Part 6

1813 Kata
“Om Zio lagi gugup ya?” tanya Naya sambil menyentuh punggung tangan pria itu dengan jari kecilnya. “Iya, Nay, Om Zio gugup,” jawab Fazio jujur, sumpah demi apapun ini adalah momen tergugup Zio dalam hidupnya. Ini lebih menegangkan dari hari pertama pria itu masuk sekolah, lebih mengerikan saat ingin mengatakan pada Rendra bahwa ia akan berhenti kuliah bisnis. Dan, lebih dag-dig-dug saat Zio pertama kali mendandani kliennya. Sangking gugupnya, Fazio bahkan tidak bisa mengusap dahinya dengan tisu akibat terlalu banyak bulir-bulir keringat yang turun, pria itu bahkan bisa merasakan stelan putih yang dikenakannya sedikit basah. Hari ini adalah hari yang tidak pernah Fazio Anggasta Gumelar impikan, setidaknya sampai lima tahun ke depan. Tapi, disinilah ia sekarang, berada di dalam mobil yang sedang menuju ke sebuah Masjid yang menjadi tempat akadnya dengan sang isteri. Proses persiapan Fazio memang sangat cepat, Fazio sangat terkejut saat pertemuan kedua keluarga dan diberi tahu kalo tersisa satu bulan lagi sebelum akhirnya pria itu melepas status lajangnya. Tidak ada pesta mewah di ballroom hotel bintang lima, tidak aksi bridesmaid, tidak ada hiasan dan catering yang mahal, tidak ada artis yang bernyanyi di pernikahannya. Semuanya sangat sederhana, serelah selesai akan, resepsi akan diadakan di Pondok Pesantren. Fazio sebenarnya sedikit sedikit sedih karena pernikahannya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Sebagai seorang MUA yang sering merias pengantin pernikahan, ia acap kalo menemukan pernikahan yang membuatnya kagum. Karena pernikahan adalah hal yang sakral dan berbarap bisa dilakukan sekali dalam seumur hidup, tentu saja harus membuat pernikahan itu tidak terlupakan, baik dari pengantin, kedua keluarga dan tamu undangan. Tapi, kedua orang tua Sahara dan orang tuanya menginginkan pernikahan yang sederhana. Lagi-lagi Fazio hanya bisa memendam rasa kekecewaanya. Saat-saat seperti inilah Fazio sangat merindukan sosok ibunya, jika ibunya masih ada mungkin akan ada seseorang yang akan berbicara untuknya. Aya dan Chandra yang berada di bangku depan, melirik ke arah Fazio yang terlihat sendu. Kedua pasangan suami isteri sebelumnya sudah pernah membicarakan ini, mereka sama-sama merasa bahwa belum waktunya untuk Fazio menikah. Chandra juga sudah berbicara dengan Rendra dan Arumi tapi sayangnya keduanya menolak. Fazio sendirilah yang juga melakukan pernikahan ini. karena ingin menuruti permintaan almarhum ibunya. Tidak ada lagi yang bisa diperbuat keduanya. Mereka hanya bisa berharap dengan kehadiran isteri, Fazio tidak kesepian lagi. “Yo, waktu ijab qobul nanti jangan sampe kebanyakan ulang. Enggak jadi nikah kamu,” kata Chandra sambil mengemudikan mobilnya. “Gue udah tes vokal kemaren, Bang. Semoga aja masih lancar kayak kemaren.” Fazio baru tidur saat tengah malam, selain karena sibuk menghapalkan ijab qobul pernikahannya. Pria itu memikirkan bagaimana kalo besok ia melakukan kesalahan yang fatal. “Coba Mbak pengen dengar, Yo,” pinta Aya membuat Fazio meringgis. “Nanti aja, Mbak. Kalo sekarang enggak enak, spoiler.” Laki-laki itu terkikik, berusaha meredam rasa malunya. Iring-iringan mobil yang dilakukan akhrinya berhenti di sebuah Masjid besar. Fazio langsung turun didampingi oleh Chandra, ada juga Arumi dan Rendra yang tadi berada di mobil lain serta Barga yang wajahnya nampak sangat amar terpaksa. Fazio mengerutkan dahinya saat tidak melihat sosok Dirga. Apa pria itu tidak hadir? “Zio, sebelum masuk ke dalam, Papa mau ngomong sesuatu dulu sama kamu,” pinta Rendra yang membuat lelaki itu termenung sebelum mengangguk. Ayah dan anak itu bergerak menuju teras Masjid yang tidak banyak dilalui orang-orang. “Papa mau ngomong apa?” tanya Fazio yang bingung, apa jangan-jangan Rendra akan memberikannya warisan? Tentu saja pria itu akan menerimanya dengan senang hati. “Sebentar lagi kamu aja jadi suami, Papa benar-benar enggak menyangka,” tutur Rendra yang suaranya menjadi sedikit serak. Fazio mengumpat, sungguh ia tidak suka dengan suasana yang berubah menjadi melankolis seperti ini. “Rasanya baru kemarin kamu ada digendongan Papa.” Tidak dapat disangga, hati Fazio ikut bergetar dengan perkataan Papanya. Walau pria itu sudah mengkhianati ibunya tapi Rendra adalah ayah terbaik yang pria itu miliki. “Papa minta maaf belum bisa jadi ayah yang baik. Satu pesan Papa, jangan sampai jadi kayak Papa ya, Zio.“ “Semuanya udah lewat, Pa,” desah Fazio sambil menarik nafasnya lalu menghembuskannya pelan. Andai rasa sakit bisa dihilangkan dengan mudah, pasti tidak akan ada yang menderita lagi. “Kamu hebat, kamu anak Papa,” tutur Rendra yang membuat d**a Fazio sesak. Kali ini pria itu tepat menyentuh di dadanya. “Pa, disuruh Mama buruan kesini!” panggil Barga yang tidak melihat ke arah Fazio. Rendra mengangguk lalu buru-buru mengajak putranya untuk menuju ke tempat akad berlangsung. Fazio mengerutkan dahinya saat tidak melihat Sahara, apa jangan-jangan calon isterinya kabur? “Pa, Sahara mana?” bisik Fazio pada Rendra. “Nanti keluar waktu akadnya sudah sah,” jawah Rendra sambil menyengir. Apa anaknya sudah tidak sabar bertemu dengan calon isterinya? “Bagaimana bisa kita mulai?” tanya Penghulu membuat jantung Fazio kembali berdetak kencang. Pria itu mengangguk segera menjabat tangan Agung yang berada di samping penghulu. “Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Fazio Anggasta Gumelar bin Rendra Gumelar dengan anak saya yang bernama Sahara Az-Zahra dengan maskawinnya berupa 10 gram emas dan seperangkat alat sholat, tunai.” Akhirnya sampai disini, titik dimana hidupnya akan berubah. Ia tidak mau pernikahan ini menjadi pengengkang untuknya. Ia ingin pernikahan ini membuatnya merasa bahagia, baiknya ataupun Sahara. Ia ingin pernikahan ini bisa membuatnya menemukan rumah baru. Dengan mengucap bismillah dalam hati, pria itu langsung menjawab sambungan perkataan Agung. “Saya terima nikahnya dan kawinnya Sahara Az-Zahra binti Agung Kusank dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai!” “Bagaimana para saksi?” tanya Penghulu. “SAH!” Sahara yang sejak tadi menunggu, langsung menitihkan air mata ketika mendengar suara lantang Fazio yang membuat hatinya langsung bergetar. Jika dibolehkan, wanita itu akan langsung menangis dengan terisak-isak karena sekarang statusnya sudah berubah. Ia sudah menjadi seorang isteri, dimasa depan suaminya lah tempat wanita itu bersandar dan belajar. Sahara langsung meminta kepada Allah, semoga pernikahan mereka akan selalu mendapat rahmat. “Ayo, Mbak Hara. Mas Fazio udah nungguin, nanti dia pikir Mbak kabur,” ajak Della yang juga sangat senang sekarang kakak perempuan telah menikah, andaikan kakak perempuannya yang lain hadir, maka pasti acara ini lebih membahagiakan. Sahara mengangguk, ia perlahan bangkit dan berjalan dengan bantuan Della. Dari jauh, ia bisa melihat tatapan Fazio yang terus mengarah padanya. Pria itu bahkan tidak berkedip, membuat jantung Sahara rasanya terus berdetak kencang dan pipinya memerah karena malu. Cepat-cepat membuang hal itu karena sekarang pria itu adalah suaminya. Sahara duduk dengan perlahan dihadapan Fazio yang akhirnya sempat mengalihkan pandangannya. Pria itu juga terlihat malu karena terus menatap sosok isterinya. “Disalam dulu suaminya,” kata Pak Penghulu membuat tangan Sahara langsung menjadi gemetar saat diangkat, karena waktunya selalu dihabiskan di Pondok Pesantren jadi ia belum pernah bersentuhan dengan pria yang bukan keluarga dekatnya. Tentu saja kelakuan Sahara membuat beberapa orang gemas, apalagi Fazio yang terlihat gemas. Jadi pria itu langsung mengambil tangan Sahara membuat wanita itu terkejut namun langsung mencium punggung tangan suaminya. “Sekarang dicuim kening isterinya, Mas,” sahut Pak Penghulu lagi membuat Fazio tercengang. “Hah?” Karena juga ingin cepat selesai dan berganti baju, Fazio akhirnya menarik nafasnya pelan dan mendekat ke arah dahi Sahara dan menciumnya perlahan. Tidak tahu mengapa, hati pria itu sekarang menghangat. Sekarang ia sudah menjadi suami dan memiliki isteri, Fazio tidak akan tinggal sendirian dan lagi ia akan memiliki orang yang bisa ia ajak bicara bahkan pukul 1 malam. Setelah rangkaian akad selesai, rombongan itu kembali menuju Pesantren tempat dimana acara pernikahan dilangsungkan. Fazio sedikit culture shock saat bagian pria dan wanita dipisahkan di dalam pestanya. Acara itu juga berjalan dengan lancar, sungguh Fazio sedikit kagum dengan Rita dan Arumi yang bisa menyiapkan semuanya dalam waktu singkat. Malam pertama mereka harusnya berada di Pesantren tapi Fazio langsung menolak dan mengatakan bahwa ia sudah memesan tiket hotel mewah untuknya dan Sahara. Jadi setelah acara selesai, mobil dari hotel langsung menjemput keduanya yang sudah berganti pakaian yang lebih sederhana. “Lo capek?” tanya Fazio yang merasakan tubuhnya remuk karena rangkaian acara. “Enggak, Mas,” tolak Sahara sambil mengigit bibirnya bingung. Apa ia harus menawarkan pijitan untuk Fazio? Bagaimana jika Fazio mengatakan itu sengaja untuk mengetes kepeduliannya? Bagaimana kalo Fazio jadi tidak suka karena ia tidak peduli? “Kalo lo capek, disana nanti ada spa-nya. Jadi bisa minta dipijit deh.” Sahara yang mendengarnya menghela nafas lega, sungguh ia takut membuat Fazio jadi tidak suka dengannya. Tujuan utama Fazio saat pertama kali sampai di hotel adalah restoran, sungguh pria itu sangat kelaparan. Sebenarnya Sahara juga merasakan yang sama, sebagai seorang yang menyukai makanan membuatnya tidak bisa tenang saat perutnya kosong. Pasangan suami dan isteri itu langsung duduk di salah satu meja, saat Fazio sedang melihat menu dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Pria itu melihat ke arah Sahara yang nampak tidak nyaman, ia lalu mulai memperhatikan sekitar dan langsung memutar bola matanya. Apa mereka tidak pernah melihat seseorang yang bercadar apa? “Jadi mau pesan apa, Mas dan Mbaknya?” tanya pelayan itu dengan ramah. “Mbak saya pesannya disini tapi bisa diantar ke kamar hotel kan?” pinta Fazio membuat Sahara yang mendengar itu langsung mendongak. Kenapa tiba-tiba suaminya itu meminta makan di kamar hotel? Apa karena Fazio menjadi risih karena ikut ditatapi oleh orang-orang? Akhirnya Sahara tidak memesan banyak, ia tiba-tiba kehilangan semangat makannya. Gadis itu pun keluar dari restoran bersama Fazio. Saat memasuki lift, ternyata hanya ada mereka berdua di dalam. “Mas Fazio, maaf,” lirih gadis itu membuat Fazio yang sedang mengecek ponselnya namun karena tidak ada sinyal jadi hanya menggeser-geser menu langsung menoleh. “Maaf kenapa?” tanya Fazio bingung. “Mas Fazio jadi enggak makan di hotel karena aku,” tutur Sahara sambil memilin-milin tangannya merasa bersalah. Fazio tertawa tiba-tiba membuat Sahara menoleh dengan bingung. “Alasan aku enggak makan di restoran bukan karena orang-orang tapi karena kamu yang enggak nyaman.” “Sekarang gye memang belum bisa sewa satu restoran untuk kita berdua aja yang makan tapi tenang aja, tunggu warisan Papa udah cair, kita akan sewa restoran!” sahut Fazio yang berapi-rapi, pria itu juga ingin merasakan makan dengan menyewa restoran. “Eh, enggak perlu-perlu, Mas. Sahara nanti abaian aja orang yang lihat,” ujar wanita itu yang memang bisa dibilang hitungan jari keluar dari Pesantren tiap bulan. “Sahara, lo enggak perlu sungkan sama gue. Lo tahu kan gue itu tinggal sendiri dan itu buat gue selalu ngerasa sendirian. Gue harap dengan hadirnya lo, kita bisa jadi teman—setidaknya untuk saat ini.” Fazio menoleh ke arah gadis itu dengan senyumnya yang menyenangkan membuat Sahara lagi-lagi merasa beruntung. “Tolong jadi diri lo sendiri.” Rasanya beban yang ada di hati Sahara langsung hilang, hal yang ia takutkan dari awal adalah membuat Fazio tidak menyukai dengan sikap aslinya yang membuatnya harus menutupinya. Tapi, sekarang setelah mendengar perkataan suaminya, membuat wanita itu lega. “Mas, tadi Sahara pesannya dikit banget. Pesan lagi nanti ya.” “Oke, tenang aja! Kita pesta malam ini!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN