuk tidur lagi namun rasanya sangat sulit karena seolah bayi itu menangis tepat di samping telinganya. Pria itu akhirnya membuka kelopak matanya, menatap ke arah langit-langit. Dia pikir suara itu hanya khayalannya saja tapi ketika melihat seorang bayi di sampingnya, kantuk Fazio langsung lenyap. Pria itu memang sudah menikah tapi dia merasa belum melakukan hal yang menjurus pada pembuatan bayi, jadi dari mana bayi itu berasal? Fazio menyentuh kepala bayi itu dengan jarinya, takut jika itu bukan bayi asli melainkan bayi jadi-jadian. Tapi, itu benar-benar bayi sungguhan, Zio masih merasakan ubun-ubunnya! Barulah ketika beberapa menit, Fazio sadar jika ini bayi yang mereka temukan kemarin malam. “Sahara? Saharaaa? Lo dimanaaa?” panggil Fazio. Tapi tidak ada sahutan apapun membuat Fazio kebingungan, dia menjadi tidak tega saat melihat bayi itu terus menangis. Pada akhirnya pria itu membawa bayi itu ke dalam gendongannya. Untung ingatan pria itu masih baik, dia masih ingat cara menggendong yang tepat. “Si sabrina kemana sih? Apa jangan-jangan dia kabur,” omel Fazio tapi membuat bayi laki-laki itu tertawa. Bayi itu mungkin sedang mengira jika Fazio sedang menghiburnya. Fazio yang merasa lapar membawa bayi itu ke dapur, dia ingin membuat oatmeal tapi mengingat ada bayi di gendongannya, dia menyerah. Dia hanya minum satu gelas air putih lalu kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa. Pruttt… Fazio membulatkan matanya ketika mendengar bayi itu buang angin, tidak lama disusul bau yang cukup kuat. “Lo pup?” Bayi itu tertawa tidak bersalah sedangkan Fazio rasanya ingin mengubur dirinya sendiri. Clek! Pintu apartemen tiba-tiba terbuka, menampilkan Sahara yang terlihat sedang terburu-buru. Dia hampir pergi ke kamar mereka untuk melihat bayi yang ditemukannya semalam tapi segera sadar jika Fazio sedang menggendongnya. “Lo kemana aja? Dia buang air besar, nih.” Fazio yang tidak tahan segera memberikannya, membuat Sahara tertawa melihat kelucuaan suaminya. Gadis itu tanpa menunggu lagi langsung membersihkan si bayi dan menggantinya dengan popok baru. “Lo darimana sih?” tanya Fazio melirik belanjaan wanita tersebut. “Dari minimarket bawah, Mas. s**u bayi ini enggak banyak lagi, jadi Sahara beli dulu deh,” jelas Sahara mencium puncak kepala si bayi membuat Fazio mengangguk saja. “Omong-omong, Mas. Kayaknya enggak enak manggilnya bayi-bayi aja, gimana kalo kita kasih nama?” tanya Sahara menoleh ke arah Fazio yang baru saja kembali dari dapur dengan segelas oatmeal dengan potongan buah. “Ngapain dikasih nama? Sore nanti kita antar aja ke kantor polisi, beres,” jelas Fazio namun berbeda dengan Sahara yang rasanya sudah terikat dengan bayi ini. Tidak mendengar balasan Sahara, Fazio menoleh dan mendapati jika gadis itu tidak berbicara apapun dan hanya menatap ke arah sendu ke arah si bayi. “Sahara, jangan bilang kalo lo mau rawat bayi itu?” “Kalo emang iya gimana, Mas?” tanya Sahara yang tidak bisa menutupi perasaannya. “Orang tua kandungnya aja gak mau rawat bayi itu, ngapain kita?” tanya Fazio yang sangat kejam tapi Sahara tahu idenya akan sangat ditentang. “Kita bicara nanti aja, Mas,” balas Sahara yang tidak mau mau terbawa emosi. Gadis itu segara membawa bayi itu untuk mandi karena hari sudah cukup siang. Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian baru, Sahara segera membuat s**u untuk bayi itu yang mulai merengek. Dia memberikan s**u itu sambil melirik Fazio yang sedang sibuk dengan ponsep dan tabnya, sesekali berbicara dengan orang di telpon membicarakan jadwal rias. “Udah kenyang ya sayang.” Sahara tertawa, mencium pipi gembul sang bayi. Sahara ingin menidurkan bayi itu tapi nampaknya akan sulit karena bola mata bayi itu sangat cerah. Melihat Fazio telah selesai dan hanya menonton televisi, Sahara mencoba untuk menitipikan sang bayi. Gadis itu ingin sekali mandi karena merasa tubuhnya sudah lengket. “Mas Zio udah selesai kerjanya?” tanya Sahara. “Hem,” angguk Fazio. “Boleh nitip adek enggak, Mas?” tanya Sahara takut-takut. “Adek?” tanya Fazio menggerutkan dahinya. “Iya, panggilannya adek aja daripada bayi-bayi,” jawab Sahara lucu. “Titip bentar ya, Mas. Sahara pengen mandi.” Fazio ingin menolak tapi melihat wajah wanita itu yang memelas, belum lagi pakaian Sahara yang sudah acak-acakan dan ada bekas muntahan s**u, membuatnya tidak tega untuk menolak. “30 menit aja,” tutur Fazio. “15 menit udah selasai kok, Mas. Soalnya Sahara mandinya enggak selama Mas Fazio,” ejek gadis itu lalu tertawa, meninggalkan Fazio yang berdecak mendengarnya. Tapi apa cukup mandi hanya 15 menit? Fazio merasa bengongnya saja sudah 10 menit. Pria itu kembali menonton televisi tapi tidak ada hal yang menarik namun berhenti di channel yang menampilkan kartun. “Lo nonton itu aja,” ucap Fazio pada si bayi. Ting nong! Ting nong! “Yaelah sabar kali,” decak Fazio berjalan perlahan, dia tidak mungkin berlari karena membawa bayi. Clek! “Assalamualaikum—astaga itu anak siapa?!” seru Rita—ibu kandung Sahara. “Zio, itu anak kamu sama selingkuhan kamu ya?!” Fazio yang mendengar itu tentu saja terkejut, dia ingin berteriak balik jika dia masih perjaka. Tapi tentu saja tidak mungkin karena dua orang di depannya adalah mertuanya. “Umi, Abi, masuk dulu nanti dijelasin.” “Enggak usah jelas-jelasin, sekarang dimana Sahara? Kamu pasti usir anak saya kan dan bawa selingkuhan kamu kesini?!” omel Rita lagi namun segera ditenangkan oleh Pak Ahmad. “Umi? Abi?” tanya Sahara kaget saat melihat orang tuanya, gadis itu baru saja selesai menyiapkan bajunya dan hendak mandi tapi mendengar ribut-ribut dia memutuskan untuk keluar. “Sahara, ini anak siapa? Apa ini anak selingkuhan Fazio?” tuduh Rita pada putri sulungnya. “Bukan, Mi. Ini bukan anak selingkuhannya Mas Fazio. Tapi ini anak yang kami temuin,” jelas Sahara sedangkan Fazio menatap Rita seolah mengatakan ‘tuh dengerin!’ “Anak yang kalian temuin?” tanya Rita bingung. “Abi sama Umi ayo masuk dulu, biar Sahara jelasin.” Sahara mengajak orang tuanya masuk, dia ingin membuat minum tapi Rita tidak bisa menunggu lebih lama lagi sehingga gadis itu segera menjelaskannya. “Umi lain kali ditanya dulu, jangan asal nuduh,” nasehat Ahmad pada istrinya. “Sekarang minta maaf sama Fazio, kasihan menantu Abi dituduh enggak benar.” “Maafin Umi ya, Zio. Umi kaget banget soalnya kamu gendong anak,” jelas Rita yang diangguki Fazio. “Jadi bayi ini bakal dikasih ke kantor polisikan hari ini?” tanya Rita yang sedang memastikan. “Sahara kayaknya mau rawat bayi ini, Umi,” adu Fazio membuat Rita menatap putrinya dengan heran. “Benar, Sahara?” tanya Rita yang diangguki Sahara. Wanita tua itu menarik nafasnya panjang. “Umi tahu kalo kamu suka sama anak-anak tapi kan nanti kamu punya anak sendiri? Umi minta kamu serahin aja bayinya.” Sahara yang tidak memiliki pendukung hanya bisa pasrah, wanita itu lalu menitipkan si bayi kepada orang tuanya dan pergi mandi. “Sahara, lo mau banget rawat bayi itu?” tanya Fazio yang memasuki kamar mereka. “Sahara mau banget, Mas. Tapi kayaknga enggak mungkin,” lirih Sahara. “Gue juga mau asalkan ada syaratnya,” tutur Fazio tiba-tiba. “Apa, Mas?” tanya Sahara yang terkejut, gadis itu kini tersenyum lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN