Part 9

1277 Kata
“Ini beneran kita harus tinggal disini?” tanya Fazio sedikit tidak percaya. Sahara yang berada disampingnya terkekeh, gadis serasa melihat Fazio sedang mengikuti acara bertahan di rumah kosong yang penuh dengan hantu. “Betul, Mas Zio. Kita bakal tinggal disini mulai sekarang!” ucap Sahara dengan bersemangat, membuat gamis biru yang dia kenakan sampai bergoyang. Fazio hanya bisa terkekeh, nampaknya pria bereaksi berlebihan tentang tempat tinggal mereka. Sebenarny rumah yang diberikan oleh kedua orang tua mereka tidaklah seburuk itu, rumah itu tepat berada di sebuah perumahan yang cukup padat dan tidak terlalu jauh dengan jalan utama. Dengan tipe dua kamar, satu ruang tamu dan serta dapur, rumah itu masih menyisahkan halaman yang luas. Perumahan bisa dikategorikan baru, kebanyakan penghuninya adalah pasangan yang baru saja menikah atau baru memiliki satu atau dua anak sehingga akan terlihat banyak anak kecil yang kadang meresahkan. Disaat keduanya baru datang kesini, Fazio tidak sengaja melewati sebuah rumah yang nampak banyak ibu-ibu berkumpul, Fazio sedikit merinding karena yakin proses informasi di perumahan ini sangat cepat. “Kayaknya kita harus bikin pagar, bila perlu setinggi 2 meter!” saran Fazio melangkah ke masuk dalam, Sahara yang mengikuti suaminya sedikit terkejut. Bukankah pagar itu akan terlalu tinggi? “Bukannya itu ketinggian, Mas?” tanya Sahara bingung. “Kalo aku sih, pengen enggak usah pake pagar malah.” “Privasi kita jadi terganggu,” balas Zio cepat. “Apalagi lo pake cadar, kalo ada pagar lo bisa buka di halaman.” Menurut Fazio, tinggal di apartemen adalah hal yang sangat baik untuk dirinya sekarang yang belum bisa membangun rumah besar sendiri. Para penghuni apartemen kabanyakan orang-orang yang aktif bekerja, sehingga mereka tidak memiliki waktu luang untuk mengurusi masalah orang lain. Jika mereka tinggal di perumahan menengah seperti ini, maka mereka harus siap-siap untuk menutup telinga. Setelah melihat bagian depan, Fazio dan Sahara masuk ke dalam rumah untuk melihat-lihat bagian dalam rumah. Nampaknya setelah dibeli, rumah itu tidak ditinggali untuk waktu yang lama sehingga banyak debu dan kotoran. Bahkan terlihat cat dinding yang terkelupas dan ada bagian plafon yang terbuka. “Rumahnya benar-benar kacau, besok gue panggil orang, deh,” celetuk Fazio yang berjalan dengan hati-hati, rasanya pria itu ingin segera keluar dari rumah tersebut. “Enggak usah panggil orang, Mas. Sahara aja yang bersihin!” seru gadis itu antusias. Di Pesantren, biasanya dia membantu Santriwati jika ada kerusakan di kamar asrama, bahkan gadis itu pernah membetulkan plafon yang terbuka sehingga masalah di rumah barunya bisa diselesaikan. “Lo bisa ngerjain semuanya sendiri?” tanya Fazio tercengang, dia tidak menyangka telah menikahi gadis yang memiliki keahlian luar biasa kecuali memasak. “Iya, besok Sahara beli catnya. Kira-kira kita mau ganti warna atau samain warna ini?” tanya Sahara, dinding rumah itu telah diwarnai dengan warna hijau lembut yang sebenarnya disukai gadis itu namun dia harus mendengar saran dari Fazio karena mereka akan tinggal di rumah ini bersama. “Samain aja sama ini, dindingnya cuman terkelupas beberapa sisi.” Sahara mengangguk dan mencatat di ponselnya apa saja yang harus dibeli untuk memudahkan pekerjaannya. Setelah selesai, Fazio bergegas mengajak Sahara kembali karena takut ada tetangga yang melihat kehadiran mereka dan membuat pria itu harus meladeni obrolannya. Sahara yang melihat tingkah suaminya hanya bisa geleng-geleng, dia heran kenapa Fazio takut sekali menghadapi orang padahal pria itu selalu bertemu dengan orang baru. Dalam perjalanan ke apartrmen, Sahara melihat sebuah restoran barbeque yang terlihat sangat ramai dari luar. Tampaknya restoran itu sudah terkenal dan memiliki rasa yang enak. Tapi, pasti akan sulit untuknya makan disana jika menggunakan cadar. “Lo pengen pengen barberquean?” tanya Fazio karena demi apapun, Sahara benar-benar nampak tidak bisa menahan bola matanya ke arah restoran itu. “Mau, sih, Mas. Tapi kayaknya restoran itu ramai,” lirih Sahara yang dibalik cadarnya tengah manyun. Fazio yang melihat restoran itu dari balik jendela, tiba-tiba menginginkannya juga dan langsung mengeluarkan ponselnya. “Kita barbequean di rumah aja, gue pinjam alat sama bahannya dulu!” Sahara yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Fazio. Gadis itu tersenyum dengan sangat lebar dari balik cadarnya karena akhirnya akan mencoba memanggang daging sendiri. Sahara tidak tahu Fazio melakukan itu untuknya atau keinginan pria itu sendiri, namun gadis itu senang karena salah satu keinginannya terwujud. Sesampainya di rumah, Fazio dan Sahara langsung melakukn bersih-bersih terlebih dahulu sebelum mulai memanggang daging. Kebetulan alat yang dipinjam Fazio dari situs online telah datang. Pria itu segera membawa alat pemanggangnya ke balkon apartemen yang cukup luas. Untungnya tetangga kiri dan kanannya sedang pergi sehingga mereka tidak akan tersiksa dengan aroma daging panggang nanti. Tempat dimana Fazio meminjam alat barbeque juga menyediakan paket daging serta bumbu. Karena sudah terbiasa pergi bersama teman-temannya ke restoran, pria itu dengan lihat meracik bumbu hingga menjadi saos yang terlihat sangat enak. Karena berada di apartemen dan tidak ada yang melihatnya, Sahara tidak perlu mengenakan cadarnya sehingga senyum cantik wanita itu terlihat dengan jelas. Tapi, sayangnya, Fazio tidak terlalu memperhatikannya. “Hum, harum banget. Mas Fazio kalo nanti udah berhenti jadi MUA, jualan daging panggang aja. Pasti laku!” saran Sahara yang sangat polosnya membuat Fazio tertawa cukup besar mendengarnya. “Tapi ide lo boleh juga,” angguk Fazio yang mungkin akan membuat restoran setelah berhenti merias orang. Dan pada akhirnya pria akan mengikuti jejak keluarganya untuk melalukan bisnis. “Ayo, dagingnya udah jadi. Lo bakal jadi orang pertama yang nyobain daging panggang buatan gue!” seru Fazio dengan bangganya, Sahara yang polos bertepuk tangan dengan heboh layaknya anak kecil. Gadis itu sudah tidak sabaran untuk mencoba daging panggang buatan Fazio yang sangat harum. Daging yang sudah matang Fazio letakan di pinggiran alat agar membuatnya tetap hangat, Sahara yang sudah tidak sabaran langsung mengambil daging itu namun sayangnya masih terlalu panas membuatnya kesakitan. “Sssh… panas.” “Lo gimana sih? Udah tahu panas ya pake sumpit!” omel Fazio menarik tangan wanita itu, untungnya tidak ada luka bakar. “Lo bisa pake sumpit kan?” tanya Fazio lagi dan Sahara menggeleng dengan polosnya. “Lo perhatiin, kayak gini caranya,” ajar Fazio sambil mempraktekan memegang sumpit yang benar. Pria itu mengancakan daging itu di depan wajah Sahara membuatnya yang sudah tidak tahan langsung melahapnya. Fazio tentu saja terkejut, pria itu ingin marah pada Sahara karena bisa saja wanita itu terluka sebab ujung sumpit namun melihatnya makan dengan lahap seperti anak kecil, membuat Fazio mengurungkan niatnya. Lagi pula gadis itu baik-baik sajakan? “Kalo enggak bisa pake sumpit, pake garpu aja.” Sahara mengangguk, gadis itu segera menusuk daging dan melahapnya kembali. Karena ukuran alat pemanggang yang tidak terlalu besar, daging yang dipanggang tidak bisa terlalu banyak. Dan karena Sahara terus makan tanpa henti, alhasil Fazio terus-terusan memanggang daging tanpa mencobanya. “Mas Zio, makasih ya udah ajakin Sahara untuk panggang daging. Dari dulu, Sahara kepengen banget tapi karena enggak ada yang nemenin, jadi cuman bisa nonton orang mukbang deh.” Sahara menyengir membuat Zio mendengus, gadis itu sebenarnya memiliki banyak teman namun karena mereka semua adalah santriwati yang tidak diperbolehkan keluar. Sehingga pada akhirnya dia akan sendirian. “Tenang aja, lo bakal makmur kalo hidup sama gue hahah!” Fazio tertawa dengan menyombongkan dirinya yang entah kenapa membuatnya terlihat tampan. Pria itu menahan Sahara yang hendak mengambil daging lagi dan meminta gadis itu uncuk coba memanggang. “Balikin dagingnya pelan-pelan aja,” ujar Fazio, pria itu pergi ke dapur untuk mengambil beberapa kaleng soda dingin dari kulkas. Pria itu membuka kaleng soda itu dan memberikannya pada Sahara. “Makan daging enaknya pake cola!” seru Fazio mengangkat kaleng sodanya untuk mengajak Sahara bertos. Namun gadis itu terlihat tidak tahu sehinga Fazio dengan gemas membantunya. “Mas Zio aneh-aneh aja, masa tos pake minuman.” Fazio yang mendengarnya hanya manyun, Sahara benar-benar sangat polos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN