“Mas Fazio ternyata ganteng juga,” celetuk seorang gadis ketika melihat seorang laki-laki yang berada di foto itu tersenyum dengan lebar. “Untung udah dijadiin suami,” lanjutnya sambil terkekeh konyol.
Sahara kembali meletakan bingkai foto yang baru saja dipasang ke atas meja. Gadis itu lalu tersenyum puas saat melihat hasil kerja kerasnya semalam yang sampai membuatnya begadang untuk memasukan semua fotobox itu ke dalam bingkai yang juga baru dibeli.
Setelah hasil fotobox mereka dicetak, Sahara yang melihat hasilnya cukup bagus langsung mengajak Fazio untuk membeli bingkai foto. Kebetulan saat pernikahan keduanya kemarin, mereka tidak memiliki foto pernikahan yang diambil dari kamera profesional, hanya dari ponsel dan hasilnya pun tidak cukup bagus.
Di dalam semua foto mereka, sosok suaminya nampak sangat sempurna. Jujur saja sosok Fazio memang sangat tampan, tampaknya itu berasal dari ayahnya, tak hanya sebatas itu wajah suaminya juga terlihat lembut yang berasal dari ibunya.
Tapi, tetap saja sesempurnanya manusia, tidak ada yang bisa menandingi sang pencipta. Salah satu kekurangan Fazio yang membuat Sahara sedikit kesal adalah pria itu terlalu sulit untuk dibangunkan. Seperti pagi ini saja, Fazio harusnya sudah bangun sebab pria itu memiliki janji untuk merias seseorang. Dan samalam, pria itu sudah meminta kepada Sahara untuk dibangunkan.
Namun, sudah berbagai cara yang dilakukan Sahara untuk membangunkan Fazio, namun suaminya itu juga belum bangun. Sahara yang sedikit kesal, memilih untuk beristirahat di ruang tamu sebentar sebelum membangunkan Fazio sebentar lagi, setidaknya 20 menit sebelum waktu yang dia janjikan untuk merias orang.
“Mas Fazio, buruan bangun ini sudah hampir jam 9!” seru Sahara yang masuk ke dalam kamqr, wanita itu tentu saja merasa gemas, apakan tidur berjam-jam tidak cukup untuk Fazio?
“Engh… sebentar la—-jam 9?!” kelopak mata pria itu tiba-tiba terbuka sempurna dan seolah ada aliran listrik tinggi di tubuhnya, Fazio sepenuhnya bangun bahkan sampai duduk di atas kasurnya.
“Gue mandi dulu!” seru Fazio lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan sepecat kilat. Sahara yang mendengarnya geleng-geleng kepala, dia tiba-tiba membayangkan saat mereka memiliki anak, apakah Fazio akan membuat putra atau putri mereka telat ke sekolah?
Tapi, sebelum membayangkakan untuk memiliki anak, harusnya mereka melakukan itu dulu kan?!
Sampai saat ini Fazio juga belum menyentuhnya, Sahara tidak tahu apa yang membuat Fazio tidak mau melakukannya, namun karena mereka masih dalam proses pengenalan satu sama lain atau istilah gaunya pacaran halal, Sahara tidak terlalu mempermasalahkannya.
Namun gadis itu sedikit ragu saat kedua orang tua atau mertuanya menanyakan tentang cucu, apa yang harus Sahara katakan? Apa dia harus menjawab jujur jika mereka belum melakukannya?
Ting nong!
“Eh, ada tamu?” Sahara mengerutkan dahinya bingung, siapa yang datang pagi-pagi ini?
Setelah meletakan pakaian suaminya yang dia pilih sendiri, Sahara kembali memakai cadarnya dan segera membuka pintu apartement. Seorang gadis yang masih nampak muda tersenyum lebar ke arahnya seolah sudah tahu sang tuan rumah yang akan membuka pintu namun tidak lama gadis itu terkejut saat melihat sosok Sahara.
“Si—siapa lo? Ngapain lo di apartemen Fazio?” tanya gadis itu terlihat sangat panik.
“Saya isterinya Mas Fazio, kamu siapa?” tanya balik Sahara yang juga terkejut dengan kehadiran Acha, apa gadis itu salah satu teman dekat dari suaminya?
“Tunggu, oh astaga gue baru ingat si bos pelit itu udah nikah,” ingat Acha yang sebenarnya merasa kesal, pasalnya saat Fazio menikah dia sedang berada di luar negeri untuk jalan-jalan bersama pasangannya. Tidak ada badai, tidak ada tsunami, tiba-tiba Fazio yang Acha pikir akan melajang, malah mengirimkannya gambar cicin pernikahan.
Tentu saja Acha yang saat itu berada di restoran luar negeri mengupat dengan segela jenis hewan yang ada di kebun binatang, untung saja dia berada di luar negeri sehingga orang tidak peduli.
“Oh, kayaknya kita belum kenalan, nama gue Acha, Mbak. Adiknya Fazio!” ucap gadis itu sambil tersenyum sangat lebar.
Sahara terkejut, wanita itu tidak pernah tahu jika mertuanya memiliki anak perempuan. Apa jangan jangan—-
“Woi, cunguk, sejak kapan lo jadi adek gue?!” seru Fazio dari belakang, pria itu telah selesai berpakaian.
Sahara yang melihat pakaian suaminya berbeda dengan pakaian yang dipilihkan sedikit tertegun. Apa itu tidak cocok? Ah, tapi memang benar, baju yang dia ambil dari lemari benar-benar pilihan buruk. Sahara mungkin harus belajar dari suaminya, yah walaupun dia sedikit sedih.
“Lo kan memang kakak gue cuman beda rahim sama beda s****a doang,” ucap Acha lalu terkikik, puas melihat wajah asam milik Fazio.
“Ayo buruan kita pergi, udah terlambat nih,” ajak Fazio, sebab Acha memberi tahunya jika acara itu akan dilakukan pukul 9.
“Masih lama, acaranya kan jam 11. Gue mau numpang makan dulu disini!” seru Acha dengan santainya masuk ke dalam apartemen.
“Gue dikibulin?” tanya Fazio yang kesal, padahal dia bisa tidur selama dua jam lagi.
Saat Fazio hendak menyusul Acha karena seluruh makannya akan habus, pria itu melihat ke arah Sahara yang nampak melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. “Lo kenapa? Jangan dipikirin omongan Acha tentang adik gue, dia sering bohong!”
“Mas, apa gadis itu sering ke apartemennya Mas Fazio?” tanya Sahara yang dengan tubuh sedikit gemetar, walaupun mereka adalah rekan kerja, tapi membayangkan jika Fazio dan wanita lain berada bersama, itu menyakitkan.
“Iya, dia sering ke apartemen gue,” jawab Fazio membuat Sahara tertegun.
“Tapi mainnya ke lantai 5, lo tahukan itu ada taman sama kafe? Gue gak segila itu bawa anak gadis orang lain di dalam apartemen apalagi pacarnya si Acha itu posesif gila,” lanjut Fazio.
“Jadi cuman sahara kan Mas perempuan yang bukan keluarga tinggal sama Mas?” tanya Sahara yang kali ini membuat Fazio membeku.
“Fazioooo… kompor lo kayaknya mau meledak!”
“Gue lihat kesana dulu! Ancur nanti apartemen kita kalo ada si Acha!” seru Fazio lalu meninggalkan Sahara yang akhirnya bisa bernafas lega.
Tapi membayangkan suaminya berkerja sama dengan gadis lain membuat wanita itu sedikit risau, ah bagaimana jika dirinya yang menjadi asisten Fazio? Bukan gadis itu? Sahara seketika jadi ingin belajar merias seseorang agar bisa membantu suaminya, itu juga bisa membuatnya lebih dekat sengan Fazio.
Dengan bercampurnya Sahara ke dalam dapur, Fazio merasa apartemennya tidak akan bertahan lama lagi. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba Sahara seperti menganggap Acha adalah saingannya, begitu juga dengan Acha yang jangan pernah untuk ditantang sebab gadis itu sangat nekat. Acha pernah mengikuti lomba lari maraton 10km dan hanya karena dihina oleh orang yang lewat saat dia berlari di lorong kelas.
“Mbak bisa gak masak nasi goreng?” tanya Acha sewot.
“Bisa, dulu saya sering bantu di Pesantren. Kamu sendiri gimana? Kok nasi goreng pake kencur?”
“Mana ada kencur? Ini jahe, biar anget tenggorakan waktu makan nasi gorengnya.”
Fazio memang jarang memasak di dapur apartemennya karena kadang saat selesai bekerja dia sudah terlalu lelah. Tapi kadang pria itu memiliki waktu sengangg dan biasanya dia habiskan untuk memasak. Sehingga beberapa alat masaknya memiliki harga yang cukup mahal. Daripada menghabsikan uangnya untuk membeli alat masak yang baru, lebih baik Fazio mengusirnya.
“Kalian bedua mending pergi!” seru Fazio namun keduanya malah mengabaikan..
Clentang!
“Pergi atau akan ada darah yang bercecaran!” ancam Fazio menancapkan pisau dapur ke talenan kayu miliknya
“Mbak, mending kira prgi aja. Fazio walaupun gitu, dia marahnya seram banget!” seru Acha menarik Sahara dari dapur.
Setelah keduanya pergi, Fazio mendengus kesal sambil membereskan kekacauan. Karena dia juga merasa lapar, pria itu memutuskan untuk membuat sarapan sederhana sejuta umat. Nasi goreng telor mata sapi.
Tidak butuh waktu lama untuk Fazio membuatnya, tentunya tidak pakai drama seperti dua perempuan itu.
“Masakan Fazio emang the best banget deh!” ucap Acha sambil mengancungkan jempolnya.
Sahara mengangguk setuju, masakan suaminya memang enak. Tidak seperti masakannya yang biasa-biasa saja. “Betul, masakan Mas Zio enak banget!”
Fazio yang melihat tingkah keduanya terkekeh, walau Sahara dan Acha nampak hendak adu tinju di dapur sebenarnya kedua orang itu memiliki satu hal yang sama, apalagi kalo bukan pecinta makanan.
Setelah selesai sarapan dan kembali bersiap-siap, Fazio dan Acha siap untuk berangkat menuju lokasi acara hari ini. Sahara yang mengantarkan keduanya ke pintu apartemen, memasang wajah menyedihkan membuat Fazio sedikit tidak tega.
“Yaelah mbak suami lo cuman mau dandanin orang, bukan perang,” sunggut Acha sambil tertawa.
“Enggak usah sedih, malam nanti kita jalan keluar lagi, gimana?” tawar Fazio membuat alis Sahara kembali terangkat, bukti bahwa gadis itu tersenyum dibalik cadarnya.
“Ikut dongg,” rengek Acha memasang wajah cemberut.
“Enggak, pergi aja sama pacar lo sana,” tolak Fazio membuat Sahara senang, karena malam nanti hanya dirinya dan Fazio yang pergi. Ya semoga saja.