“Jadi ini bukan anak kalian?”
Fazio yang mendengar hal itu lagi rasanya ingin menjambak rambutnya tapi ketika mengingat dia telah menghabiskan banyak uang untuk rambutnya, dia berakhir dengan menghembuskan nafas yang sangat panjang.
Pria itu sudah berkali-kali mengatakan kepada polisi itu jika bayi itu bukanlah anak mereka, melainkan mereka dijebak dengan dalih menitipkan si bayi. “Bukan, Pak. Itu bayi orang lain. Ceritanya itu saya sama istri saya mau balik ke apartemen terus tiba-tiba di lantai unit kami, ada wanita yang nitipin bayi ini ke kita dengan alasan kalo dia tinggal di lantai itu juga dan harus ke rumah sakit.”
“Jadi ini bayinya dititipin sama kalian atau dibuang?” tanya polisi itu lagi membuat Fazio menghela nafasnya. Dia padahal sudah menjelaskan jika wanita dari ibu si bayi juga salah menyebukan nomor unit apartemennya.
“Karena ini belum pasti bayinya emang sengaja ditinggal atau dititipin, kalian balik aja besok kesini lagi untuk bikin laporan,” ujar polisi itu sambil menyesap kopinya. “Akhir-akhir ini banyak kasus pasangan nemu anak bayi, waktu dicari tahu ternyata anak mereka sendiri yang lahir diluar pernikahan dan malu.”
“Jadi kami harus bawa bayinya dulu, Pak?” tanya Fazio yang tidak puas.
“Iya, kalo bayinya ditinggal disini, kasihan. Hari ini udah malam.”
Fazio menjatuhkan tubuhnya ke kursi dan menoleh melihat ke arah Sahara yang sedang memberi s**u kepada bayi itu menggunakan botol s**u, untungnya benda itu ada di tas kecil yang diberikan ibu si bayi pada mereka. Dia segera bangkit dan tak lupa mengucapkan terima kasih, berjalan menuju ke adah Sahara yang telihat sangat telaten menggendong si bayi.
“Kita disuruh bikin laporan 24 jam lagi, terpaksa kita bawa si bayinya ke apartemen dulu,” berita tahu Fazio sambil melihat ke arah Sahara yang entah kenapa terlihat baik-baik saja, malah gadis itu terlihat sangat senang.
“Jadi kita bawa bayinya ke rumah, Mas?” tanya Sahara yang tidak bisa menutupi nada suaranya yang terdengar bersemangat.
“Lo kok senang banget itu si bayi kita bawa?” tanya Fazio membuka pintu kantor polisi dan membiarkan Sahara keluar lebih dulu. Gadis itu menggendong si bayi, jadi tidak mungkin membuka pintu sendiri.
“Eum… soalnya Sahara senang, Mas. Apalagi bayinya lucu,” ujar gadis itu membuat Fazio melirik si bayi dan merasa sama saja seperti bayi-bayi lain. Omong-omong, mereka belum tahu bayi berjenis kelamin apa karena menggubakan pakaian netral.
“Lucu? Lucu dari mananya?” tanya Fazio sambil memesan taksi online. “Kita enggak tahu bayi itu asalnya darimana, orang tuanya siapa, gimana kalo bayi itu juga hasil penculikan atau yang paling parah lagi, orang tua bayi itu pembunuh berantai?” Fazio terus mengatakan hal buruk, dia tidak melihat Sahara yang terlihat sangat sedih. “Apalagi kalo bayi itu punya penyakit menula—-
“Udah, Mas Zio, cukup!” seru Sahara dengan nada yang paling kencang ia gunakan selama bersama Fazio, membuat pria itu sedikit terkejut. “Anak ini masih kecil, Mas. Masih suci, Mas Fazio kok tega banget ngomongnya.”
Bola mata Sahara terlihat berkaca-kaca, dia merasa kata-kata Fazio sangatlah buruk. Untung saja taksi online yang dipesan sudah sampai, sehingga Sahara langsung masuk tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Fazio sedikit merasa bersalah tapi di tetap merasa khawatir dengan identitas si bayi, lagi pula dia merasa heran, bukankah mereka tidak mengenak bayi itu, kenapa Sahara menganggapnya penting? Selama perjalanan menuju apartemen, mereka tidak berbicara apapun dan hanya diam.
Sopir taksi yang membawa mereka juga ikut diam, tidak berani bertanya karena aura di dalam mobil cukup mencekap.
Sesampainya di apartemen pun, Sahara langsung naik ke lantai unit mereka tanpa menungg Fazio yang sedang menunggu kembalian dari supir taksi. Ketika pria itu ingin mengejar istrinya, Sahara sudah lebih dulu masuk ke dalam lift.
Ting!
Ketika pintu lift terbuka, Sahara buru-buru masuk ke dalam apartemen tanpa mempedulikan Fazio yang membuatnya kesal, dia juga takut bayi yang dia bawa kedinginan karena angin malam yang cukup kencang.
“Enggak papa, kamu aman sama ibu,” turur Sahara dengan lembut ketika si bayi merengek saat dia membuka selimut tebal yang menbungkus si bayi agar tetap hangat. Bayi itu seolah mengerti dia aman dan menatap Sahara dengan wajah polosnya.
Sahara meletakan bayi itu di atas kasur dengan perlahan ke atas kasur karena dia ingin mengganti pakaiannya lebih dulu dengan daster yang lebih adem tapi ketika baru beberapa detik dia meninggalkan si bayi, tangis yang memecah suasana sunyi apartemen terdengar.
Sahara yang mendengar itu buru-buru mengenakan dasternya, dia sama sekali tidak marah mamun malah tersenyum ketika mengambil si bayi. Apakah seperti ini rasanya nikmat saat memiliki bayi, dimana bayi itu akan menangis ketika sang ibu meninggalkanmya.
Tapi, bayi itu masih menangis walau sudah digendong, membuat Sahara berpikir bayi itu mungkin lapar atau popoknya sudah penuh. Sahara ragu jika bayi itu lapar karena baru saja menghabiskan satu botol s**u penuh. Jadi kemungkinan popok si bayi telah penuh dan membuatnya tidak nyaman. Benar saja, Sahara merasakan itu cukup tebal.
Ketika gadis itu ingin membaringkan si bayi, Sahara tiba-tiba mengingat sesuatu, tidak ada popok di tas kecil itu. Sahara merutuki dirinya sendiri yang sampai lupa untuk membeli popok. Dia ragu apakah minimarket masih buka saat hari sudah menujukan pukul tengah malam?
Apa dia harus meminta Fazio? Tapi mengingat perkataan pria itu saat mereka menunggu taksi online, sudah jelas pria itu pasti tidak mau.
Ditengah kebingungannya, tiba-tiba Fazio yang tadi Sahara ditinggal masuk dengan menenteng popok dengan ukuran jumbo dan satu plastik lain yang berisi pakaian serta s**u. “Nih, popok sama bajunya, cuman itu yang ada di minimarket bawah. Gue enggak tahu ukuran popoknya jadi asal beli aja.”
Sahara yang melihat belanjaan itu terdiam, dia yang sejak awal menyukai bayi itu namum malah melupakan hal yang penting sedangkan Fazio yang mengatakan hal-hal buruk malah mengingat apa saja yang dibutuhkan bayi.
“Makasih, Mas,” cicit Sahara yang diangguki Fazio. Gadis itu bergegas meletakan si bayi di atas kasur yang sudah diberi lebih dulu diberi alas.
Fazio yang sedang mengganti pakaiannya, diam-diam mencuri pandangan ke arah si bayi. Tapi ketika melihat popok bayi itu penuh kotoran, pria itu tiba-tiba ingin muntah. “Huek…”
Sahara yang melihat itu tertawa geli, dia memasukan popok itu ke plastik dan memberikannya pada Fazio yang membuat pria itu berteriak. “Sahara, jauhin itu dari gue. Gilaa lo!” sahut Fazio histeris yang membuat gadis itu malah terkekeh.
“Ini udah dibungkus kok, Mas. Tolong buangin!” Fazio berdecak dan mengambil plastik itu dengan ujung jarinya, tidak lupa pria itu juga menutup hidungnya.
“Udah selesai?” tanya Fazio saat kembali masuk ke kamar.
“Udah, Mas,” angguk Sahara membawa bayi itu ke dalam pelukannya. “Sekarang aku udah ganteng lho, om,” ucap Sahara menirukan suara anak kecil, membuat Zio mengerutkan dahinya. “Emang dia laki?”
“Iya, Mas. Kira-kira namanya siapa ya?” tanya Sahara yang lupa bertanya pada ibu si bayi.
“Lo tanya aja nanti kalo si ibu bayi itu balik,” ujar Fazio yang tidak terlalu peduli. Toh, bayi itu akan pergi dari rumahnya besok.
Karena dia sangat lelah, Fazio buru-buru mandi dan ingin segera merebahkan tubuhya di atas kasur yang empuk. Selesai mandi dan berpakaian, Fazio tidak menemukan Sahara di kamar. Gadis itu mungkin membawa si bayi keluar dari kamar.
Fazio baru saja hendak memejamkan matanya dan menarik selimut saat bayi itu tiba-tiba menangis. Awalnya dia mencoba untuk tidak peduli tapi tangisan itu benar-benar menganggunya.
“Duh, dek, udah dong nangisnya. Nanti Om Zio ngomel,” bisik Sahara kepada si bayi yang kebetulan di dengar Fazio.
“Bayinya kok nangis terus?” tanya Fazio. “Gue enggak bisa tidur, nih.”
“Enggak tahu, Mas,” Sahara terkejut ketika Fazio muncul. Gadis itu sudah mencoba untuk memberikan s**u tapi bayi itu tidak mau dan juga dia telah memeriksa popok namun itu masih bersih.
Fazio yang melihat Sahara sedikit khawatir, gadis itu terlihat kelelahan sekaligus panik. Dia menghela nafasnya panjang dan berpikir untuk membantu. “Sini coba gue gendong.”
Sahara yang mendengar itu terkejut namun dia segera memberikan bayi itu kepada Zio yang tubuhnya sangat kaku. “Kayak gini, mas,” ujar Sahara membenarkan Fazio mengendong.
“Ya ampun susah, pantas banyak yang mau childfree,” desis Fazio, padahal menggendong hanya salah satu hal dari beribu hal lainnya mengurus anak.
“Lo diem enggak? Kalo enggak diem, gue gigit nih pipi bakpau,” ancam Fazio dengan wajah jutek. Mungki si bayi berpikir Fazio menggodanya dan tiba-tiba tertawa, membuat kedua pasangan suami isteri itu terkejut.
“Lucu banget ketawanya,” girang Sahara yang ikut tertawa. Fazio yang melihatnya dari dekat juga ikut mengakui itu lucu namun dia berasa sedikit familiar dengan wajah si bayi. Kenapa itu sangat mirip dengan seseorang yang telah pergi lama dari hidupnya?
Tapi, itu tidak lebih penting daripada Sahara yang tiba-tiba meminta sesuatu. “Mas Zio, tolong gendongin sampai tidur ya, Mas.”
“Apaa?” tanya Fazio yang jadinya menyesal karena ingin membantu.