Part 10

1327 Kata
“Udah enggak ada yang ketinggalan lagi, Mas?” tanya Sahara yang sudah sedikit paham bagaimana kebiasaan suaminya yang sering melupakan sesuatu. “Udah, lo tenang aja,” angguk Fazio sambil mengecek slingbag-nya lagi. “Sekarang kita tinggal cus aja!” Rencananya awalnya, hanya Sahara yang akan pergi untuk membeli keperluan perbaikan rumah baru mereka. Entah kemasukan apa, malam tadi Fazio tiba-tiba saja mengatakan jika dirinya akan menemani gadis itu untuk pergi. Dan karena rumah itu masih benar-benar kosong, Fazio dan Sahara juga akan sekaligus mengisinya dengan perabotan. Tidak lama kemudian, keduanya sampai di sebuah toko bangunan yang cukup modern yang berada disana dan lokasinya pun sengaja dipilih tidak jauh dari rumah baru yang akan mereka tinggali. Tidak seperti Fazio yang asing, Sahara terlihat akrab dengan peralatan yang berada di toko bangunan. “Tokonya lengkap ya, Pak, saya langsung ketemu semua yang saya cari,” ujar Sahara pada salah satu penjaga toko disana yang ke kebetulan mememgang sebuah roll untuk mengecat dinding yang diminta Sahara. “Iya, Mbak. Toko bos saya ini memang paling top. Ada lagi enggak yang dicari, Mas?” tanya pria itu kepada Fazio, karena biasanya sang prialah yang mengerti dan melalukan pekerjaan tukang walau sederhana, namun Fazio dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menoleh ke arah sang isteri. “Tanyain isteri saya aja, Pak,” ringis Fazio yang sedikit merasa malu. “Lho Mbaknya toh yang ngurus ini? Hebat banget,” ungkap pria tua terkejut lalu tak lama tertawa. Dia lalu menepuk bahu Fazio membuat pria muda itu terkejut. “Harusnya pria yang ngurus beginian, Mas.” “Suami saya kerjanya ngerias, Pak. Jadinya kurang paham masalah ini,” balas Sahara yang sama sekali tidak bermaksud buruk namun hal itu nampaknya berbeda di benak Fazio hingga membuat ekpresi pria itu berubah menjadi datar. “Wah, kebalik ini namanya, Mas,” gelak pria tua itu membuat Fazio semakin kesal. Ck, rasanya ingin menemui Bos toko ini untuk mendisiplinkan karyawannya yang mengurusi hal pribadi pelanggan. Entah itu Sahara atau dirinya, bahkan kakek ataupun neneknya pun tak masalah. “Gue tunggu di luar aja, ini kartunya buat bayar,” ujar Fazio tiba-tiba pergi dari sana membuat Sahara ingin menahannya, namun pria itu sudah lebih dulu pergi. Gadis itu menghela nafasnya, padahal Sahara ingin lebih dekat dengan Fazio namun nampaknya pria itu tidak menyukai hal seperti ini. Sahara pun kembali melanjutkan kegiatannya untuk mencari peralatan, barulah setelah semua terkumpul dia membayarnya dan memberikan alamat rumah baru mereka. Saat meninggalkan toko bangunan, Sahara tidak menemukan suaminya di depan sana. Detak jantung gadis itu tiba-tiba berdetak lebih kencang karena merasa takut jika dirinya ditinggal. Sahara sama sekali tidak tahu dimana ini dan cara memasan taksi online. Ketika gadis itu mencoba mencari suaminya, Sahara akhirnya bisa bernafas lega saat melihat Fazio ternyata baru saja keluar dari tempat menjual minuman boba dengan seorang wanita cantik. Keduanya nampak mengobrol dengan akrab dan Fazio beberapa tertawa bersama wanita tersebut, beda dekali saat menemani Sahara di toko bangunan. “Udah lama banget nih kita enggak ketemu, selfie dulu yuk biar nanti gue tag lo!” ajak gadis itu yang ternyata teman lama dafi Fazio yang sangat dekat. Tidak memperdulikan statusnya, pria itu santai saja saat teman perempuannya itu merangkul bahunya. “Nanti gue kontak lo lagi ya, see you Zio gue yang udah besar!” seru gadis itu lalu masuk ke dalam mobilnya. Barulah ketika mobil temannya pergi, Fazio teringat jika dia bersama dengan Sahara. Ia buru-buru berbalik dan melihat gadis itu ternyata sudah menunggu di depan toko bangunan. “Gue beliin minum, cuaca lagi panas banget.” “Aku enggak haus, Mas,” tolak Sahara yang terdengar kesal tapi Fazio tidak terlalu memperhatikannya. “Ck, jadi sia-sia aja gue beliin lo. Kalo gini mending enggak usah gue beli,” ujar Fazio membuat hati Sahara yang mendengar itu semakin panas. “Itu siapa tadi, Mas?” tanya Sahara yang mulai menjadi detektif. “Temen gue,” jawab Fazio jujur sambil menyedot minumannya dengan lumayan kuat, karena tidak ingin membuat makanan, nampaknya dia harus menghabiskan keduanya sampai habis. “Dekat banget ya, Mas?” tanya Sahara lagi yang entah kenapa merasa iri, apalagi saat melihat wanita itu merangkul suaminya. Dia saja yang menjadi isteri belum pernah melakukan hal itu. “Iya, dia salah satu teman terbaik gue,” ujar Fazio yang jadi teringat masa lalu. Temannya tadi itu adalah salah satu orang yang bahkan rela ikut menginap di kuburan saat Fazio baru saja kehilangan ibunya dan tidak ingin pergi dari sana. Dia benar-benar tidak akan melupakannya, karena saat itu bahkan ayah kandungnya tidak ada disisinya. “Sahara pengen jadi temannya Mas, biar bisa peluk Mas Zio juga,” ungkap Sahara tanpa sadar membuat Fazio yang sedang menyedot bobonya tersedak. “Uhuk! Uhuk! Apa tadi lo bilang?” “Eh, enggak, ayo kita sekarang cari perabotan, Mas!” ajak Sahara yang pipinya sekarang memerah karena malu. Gadis itu merasa dirinya sangat bodoh karena telah mengatakan hal seperti itu. Tujuan mereka selanjutnya adalah Mall, dimana di dalamnya terdapat toko perabotan yang sangat terkenal. Kali ini, Fazio yang nampak yang lebih mengenal barang-barang di dalamnya. Itu semua karena ibunya dulu sangat menyukai dalam hal menata ruang, sehingga Fazio yang sering menemani ibunya ke toko perabotan ikut tertular. “Kita perlu ranjang yang kuat,” ucap Fazio saat mereka sampai di bagian kasur. “Kenapa harus kuat, Mas?” tanya Sahara yang kebingungan. “Biar nanti kalo dibikin goyang terus enggak rusak,” jawab Fazio sambil tersenyum sangat lebar, rasanya ada maksud lagi yang tersembunyi dari senyuman tersebut. “Kok Mas mau goyang di kas— MAS!” jerit Sahara ketika otaknya baru saja paham apa yang dikatakan oleh Fazio. Sekarang pipi gadis itu lebih merah dari sebelumnya, dia bahkan sampai mengalihkan pandangannya dari Fazio yang kini dengan tidak berdosa tertawa. “Lo polos banget sih Sahara,” kekeh Fazio sambil geleng-geleng kepala. “Mas Zio, jangan bicara yang aneh-aneh. Nanti kalo ada yang dengar gimana?” tanya Sahara terlihat ketakutan, membuat Zio makin tertawa sampai membuat perutnya sakit. “Kalo ada yang dengar ya gapapa, kan kita udah nikah. Wajar aja kalo bahas itu,” balas Fazio sambil mencari lagi kasur yang cocok dengan minatnya. Pria itu mencari kasur yang berbahan latex yang anti jamur dan bakteri dan dari review yang pria itu baca, usianya juga cukup panjang. “Mas kasurnya lucu!” seru Sahara sambil menujuk ke arah kasur anak laki-laki yang bergambar superhero. “Anaknya aja belum dibuat, mau beli kasurnya,” kekeh Fazio tertawa, Sahara yang mendengar itu hanya bisa ikut tersenyum. Tapi, melihat kasur itu membuatnya membayangkan dirinya akan duduk di pinggiran kasur itu untuk membangunkan putranya. Perabotan yang keduanya beli tidak terlalu banyak, namun itu adalah benda yang wajib berada di rumah. Saat mereka sampai di kasir, Sahara terkejut ketika belanjaan mereka sampai puluhan juta. Wanita itu tiba-tiba merasa kasihan dengan suaminya yang telah mengeluarkan uang sebanyak itu. Harusnya gadis itu menolak saat diajak kesini dan memilih di perabotan sederhana. Fazio tersenyum bangga saat akhirnya bulan ini dia mengeluarkan uang dengan tujuan yang baik, pasalnya beberapa hari sebelumnya pria itu menghabiskan uangnya dengan hal tidak berguna. Ketika mereka berdua berjalan keluar dari Mall, Fazio melihat beberapa anak muda baru saja keluar dari fotobox membuatnya tiba-tiba kepikiran untuk mengajak Sahara kesana. “Foto disana yuk? Biar nanti ada tambahan pajangan di rumah baru,” ajak Fazio, mendengar dia akan berfoto bersama, gadis itu tentu saja tidak menolak dan langsung masuk bersama. “Kita pake tema yang mana ya? Ini aja kalo?” tanya Fazio sambil menglik layar, barulah dia menekan tombol timer. “Ayo gaya!” seru Fazio segera bergaya sedangkan Sabrina yang jarang berfoto, hanya bergaya seperti patung membuat Zio tertawa. Namun tiba-tiba saja lengan pria itu memeluk pundak Sahara membuat sang gadis tiba-tiba membeku. Apa suaminya mendengar jika dia sebelumnya ingin dipeluk? “Ayo senyum, Sahara!” seru Fazio memasang senyum lebarnya, berusaha menahan jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang. Sial, Fazio sudah sering merangkul wanita namun kenapa hanya pada Sahara dia seperti ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN