Part 13

1122 Kata
“Karena Papa dan Mama maunya lo yang nikah sama Sahara!” ungkap Dirga akhirnya sambil menunjuk ke arah Zio. “Kenapa gue?” tanya Fazio yang tidak mengerti. “Kenapa lo pura-pura enggak ngerti? Bukannya setiap sesuatu yang terbaik pasti itu dikasoh sama lo!” seru Dirga lagi yang tidak bisa memendam amarahnya. Pria itu awalnya orang yang paling pintar memendam apapun, dia akan menyimpanya seorang diri dan begitu cara dia menyelesaikannya. Tapi, jika itu tentang masalah hati, Dirga merasa dia tidak bisa hanya memendamnya. Apalagi dia harus berhadapan dengan Fazio yang menurutnya tidak mengerti apa-apa. “Karena Mama ngerasa bersalah jadi orang ketiga di hubungan Papa dan ibu lo. Mama selalu berusaha lo dapetin sesuatu yang baik, bahkan lebih dari yang anak-anak kandungnya punya,” jelas Dirga lagi. Dulu hampir tiap hari, Dirga selalu memergoki ibunya termenung saat melihat foto pernikahannya. Dia sangat tahu bahwa ibunya merasa bersalah dan setiap kali nama Fazio tersebut, ibunya juga akan terlihat merasa bersalah. Dirga merasa itu tidak adil untuk ibunya, pernikahan mereka jelas karena perjodohan orang tua. Namun karena menjadi pihak ketiga, ibunya akan selalu dibenci. Dirga tidak tahu sepahit apa hari yang dijalani ibunya. Pria itu pernah sekali membayangkan jika ibunya bukan orang ketiga, apakah mereka akan bahagia? Namun untuk apa membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi. Karena tahu semua derita ibunya, Dirga ikut berubah dengan memberi segala sesuatu yang terbaik untuk Fazio. Tapi, ketika mendengar bahwa Sahara akan dijodohkan dengan Fazio, untuk pertama kalinya pria itu memberontak. Tapi lagi-lagi hanya dia yang tahu bahwa dia sangat terluka. Gadis yang pertama kali membuat dadanya berdebar tapo malah menikah dengan saudaranya sendiri. “Dari kecil, apapun yang terbaik pasti dikasih sama lo. Gue enggak pernah marah, karena lo gue juga udah anggap sebagai saudara. Tapi, Sahara beda, Yo. Gue jatuh cinta sama dia dan gue enggk terima lo nikah sama dia.” “Tapi, lagi-lagi rasa bersalah Mama bikin gue enggak berani untuk nolak pernikahan kalian.“ Setelah mengatakan hal itu, Dirga pergi meninggalkan Fazio yang masih membeku. Pria itu tanpa sadar mengingat masa kecilnya setelah kepergian ibunya. Dia tanpa sadar membuat hati anak-anak Sarah terluka. Dia memang menyadari bahkan Sarah lebih terlihat peduli padanya daripada anak-anaknya sendiri. Tapi, Fazio merasa itu adalah cara untuk wanita itu untuk mengambil hatinya. Setelah dia jatuh, wanita itu akan mengabaikannya. Ting! “Mas Fazio?!” seru seorang wanita membuat Fazio terkejut. “Sahara? Lo ngapain?” tanya Fazio yang mengingat dari perkataan Dirga jika wanita ini menunggu kepulangannya. “Sahara nungguin Mas Zio. Awalnya tadi nungguin di apartemen tapi pengennya nunggu disini aja biar tahu Mas Zio pulang,” jawab Sahara sambil tersenyum walau tidak terlihat karena cadar yang dia kenakan. Wanita itu merasa lega jika suaminya telah pulang dalam keadaan sehat. Fazio mengangguk namun ketika melihat pakaian Sahara, dia lupa jika dia sudah menjanjikan bahwa mereka akan pergi. “Kita enggak jadi pergi karena gue, maaf ya.” “Enggak papa kok, Mas, Sahara bisa ngerti,” angguk Sahara tidak marah. Bukankah masih ada hari esok? Fazio bisa sedikit mengerti kenapa Dirga bisa jatuh cinta pada Sahara. Siapa yang memangnya tidak menginginkan isteri baik dan pengertian seperti ini? Entah apa yang dilakukan Fazio dikehidupan sebelumnya sehingga dia seberuntung ini. “Lo udah makan? Temenin gue ke mini market bentar yuk?” ajak Fazio. Kebetulan dia juga lapar karena tidak sempat makan malam. Sahara mengangguk dengan senang. Minimarket itu berada dibawah lantai apartemen. Karena apartemen itu cukup mewah, minimarketnya pun lengkap. Fazio membeli dua mie cup dan tidak lupa membeli bakso ikan dan odeng, sedangkan Sahara tiba-tiba menginginkan sosis bakar. Pria itu juga mengambil dua kotak s**u pisang dan satu air mineral. “Kita makan disini aja, lo enggak papa kan?” tanya Fazio yang ingin duduk di minimarket. Untungnya ada banyak meja yang kosong. “Enggak papa, Mas,” angguk Sahara, memang cukup susah makan dengan cadar namun wanita itu sudah terbiasa melakukannya. “Huahhh…” Fazio berseru karena langsung melahap mienya saat masih dalam panas dan membuat Sahara panik dan buru-buru memberikan air minum. “Gue lapar banget,” ringis Fazio setelah merasa reda, pria itu ganti dengan menggigit odeng. “Tadi Mama sama Mas Dirga ke kesini, Mas. Mama mau ngajakin bakar-bakar akhir minggu nanti,” ucap Sahara memberi tahu. “Oh iya?” tanya Fazio pura-pura tidak tahu. “Mama sama Dirga lama di apartemen?” “Enggak, karena keburu udah malam,” jawab Sahara dijawab anggukan oleh Fazio. Setelah menghabiskan belanjaan mereka, Fazio kembali ke apartemen bersama Sahara. Pria itu tidak lupa membeli beberapa cemilan di minimarket karena yakin stok makanan ringannya telah habis. Apalagi ketika mengingat Sahara juga cukup menyukai makanan ringan. Ketika hampir sampai di unit apartemen mereka, seorang wanita yang masih cukup muda tiba-tiba menghadang keduanya yang membuat Fazio hampir jantunganya. Pasanya wanita muda itu terlihat begitu acak-acakan dengan rambut yang hampir menutupi sebagian wajahnya. “Mas, Mbak, saya boleh minta tolong enggak?” tanya perempuan muda itu terlihat panik. “Minta tolong apa, Mbak?” tanya Sahara cepat. “Saya boleh nitip anak saya untuk malam ini enggak? Saya baru dapat kabar dari Rumah Sakit kalo suami saya baru aja kecelakaan dan sekarang belum sadarkan diri. Saya mau nyusul tapi enggak mungkin bawa bayi,” jelas wanita itu suara gemetar membuat Sahara tentu saja tidak tega mendengarnya. Wanta di depannya mungkin saat ini merasa takut dan juga panik. “Boleh, Mbak,” angguk Sahara lalu segera mengambil alih bayi itu kepelukannya. Bayi berjenis kelamin perempuan itu terlihat tenang karena sedang tertidur. “Kalo begitu saya pergi dulu ya, Mas, Mbak,” pamit si perempuan terlihat terburu-buru. “Eh, tunggu bentar, mbak. Kalo boleh tahu Mbaknya tinggal di lantai ini juga? Nomor berapa?” tanya Fazio. Dia takut jika wanita itu mungkin adalah seorang penculik bayi yang hampir tertengkap dan hendak membuang bukti. “Saya di lantai ini juga kok, Mas. Nomor 302,” jawab perempuan itu lalu Fazio mengangguk. “Lo kok mau sih iyain aja? Kita enggak kenal lho,” ujar Fazio saat mereka kembali berjalan menuju unit apartemen dengan Sahara yang menggendong bayi asing ituz. “Kasihan, Mas. Sahara yakin kayaknya mereka nikah muda terus enggak ada keluarga disini,” tutur Sahara, dia tiba-tiba membayangkan dirinya di posisi perempuan tersebut. “Yaudah, lagi pula bayinya udah sama ki—“ Fazio tiba-tiba membeku ketika mengingat sesuatu. “Sahara, berapa nomor apartemen ibu bayi ini tadi?” tanya Fazio yang jantungnya sudah berdebar. “302, Mas. Emangnya kenapa?” tanya Sahara bingung. “Gawat, kita harus lapor polisi sekarang!” seru Fazio membuat Sahara panik. “Emangnya kenapa sih, Mas?” tanya Sahara lagi. “302 itu nomor apartemen kita!” seru Fazio membuat Sahara yang mendengarnya ikut terkejut. “Wanita itu pasti asal nyebut!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN