Part 8

1809 Kata
Seorang gadis, tengah duduk di balkon kamar hotel, entah sedang memikirkan apa, namun gadis itu menghembuskan nafasnya berulang kali seolah tengah mendapat masalah yang cukup berat. Sahara lagi-lagi menghela nafasnya yang sudah yang keberapa kali dilakukannya. Sebenarnya masalah yang dihadapi gadis itu cukup mudah, tinggal ia atau Fazio yang mengalah. Namun disitulah letak kerumitannya, baik Sahara maupun Fazio tidak ada yang mau mengalah untuk menentukan tempat mereka tinggal. Fazio keukeh ingin tetap tinggal di apartemen sedangkan Sahara yang juga ttidak mau mengalah, ingin tinggal di Pesantren bersama kedua orang tuanya. Sahara kembali melirik ke arah pintu balkon, sudah hampir satu jam gadis itu disini namun Fazio belum juga menghampirinya membuat Sahara sedikit kesal. Bukannya saat seorang istri sedang ngambek maka suaminya akan datang untuk membujuk—seperti yang ada di novel-novel yang pernah ia baca? Sayangnya, realita tidak seindah apa yang ditulis di novel. Mereka adalah dua orang yang belum genap satu bulan bertemu namun sudah disuruh untuk menjalani hidup bersama, termasuk menentukan arah kemana rumah tangga ini. Beberapa menit kemudian, Sahara sedikit merasa cemas karena Fazio juga belum menghampirinya. Apa pria itu memang tidak peduli dengannya? Sahara yang sudah merasa masuk angin karena terus terkena angin di balkon, memutuskan untuk masuk ke dalam kamar hotel. “Mas Zi—“ gadis itu mendengus kesal ketika melihat Fazio ternyata sedang tidur. Bisa-bisanya pria itu tidur nyenyak saat mereka sedang perang dingin seperti ini? Sahara jadi semakin kesal, apa memang Fazio menganggap masalah ini enteng? “Hoammm…” entah sudah beberapa jam Fazio tertidur, pria itu bangun sambil mengusak-usak kelopak matanya. Ia mengerutkan dahinya saat melihat Sahara sedang menatapnya kesal. Ah, pasti masalah tentang dimana mereka akan tinggal. “Aku pokoknya mau tetap tinggal di Pesantren,” ucap Sahara dengan nada yang tidak menerima bantahan. “Yaudah, lo tinggal di Pesantren, gue tinggal di apartemen,” jawab Fazio turun dari kasur. Sahara yang mendengar itu tentu saja makin kesal bahkan sedikit sedih, mereka sudah menjadi suami isteri yang harus selau bersama namun Fazio sekarang terlihat tidak peduli apakah Sahara bersamanya atau tidak. Gadis itu tersenyum getir, ia lupa jika pernikahan ini memang tidak dikehendaki suaminya. Fazio yang baru saja selesai mencuci mukanya, melihat ke ekpresi Sahara yang sedang menahan nangis dan seketika merasa bersalah. Tapi, Fazio memiliki banyak alasan untuk tidak mau tinggal di dekat mertuanya. “Jadinya Mas Zio enggak masalah kalo pisah sama Sahara?” tanya gadis itu dengan suara sedihnya membuat Fazio makin merasa bersalah. “Mau gimana lagi? Lo enggak mau ikut gue, gue juga enggak mau tinggal di Pesantren. Gue kan udah bilang dari awal pernikahan, gue enggak mau kalo pernikahan ini bikin hidup gue makin sulit,” jawab Fazio sambil menghembuskan nafasnya. “Lagian kenapa lo mau banget tinggal di rumah orang tua lo? Kita itu udah nikah, harusnya punya kehidupan sendiri. Masalah lo kangen, jarak apartemen gue sama Pesantren enggak harus naik pesawat.” Sahara menggigit bibir bawahnya, ia memang tahu saat mereka sudah menikah dan harusnya memiliki kehidupan lain agar menghindari campur tangan yang tidak diinginkan. Tapi, Sahara yang sejak kecil tidak pernah jauh dari Umi dan Abinya, membuat wanita itu merasa kesusahan. “Mas Zio juga kenapa enggak mau tinggal di Pesantren?” tanya Sahara yang belum mau mengalah. “Apa Mas masih marah sama Umi karena suruh diminta berhenti jadi MUA?” “Itu salah satunya, lo bayangin aja kalo gue pergi dan berangkat kerja dapat tatapan tajam dari mertua,” cibir Fazio sambil geleng-geleng saat membayangkannya. Sahara tidak mengatakan apa-apa lagi, begitu juga dengan Fazio. Perdeban mereka berakhir dengan tetap tidak ada yang mau mengalah, membuat perang dingin itu bertambah lama. Karena hari ini mereka harus meninggalkan hotel, kedua pasangan suami dan isteri itu berkemas masih dengan tidak ada yang berbicara. Sahara yang masih ingin tinggal di rumah orang tuanya, membuat Zio mengantarkan gadis itu ke Pesantren membuat Sahara sedih karena baru dua hari pernikahan mereka, sudah akan berpisah. Di depan rumah, mereka langsung disambut dengan senyum hangat Ahmad yang membuat Zio merasa makin bersalah. Setelah mengucapkan salam, Sahara langsung masuk ke dalam rumah tanpa menyapa lebih banyak atau mengajak Fazio masuk. Fazio meringgis ketika Ahmad menatapnya dengan pandangan bertanya. Pria itu berpikir sang mertua mungkin akan langsung bertanya perihal apa yang terjadi pada putrinya. “Nak Zio mau nemenin Abi jalan-jalan di Pesantren?” tanya pria tua itu membuat Fazio terkejut namun mengangguk. Bukannya dirundung pertanyaan, pria itu malah diajak berjalan-jalan. Tapi, sejujurnya Fazio juga belum terlalu banyak menginjakan kaki di Pesantren yang diurus mertuanya ini. Ahmad dan Fazio tentu saja berkeliling Pesantren di bagian putra. Mereka berdua berjalan di lorong ruang kelas dan memperhatikan para santri tengah belajar di ruangan kelas mereka. Baru beberapa minggu yang lalu, Pesantren menerima santri dan santriwati. Ahmad menjelaskan bahwa cukup banyak yang masuk tahun ini.. Tidak lama kemudian, mereka sampai di bagian asrama santri Putra. Ketika Zio yang sedang bertanya tentang kegiatan apa saja yang ada disini, mereka mendengar suara tangis yang cukup kencang dari salah satu kamar. Di Asrama putra ini, satu kamar bisa diisi 5-6 anak. Mereka akan tidur di ranjang susun yang telah disiapkan pihak Pesantren. “Lho ada apa ini?” tanya Ahmad ketika melihat seorang anak laki-laki yang berkisar 12 tahun tengah menangis, disampingnya ada beberapa anak. Fazio dengan cepat berpikir bahwa anak itu sedang di bully oleh yang lain. “Ini Usdad, Zaid nangis karena ngerasa enggak betah. Kami udah berusaha nenangin tapi dia masih nangis.” Fazio yang mendengar itu meringgis, pria itu merasa bersalah karena pikiran jahatnya. “Kalian ke kelas aja, biar Ustad yang nenangin Zaid,” ucap Ahmad yang membuat anak-anak itu mengangguk. “Terima kasih Ustad,” jawab mereka kompak. “Tolong bikin Zaid betah ya, Ustad,” tambah seorang anak laki-laki yang tidurnya satu ranjang susun dengan Zaid. Ia tidak mau kehilangan teman satu ranjangnya. Ahmad tidak langsung bertanya kenapa anak laki-laki itu menangis, pria tua itu dengan sabar mengusap punggung Zaid sampai akhirnya anak laki-laki itu berhenti. “Zaid udah tenang?” tanya Ahmad yang diangguki bocah itu. Fazio yang melihat dispenser, segera mengambil air minum dan memberikannya pada Zaid. “Te—terima kasih, Om.” “Ustad dengar, Zaid menangis karena enggak betah disini?” tanya Ahmad yang diangguki bocah itu, matanya sudah kembali memerah. “Iya, Ustad,” jawab Zaid. “A—aku mau pulang.” “Kenapa? Apa ada yang membuat Zaid enggak nyaman?” tanya Ahmad lagi yang membuat Zaid menggeleng. “Zaid bukannya enggak betah disini tapi masih dalam proses adaptasi,” tutur Ahmad. “Lihat tadi teman-teman Zaid, mereka enggak mau Zaid pergi dari sini.” “Tapi disini enggak ada Papa sama Mama,” balas Zaid cepat. “Lho siapa bilang enggak ada? Ustad dan Umi itu orang tuanya Zaid disini, bahkan guru-guru juga orang tuanya Zaid. Zaid boleh ngadu apapun sama Ustad atau sama yang lain,” jelas Ahmad dengan sabar membuat Fazio mengingat sosok ibunya yang sudah tiada. Fazio dulu adalah anak yang cengeng, untungnya sang ibu selalu sabar menghadapinya. “Disini, Zaid enggak sendirian, ada Ustad, teman-teman, guru dan lain-lain, Zaid disini juga bukan tanpa alasan, Zaid disini belajar ilmu agama agar bisa jadi lebih baik lagi yang nantinya bisa menolong Zaid, termasuk Mama dan Papa.” Fazio bisa merasakan bocah itu sudah mulai tenang dan nampak menerima bahwa ia akan tinggal disini untuk waktu yang lama, padahal Ahmad hanya mengucapkan kalimat sederhana yang mampu membuat keraguan anak laki-laki itu hilang. Zaid hanya butuh kalimat yang bisa membuatnya merasa aman dan nyaman disini. Fazio tiba-tiba tersentak, bukannya hal itu juga berlaku untuk Sahara? Gadis itu hanya butuh kata-kata bahwa saat ia tinggal bersama Zio nanti, ia masih akan tetap merasa aman dan nyaman seperti saat masih berada di dekat orang tuanya. Pria itu seketika ingin memaki dirinya sendiri, ketimbang memikirkan hal penting itu. Fazio malah mengeraskan egonya untuk tetap tinggal di apartemen. “Abi, Fazio mau nemuin Sahara dulu,” pamit Fazio pada Ahmad. Ahmad mengangguk, ia tidak tahu masalah apa yang dihadapi anak dan menantunya namun ia merasa bahwa Fazio baru saja menemukan jawaban. Saat Fazio tengah bersemangat untuk kembali ke rumah mertuanya, pria itu dikejutkan dengan sosok Dirga yang berada di teras rumah nampak menunggu seseorang. “Zio?” sapa Dirga yang mengenakan kemeja dan celana dasar, khas karyawan kantor yang sukses. “Lo pasti cara Pak Ahmad kan? Dia lagi di asrama putra,” kata Fazio sambil menujuk asrama. “Saya enggak lagi cari Pak Ahmad,” jawab Dirga yang memang terkenal sangat kaku. Fazio bahkan menjulukinya Robot berjalan. “Terus? Isterinya Pak Ahmad?” tanya Fazio bingung. “Saya kesini mau ketemu sama Sahara,” jawab Dirga yang mana membuat Fazio mengerutkan dahinya. “Mas Zio udah pulang? Lho ada Mas Dirga?” tanya Sahara yang awalnya mencari sosok Fazio namun ternyata sedang pergi bersama ayahnya. Sahara sedikit menyesal saat mengabaikan suaminya tadi. “Mas Dirga datang karena ada apa, Mas?” tanya Sahara ke Fazio perihal kedatangan Dirga. Hal itu membuat Dirga yang melihatnya sedikit tersenyum pahit, padahal Sahara bisa langsung bertanya padanya bukan pada Fazio. “Enggak tahu tapi Dirga mau ketemu lo,” jawab Fazio kembali melirik Dirga. “Um, saya bertanya soal kunjungan ke Panti Asuhan minggu depan. Apa kamu mau ikut?” tanya Dirga yang sebenarnya itu bukanlah tujuan aslinya datang kesini. Fazio bisa sedikit merasakan jika pria itu mengalihkan tujuannya. “Iya, bisa, Mas Dirga. Nanti juga diajakin Mas Zio.” Fazio yang disebut namanya merenggut tapi pria itu tidak menolak karena menurutnya agak berbahaya membiarkan keduanya bertemu. Setelah menerima jawaban, Dirga lalu pamit meninggalkan pasangan suami isteri itu sesegera mungkin untuk menghilangkan ketidaknyaman di hatinya. “Mas kemana aja? Aku tadi nyariin.” “Lo tadi cari gue?” tanya Fazio pada Sahara. “Iya, Mas. Aku mau minta maaf, harusnya aku sebagai isteri nurutin kemana Mas Zio mau tinggal,” tutur Sahara yang baru saja mendapat ceraman dari ibunya, walaupun Rita tidak terlalu suka dengan Fazio, wanita paruh baya itu masih memberikan saran yang baik. “Makasih kalo lo mau ikutin mau gue, tenang aja. Gue janji bakal ngelindungin dan bikin lo nyaman kayak di rumah. Lo juga dijamin enggak akan kesepian,” balas Fazio membuat Sahara tertegun. Tidak tahu mengapa, gadis itu yang awalnya masih tersisa sedikit keraguan sekarang sudah menjadi tenang. “Makasih, Mas Zio,” angguk Sahara tersenyum dibalik cadarnya. “Jadi kapan kita balik ke apartemen?” tanya Zio yang sudah merindukan kasurnya. “Kayaknya kita enggak akan tinggal di apartemen, Mas,” balas Sahara membuat Zio mengerutkan dahinya. “Bukannya tadi—“ “Soalnya Mama sama Papanya Mas Zio tadi baru ngasih kabar, kalo mereka kasih hadiah rumah untuk kita. Abi sama Umi juga setuju, soalnya masih dekat Pesantren.” Fazio yang mendengarnya mengangga, nampaknya baik ia ataupun Sahara tidak ada yang memenangkan perdebatan ini. Jika melawan kedua orang tua dan kedua mertuanya, Fazio rasa tidak akan sanggup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN