“Mbak Hara?”
“MBAKK HARA DIMANA?”
“MBAKK!” teriak seorang remaja perempuan sambil mencari-cari sosok kakak perempuannya.
“Astaga, Mbak Hara!” seru Della terkejut ketika melihat kakaknya yang ia cari-cari tenyata sedang berada di atas pohon sambil asik membaca novel.
“Mbak Hara buruan turun!” seru remaja perempua itu lagi lebih kencang. Sebenarnya gadis itu masih sedikit penasaran bagaimana kakaknya yang mengenakan gamis panjang itu bisa memanjat pohon. Apa kakaknya jangan-jangan punya ilmu untuk terbang?
Tapi mengingat bagaimana kakaknya itu yang memang agak berbeda dari gadis-gadis seusianya di Pesantren, Della seketika paham. Ketika para santri perempuan belajar memasak atau melakukan sesuatu seperti menjahit di sela-sela waktunya, kakaknya itu malah suka memanjat pohon di belakang rumah atau sering kabur dari Pesantren.
“Kamu ganggu aja, Del. Udah mau tamat ini,”sunggut Sahara sambil mengerucutkan bibirnya. Ia sedang berada di halaman dimana pemeran utama akan melamar pemeran utaman perempuan, hal yang sedang ia tunggu-tunggua.
“Mbak, calon mertua sama calon suamimu itu udah datang!” seru Della yang ikut kesal melihat kakaknya yang sangat santai, Sahar yang mendengar itu langsung membulatkan matanya dan menoleh ke bawah untuk melihat adiknya. “Apa?! Calon suaminya Mbak udah datang?”
“Iya, Mbak. Mangkanya buruan turun!” suruh adiknya yang gemas membuat Sahara mengangguk, gadis 20 tahun itu dengan cekatan turun dari dahan ke dahan hingga kembali menginjak tanah.
“Kalo Umi lihat Mbak Sahara manjat lagi, Della yakin Umi bakal pingsan,” guman remaja itu sambil menghela nafasnya.
“Ssst, enggak usah kasih tahu. Nanti waktu Mbak keluar keluar dri Pesantren, Mbak beliin apa yang kamu mau,” bisik Sahara yang tidak ingin mendengar omelan Uminya karena kembali memenjat pohon.
“Oke, aku nitip cilor 10 ribu ya nanti,” sahut Della riang. Gadis kecil itu memang jarang keluar dari Pesantren karena dilarang oleh Uminya.
“Calon suami Mbak beneran udah sampe?” tanya Sahara lagi yang tidak bisa menahan senyum di bibirnya. Jantung wanita itu yang awalnya normal sekerang m berdetak kencang karena sangat gugup.
“Iya, Mbak! Ayo buruan balik ke rumah, jangan sampe nanti Umi yang kesini,” ajak adiknya lagi. Setelah merasa siap, Sahara buru-buru pergi bersama adiknya untuk kembali ke rumah. Tentu saja dia disambut dengan omelan uminya yang membuat wanita itu meringgis.
“Ayo, duduk di depan sama Umi,” ajak Rita pada putri sulungnya. Sahara mengangguk walau merasa deg-degan, wanita itu langsung duduk. Ia menatap ke arah Pak Rendra dan Bu Arumi yang memang sudah lama dikenalnya, gadis itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah seorang pria yang nampak sangat tampan dan putih. Sahara meringgis melihatnya, ia yakin kulit wajah dibalik niqabnya tidak akan bisa menyayangi kulit pria itu. Sahara menebak itu adik dari Dirga.
Pandangan gadis itu lalu berpindah pada sosok yang dikagum-kaguminya. Dirga. Pria itu sering mengunjungi Pesantren bahkan kadang mengimamkan salat disini. Sahara benar-benar suka dengan suara Dirga saat melantunkan ayat suci, mampu membuat hatinya bergetar dan air matanya berlinang.
“Jadi ini namanya Fazio,” kata Pak Ahmad memulai pembicaraan.
“Iya, Pak, hadir,” jawab Fazio polos sambil mengangguk kecil. Karena sudah sangat penasaran dengan calonnya, pria itu lalu terang-terangan menatap ke arah gadis yang akan menjadi calon isterinya. Rendra yang menyadari itu, buru-buru menyenggol lengan putranya membuat Fazio meringgis, buru-buru menatap ke arah lain.
“Fazio panggil Abi dan Umi aja,” kata Pak Ahmad.
Sahara mengerutkan dahinya bingung ketika mendengar perkataan ayahnya, kenapa Ayahnya malah menyuruh adik Dirga memanggil Abi dan Umi? Abinya itu harusnya memberikan panggilan itu pada Dirga.
“Bu Arumi, karena Dirga dan Sahara udah pernah ketemu sebelumnya. Mungkin kita enggak perlu terlalu panjang lagi untuk perkenalan, kita bisa melangkah ke yang lebih serius,” kata Rita yang memang mengidamkan Dirga sebagai menantunya.
“Dirga dan Sahara?” tanya Arumi terkejut.
“Lho memangnya bukan Dirga yang akan menjadi calon suami Sahara?” tanya Rita yang juga terkejut.
“Sahara akan menikah dengan Fazio, bukan Dirga,” kata Pak Ahmad membuat suasana di ruangan itu seketika berubah.
“Kenapa bukan Dirga?” tanya Rita membuat Pak Ahmad sedikit kesal. Rendra dan Arumi pun sedikit tak nyaman. Fazio yang merasa bahwa calon ibu mertua tidak menyukainya masih tetap santai.
Jika dilihat-lihat, memang sosok Dirga lah yang cocok menjadi menantu idaman. Pria itu mewarisi wajah tampan Rendra dan tutur kata yang halus dari Arumi. Dirga juga sedang berkuliah di universitas terkenal, sambil membantu pekerjaan di perusahaan. Dan jika dilihat, pria itu memang sering datang kesini.
Paling utama, Dirga lebih alim daripadanya.
“Karena memang sejak awal Sahara akan dijodohkan dengan Fazio bukan Dirga,” jawab Ahmad. Pernikahan ini memang mulanya memang mendadak dan isterinya hanya tahu bahwa calon suami dari putri sulung mereka adalah anak laki-laki Rendra.
“Sahara, apa kamu juga mengira bahwa yang akan menikah denvan kamu Dirga?” tanya Arumi yang tidak bisa menahan resah. Sahara yang ditanya, tidak bisa berbohong dan hanya bisa mengangguk.
“Kenapa enggak jodohin aja Dirga sama Sahara?” celetuk Fazio.
“Fazio!” seru Rendra marah. “Apa yang kamu bicarakan?” tanya pria paruh baya itu lagi membuat Zio menghela nafasnya.
“Pa, kenyatannya Sahara lebih suka sama Dirga. Dan, Dirga pun kayaknya enggak keberatan. Daripada nanti hanya saling menyakiti, lebih baik jodohkan mereka. Fazio bisa menunggu kok.”
“Enggak,” tolak Pak Ahmad. “Sahara akan tetap nikah dengan kamu Fazio.”
“Kenapa Bapak ingin pengen sekali saya menikah dengan Sahara?” tanya Fazio yang sangat bingung.
“Karena ibu kamu sudah membuat saya selamat, dia mendonorkan ginjalnya untuk saya dan saya berjanji untuk menikahkan kalian,” jawab Pak Ahmad membuat Fazio, Sahara dan Dirga yang mengetahui itu sedikit terkejut.
“Tapi kalo kayak gini—-“
“Sahara mau, Abi,” ucap Sahara tiba-tiba membuat semua perhatian tertuju pada wanita itu. Awalnya ia juga tidak menyangka dan kecewa bahwa Dirga bukan yang dia akan nikahi. Tapi mendengar bahwa ibu dari pria itu sudah membuat ayahnya bertahan, Sahara mau.
“Kamu enggak perlu setuju karena merasa terbebani, bukannya sesama manusia saling tolong menolong?” alasan Fazio.
“Kamu akan tetap menikah Fazio,” putus Rendra yang tidak bisa diganggu gugat.
Fazio menghela nafasnya panjang, ia menatap ke arah gadis yang akan dijodohkan dengannya itu. “Aku mau bicara berdua sama Sahara boleh?”
“Boleh, tapi biarin Della berada enggak jauh dari kalian,” suruh Pak Ahmad yang diangguki oleh Fazio.
Fazio dibawa oleh Della dan Sahara ke halaman belakang. Lelaki itu memejamkan matanya sejenak ketika merasaan angin yang menerpa wajahnya. Tidak menyangka ternyata ada banyak pohon disini. Fazio lalu membuka kelopak matanya dan terkejut gadis itu sedang menatap ke arahnya.
“Aku enggak bisa menikah dengan wanita yang mencintai pria lain,” tutur Fazio langsung to the point. Hei, sebagai MUA yang kadang mengurus riasan pengantin wanita, ia sering bertemu dengan perempuan yang menangis karena dijodohkan dan calon suaminya tidak menganggap karena memiliki wanita lain.
“Aku enggak mencintai Mas Dirga, aku hanya kagum dengan Mas Dirga,” jawab jujur Sahara sambil menunduk. Perasaannya belum sampai pada tahap itu, Sahara masih sangat yakin.
“Aku enggak bisa jadi seperti Mas Dirga, apa kamu masih mau?” tanya Fazio lagi.
“Aku mau. Asalkan satu, kamu bisa menerima kekurangan aku,” jawab Sahara yang sedikit takut.
“Tenang aja, aku juga masih banyak kurangnya, kok. Bukannya bagus ya, negatif ditambah negatif jadinya positif.”
Sahara yang mendengar itu tersenyum dibalik cadarnya. Ia lalu bertanya tentang salah satu hal yang ia takutkan. “Apa kamu enggak mau melihat wajahku?”
“Enggak perlu,” tolak Fazio.
“Kenapa?” tanya Sahara heran, ia sering mendengar banyak pria diluar sana yang mengingin gadis cantik. Apa karena dari awal pria itu tidak mau dengannya dan tidak peduli ? Apa saat menikah nanti Fazio akan mengabaikannya?
“Aku yakin kamu cantik, lagi pula bukannya semua wanita itu cantik? Lagi pula wajah bisa menua, aku cuman butuh isteri yang bisa diajak bicara banyak hal.”
Sahara mengangguk, walau ia awalnya kagum dengan sosok Dirga tapi hati wanita itu merasa bahwa Fazio tidak kalah dari Dirga. Pria itu cukup membuatnya terkejut, tidak ada kalimat penghakiman darinya. Pria itu juga berbicara dengan santai, membuat Sahara yang jarang bertemu orang menjadi mudah membalas.
Setelah semua pertanyaan yang ingin dikatakan oleh keduanya selesai, Fazio dan Sahara kembali ke ruang tamu. Mungkin hanya perasaan Fazio saja, ia merasa wajah Dirga sedikit terlihat buruk? Entalah, ia tidak tahu apa-apa tentang Dirga.
“Kita bisa menentukan tanggal,” kata Pak Ahmad memulai percakapan lagi.
“Bukannya itu terlalu cepat, Bi?” tanya Rita, yan terkesan ingin melambat, berbeda sekali saat mengira Dirga adalah menantunya.
“Lebih cepat, lebih baik,” balas Pak Ahmad yang di dalam hatinya merasa Fazio adalah orang yang cocok.
“Oh, iya, Fazio sekarang masih kulihkan? Bantu-bantu juga di perusahaan?” tanya Rita yang langsung dijawab Fazio dengan gelengan, membuat wanita paruh baya itu langsung mengerutkan dahinya..
“Saya enggak kuliah, Umi. Saya kerja sekarang, jadi MUA,” jawab Fazio yang merasa bangga dengan pekerjaannya. Tapi, nampaknya tidak dengan calon mertua perempuannya yang terlohat shock?
“Apa itu artinya Fazio selalu bertemu dengan perempuan?” tanya Rita membuat yang ditanya mengangguk polos. Hampir semua klien Fazio adalah perempuan. Rita seketika nampak lemas mendengarnya, butuh waktu beberapa detik sampai wanita itu bisa mengatur nafasnya.
“Saya enggak setuju Fazio menikah dengan Sahara, kecuali kalo Fazio berhenti kerja seperti itu!”