“Pokoknya Umi tetap enggak setuju kalo kamu nikah sama Fazio!” keukeh Rita ketika ia kembali duduk untuk berbicara bersama suami dan juga putri sulungnya, setelah kepergian keluarga Fazio.
Pertemuan pertama keluarga yang membahas pernikahan Fazio dan Sahara ternyata tidak berjalan dengan lancar saat Rita meminta calon suami putrinya itu berhenti dari pekerjaan sebagai seorang MUA. Wanita paruh baya itu menganggap profesi itu hanya untuk perempuan, tidak menjamin dan bisa saja menjadi sumber Fazio melakukan untuk perselingkuhan dengan wanita lain.
Fazio sempat terkejut saat Rita menuduhnya kemungkinan akan berselingkuh. Hey, pria itu bahkan baru terpikir bahwa dirinya bisa berselingkuh dengan jalur seperti itu. Sudah berapa ratus perempuan yang pernah ia tangani, tidak ada satupun yang membuat Fazio tertarik.
Pria itu menolak dengan keras permintaan Rita untuk berhenti dari pekerjaannya. Wanita paruh baya itu itu tidak tahu bahwa ia sempat mengalami depresi ketika memustukan untuk berhenti kuliah dan melakukan apa yang ia suka. Dan. sekarang setelah semua pengorbanan dan waktu yang ia habiskan, Fazio disuruh meninggalkan semuanya? Tidak mungkin.
Rendra dan Arumi yang tahu sifat keras kepala Fazio akhirnya memutuskan untuk menunda pembicaran tentang perjodohan. Ahmad, sebagai orang yang mengidekan tentang pernikahan ini tidak bisa berkata apa-apa ketika keluarga itu meninggalkan rumahnya. Pria paruh baya sebenarnya ingin tetap perjdohan ini berlanjut akan tetapi jika isteri dan putrinya menolak, pria itu tidak bisa memaksa.
“Sahara, bagaimana dengan pendapat kamu? Apakah kamu tetap mau menikah dengan Fazio?” tanya Ahmad yang mengembalikan semuanya pada sang putri.
“Sahara mau, Bi,” angguk gadis itu membuat Rita langsung merubah ekpresi wajahnya menjadi penuh ketidaksetujuan.
“Sahara, kenapa kamu mau?” tanya Rita pada putrinya, ia tahu kalo Sahara kagum dengan sosok Dirga. Tapi, kenapa putrinya sekarang malah setuju dengan pernikahan ini?
“Kalo Umi tanya kenapa, itu karena Sahara sempat bicara sama Mas Fazio. Sahara sadar kalo selama ini kelakuannya Hara jauh banget dari wanita yang anggun, Sahara bahkan enggak bisa masak. Tapi, Mas Fazio sama sekali enggak keberatan. Dia bilang kalo semuanya bisa saling belajar,” tutur Sahara lembut. “Pria seperti itu yang Sahara mau, Umi.”
“Kalo masalah pekerjaan Mas Fazio, Sahara juga enggak suka. Apalagi nanti kalo udah jadi isteri, Sahara pasti cemburu. Tapi, untuk yakini Mas Fazio mencari kerjaan lain, Sahara harus tahu alasan kenapa Mas Fazio mau kerja itu. Semuanya enggak bisa langsung.”
Rita ingin kembali protes dengan keputusan anaknya tapi tak tertahan ketika mengingat masa lalunya sendiri yang adalah seorang medel busana yang kadang harus mempertontonkan auratnya. Saat hendak dijodohkan dengan Ahmad, ia menolak dengan keras ketika disuruh berhenti dari pekerjaanya. Tapi, lambat laun karena ajaran suaminya yang tidak pernah lelah, ia akhirnya berhasil berhenti.
Tapi, masalahnya, laki-lakilah yang mendidik isterinya. Apakah isteri bisa mengajarkan suaminya?
“Abi bangga sama kamu, Sahara,” ujar Ahmad penuh dengan rasa bahagua. “Maaf kalo janji Abi buat kamu terbebani.”
“Umi… umi serahkan semuanya sama kamu.”
Sahara tersenyum lebar, gadis itu terlihat sangat cantik dengan pipinya yang putih dan bibirnya yang bewarna merah lembut. “Oh iya, Abi izinin Sahara keluar dari Pesantren ya? Sahara mau ketemu sama Mas Fazio!”
Ahmad yang awalnya tersenyum langsung mengubah wajahnya menjadi datar. Ia awalnya berpikir sang anak berubah menjadi bijaksana karena Sahara sudah sadar bahwa ia sudah semakin dewasa, tapi ternyata itu hanya akal-akalan anaknya yang ingin keluar. “Enggak boelh!”
“Ayolah, Bi. Sahara mau kasih tahu tentang perjodohan ini, Hara juga mau tahu apa yang dilakukan Mas Fazio!” rengek gadis itu yang kembali ke stelan awalnya.
“Sahara boleh pergi tapi dengan satu syarat, sebelum ashar udah balik. Kalian juga enggak boleh ke tempat sepi!” putus Ahmad yang berpikir bahwa putrinya mungkin butuh pengenalan dengan calon suaminya.
“Siap, Abi!” seru Sahara riang.
Sahara langsung bersiap-siap untuk pergi, adiknya yang melihatnya akan keluar dari Pesantren menatapny dengan iri. “Tenang, nanti Mbak beliin batagor!”
Della langsung merubah wajahnya menjadi masam. “Ihh, kok jadi batagor sih, Mbak. Della kan pengen cilor!”
Sahara meringgis, ingatan jangka pendeknya memang sedikit buruk. Wanita itu meminta maaf dan langsung menulis permintaan adiknya di note ponsel Sahara. Gadis itu buru-buru pamit dengan kedua orang tuanya, sambil menunggu taksi online, Hara sudah menghubungi Arumi untuk mengetahui alamat Fazio.
Ketika sampai di alamat yang diberikan calon mertuanya, Sahara terkejut ketika melihat Fazio ternyata tinggal di apartemen mewah. Apa mereka akan tinggal disini nanti setelah menikah? Memikirkan tentang pernikahan, Sahara jadi menyengir sendiri.
Sahara baru saja hendak menelpon Fazio saat melihat sosok pria yang ia cari baru saja keluar dari pintu masuk apartemen. “Mas Fazio!” panggil Sahara lalu berlari kecil menuju pria itu.
“Sahara?” tanya Fazio membuat Sahara terkejut, karena ia menggunakan cadar jadi beberapa orang akan susah mengenalinya. Apalagi untuk pria itu yang baru saja bertemu sekali.
“Sahara kesini mau nemuin, Mas Fazio,” tutur gadis itu agak gugup, takut Fazio tidak menerima kedatangannya.
“Bicara apa? Gue lagi buru-buru mau ke hotel karena ada kerjaan, lo mau ikut atau enggak?” tanya Fazio sambil melirik jamnya.
Sahara yang mendengar itu langsung berbinar, ia belum pernah masuk ke dalam hotel. “Mau!” seru gadis itu antusias.
Fazio mengangguk, langsung mengajak gadis itu untuk menyetop taksi yang lewat. Pria itu membiarkan Sahara untuk masuk lebih dulu, barulah ia masuk dan menutup pintu.
“Lo mau ngomong apa?” tanya Fazio menoleh ke arah Sahara.
“Aku mau tetap ngelanjutin perjodohan kita, Mas.”
“Hah? Bukannya ibu lo enggak setuju?” tanya Fazio bingung, laki-laki itu ingat betul apa yang dikatakan oleh Rita tentang pekerjaannya.
“Umi udah setuju, Mas,” balas Sahara.
“Terus lo? Apa enggak keberatan dengan pekerjaan gue?” tanya Fazio yang semula berpikir bahwa perjodohan ini tidak akan sukses.
“Apa Mas Fazio akan tetap ngelakuin pekerjaan ini sampai tua nanti?” tanya Sahara yang butuh jawaban kepastian.
Fazio yang mendengar itu nyengir. “Cita-cita gue itu jadi pengangguran tapi banyak duitnya,” celetuk Fazio.
“Sahara juga mau, Mas!” sahut Sahara nampak sangat bersemangat.
“Gue mungkin bakal berhenti tapi bukan sekarang,” ujar Fazio sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela, lelaki itu menghelan nafasnya panjang. Memang betul sudah banyak hal yang ia korbankan tapi menghabiskan hidupnya sebagai seorang MUA, Fazio nampanya tidak mau.
Lelaki itu ingin melakukan banyak hal dalam hidupnya.
Taksi yang ditumpangi mereka akhirnya sampai di sebuah hotel. Fazio dan Sahara langsungbergegas masuk, mereka cepat disambut ibu dari mempelai wanita yang terlihat sangat sedih sekaligus tertekan. Ternyata perias yang mereka sudah janjikan, tidak datang pada hari ini.
Untungnya hari ini Fazio tidak memiliki janji dengan klien yang lain, mungkin sekarang pengantin dan keluarnya kepusingan. Tidak hanya pemgantin wanita, pengantin pria pun diberi sedikit sentuhan agar terlihat fresh saat di panggung nanti.
Saat bagian pengantin wanita, Sahara yang dianggap sebagai asisten Fazio memandang pria itu dengan sedikit cemburu. Tapi, ia dengan cepat berusaha menghilangkannya, selama proses rias pun Fazio terlihat sangat profesional membuat perempuan itu lega.
Setelah selesai, ibu dan pengantin terus berterima kasih pada Fazio yang agak menjadi tidak enakan. Sahara yang terus membuntuti pria itu merasa kagum karena pria itu bisa membantu banyak orang.
“Es kerim,” ujar Fazio yang masuk sebentar ke acara pernikahan untuk menganbil es krim. Sahara yang menunggu di taman hotel menerima es krim itu dengan gembira.
Sahara awalnya ragu untuk memakan es krimnya sampai es itu sedikit mencair tapi melihat Fazio yang santai, wanita itu memberanikan diri mencoba es krimnya walaupun takut dicap aneh oleh pria di sampingnya.
“Lo mau gue hadap lain dulu enggak? Biar lo bisa makan es krim,” kata Fazio yang menyadari wanita itu takut-takut untuk mencoba es krimnya.
“Enggak usah, Mas,” tolak Sahara, gadis itu tidak mau membuat Fazio terganggu. Lagi pula gadis itu hanya menyekop es krim dengan sendok lalu memasukan ke dalam mulutnya dengan membuka sedikit bagian cadarnya.
“Waktu Mama sakit, wajahnya pucat banget,” cerita Fazio tiba-tiba sambil memandang ke arah hamparan taman yang membuat hatinya sedikit merasa lega. “Gue waktu itu sedih, pengen lihat Mama yang kayak dulu. Gue akhirnya cari cara, terus nemu cara ini. Gue akhirnya belajar rias dari internet dan Mama mau aja waktu gue dandanin.” Fazio menyengir mengingat kebodohannya dulu yang selau keluar saat memberi lipstik.
“Cuman itu kenangan terakhir gue sama Mama,” tutur Fazio sambil menoleh ke arah Sahara dengan senyum kecilnya yang penuh kesedihan. “Tenang aja, Gue bakal berhenti kok. Tapi nanti ya.”
“Sahara bakal menunggunya, Mas!” angguk gadis itu yang berusaha menahan air matanya untuk tidak tumpah.
“Jangan nangis, tisu gue udah habis,” ejek Fazio membuat Sahara malu.