“Mas Fazio kok belum pulang juga ya?” tanya Sahara, wanita itu berulang kali melirik ke arah jam dan pintu apartemen, berharap pintu itu akan terbuka bersamaan pulang sosok sang sangat dia tunggu—suaminya.
“Apa jangan-jangan Mas Fazio kena masalah?” gelisah Sahara terlihat semakin resah karena sudah hampir jam 10 namun Fazio juga belum kembali. Tidak apa sebenarnya pria pulang telat, bahkan tidan pulang namun setidaknya mengangkat panggilan atau membalas pesannya sehingga Sahara tidak memikirkan yang macam-macam.
Di saat kebingungan seperti ini, Sahara tidak tahu harus melakukan apa. Jika dia ingin menyusul Fazio, kemana dia akan pergi dan apa ada angkutan umum sekarang?
Andai saja pagi tadi Sahara sempat meminta nomor ponsel Acha, dia mungkin tahu keberadaan suaminya sekarang walau gadis itu tidak bersama Fazio lagi.
Ting nong!
Ketika mendengar suara bel yang ditekan, Sahara buru-buru keluar untuk membukanya. “Mas Fazio?!”
“Sahara?”
“Ma—mama Arumi?” sapa Sahara ketika melihat Arumi dan Dirga, bukannya Fazio. Gadis itu meringis dan memikirkan kebodohannya, jika Fazio kembali pasti pria itu tidak akan memencet bel.
“Kamu tadi manggil Zio, apa Zio enggak ada di rumah?” tanya Arumi melihat ke arah menantunya.
“Iya, Ma,” angguk Sahara pelan. “Tapi ayo kita masuk dulu, Ma. Enggak enak ngomong diluar, Mas Dirga juga masuk,” ajak wanita itu pada mertua dan kakak iparnya.
“Mama sama Kak Dirga mau dibuatin apa?” tanya Sahara ketika keduanya duduk di sofa.
“Enggak perlu, Mama sama Dirga cuman sebentar aja kok, soalnya tadi udah malam waktu pulang acara,” jawab Arumi, wanita itu dan anggota keluarga yang lain memang baru menghadari sebuah acara dari teman. “Papa sama Barga aja dibawah, katanya mau ke minimarket sebentar.”
Dirga yang sejak tadi diam, memperhatikan ruang tamu apartemen yang sedang ini. Fokus pria itu akhirnya tertuju ke arah banyaknya bingkai yang berisi foto-foto Sahara dan Fazio. Ekpresi wajahnya tiba-tiba berubah semakin tidak enak.
“Ah, foto kalian lucu-lucu banget, Mama jadi nyesal kemaren kenapa enggak foto setelah pernikahan,” sesal Arumi, selain itu dia juga bisa meminta sesi foto keluarga bersama Fazio yang sangat dia inginkan. “Dirga, coba kamu pose kayak Zio gini, pasti gan—“ Arumi menghentikan ucapannya saat baru saja ingin meminta putranya meniru pose itu namun melihat wajah wajah putranya yang sangat datar.
Ada apa dengan putra keduanya itu?
“Jadi beneran Zio belum pulang semalam ini?” tanya Arumi setelah meletakan bingkai foto itu kembali ke tempatnya. Wanita itu juga sedikit cemas, walaupun Zio sudah dewasa bahkan sudah menikah, dia tetap mengkhawatirkannya seperti putra kandungnya yang lain.
“Mas Zio kayaknya emang lagi banyak kerjaan, Ma. Jadi agak telat pulangnya.”
“Tapi kamu pake baju bagus, apa kalian mau pergi?” tanya Arumi membuat Sahara menunduk dan melihat gaun bewarna marun yang dia kenakan. Wanita itu sedikit meringis, dia awalnya sangat senang karena Fazio akan mengajaknya berjalan-jalan lagi sehingga langsung bersiap-siap.
Tapi ketika suaminya juga belum pulang, Sahara tidak lagi memikirkan hal itu. Dipikiran gadis itu sekarang tentang keadaan Fazio yang sedang mencari nafkah diluar sana.
“Iya, Ma. Tapi kayaknya Mas Fazio benar-benar punya banyak kerjaan,” jawab Sahara tersenyum dibalik cadarnya. “Mama sama Mas Dirga ada apa kesini?
“Oh iya, Mama sampai lupa. Minggu nanti Mama mau andain acara bakar-bakar di rumah, Sahara sama Zio harus datang dan nginap ya. Kan belum pernah ya kan?” Arumi tersenyum antusias, wanita itu sebenarnya sedikit kesal karena dia tidak memiliki anak perempuan dan hanya memiliki anak laki-laki yang nakal, apalagi putra bungsunya yang sangat sulit dibicarakan.
Tapi sekarang dia punya tambahan satu menantu perempuan yang akan membuat obrolan para perempun akan menjadi seru.
“Pasti seru, Ma! Nanti Sahara sampain sama Mas Zio,” angguk Sahara yang juga antusias tapi rautnya sedikit berubah karena Fazio yang juga belum kembali.
“Mama tungguin kamu disini ya, kasian kalo kamu sendirian,” tutur Arumi yang langsung disambut gelengan oleh Sahara. Gadis itu tidak ingin membuat mertuanya repot, apalagi hari sudah malam.
“Enggak usah, Ma. Sahara bisa sendiri kok, Mama sama Mas Dirga pulang aja. Pasti Papa sama Barga udah nungguin di bawah,” tolak Sahara halus.
“Tapi—-“
“Biar Dirga aja yang nemenin Sahara, Ma,” sahut Dirga yang akhirnya membuka suara namun membuat Arumi langsung memukul bahunya. “Walaupun kamu iparnya tapi gak bagus berduaan,” protes Arumi.
“Siapa yang bilang kami berduaan? Dirga bakal tungguin di depan pintu, nanti Sahara kunci aja dari dalam.” Sahara yang mendengar itu tertegun, begitu juga dengan Arumi yang merasa ada yang tidak beres dengan putra keduanya.
Arumi tidak mau memikirkannya tapi dia merasa jika Dirga mungkin menyukai Sahara. Semoga saja pikirannya tidak benar, jika itu benar maka keluarganya mungkin sekali lagi hancur.
“Enggak usah, Mas Dirga. Sahara bisa sendiri kok,” tolak Sahara lagi yang makin keberatan.
“Kalo gitu Sahara istirahat deluan aja, Zio tahu sandi apartemennya kan? Dan Dirga, bukannya kamu besok ada rapat gantiin Papa sama orang penting? tanya Arumi membuat Dirga akhirnya mengangguk.
Setelah berbincang sedikit lagi, Arumi dan Dirga akhirnya memutuskan untuk kembali ke mobil. Diperjalanan menuju lantai bawah, Arumi sedikit resah. “Dirga kamu ada yang tahu temannya Zio gak? Coba hubungin salah satu, Mama enggak tenang kalo Zio belum pulang.” Apalagi anak tirinya itu salelalu menutup hatinya untuknya.
“Dirga gak kenal siapapun teman Zio, Ma,” ujar Dirga membuat Arumi menghembuskan nafasnya panjang. Benar, walaupun umur mereka tidak berbeda jauh namun mereka tidak berteman.
Arumi akhirnya pasrah dan ketika pintu lift terbuka, sosok Zio muncul dengan wajah super lelah dan semakin terlihat malas ketika bertemu dengan Arumi serta Dirga.
“Zio?! Kamu kemana aja!” seru Arumi histeris seperti tidak melihat Zio setehun tanpa kabar. “Sahara udah nungguin kamu? Kenapa enggak kasih kabar?!”
“Ponsel aku kehabisan daya, Ma. Jadi gak bisa ngabarin,” jawab Fazio cepat.
“Mama deluan aja, aku mau bicara sama Zio, sebentar” ucap Dirga tiba-tiba membuat Arumi yang mendengar itu mengangguk kaku. Wanita itu lalu pergi tapi masih melihat ke arah belakang dimana kedua putranya saling berhadapan.
“Apa yang mau lo bilang? Gue capek,” tutur Fazio memaksa Dirga bicara.
“Lo dari mana? Apa lo gak tahu Sahara nungguin lo?” tanya Dirga membuat Fazio mengerutkan dahinya bingung.
“Udah gue bilang kalo batre ponsel gue habis,” ulang Fazio. “Lagi pula kenapa emang kalo Sahara nungguin gue—suaminya pulang? Gue enggak ninggalin dia satu tahun kali.” Fazio menatap kesal ke arah Dirga tapi dia sedikit merasa aneh karena mungkin ini adalah pembicaraan mereka yang bisa dibilang cukup panjang.
“Lo enggak suka sama Sahara kan?” tanya Fazio tiba-tiba tapi dia merasa tidak yakin kalo pria itu akan menjawab serius.
“Kalo gue bilang iya, apa lo marah?”
Fazio yang mendengar itu bukannya marah malah tertawa, dia melihat ekpresi Dirga yang terlihat benar-benar serius. “Apa lo belajar dari ibu lo untuk suka sama pasangan orang lain?”
“Kalo suka Sahara dari awal, kenapa enggak lo nikahin deluan b******n?!” maki Fazio yang sangat kesal.