“Mas! Mas Zio… bangun!” panggil Sahara sambil menggoyang-goyang tubuh suaminya.
“Hemm… lima menit lagi, masih ngantuk,” rengek Fazio masih memejamkan kelopak matanya membuat Sahara menghembuskan nafasnya panjang. Ia harus sabar, walau sedikit kesal karena Fazio yang belum juga bangun. “Tapi adzan subuh udah lewat lama, Mas…”
Sahara merasa sedikit kagetp dengan Fazio yang ternyata sangat susah sekali dibangunkan. Karena gadis itu tumbuh di Pesantren yang memiliki aturan ketat, Sahara jadi terbiasa bangun pagi dan tidur pada waktunya.
Memang salahnya juga yang mengiyakan ajakan pesta Fazio semalam—bukan pesta yang meriah, melainkan hanya memesan banyak makanan sambil menonton film horor hingga tengah malam. Beginilah akibatnya, Fazio jadi susah dibangunkan.
“Kalo Mas enggak bangun juga, aku siram pake air,” ancam Sahara membuat Fazio langsung membuka kelopak matanya, pria itu lalu bangun dan menatap ke arah isterinya sengit.
“Enggak usah marah, Mas. Gimana kita mau hidup bahagia dan tenang kalo perintah wajibnya aja kita enggak lakuin,” sahut Sahara membuat Fazio langsung merasakan jleb pada hatinya. Ia merasa tersindir karena sering mengeluh hidupnya yang penuh drama namun ia lupa pada sosok yang mengatur hidupnya.
“Iya-iya, Sahara…” Fazio sedikit menyesal menyuruh perempuan itu untuk lebih terbuka dan menjadi dirinya sendiri jika sosok Sahara yang asli adalah gadis yang perkataannya ngena sekali.
“Buruan jangan pake bengong lagi,” ingat Sahara yang takut Fazio malah tertidur di kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Fazio muncul dengan wajah yang basah dan seger. Sahara sudah menyiapkan sarung dan sajadah milik suaminya dengan perasaan bahagia, karena untuk pertama kalinya ia akan subuh bersama dengan sang suami.
Namun yang membuat Sahara membulatkan matanya adalah saat Fazio menarik sejadah miliknya menuju ke arah yang cukup jauh. “Mas! Kenapa ditarik?!”
“Lho kan mau sholat? Gue mau sholat kok ini,” ujar Fazio dengan tampang ‘apa gue salah lagi?’
“Iya, kita sholatnya berjamaah. Mas Zio yang imam!” seru Sahara, menghembuskan nafasnya karena pagi-pagi subuh sudah harus mengeluarkan suaranya.
“Gue yang imam?” tanya Fazio menujuk dirinya dengan ekpresi khawatir. Laki-laki itu selalu berusaha melaksanakan kewajibannya namun untuk menjadi imam, Fazio belum pernah melakukannya kecuali dulu saat praktek sekolah.
“Ayo, Mas, kita udah lama banget lewatnya,” ujar Sahara sambil menarik sejadah suaminya kembali ke tempat yang sudah disiapkan.
“Ta—tapi, Sahara… gue gak terlalu banyak hapal—sebenarnya banyak tapi karena jarang diulang jadi enggak hapal lagi. Trikul dulu aja ya?” tanya Zio sambil memamerkan senyum dengan gigi yang rapi.
“Iya, enggak papa, Mas. Nanti bakal Sahara bantu untuk hapalinnya lagi.”
Zio benar-benar beruntung mengajak Sahara untuk menginap di hotel, ia tidak bisa membayangkan jika diajak oleh mertuanya dan tiba-tiba disuruh untuk menjadi imam. Entah apa yang harus dilakukan Zio untuk menolaknya.
Sahara mulai mengambil posisinya dan bersiap untuk melaksanakan kewajibannya, saat pertama kali Zio mengumandangkan takbir. Hati perempuan itu tiba-tiba bergetar hebat. Suara milik Zio memang tidak semerdu yang pernah ia dengar sebelumnya namun ada sesuatu yang istimewa.
Takbir ini mungkin akan selalu ia dengar hingga akhir ayatnya, takbir ini berasal dari seorang pria yang sekarang sudah menjadi suaminya dan ayah dari anak-anaknya kelak. Tempat untuk bersandar dan ia kembali.
Selesai melaksanakan kewajibannya, Fazio menghela nafas lega, saat ia berbalik untuk melihat Sahara. Pria tua itu terkejut karena isterinya tengah menangis cukup hebat.
“Lo kenapa, Sahara? Bacaan gue banyak salah ya? Apa suara gue sumbang?” tanya Fazio menghampiri isterinya untuk menenangkan.
“Hikh—hikss… Sahara masih enggak nyangka sekarang udah menjadi seorang isteri…”
Fazio terkekeh mendengarnya, untung bukan karena bacaannya. “Emang, kamu harusnya bersyukur karena punya suami kayak gue,” sahut Fazio bangga sambil tersenyum percaya diri.
“Tapi, bacaan Mas Zio emang ada yang salah.” Fazio meringgis mendengarnya, pria itu pun akhirnya berjanji nanti akan memperbaiki bacaan dan menambah hapalannya.
“Hoamm… gue masih ngantuk, tidur lagi ya.” Fazio yang belum melepas sarungnya segera nail ke atas kasur dan memejamkan mata. Tak lama kemudian, terdengar sayup-sayup lantunan ayat suci yang membuat Fazio kembali membuka matanya.
Ternyata sang isteri kembali melanjutkan membaca ayat suci Al-Qur’an. Fazio tiba-tiba tidak memiliki minat untuk tidur dan memilih mendengar bacaan isterinya yang sangat menenangkan hati, berbeda sekali dengannya.
Fazio seketika merenung, pernikahannya dengan Sahara memang hampir bukan kehendaknya. Tapi, ia yakin jika kehadiran itu ke dalam hidupnya bukan tanpa arti. Apa mungkin hidup Fazio terlalu condong ke dunia sehingga Allah mendatangkan wanita yang saleh untuknya?
“Lho Mas Fazio enggak jadi tidur?” tanya Sahara melihat suaminya malah seperti sedang memikirkan sesuatu. Wanita itu baru saja menyelesaikan bacaan ayat sucinya.
“Enggak bisa tidur lagi,” kata Fazio akhirnya duduk di pinggiran kasurnya.
“Lo udah lapar belum? Biar kita pesan sarapan sekarang?” tanya Fazio pada Sahara yang sedang membenarkan sejadah dan mukenah. “Belum, Mas. Nanti aja, agak siangan dikit.”
Ketika selesai membersihkan, Sahara bingung untuk duduk dimana. Apa ia duduk di kasur bersama Fazio atau duduk di sofa? Tapi karena niat wanita itu ingin lebih dekat sengan suaminya, Sahara ikut duduk bersama Fazio diatas kasur.
Suasana tiba-tiba menjadi hening karena tidak ada yang bicara, baik Fazio maupun Sahara menutup mulutnya. Bedanya sang istre ingin berbicara namun bingung harus memulai dengan apa.
“Sahara,” panggil Fazio membuat gadis itu menoleh. “Kenapa, Mas?”
“Lo jangan takut, gue suatu saat bakal berhenti kok dari kerjaan gue saat ini. Tapi, enggak sekarang, lo bisa nunggu kan?” tanya Fazio yang kembali menyinggung tentsng pekerjaannya yang sempat ditentang oleh ibu mertuanya.
“Iya, Sahara bakal nunggu, Mas,” angguk Sahara yang merasa kelegaan pada hatinya. Ia sebenarnya sangat ingin bicara tentang hal ini namun takut membuat Fazio tidak suka atau marah.
“Tapi emangnya lo bakal cemburu kalo gue dandanin perempuan lain?” tanya Fazio menoleh, melihat wajah cantik isterinya yang sedang tersenyum namun tak lama berubah merenggut.
“Jelas cemburu! Apalagi waktu Mas Zio senyum-senyum lihatin perempuannya!” protes Sahara yang kembali teringat saat ia menemani Fazio bekerja.
“Hahahaha…” Fazio tertawa mendengarnya. “Itu kan karena gue bangga sama hasil dandanannya, buka sama perempuannya!” lanjut pria itu masih sambil terkekeh kecil.
“Sama aja!” balas perempuan itu masih memasang wajah kesalnya. “Sahara pokoknya enggak mau lagi ikut Mas Zio kerja, makan hati!”
“Tapi lo bukannya belum cinta sama gue, kenapa cemburu?” Bukannya cemburu hanya untuk seseorang yang mencintai pasangannya. Apa wanita itu sudah mencintainya?
“Enggak perlu cinta kok, Mas Zio kan udah jadi suaminya Sahara. Sekarang Mas miliknya Sahara sama Allah!” Fazio tertegun mendengar perkataan Sahara yang sangat sederhana namun mampu membuat Fazio merasa senang.
“Oh iya, Mas, kita kapan pulang?” tanya Sahara ketika melihat ponsel dan melihat pesan dari uminya. Perempuan itu seketika merasa rindu, padahal baru beberapa jam saja meninggalkan Uminya.
“Sore nanti, kita nanti belanja dulu. Soalnya bahan-bahan di apartemen udah pada habis.” Karena sekarang Sahara akan tinggal bersamanya, mungkin nanti mereka belanja akan cukup banyak. Apalagi tahu bahwa isterinya cukup suka cemilan.
“Apartemen?” tanya Sahara menatap bingung. “Bukannya kita pulang Pesantren, Mas?”
Fazio mengerutkan dahinya penuh bingungan plus ke was-wasan. “Emangnya kita mau tinggal di Pesantren?”
Sahara mengangguk cepat. “Abi bilang kita harus tinggal di Pesantren!”
“APAA?!” tanya Fazio histeris.